
Nur sudah di bolehkan pulang. Kondisinya sudah membaik. Dan beruntungnya, Azmi lah orang yang mengantarkan Nur kembali ke kosannya.
"Makasih A!", kata Nur saat keduanya sampai di halaman kost.
"Iya. Jangan lupa, jaga kesehatan. Hutang kamu banyak padaku!", kata Azmi lalu menuruni mobilnya.
Di bangku penumpang, Nur yang belum turun dari mobil pun merasa kesal karena selalu di ingatkan tentang hutangnya pada duda judes itu. Kalo Alby jutek, dia judes. Soalnya sekalinya ngomong pedes.
Azmi membukakan pintu untuk Nur hingga Nur pun turun dengan perlahan dari mobil Azmi.
"Ngga perlu di antar ke kamar maneh kan?",tanya Azmi penuh selidik.
"Ga. Makasih! Oh ya, mana sini nomor hp sama nomor rekeningnya. Aku transfer deh! Total hutang ku berapa?", tanya Nur.
Keduanya berdiri di depan mobil.
Azmi memicingkan matanya beberapa saat. Lalu ia pun tersenyum menyebalkan.
"Apaan sih? Geura mana nomor hp maneh!!", kata Nur.
"Ngga sopan sama orang tua 'maneh-maneh'!!"
"Ishhh...iya maaf, mana nomor A Azmi!", kata Nur mulai jengah. Azmi pun memberikan kartu namanya pada Nur.
Nur menatap miring kearah Azmi setelah membaca kartu namanya.
"Kenapa?", tanya Azmi bingung.
"Sekretaris CEO kok masih kost di sini? Beli kek apartemen apa rumah!", ledek Nur.
"Teu kudu mereun!", sahut Azmi ketus seperti biasa. Nur pun malas meladeni Azmi yang membuat ia membuang banyak tenaga padahal dia baru pulih.
"Tos ah. Makasih banyak buat semuanya. Nanti aku chat wa buat minta nomor rekening man...eh...A Azmi!", kata Nur sambil berjalan meninggalkan Azmi. Di sepanjang lorong menuju ke kamarnya, tampak Nur menggerutu. Kost nya masih sepi karena sebagian belum pulang kerja. Alhasil, Nur bisa leluasa beristirahat sebelum kehadiran para tetangga kamarnya yang berisik.
Azmi memandangi punggung gadis muda itu yang tampak menggerutu sepanjang lorong sampai akhirnya ia melihat jika Nur sudah masuk ke dalam kamarnya.
Azmi sendiri langsung naik ke mobilnya lagi. Dia harus kembali ke kantor. Sudah di pastikan bos nya akan mencerca dengan berbagai pertanyaan.
'Kudu siap dengerin ocehan pak bos', gumam Azmi.
Tiga puluh menit berlalu, pria tampan itu sampai di gedung HS grup. Dia beberapa kali berpapasan dengan penghuni gedung. Tampilan Azmi yang sebelas dua belas dengan bosnya pun tak luput dari perhatian kaum hawa di sana. Hanya saja memang Azmi 'sedikit lebih ramah' di banding bos nya dalam menyikapi kau hawa yang gampang klepek-klepek.
Entah kenapa Azmi selalu merasa miris saat ia seringkali mendengar kalimat 'rahim gue anget' cuma gara-gara liat tampang ganteng kaum Adam.
Pikiran mereka di mana coba? Traveling atau healing memikirkan dan membayangkan yang 'iya-iya'????
Azmi akan memasuki lift utama yang biasa dia gunakan dengan bosnya dan petinggi perusahaan yang lain. Tapi belum sampai dia menekan tombol lift, tiba-tiba badannya tertubruk seseorang yang cukup Azmi kenal.
"Ishhh...Lo ngalangin jalan gue tahu ngga!", kata gadis itu kesal. Azmi hanya menghela nafas mencoba untuk bersikap biasa, tidak emosi.
"Mau apa lagi anda kemari nona?", tanya Azmi.
"Ketemu si ganteng lah, masa Lo? Tapi ...Lo juga ga kalah ganteng sih kalo di lihat-lihat?", kata gadis itu memandangi Azmi dari ujung kepala sampai ujung kaki. Azmi yang dipandang seperti itu pun merasa risih.
"Sepertinya urat malu anda sudah putus nona Bianca. Dan satu hal lagi, anda sudah tidak bisa sembarangan menemui pak Alby lagi. Besok pak Alby akan segera meresmikan hubungan dengan Nona Amara. Jadi saya harap, anda tidak usah mengganggu mereka lagi!", kata Azmi dengan nada datarnya.
Orang-orang yang mendengar kabar jika bosnya akan segera meresmikan hubungan dengan calonnya pun sedikit terkejut. Ada yang merasa senang, adapula yang patah hati mendadak.
__ADS_1
"Maksudnya? Mereka mau menikah?",tanya Bianca. Azmi tak menjawab apa pun.
"Jadi saya harap anda tidak perlu lagi mencari perhatian pada pak Alby. Jika tidak...saya sendiri yang akan melaporkan pada tuan Pradipta jika putri bungsunya sudah membuat kekacauan lagi."
"Lo ngancam gue?"
"Tidak nona. Hanya mengingatkan. Permisi!", kata Azmi karena tiba-tiba pintu lift terbuka. Azmi pun masuk ke dalamnya. Tak butuh waktu lama, dia pun sampai ke lantainya. Ternyata pak bos nya sedang sibuk saat ia mengintip dari pintu.
Azmi memilih untuk melanjutkan pekerjaannya dari pada mengintip pak bos nya yang sedang serius bekerja.
Tanpa Azmi sadari, tingkahnya di lihat dari cctv oleh bosnya. Alby memang memperbanyak cctv agar semua kejadian yang di kantornya bisa dia lihat. Jika biasanya hanya di ruangannya saja, sekarang tepat di depan pintu. Meskipun di lorong sepanjang menuju ke ruangan nya juga terpasang beberapa cctv.
Belum lama Azmi duduk, telpon di mejanya berdering. Dia langsung mengangkatnya.
[Hallo?]
[Maaf pak Azmi, ada tamu untuk pak Alby]
Kata resepsionis dari lantai dasar.
[Tamu? Siapa?]
[Tuan Rahadi]
[Tuan Rahadi? Oh, sebentar. Saya tanya dulu. Dua menit lagi saya hubungi kamu]
[Siap pak!]
Azmi langsung masuk ke ruangan Alby.
"Maaf bos, calon mertua ada di bawah mau bertemu. Diijinkan naik atau bertemu di bawah?", tanya Azmi tanpa basa-basi.
''Bapaknya Amara lah!", sahut Azmi sewot.
"Hah? Papi ke sini?", tanya Alby berdiri dari kursinya. Azmi mengangguk.
"Eum, ya udah suruh ke sini aja. Gimana? Sopan ngga?"
"Kalo menurut gue sih, situ nyamperin ke bawah. Baru ajak kemari."
"Gitu ya?", tanya Alby bingung.
"Iya lah. Gue bilang sama resepsionis dulu, kalo si bos mau turun!", ujar Azmi keluar begitu saja. Belum juga Azmi menekan telpon , Alby sudah turun buru-buru.
Tak butuh waktu lama, lift Alby sudah berada di bawah.
"Papi!", Alby menghampiri calon mertuanya tak lupa ia mencium punggung tangan orang tua itu.
"Lagi sibuk?", tanya papi. Alby tak mungkin menjawab 'iya', pasti nanti papi Amara akan berpikir sudah mengganggunya.
"Ngga kok Pi. Papi ada perlu sama saya? Kenapa sampai ke kantor?"
Rahadi tersenyum simpul. Dia tahu calon menantunya sedang menutupi kegugupannya.
"Tentu ada hal yang penting By. Kalo tidak, papi tidak akan mungkin sampai ke sini!", kata lelaki tua itu menepuk bahu Alby.
Pemandangan itu menyita perhatian orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.
__ADS_1
"Eum, papi sudah makan siang? Bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol sambil makan siang Pi?, di restoran depan mungkin?", tawar Alby sembari deg-degan.
"Di food court saja bisa kok!", jawab papi santai.
"Heum, baiklah. Silahkan Pi!", Alby mempersilahkan papi untuk berjalan lebih dulu ke lift untuk menuju ke food court.
Lantai food court ada di lantai tiga, makanya tidak lama mereka berdua sudah sampai. Alby memilihkan tempat duduk, view nya hanya gedung-gedung di sekitar gedung HS grup.
"Mau makan apa Pi? Biar Alby pesankan?"
"Apa saja, samakan dengan kamu!", kata papi.
"Apa ada makanan yang papi hindari?", tanya Alby. Papi tersenyum.
Perhatian sekali anak ini!
"Papi ngga bisa makan pedas."
Alby pun mengangguk, setelah itu barulah ia menuju ke stand makanan yang tidak mengandung pedas-pedas.
"Sebentar ya Pi!", kata Alby ,lalu ia pun mendudukkan bokongnya ke kursi.
"Santai saja By!", kata Papi.
"Heum, maaf Pi sebenarnya ada apa ya?",tanya Alby.
"Kamu sudah punya persiapan apa untuk melamar Amara?",tanya Papi.
"Kebetulan Mak saya yang menyiapkan semua Pi. Dari barang seserahan termasuk cincin pertunangan juga."
Papi mengangguk sesaat. Tak lama kemudian makanan pun datang.
"Makan dulu!", ujar papi. Alby pun menganggukkan kepalanya. Mereka makan siang tanpa berbicara apapun hingga sepuluh menit berlalu makan siang mereka pun usai.
Papi menyerahkan sebuah map pada Alby.
"Ini apa Pi?", tanya Alby.
"Buka saja!", kata Papi. Alby pun membuka map tersebut. Isinya beberapa dokumen penting milik Amara termasuk surat keterangan belum menikah.
"Maksudnya Pi?",tanya Alby bingung.
"Papi rasa, kalian tidak perlu acara lamaran seperti rencana di awal. Kalian langsing menikah saja, besok lusa. Kamu masih sempat mengurus surat-surat kamu kan? Jadi, awal rencana lamaran langsung menikah malam itu juga. Bagaimana???", tantang Papi.
"Langsung menikah, Pa-pi?",Alby tampak memasang wajah terkejutnya.
"Iya, sebentar lagi puasa. Sudah tradisi kami jika bulan ramadhan, kami pulang ke Jogja. Meskipun kami tidak merayakannya. Tapi sudah jadi kebiasaan keluarga jika setiap ramadhan, keluarga kami akan menyediakan takjil untuk yang berpuasa di lingkungan keluarga besar kami."
"Masyaallah....!", ucap Alby kagum.
"Bagaimana? Kamu sanggup? Kalau tidak...papi akan undur nanti, dua bulan setelah Idhul Adha. Karena papi masih di sana."
"Sanggup Pi!", jawab Alby tegas. Rahadi pun tersenyum puas. Akhirnya, ia akan melihat putri bungsunya menikah meski dia tak bisa menjadi wali nya. Tapi setidaknya ia bisa menyaksikan momen sakral itu.
*****
Heummm....baru sempet aplot. Keur sibuk pisan urang 🤭. Aya anu ngadagoan teu????😆😆😆😆
__ADS_1
Selamat berbuka puasa 🙏🙏🙏🙏🙏
Makasih 🙏🙏🙏🙏🙏