Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 28


__ADS_3

Amara


Satu bulan berlalu, mati-matian aku menahan diri untuk tidak menghubungi Alby. Bahkan saat ada kuliah malam pun, aku berusia menghindari nya dan tak menunjukkan diri di depannya. Tapi apa yang aku dapatkan?


Alby benar-benar tak menghubungi ku. Aku hanya bisa tersenyum miris. Untuk kesekian kalinya aku patah hati.


Sudah biasa Amara...sudah biasa! Jika memang Alby tak bisa di perjuangkan, ya sudah!


Saat ini, aku sudah berada di kantor. Tadi pagi aku melihat Bia datang bersama Febri. Bia sudah mengandung. Mereka sebahagia itu!


Apel pagi sudah usai, aku pun ke kamar mandi lebih dulu untuk sekedar mendinginkan otak dan perasaan ku. Aku bukan tipikal perempuan yang hobi bersolek. Memakai make up sekedarnya saja, itu pun dari rumah. Jika dari rumah sudah luntur ya sudah, tak ada momen touch up lagi sampai jam pulang dinas.


Ponsel ku bergetar, saat ku lihat ternyata nama Alby yang tertera di sana. Apakah aku senang??? Dengan sedikit tergesa-gesa, aku mengangkat panggilan teleponnya.


[Hallo]


[Hallo Mara!]


[Ya, By!]


[Kamu marah sama aku?]


Aku tak langsung menjawab, apakah ini salah satu ide dari Azmi. Aku tak tahu.


[Tidak]


[Lalu, untuk apa sebulan ini kamu menghindari ku?]


[Kamu sadar aku menghindar dari mu?]


[Ya!]


[Bukankah ini keinginan mu?]


Alby tak menyahuti lagi. Mungkin dia membenarkan ucapan ku.


[Bukankah aku tak bisa memberikan kenyamanan untuk mu Alby?]


Alby masih tak menjawab pertanyaan ku. Saat ku lihat ponsel ku, kondisi nya masih aktif menghubungi ku.


[Maaf!]


[Kalo memang kamu tak mau aku dekati ya sudah! Jangan hubungi aku! Seperti aku yang sudah berusaha mati-matian untuk lupain kamu]


Boong banget sih Lo, Amara!


[Mara, aku...]


[Apa? Kamu mau bilang masih cinta sama Bia? Silahkan! Bahkan saat ini dengan mata kepala ku sendiri, aku melihat betapa bahagianya Bia dan Febri. Apa aku sakit? Ya. Aku akui ada perasaan nyeri di hatiku By. Tapi aku lebih sakit hati lagi saat aku berusaha menjauh dari kamu Alby!]


Di seberang sana, Alby meremas rambutnya dengan kasar.


[Puas kan kamu sekarang? Aku sudah tidak lagi mengganggu mu Alby!]


Tut...Tut...


Aku mematikan sambungan telepon ku dengan Alby. Bahkan aku menonaktifkan ponsel ku. Alby sendiri berusaha untuk menghubungi Amara lagi, tapi sayang nya tak bisa.


Aku membasuh wajah ku dengan air sebanyak mungkin. Setidaknya untuk meredam emosi ku.

__ADS_1


Setelah ku rasa tenang, aku pun keluar dari kamar mandi. Dan aku sedikit terkejut saat berada di depan pintu, Bia pun baru keluar dari kamar mandi.


Aku hanya menyunggingkan senyum tipis dan mengangguk. Setelah itu, aku meninggalkan kamar mandi.


Di ruangan ku, aku kembali fokus dengan pekerjaan ku. Ada form yang tersedia untuk menjadi relawan di perbatasan. Kali ini tidak bersifat memaksa seperti tugas saat di negara konflik. Tapi, untuk pangkat selevel aku, aku berhak untuk memilih. Apalagi aku seorang perempuan dan masih single. (Lagi dalam mode ngawur yak ,😆😆)


Apa mungkin aku ikut saja ke perbatasan! Setidaknya, aku bisa melupakan yang namanya patah hati yang lagi-lagi harus ku alami. Hanya karena laki-laki kenapa aku harus selemah ini??!!!


******


Alby


Azmi duduk di hadapan ku. Kami baru saja selesai sholat Dhuha.


"Ga pengen ketemu Amara?"


"Ckkk, apaan sih!"


"Yakin? Ga kangen masakannya? Agresif nya? Perhatian nya?"


"Apaan sih Lo ah!", kataku berusaha untuk bersikap masa bodoh.


Sebenarnya, kalo boleh jujur aku cukup kehilangannya. Tingkahnya yang apa adanya, keterusterangannya tertarik padaku. Dia benar-benar menghilang begitu saja dari kehidupan ku. Bahkan di kampus pun ,meski kendaraan nya terpakir bersebelahan dengan mobil ku, aku sama sekali tak pernah melihat sosoknya.


Dia benar-benar menghindari ku. Apa aku salah? Aku hanya tidak ingin menyakiti Amara. Itu saja!


Tapi, apakah dengan perlakuan ku seperti ini juga menyakiti nya?


"Ngga usah bohongi diri sendiri!", sindir Azmi. Kami sudah selayaknya sahabat karib, tidak seperti awal-awal yang penuh dengan kecanggungan.


"Lo ngomong apa sih dari tadi?"


"Jangan pura-pura ga paham kenapa!"


"Gue tahu, Lo uring-uringan selama ini. Lo kelewat gengsi jadi orang!"


"Udah berani komen gue kaya gitu?"


Azmi mengedikan bahunya. Saat ini keduanya sedang dalam mode makan gabut alias gaji buta. Gimana ngga? Yang lain udah sibuk sama kerjaannya, duo ganteng ini malah curhat-curhatan segala. Memang sih, ada pekerjaan tapi tidak terlalu mendesak. Apalagi tidak ada jadwal meeting keluar. So... santai saja lah toh keduanya petinggi perusahaan ini hihihi...


"Lo yang uring-uringan, tapi anak buah Lo yang jadi sasaran!", celetuk Azmi.


"Lo bener-bener...eeuuughhh!", aku mengepalkan tanganku meski tak sampai menonjok nya.


"Lo tahu, gue ga suka cewek caper sama gue! Apalagi karyawan gue sendiri. Apalagi itu, siapa Bianca! Kok bisa-bisa HRD nerima bocah itu!",kataku bersungut-sungut.


"Hahaha kan waktu itu Lo sendiri yang bilang, itu urusan HRD bukan urusan Lo. Giliran di ACC sama HRD, Lo nya komplain!"


"Ga lucu!", sahutku ketus.


"Ga usah gedein gengsi By! Ya...gua ga maksud nyuruh Lo pacaran sih! Haram!!!"


Aku memutar bola mataku dengan malas. Makin ke sini, kami semakin mirip upil Ipul tahu ngga!


"Tapi, dari yang gue liat...Amara tulus sayang sama Lo!"


"Ckkk? Ini nih, Lo tuh kebanyakan sok tahu nya!"


"Dibilangin!"

__ADS_1


"Au ah lap!", aku bangkit dari duduk ku menunggu ke ruangan ku lagi.


"Terakhir dia ke sini, dia minta tolong ke gue!", kata Azmi. Aku pun menghentikan langkahku lalu berbalik badan.


"Tolong apaan?!"


"Dia pengen gue bantu biar dia deket sama Lo!"


Aku menautkan alisku.


"Maksud Lo apa?"


"Ya, gue yang minta dia ga hubungi Lo!"


Aku mendengus sebal.


"Kenapa? Bukannya Lo seneng dia ga ganggu Lo? Bagus dong ide gue?"


"Lo emang...ishhh!", aku langsung meninggalkan Azmi yang masih duduk di mushola lantai ku.


Setelah sampai ruangan ku, aku langsung mengambil ponsel ku. Tanpa ragu, aku menghubungi Amara. Panggilan pun tersambung.


(Percakapan di eps sebelum nya ya 🤭🤭🤭)


Karena Amara mematikan panggilan ku secara sepihak, aku berusaha menghubunginya lagi. Tapi sayangnya, Amara menonaktifkan ponsel nya.


Aku jadi emosi sendiri! Tiba-tiba Azmi masuk ke ruangan ku. Dia tersenyum meledek ku. Mungkin dia mendengar percakapan ku dengan Amara, atau lebih tepatnya menguping.


"Kantor nya cuma beberapa doang jeda nya sama gedung sebelah! Jalan kaki juga sampe! Samperin aja!", kata Azmi duduk di depan ku.


"Lo bilang ga dukung gue pacaran!"


"Pffffffttttttt...!", Azmi menahan tawanya.


"Siapa juga yang nyuruh pacaran! Dosa!"


"Terus apa maksud Lo ngomong gitu?", tanyaku sambil berdiri.


"Samperin ke sana, kasih penjelasan sama dia. Itu aja! Apa hubungannya sama pacaran?", tanya Azmi dengan nada meledeknya.


"Stres gue dengerin ocehan Lo ga jelas! Gue mau keluar! Pusing Lo berisik mulu! Kalo ada yang penting baru hubungi gue!", kataku sambil mengambil ponsel ku lalu ku masukkan ke dalam saku.


"Halah! Modus! Bilang aja mau nyamperin ke sana! Pake bilang males denger ocehan gue!"


Aku sudah tak menggubris Azmi lagi. Ku langkahkan kaki ku menuju lift. Mungkin ada benarnya juga ide Azmi. Aku harus ke sana, menemui Amara!


Sepeninggal Alby, Azmi justru dibuat bingung sendiri.


Gue salah ga sih bikin mereka baikkan? Kalo nantinya mereka beneran pacaran, gue juga investasi dosa dong? Kan gue yang ojok-ojokin Alby biar hatinya terbuka buat Amara? Ya Allah, semoga Engkau tahu apa maksud dan tujuan ku.


Dari pada aku memikirkan apakah nanti mereka bakal menjalin hubungan atau tidak mending telpon ustadzah Salsabila, biar bisa ngobrol sama Putri!


Azmi bermonolog di dalam ruangan bosnya.


[Assalamualaikum ustadzah Salsabila]


[Walaikumsalam pak Azmi]


Setelah itu, keduanya mengobrolkan tentang Putri, anak perempuan Azmi yang ada di asrama pondok pesantren.

__ADS_1


******


Makasih ✌️🙏


__ADS_2