
Dalamnya laut bisa di selami, dalamnya hati siapa yang tahu????
******
Sepasang kekasih yang tak lain Alby dan Amara memarkirkan kendaraannya di depan rumah makan yang tak terlalu besar. Namun dari luar terlihat jika rumah makan tersebut cukup ramai.
Alby memandangi sekilas suasana warung, konsepnya sama persis seperti warung Bia yang ada di kampung sana. Hanya saja ukurannya lebih kecil karena mungkin lokasinya yang tak terlalu luas.
"Ayok Neng!", ajak Alby. Tapi Amara menahan tangan Alby yang hendak membuka pintu.
"Kenapa sayang?"
"A, jangan panggil aku neng. Panggil saja nama, aku....aku merasa tak enak sama Bia."
Alby mengerutkan keningnya.
"Tak enak sama Bia? Memangnya kenapa?"
"Itu kan panggilan kesayangan Aa ke Bia!"
Duda beranak satu itu menghela nafas perlahan.
"Panggilan neng kan memang di pakai kebanyakan orang dalam suku Sunda bahkan Betawi kan? Apa yang salah?"
Amara bergeming.
"Oke, Mara! Aa panggil Mara! Lebih baik sekarang kita turun. Takut Mak sama Nabil selesai makan, malah kita ngga ketemu di sini!"
Akhirnya Mara pun ikut turun. Mereka langsung menuju ke kasir, menanyakan keberadaan Mak dan putranya. Ternyata, mereka tak ada di warung melainkan di rumah Febri.
"Ayo!", ajak Alby sambil menggandeng tangan Amara.
Di saat yang sama, Bia sedang memunguti bekas mainan anak-anak di teras depan. Ia mendongak menatap dua pasang kaki yang melangkah ke arahnya. Bia pun bangkit, lalu menatap sepasang kekasih yang mengarahkan pandangannya kepada Bia.
"Assalamualaikum!", sapa Alby dan Amara. Keduanya masih saling menggenggam tangan.
"Walaikumsalam!", jawab Bia sambil tersenyum ramah.
"Silahkan masuk Mara!", pinta Bia. Amara pun tersenyum membalas senyuman ramah Bia. Dia sempat melirik Alby yang sepertinya....
"Aa masuk juga kan?", tanya Amara.
"Iya!", jawab Alby. Dia pun membuntuti Amara yang sudah mengekor di belakang Bia.
"Papa!", teriak Nabil saat menyadari sang papa datang bersama 'Mama Bia' dari luar, juga Tante Amara.
Bocah tampan itu menghampiri papanya dan meminta gendong pada Alby.
"Hei ganteng apa kabar?", sapa Amara.
"Baik Tante Mara yang cantik!", puji Nabil , ia pun turun dari gendongan Alby.
"Mak!", sapa Amara pada Mak Titin.
"Eh, neng Mara. Bareng sama Alby?",tanya Mak Titin ramah. Amara mengangguk pelan dan tersenyum.
Ada mang sapto juga di sana yang hanya melempar senyum pada Amara.
"Duduk Ra!", pinta Bia sambil meletakkan dua gelas minuman.
"Silahkan!", ujar Bia mempersilahkan Mara dan Alby untuk meminum teh nya.
"Makasih Bia!", kata Mara.
"Makasih...!", hanya itu yang keluar dari bibir Alby. Alby duduk di antara Amara dan Alby.
"Mama Bia!", panggil Nabil. Bia menelan salivanya kasar. Bukan dia tak mau di panggil seperti itu, hanya saja ada Amara yang notabene akan jadi istri Alby. Dia tak enak sendiri.
Sedang Alby dan Amara hanya saling melempar pandangan. Entah apa yang ada di otak mereka masing-masing.
"Nabil, sini!", panggil Bia. Nabil pun menuruti apa kata Bia. Bocah tampan itu duduk di pangkuan Bia.
"Sayang!", Bia mengusap kepala Nabil. Dia sudah memaafkan semua yang sudah terjadi. Bia sudah berdamai dengan masa lalunya yang berkaitan dengan kehadiran Nabil di dunia ini. Dan ya... begini akhirnya, Bia yang memang pada dasarnya penyayang pun akhirnya luluh dengan sosok tampan yang menggemaskan itu.
"Boleh ngga panggilnya jangan 'Mama Bia'? Kalo mau, panggilnya Ibu aja. Kaya Fesha Ribi? Heum?", tawar Bia.
"Kata kakak Nabila, panggilnya papa sama mama!", jawab Nabil polos. Bia dan semuanya pun terheran-heran dengan ucapan Nabil tentang Nabila.
"Kakak Nabila siapa Bil?", tanya Mak.
"Anaknya papa sama Mama Bia. Makanya Nabil ikutan panggil mama juga, biar sama kaya Kakak. Kalo sama bunda Silvy kan bunda. Nanti kalo papa menikah sama Tante Amara, Nabil mau panggil mamih. Kaya Tante amara panggil maminya, Oma nya Dhea."
Semua ternganga dengan serentetan kalimat yang keluar dari bibir mungil itu.
Mau percaya????
"Oh, begitu ya?", kata Bia putus asa. Terserah dia saja lah! Batin Bia.
Nabil pindah ke papa nya lagi dan diapit oleh Mara dan Alby.
__ADS_1
"Mak, udah makan belum?", tanya Alby.
"Udah Jang, tadi makan bareng-bareng sama Bia." Alby hanya mengangguk.
"Kirain mah Mak makan di rumah makan, bukan di rumah Febri begini!", kata Alby sedikit tak enak pada mantan istrinya.
Apakah lelaki itu benar-benar sudah move on dari sosok cantik dan mungil itu???? Mungkin itu juga pertanyaan yang sama dalam hati Amara. Tapi Amara berusaha percaya jika kekasihnya benar-benar mencintai nya.
" Ngga apa-apa By. Kan masakan rumah sama warung mah beda!", kata Bia.
Apa? Dia panggil namaku saja? Tanpa embel-embel Aa seperti sebelumnya??? Tanya Alby dalam hati.
"Makasih Bi!", kata Alby.
"Oh iya, tahu gitu tadi kita berangkat bareng ke sininya. Maneh teu bebejaan lamun neng Mara arek milu kadieu!"
"Kan Alby ge poho Mak ngga baca wa Mak."
"Heuh nyak. Nyak tos lah, yang penting udah ketemu di sini."
"Tadinya mah Mara mau ke rumah Mak, tapi Alby teh ngga bilang ke Mak."
"Oh, ya ampun. Maaf atuh neng Mara. Tahu neng Mara mau datang mah, Mak ngga pergi. Ya Nabil!", kata Mak. Nabil kecil pun hanya mengangguk.
"Ngga apa-apa Mak, kan Mara juga udah ketemu Mak sama Nabil di sini. Ngga apa-apa kan Bia?", tanya Amara pada si tuan rumah.
"Heuh? Ya...ya ngga apa-apa atuh!'', sahut Bia sedikit terkejut. Entah apa yang ada dalam pikiran Bia.
Alby berusaha bersikap biasa saja, padahal dengan ujung ekor matanya dia memperhatikan mantan istrinya, sedikit...ya cuma sedikit sekali.
Fesha Ribi dan Nabil kembali bermain. Ketiga anak beda usia itu tampak senang bermain mainan sederhana yang ada di hadapan mereka.
Suasana yang tadi cukup kaku, mulai mencair saat Febri keluar dari kamarnya dengan pakaian santai. Mungkin saat kedatangan dua tamu agung, dia pun baru pulang dan membersihkan diri lebih dulu.
"Eh, By, Ra, udah lama?", sapa Febri basa-basi lalu menyalami Alby dan Amara bergantian.
"Belum kok!Lo baru balik?",jawab plus tanya Alby.
"Iya, biasa lah akhir bulan heheh."
"Eum, begitu ya!", sahut Alby sekenanya. Dia kan memang tidak tahu pekerjaan Febri ngapain aja.
"Kayanya udah ada yang mau official nih!", ledek Febri sambil menyomot gorengan yang ada di piring.
"Mau aku buatin kopi mas?", tanya Bia pada Febri.
Bia pun kembali ke dapur untuk membuat kopi.
"Jadi kapan nih Ra?", tanya Febri pada Amara.
"Huh? Apanya yang kapan?",tanya Amara karena dia sempat ngelag sesaat karena melihat penampakan romantis pasangan suami istri yang sebenarnya sederhana, hanya menawarkan minuman tapi terlihat jika keduanya bahagia. Boleh iri ngga sih???
"Salah nanya kayanya gue, kapan By?", tanya Febri yang kini di tunjukkan pada Alby.
"Ya doakan saja secepatnya Feb!", jawab Alby bersamaan dengan Bia yang keluar dari dapur membawa kopi untuk Febri.
Untuk sepersekian detik, mata Alby dan Bia bertemu. Hanya sepersekian detik ya!!!
"Iya kapan?", sekarang Mak yang bertanya pada Alby. Alby pun menoleh pada Mak nya.
"Mak bersedianya kapan? Papinya Mara juga sempat nanya sih Mak."
"Kamu siapnya kapan neng Mara?", Mak justru bertanya pada calon menantunya.
"Heuh? Mara terserah A Alby aja Mak!", jawab Amara. Mak Titin tersenyum.
"Ya udah, akhir pekan aja gimana By?", tanya Mak.
"Boleh Mak. Gimana baiknya aja menurut Mak !", jawab Alby. Amara menyunggingkan senyumnya. Mungkin dia merasa sangat bahagia.
Berbeda dengan istri pak Kapten yang nampak tersenyum tapi ada sesuatu yang sepertinya sedang ia sembunyikan. Apakah Bia merasa cemburu saat ini??? Entah, mungkin mulutnya bisa berkata tidak. Tapi entah isi hati seseorang kan?
Alby keluar sebentar menghampiri mang Sapto, meminta Mang Sapto pulang lebih dulu. Mak dan Nabil akan pulang bersamanya nanti.
Saat Alby masuk ke dalam ruangan itu, tampak semua sedang berbicara santai. Tapi tidak ada sosok mantan istrinya disana. Mungkin sedang ada di belakang.
"Aa kenapa? Meringis begitu?", tanya Amara melihat Alby yang sepertinya sedang merasa tak nyaman dengan perutnya. Alby berbisik sedikit pada Amara. Gadis itu hanya menggeleng heran.
"Ya udah sih, tinggal bilang sama yang punya rumah. Numpang ke belakang kan bisa?", kata Amara. Febri pun mendengar hal itu.
"Mau kebelakang? Ya silahkan aja By!", ujar Febri. Alby nyengir kuda, tak enak sendiri. Rumah Febri sekarang lebih besar dibanding dulu saat keduanya baru menikah.
"Ya udah, punten ya Feb!", pamit Alby. Febri pun mempersilahkan.
Alby pun menuju ke kamar mandi yang letaknya bersebelahan dengan dapur. Ternyata Bia berada di dapur sedang mencuci botol susu anak-anaknya dan juga memasak air.
Lagi-lagi keduanya saling menatap beberapa detik, tapi Bia melanjutkan aktivitasnya. Sedang Alby langsung masuk ke kamar mandi.
Tak berselang lama, Alby pun sudah keluar. Terlihat Bia yang sedang mengaduk susu Fesha Ribi.
__ADS_1
Entah hal apa yang membuat Alby melangkah mendekati mantan istrinya itu.
"Neng!", panggil Alby lirih. Meski lirih, Bia sedikit terkejut lalu menoleh pada sosok mantan suaminya.
"Eh, iya A, eh By? Kenapa?", tanya nya gagap.
"Kamu...setuju kan kalau aku sama Amara..."
"Heheh kenapa aku harus tidak setuju? Ya tentu silahkan saja! Aku ngga ada hak untuk tidak setuju kan? Aku rasa Amara gadis yang baik buat kamu!", kata Bia sambil menutup dua botol susu bergantian. Saat ia akan meninggalkan dapur, Alby menarik tangannya beberapa saat.
Bia hanya menatap pergelangan tangan Alby yang melingkar di lengannya, tapi meski hanya tatapan singkat Alby pun menyadarinya.
"Maaf!", ujarnya pelan. Terdengar Bia menghela nafas pelan.
"Aku harap, kamu tidak akan pernah menyakiti hati gadis sebaik Amara. Jangan pernah mengecewakan ketulusannya. Meskipun hubungan kita sekarang sudah membaik, tapi setidaknya tetaplah jaga jarak. Aku ngga mau ada yang salah paham. Entah itu suami ku atau pasangan kamu kelak."
Bia berkat seperti itu sambil memunggungi nya lalu setelah itu ia pun berjalan ke depan. Tanpa di ketahui keduanya, ada seseorang yang menangkap momen mereka berdua. Bukan momen mesra, tapi terlihat jika keduanya berusaha menutupi dan menyangkal jika mereka memiliki luka yang sama. Luka yang yang mungkin tak seharusnya ada dalam hidup mereka.
'Maaf', gumam orang itu.
Bia menyerahkan botol susu untuk masing-masing anaknya. Perempuan yang sedang hamil muda itu pun terlihat sedikit pucat. Mungkin karena bawaan bayi.
Febri dan Amara masih mengobrol tentang beberapa hal saat Alby keluar dari belakang dengan wajah yang sedikit basah.
Dia kembali bergabung mengobrol bersama calon istri dan ya ...suami dari mantan istrinya.
Sepertinya mustahil sekali jika di dunia nyata ada mereka yang benar-benar seperti itu???? 🤔🤔🤔
Mereka berpamitan pulang saat Nabil merengek minta pulang karena ngantuk. Tuan rumah juga sepertinya butuh istirahat setelah menerima tamu dadakan.
Setelah Alby dan yang lain keluar, tinggallah sepasang suami istri dan anak kembarnya di rumah itu.
"Ikhlas kan nduk?", tanya Febri sambil merangkul bahu istrinya. Bia tersenyum.
"Kenapa aku harus ngga ikhlas toh mas?", tanya Bia balik. Febri mengecup kening istrinya.
"Semoga mereka bahagia ya nduk!", kata Febri. Bia mengangguk dalam dekapan suaminya.
Berbeda dengan situasi di mobil yang Alby kendarai. Suasana nya hening karena Nabil sudah pulas tertidur di pangkuan Mak.
"Mak mau pulang dulu apa antar Amara dulu Mak?", tanya Alby.
"Kalo dari sini mah kayanya Mak dulu deh. Baru kamu antar Amara."
Alby pun mengangguk paham.
"Iya Mak!"
Perjalanan menuju ke kediaman Hartama pun tak memakan waktu terlalu banyak. Setelah sampai di halaman rumah, Alby turun menggendong Nabil lebih dulu untuk di bawa ke kamar.
Mak dan Amara sama-sama turun dari mobil. Mereka berdua pun masuk ke dalam halaman rumah.
"Neng Mara?"
"Iya Mak?"
"Neng Mara beneran kan mau nerima Alby yang statusnya duda beranak satu? Bahkan pernah menikah dua kali sebelumnya?", tanya Mak. Alby yang tadinya akan keluar menghampiri mereka pun membiarkan calon mantu dan calon mertua berbicara dulu.
"Insyaallah Mak. Amara akan menganggap Nabil anak Mara sendiri." Amara menjawabnya dengan tenang dan lembut sembari tersenyum tulus. Mak pun tersenyum mengusap lengan atas Amara.
"Makasih Neng. Hanya saja... mungkin neng Mara bersedia menerima kekurangan Alby, tapi bagaimana dengan...."
"Keluarga Mara mendukung kami kok Mak."
Mak pun melebarkan senyumnya. Ia memeluk calon menantunya dengan haru.
"Makasih Neng Mara. Semoga kamu benar-benar bisa membuat Alby bahagia setelah apa yang dia alami selama ini!"
Mara mengusap punggung Mak. Ia merasa haru karena ucapan Mak Titin.
Alby berdehem pelan menghampiri kedua perempuan beda usia itu.
"Mak istirahat gih. Alby antar Mara dulu."
"Iya jang. Hati-hati bawa mobilnya ya Jang!", Mak memperingatkan putra nya.
"Iya Mak."
"Amara pamit ya Mak. Assalamualaikum!", pamit Amara.
"Walaikumsalam?", jawab Mak. Mak pun masuk ke dalam rumah sedang sepasang kekasih itu masuk ke mobil Alby lagi.
*****
Lanjut ora??? 🤭🤭🤭
Tengkyu ✌️🙏🙏🙏🙏🙏
Selamat berpuasa 🤗🤗🤗
__ADS_1