
Alby
Pagi menyapa....
Aku sudah memandikan Nabil ku. Kami berdua keluar dari kamar langsung menuju ke meja makan. Ku dudukkan Nabil di bangku miliknya.
"Mau susu sayang?",tanya Mak pada Nabil.
"Udah!", jawab nya singkat.
"Mau roti tawar atau nasi uduk?", Mak memberikan pilihan lagi.
Tapi Nabil justru menengok padaku. Melihat aku sedang mengisi piring ku dengan nasi uduk dan bihun goreng serta telor dadar.
"Mau kaya papa tapi suapin papa!",kata Nabil. Aku menoleh padanya.
"Iya, papa suapin!",kataku sambil mengusap kepalanya.
"Doa makan?",tanyaku pada Nabil.
"Bismillahirrahmanirrahim. Allahuma bariklana fima Rozak tana wakina adzabanar. aamiin!", katanya dengan suara cadel.
"Pinter nya masyaallah anak ayah!"
Nabil tersenyum senang di puji seperti itu. Memang seperti itu bukan, sesekali kita perlu memuji untuk anak kita agar dia merasa bangga atas dirinya sendiri.
Aku pun perlahan menyuapi Nabil. Dia cukup lahap memakan nasi uduk itu.
"Papa!"
"Iya nak!?"
"Jadi kapan ke rumah Abah di kampung?", tanya Nabil padaku. Aku melirik Mak yang ternyata juga menatap ku.
"Eum... insya Allah kalo kerjaan papa udah ngga banyak ya sayang. Kalo pergi sekarang-sekarang kasian om Azmi nya."
Nabil tampak cemberut mendengar jawaban dariku. Apa anak kecil itu kecewa?
"Sayang, dengerin papa. Papa mau kok pulang ke kampung. Pengen... banget ke sana lagi. Tapi...papa punya tanggung jawab sekarang. Kerjaan papa masih banyak. Kamu ngerti kan sayang?"
"Tanggung jawab itu apa?",tanya Nabil.
Aku menghela nafas pelan. Salahku memang menjelaskan hal yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
__ADS_1
"Tanggung jawab itu, pekerjaan yang harus papa lakukan. Contoh nya nih! Nabil harus makan kenyang dengan makanan yang bergizi, tidur di tempat yang nyaman biar bobo nya nyenyak. Nah itu ... tanggung jawab papa, menjadi orang tua Nabil!"
Ya Allah, semoga putra ku paham!
Nabil tampak terdiam. Mungkin sedang berpikir. Aku takut di bertanya lagi tapi aku tak bisa memberikan jawaban yang memuaskan baginya.
"Oke pa! Tapi papa janji ya, kita ke rumah Abah di kampung!"
"Iya sayang. Insyaallah. Doakan papa biar kerjaan nya lancar. Jadi bisa ke kampung Abah!"
Nabil mengangguk riang. Tak lama kemudian, teh Ani datang. Nabil pun beralih pada pengasuh nya. Jadi aku sekalian berpamitan pada Nabil juga Mak.
.
.
"Mi!"
''Mi apa? Goreng apa rebus?",tanya Azmi.
"Baperan deh sejak di tinggal nikah ustazah Salsabila! Maksud gue, Azmi!"
"Apaan sih bawa-bawa ustadzah Salsabila?! Dia udah bahagia kali sekarang. Aku mah mau cari yang kaya mendiang istriku aja!"
Azmi melanjutkan pekerjaannya. Dan aku sendiri pun masuk ke dalam ruangan ku. Ternyata banyak sekali berkas yang harus ku urus hari ini. Kapan aku bisa menjenguk papi nya Mara?
Ceklekk... pintu terbuka. Azmi datang membawakan map yang lain.
"Ini kerjaan gue, Azmi?"
"Bukan! Kerjaan Nabil dua puluh tahun yang akan datang", jawab nya ringan tanpa beban.
"Rese Lo!", dia meletakkan map itu di tumpukan yang ada di dekat lengan kanan ku.
"Kapan gue ada waktu senggang Mi? Gue mau pulang ke kampung. Mak sama anak gue pengen ke sana!"
Azmi membuka ponselnya. Lalu mengecewakan jadwal ku.
"Mungkin dua atau tiga hari lagi ada waktu longgar setelah itu bisa ambil cuti selama weekend!", jawab Azmi.
"Kalo cuma weekend emang ga cukup ya?",tanya Azmi.
"Capek pulang pergi Azmi. Kecuali....?"
__ADS_1
Aku menatapnya serius.
"Apa??"
"Kecuali Lo ikut. Weekend kan? Jadi Lo bisa gantian nyetir mobil."
''Kan ada mang Sapto?", tanyanya.
"Iya, tapi masa teh Mila jaga rumah sendirian."
Azmi nampak berpikir sebentar.
"Ya udah, gue ikut! Tapi di hitung kerja lembur ya!", kata Azmi.
"Terserah Lo!", kataku. Setelah itu dia pun keluar dari ruangan ku menuju ke meja nya lagi.
Hampir jam setengah satu, Azmi masuk lagi ke ruangan ku.
"Aku mau sholat, bareng ga?"
"Bareng!", jawabku sambil melepas sepatu pantofel ku lalu ku ganti dengan sandal jepit.
Kami berdua menuju ke mushola lantai kami. Seperti biasa, kami berdua selalu menjadi pusat perhatian. Padahal mereka sudah terbiasa melihat kami berdua.
"Makan di kantin?",tanya Azmi.
"Lo ga masak?"
"Lagi males. Belum belanja!", jawab Alby.
"Ya udah, bapak rumah tangga. Kita makan siang di kantin!", aku menepuk bahunya.
"Sialan Lo!",Azmi mendengus kesal. Tapi aku justru senang kalau melihat dia kesal seperti itu.
Kami sudah sampai di kantin. Aku dan Azmi memilih duduk di pojokan. Jika biasnya aku memakai jas, tapi tidak saat aku solat. Jadi jika di lihat, aku tak ada bedanya dengan karyawan ku yang hanya memakai kemeja.
Akhir-akhir ini aku merasa perubahan cukup signifikan. Tidak ada lagi cewek-cewek lebay yang mencoba mendekati ku. Alhamdulillah?! Sedikit lega!
Di tengah makan siang ku, seseorang menghampiri ku.
"Hai, mas Alby!", sapanya ramah. Aku dan Azmi kompak menoleh.
Ngapain gadis ini ke sini??
__ADS_1