
Lima bulan berlalu...
Febri dan Bia mengirim undangan untuk acara tujuh bulanan kehamilan Bia. Bukan tak ingin datang, tapi memang lebih baik aku tak datang ke acara itu. Aku tak ingin merusak acara sakral keluarga besar Bia dan Febri.
Sebenarnya, aku sendiri tak ada niat apapun untuk merusak acara mereka. Hanya saja, aku tak ingin keluarga baru Bia berpikir yang Tidak. Cukup saat acara pernikahan mereka saja.
Tinggal satu bulan lagi Amara kembali ke ibu kota. Aku benar-benar sudah kehilangan kontak dengan gadis itu. Tapi secara perlahan, aku sudah tak terlalu memikirkan bagaimana perasaan gadis itu setelah pertemuan lima bulan yang lalu. Mungkin perasaan gadis itu juga sudah berubah. Tak ada lagi keinginan bersama ku.
Aku juga tak berusaha lagi untuk mencari informasi dari kedua orang tua Amara. Biarlah, takdir yang akan menentukan kehidupan ku yang akan datang.
Benarkah aku sudah jatuh hati pada seorang Amara selama ini? Aku rasa, ini bukan tentang cinta. Tapi entah lah! Yang jelas, dari awal kami belum ada komitmen apa pun. Hanya saja, mulut ku yang kadang lepas kontrol tak bisa mengendalikan seperti apa berbicara dengan lebih sopan.
Sejak awal aku bermasalah dengan Bia, aku berubah. Aku sadari itu. Aku lebih temperamen, apalagi pada almarhumah Silvy.
Bahkan sudah sebulan ini aku tak ziarah makam Silvy dan Papa Tama. Fokus ku kembali pada Nabil dan Nabil selalu. Aku melupakan Amara saat sedang menjalani kesibukan ku. Tapi aku akan mengingat nya kembali saat aku sedang seperti sekarang ini, sepi!
Jam dinding ku sudah menunjukkan pukul satu dini hari. Itu artinya sudah hampir pagi aku belum juga bisa memejamkan mataku.
Aku menoleh pada Nabil yang tidur tengkurap di samping ku. Dia sudah besar. Ku lihat kalender yang terpasang di dinding kamar ku.
Sebulan lagi Nabil ulang tahun yang ke dua. Apa yang sudah kuberikan pada putraku?
Harta yang melimpah adalah miliknya dari kakek dan bundanya. Aku hanya mampu memberikan cinta dan kasih sayang. Padahal, aku juga sering sibuk dengan pekerjaan ku.
Perlahan, aku mulai menguap lalu merebahkan diri di samping Nabil. Perasaan aku baru saja tidur, tapi ternyata azan subuh berkumandang. Aku bangun, Nabil ikut bangun.
"Papa!", Nabil sudah mulai jelas berbicara.
"Iya sayang? Papa mau solat subuh, Nabil ikut?"
"Itut!", sahut Nabil cepat. Aku pun menurunkannya dari kasur. Kami berjalan berita menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
"Papa, abil mandi!", kata Nabil. Aku pun menyalakan air hangat.
"Mau mandi sekalian?", tanya ku, karena dia baru saja melek masa minta mandi.
"Ee duyu!", katanya. Aku pun mulai melepas pakaiannya lalu mendudukkan nya di closet.
"Papa, udah!"
Aku pun membersihkan Nabil setelah itu, aku pun melakukan hal yang sama. Mandi berdua dengan bocil saat subuh begini.
Sebagai pria normal, kadang ada keinginan untuk menuntaskan hasratku. Tapi Alhamdulillah, aku tak pernah sampai 'jajan' di luar sana. Aku lebih memilih bermain solo. Dosa ku sudah terlalu banyak, sebisa mungkin aku menghindar dari zina. Walaupun... menatap lain jenis juga termasuk zina.
Usai kami berdua mandi, kamu bersiap untuk solat subuh. Beruntung, Nabil anak yang cerdas. Ada yang bilang, kecerdasan anak berasal dari gen ibunya. Mungkin Silvy juga pintar, maknanya hal itu menurun pada Nabil.
Masih jam lima pagi, aku kembali duduk di ranjang.
"Nabil mau bobo lagi apa mau ke luar?"
"Ya udah, mau main apa?"
"Hp!"
Aku mencebikkan bibirku.
"Ngga sayang, jangan hp. Gimana kalo kita jalan-jalan, mau?"
"Kemana Pa!?"
"Ke taman kota, mau?"
"Mau..mau...!", kata Nabil riang. Toh j delapan aku baru berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Mau pada ke mana?", tanya Mak saat kami melewati meja makan.
"jalan ke taman nek!"
"Oh, ya? Ke taman? Memang kamu teh ngga kerja Jang?"
"Kerja Mak. Kan berangkat jam delapan."
"Rambut Nabil basah, udah mandi?", tanya Mak berjongkok di depan nabil.
"Abil dah mandi!",jawab Nabil.
"Pinter nya cucu nenek. Ya udah, nenek siapin air anget dulu pake botol. Ya?"
Nabil pun mengangguk riang. Setelah menerima botol dari neneknya, Nabil pun menggandengku menuju ke mobil.
Kami berdua berangkat menuju ke taman kota. Suasana sudah mulai terang. Apalagi kendaraan sudah mulai hilir mudik.
Setelah sampai area taman, aku dan Nabil berjalan-jalan di sekitar taman. Suasana sejuk dan rindang membuat perasaan menjadi nyaman.
"Papa beli balon!", pinta Nabil. Ini sudah jam enam pagi. Taman kota sudah banyak di datangi oleh pengunjung.
"Ya udah ayo beli?!", ajakku.
Saat aku sedang membayar balon, tanpa sengaja aku melihat sosok seorang perempuan yang ku kenal. Perempuan itu berhijab hitam dengan stelan olahraga.
Amara?
Tapi tidak mungkin, dia kan ada di perbatasan. Lagi pula ...mana mungkin dia berhijab?
Aku terlalu menikmati gadis itu, jadi aku kelewat menghalunya. Aku memilih mengabaikannya.
__ADS_1