
"Mari pulang bersama ku baby!",ajak Frans pada Amara. Tapi Amara masih bergeming sambil menatap laki-laki itu.
"Kamu tidak mau pulang bersama ku atau ke rumah sakit?",tanya Frans.
Saat ia mengatakan rumah sakit, Amara langsung teringat pada papinya. Dia takut jika Frans melakukan hal di luar batas, mencelakai papinya mungkin. Seperti apa yang dia katakan, dia bisa melakukan hal itu tanpa menyentuh papi secara langsung.
Bahkan dia juga bilang jika dia bisa melakukan hal yang sama pada ibu nya Alby. Apa itu artinya dia memang tahu akan sesuatu yang berhubungan dengan penyakit jantung? Bukankah papi nya dan ibu nya Alby juga penderita jantung???
Amara menimbang-nimbang sampai akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari restoran Xxx tersebut tanpa berpamitan pada Alby dan yang lain.
"Jangan sakiti siapa pun yang ada hubungannya dengan ku Frans! Aku benar-benar sudah tak mengenal mu lagi!",tuding Amara pada Frans.
"Baby, listen to me! Aku akan menjadi Frans mu seperti yang kamu kenal dulu. Tapi kamu harus kembali padaku baby!",ujar Frans.
"Apa salah ku sebenarnya Frans?",tanya Amara.
"Salahmu adalah tak mau kembali pada ku padahal aku sudah di sini, bersama mu!", jawab Frans.
"Kamu bukan cinta padaku Frans. Kamu hanya terobsesi memiliki ku! Kalau kamu cinta sama aku, kamu tidak akan menyakiti papi ku!"
Mobil yang Frans kendarai membelah jalanan ibu kota yang sudah padat merayap di jam pulang kantor seperti sekarang.
"Aku sudah bilang baby! Aku tidak akan menyakiti papi, asal kamu kembali padaku. Mudah kan sayang?"
"Kenapa kamu jadi seperti ini Frans?! Aku hampir tak lagi mengenali mu!", teriak Amara di dalam mobil.
Frans menarik tangan Amara, lalu mengecupnya.
"Karena aku menginginkan mu baby!"
"Apa yang kamu harapkan dari ku Frans? Tubuhku?",tanya Amara dengan penuh emosi. Frans berdecak, setelah itu ia menggigit telunjuknya sendiri sambil terkekeh pelan.
"Jika aku hanya menginginkan tubuhmu, aku sudah melakukan nya sejak awal. Menarik mu dalam ranjang ku, bukan hal sulit!",jawab Frans dengan nada meledek.
__ADS_1
Amara menahan gejolak di dadanya. Andai Frans mengajaknya berduel di arena tarung, dia pun mau melayaninya.
"Apa jaminan nya jika aku mau bersama mu, papi ku akan baik-baik saja!?"
"Tentu ada baby. Itu mudah!"
Amara mendengus sebal pada mantan kekasihnya itu. Bagaimana bisa dia pernah menjatuhkan hati nya pada sosok laki-laki gila semacam Frans??? Apalagi karena pelarian dari sosok Febri yang sudah ia gandrungi sejak lama.
"Saat kamu mau menikah dengan ku, aku pastikan kondisi papi akan kembali seperti semula. Percaya lah baby!",Frans mengusap kepala Amara. Tapi Amara menepisnya.
Dengan gerakan cepat, Frans menarik dagu Amara agar mau menoleh ke arah nya. Tidak hanya menarik, lebih tepatnya mencengkram dagu lancip milik gadis itu.
Beruntung mobil Frans sudah berada di parkiran rumah sakit.
"Dengar kan aku baby! Menikah lah dengan ku sayang?!", kata Frans masih mencengkram dagu Amara. Hal itu membuat bibir Amara sedikit maju, lalu detik berikutnya Frans mengecup nya singkat.
Meski hanya kecupan ringan, tapi tentu saja hal itu membuat emosi seorang Amara naik ke ubun-ubun.
Amara melawan Frans dengan menarik tangannya. Tapi posisi Amara tak bisa leluasa melawan justru tubuh Amara terkunci oleh Frans yang kini berada di atasnya.
"Kamu ingin bermain di sini sayang?"
Amara mencoba mendorong Frans. Tapi kedua tangannya terkunci di atas kepala nya.
"Lepas!", bentak Amara.
"Yes, i Will!",kata Frans. Tapi ternyata tidak dia lakukan.
"Frans!",bentak Amara lagi. Dan kali ini, Frans turun dari atas Amara. Setelah itu ia keluar dari mobil.
Amara pun ikut turun dari mobil bule itu. Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang dari tadi memperhatikan mereka. Lalu merekamnya diam-diam.
'Ckkkk...ini cewek yang Lo puja-puja By???',gumamnya.
__ADS_1
Setelah Amara dan Frans masuk kedalam gedung rumah sakit, seseorang juga masuk ke sana tapi dengan jarak yang cukup jauh. Tidak terlalu di belakang Amara dan Frans.
Frans merangkul bahu Amara dengan posesif. Meski Amara kerap kali menurunkan tangan itu dari bahunya.
Sayangnya, Frans tak menggubrisnya. Apalagi wajah bule dan ramah nya yang sekarang menjadi salah satu pegawai rumah sakit ini membuat ia sering di sapa oleh sesama rekan nakes.
"Lepaskan tangan mu dari bahuku Frans!", bisik Amara pelan.
"Tentu akan ku lepaskan, nanti di depan mami!", balasnya tak kalah berbisik.
Amara hanya mendengus kesal. Bisa-bisanya dia harus kembali terlibat dengan sosok lelaki gila ini.
Di restoran Xxx....
"Amara tak bisa di hubungi!",ujar Alby cemas.
"Adikku pasti bisa menjaga diri By!",kata Daniel menenangkan Alby. Alby hanya berusaha menarik nafas perlahan untuk menenangkan hatinya.
"Jadi bagaimana dok?",tanya Daniel pada Sakti.
Sakti pun menjelaskan perihal hasil penelitian di lab bersama prof. Surya.
Daniel dan Alby cukup terkejut. Bagaimana bisa benda/zat atau apa pun itu sebutan nya bisa masuk ke tubuh papi nya. Apalagi, masuknya bukan dari unsur makanan. Lalu bagaimanakah cara nya zat itu masuk ke dalam tubuh papi???
"Apa tidak ada cara lain untuk menyelamatkan papi? Pindah rumah sakit misal dok? Untuk menghindari ancaman Frans?", tanya Daniel.
"Kita tidak bisa asal menuduh Frans tanpa bukti Mas Daniel!",kata Sakti.
"Prof Surya sedang melakukan penelitian dan percobaan. Semoga berhasil!", lanjutnya.
Ketiga pria itu diam. Jika Alby dan Daniel hanya khawatir pada kondisi papi, Sakti tak hanya memikirkan itu.
Selain kondisi pasien nya, Sakti juga akan merasa gagal jika tidak bisa memecahkan masalah kali ini.
__ADS_1
Karena belum ada kepastian apa yang akan di ambil, ketiga pria itu pun membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing. Kecuali Daniel yang langsung menuju ke rumah sakit. Karena dia yakin jika Frans pasti membawa nya ke sana.