Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 23


__ADS_3

Alby


Hari ini aku pulang cepat. Sebenarnya tak ada alasan apapun selain ingin bersama dengan Nabil. Sudah lama aku tak quality time bersama anak kesayangan ku.


"Lho, kamu udah pulang?", tanya Mak.


"Iya Mak. Nabil mana?"


"Di pinggir kolam sama si Ani."


Aku pun masuk ke kamar ku untuk melepaskan kemeja ku lalu berganti kaos. Untuk mandi, bagiku masih terlalu siang.


Setelah membersihkan diri, aku menghampiri Nabil yang sedang senang-senangnya berjalan.


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Bayiku kini sudah tumbuh semakin besar. Apalagi Nabil sudah mulai belajar berbicara. Kosakata nya sudah cukup jelas terdengar, papa. Mungkin teh Ani memang sengaja mengajarkan Nabil seperti itu.


"Assalamualaikum, anak papa!"


Nabil yang sedang bermain dengan teh Ani pun menoleh lalu dengan sedikit tergesa-gesa ia menghampiri ku. Setelah dekat, aku pun menggendongnya.


"Nabil kangen papa nggak?", tanyaku sambil mencium pipi chubbynya.


"Papapapp...!", ocehan itu terdengar sangat membahagiakan untuk ku. Jika kebanyakan bayi akan lebih sering memanggil mama nya lebih dulu, Nabil memanggil papa.

__ADS_1


''Teh Ani kalo mau mandi dulu ga apa-apa. Biar Nabil sama aku!"


"Iya pak!", Teh Ani pun meninggalkan kami berdua.


Nabil meminta turun dari gendongan ku. Dia ingin kembali berjalan. Aku pun menurutinya. Tak lupa aku mendokumentasikan perkembangan Nabil dengan memvideokan setiap gerak dan momen yang ku tangkap.


Bayiku sudah besar! Dia tertawa lebar dengan jalan sempoyongan mengejar ku yang berjalan mundur.


Tapi karena aku gemas, aku tak tahan untuk menggendong dan menghujani dengan ciuman. Nabil semakin tertawa riang.


Apa dia juga bisa merasakan kebahagiaan saat aku ada bersama nya saat ini???


Kasian sekali kamu ya nak! Tak pernah sekalipun kamu merasakan kasih sayang seorang ibu. Walaupun Mak dan Teh Mila juga sangat menyayangi mu.


.


.


Titin memperhatikan cucu dan juga menantunya itu dari dekat pintu penghubung ruangan dengan kolam renang.


Ingin rasanya ia meminta Alby untuk mencari pendamping hidup yang baru. Yang bisa menerima keadaan Alby dan juga keberadaan Nabil.


Aku menengok ke arah pintu di mana Mak berdiri menatap kami berdua.

__ADS_1


"Sini Mak!",pintaku.


Mak pun mendekati aku dan Nabil.


"Jang!"


"Naon Mak?"


"Kamu teh belum kepikiran buat cari pendamping hidup? Nabil juga butuh sosok ibu lho!"


Aku mendesah pelan. Jangankan memikirkan seperti itu, melupakan Bia saja masih sulit. Di hatiku masih terisi nama Bia.


Entah masih adakah yang mau bersama ku seandainya tahu masa laluku. Laki-laki yang dua kali gagal menjadi seorang suami. Dua kali mengalami kegagalan menikah. Apalagi menilik sejarah pernikahan ku yang pernah berpoligami.


Siapa yang mau? Paling mereka hanya melihat cover ku sebagai pria tampan yang mapan. Belum tentu mau menerima masa lalu ku yang kelam.


"Jang! Kamu masih muda lho!"


"Ngga tahu Mak. Alby masih trauma untuk menjalankan pernikahan dan hubungan yang baru. Alby tidak ingin menyakiti perasaan perempuan lain karena Alby masih cinta sama Bia!"


"Ya Allah Jang, inget! Bia teh sudah bersuami. Kamu juga harus memikirkan masa depan mu. Jangan terjebak oleh masa lalu Jang!"


"Alby masih berusaha mak. Tapi untuk membuka hati Alby buat perempuan lain, Alby belum bisa."

__ADS_1


__ADS_2