Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 166


__ADS_3

Alby kembali ke ruangannya. Saat ia melintas di samping Azmi, dia meminta Azmi masuk ke ruangannya.


"Masuk Mi!", titah Alby pada asprinya. Azmi pun mengekor di belakangnya.


"Kenapa?", tanya Azmi setelah mereka sama-sama duduk.


"Gue...gue gak jadi melamar Amara."


"Hah? Kenapa? Tuan Rahadi mendadak ga restuin kalian?", tanya Azmi dengan mimik serius.


"Sia*** Lo! Bukan gitu!"


"Terus?"


"Besok gue di minta nikah langsung sama papi. Ngga perlu ada lamaran-lamaran segala. Bahkan, nih... surat kelengkapan nikah Amara aja udah papi siapin!", kata Alby meletakkan sebuah map di hadapan Azmi.


Duda beranak satu itu pun mengambil dan membaca isi map tersebut.


"Jadi, maksudnya apa nih? Lo mau gue urusin kelengkapan surat-surat Lo juga sekarang?", tanya Azmi. Alby menatap intens sahabatnya yang terlalu pengertian, lalu ia pun tersenyum.


"Ngga usah senyum senyum. Gue ngga bakal terkesima sama senyum Lo!", kata Azmi bangkit dari duduknya.


"Gue belom kelar ngomong Azmi. Dengerin gue dulu?!"


Azmi pun kembali duduk.


"Lo emang bener, gue butuh Lo nyiapin kelengkapan gue. Cuma ada yang pengen gue denger dari Lo!"


"Soal?"


Alby menghela nafas sesaat.


"Habis nikah, gue mau ngajak Mara tinggal di mana?", tanya Alby bingung. Karena sebelumnya, ia pikir nikahnya masih lama. Jadi masih bisa berdiskusi dengan Amara. Tapi nyata, acara lamaran besok justru akan jadi kejutan pernikahan kejutan untuk Amara. Tidak ada pembicaraan soal itu!


"Gue ga mungkin ninggalin Nabil kan, Mi!"


"Kalo menurut gue sih, sementara Lo berdua di apartemen Amara. Sampai rumah Lo siap."


"Rumah gue siap, rumah Lo juga Azmi?! Kan sebelahan!"

__ADS_1


"Heum, iya iya. Heran gue. Ceo ngapa ngambil KPR kaya gue!", celetuk Azmi.


"Ngga usah bahas yang lain, fokus sama pertanyaan gue tadi!", sahut Alby.


"Ya, iya sih! Nabil Lo bawa ke apartemen lah!"


"Masalahnya, teh Ani kan ngga standby jagain Nabil!", keluh Alby.


"Ya cari aja pengasuh baru!", sahut Azmi enteng.


"Ngga segampang itu Azmi. Lagi pula, emang Mak teh setuju kalo Nabil tinggal di apartemen sama gue?"


Azmi mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.


"Kayanya di dekat rumah mertua Lo ada rumah yang di sewakan deh. Gue cari tahu dulu!", kata Azmi.


"Terus?"


"Apa yang terus? Kalo ada yang di sewa, Lo bisa tinggal di sana kan. Misal Nabil pengen ke neneknya ya tinggal anterin. Toh, gimana juga Lo sama Amara juga butuh privasi."


Senyum Alby mengembang.


"Ya udah, naikin gajinya dong?!", kata Azmi. Alby memandangi Azmi dengan tatapan menyelidik.


"Kenapa Lo minta naik gaji? Mau buat ngelamar si Nur juga?", tanya Alby.


"Astaghfirullah! Kok jadi Nur sih?", Azmi heran.


"Ga usah bohong deh Lo! Gue tahu, Lo diam-diam perhatian sama si Nur itu kan? Ngaku ngga Lo?", ledek Alby.


"Astaghfirullah...kalo nuduh tanpa bukti itu artinya fitnah bos!", kata Azmi langsung berdiri dari duduknya. Dia memilih untuk meninggalkan ruangan bosnya dari pada menjadi sasaran keisengan Alby.


Alby terkekeh melihat tingkah Azmi yang kadang-kadang serius tapi juga kadang kekanak-kanakan. Tapi meskipun begitu, ibadahnya masih ia acungi jempol.


.


.


"Ada yang perlu saya tambahin Bu?", tanya teh Mila saat mengecek barang-barang yang akan mereka bawa ke rumah Amara.

__ADS_1


"Kayanya ngga Mil!", jawab Mak lesu.


"Ibu teh kenapa?", tanya Mila. Mak Titin hanya menggeleng.


"Ibu teh belum ikhlas kalo si Alby nikah lagi?", tanya Mila. Titin menoleh sekilas pada Mila.


"Bukan ngga ikhlas Mil. Justru saya merasa bersalah sekali Mil. Semua yang terjadi sama Alby teh gara-gara saya!"


"Bu, semua sudah terjadi. Bia juga sudah memiliki kebahagiaan dengan kehidupan barunya. Alby juga akan seperti itu. Mereka akan menemukan kebahagiaan dengan pasangan mereka masing-masing", kata Mila.


"Tapi saya tahu, Alby dan Bia sebenarnya masih saling memiliki rasa. Dan setiap melihat mereka berdua yang tak sengaja bertemu, perasaan bersalah saya...."


"Bu, insyaallah mereka tidak ada yang menyalahkan ibu. Alby dan Bia tidak akan berpikir seperti yang ibu pikirkan. Semua sudah menjadi masa lalu bu. Dan sekarang, kita justru harus mendukung apa pun yang Alby lakukan untuk kebahagiaan dan masa depan Alby."


Titin menatap Mila yang terdengar jauh lebih bijak darinya.


"Lalu, setelah mereka menikah, apa Nabil akan ikut mereka?",tanya Titin.


"Alby ayah kandung Nabil Bu, tentu dia lebih berhak dari ibu. Tapi saya mah yakin kalau Alby tidak akan mempermasalahkan hal itu. Alby juga tidak akan tega memisahkan ibu sama Nabil. Insyaallah akan ada jalan keluarnya nanti Bu. Nabil masih bisa sama ibu, juga dekat sama papanya juga."


Titin menghela nafas berat. Tak lama kemudian, suara telepon berdering.


"Saya angkat telpon dulu ya Bu!", pamit Mila. Titin pun mengangguk.


Beberapa menit berlalu, Mila kembali.


"Ada telpon buat ibu, dari pak Rahadi katanya. Papanya non Amara."


"Pak Rahadi? Kenapa ya?", tanya Titin sambil bangkit dari kursinya.


Perempuan setengah baya itu pun menghampiri meja telepon yang ada di ruang tengah.


[Hallo?]


[Hallo, Bu Titin]


Mereka pun membahas tentang rencana pernikahan dadakan antara Alby dan Amara. Titin tak bisa menolak keinginan orang tua mempelai wanita karena memang alasannya baik dan masuk akal. Tidak baik bukan, niat baik di tunda???


*****

__ADS_1


Sampai jumpa di Almara wedding 🤗🤗


__ADS_2