Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 150


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Acara 'meminta restu' pun sudah selesai dan berakhir dengan baik seperti apa yang di harapkan. Bahkan tampaknya papi Amara begitu menyukai Nabil. Mungkin karena dia berharap memiliki cuci laki+laki. Tapi bukan berarti dia tak menyayangi Nadhea. Sejauh ini, tahta tertinggi di keluarga Rahadi masih Dhea.


Alby dan Amara berpamitan pada semua yang ada di sana. Jika awalnya papi begitu jutek, tidak dengan saat mereka pulang.


Alby pun sekarang sudah lebih relaks. Ternyata keluarga calon mertuanya tak 'semenakutkan' seperti yang orang-orang katakan selama ini.


Hanya saja, Alby masih tetap minder mengenai dirinya yang hanya rakyat jelata harus bersanding dengan Amara yang notabene berasal dari keluarga ningrat. Dilihat dari namanya saja sudah jelas, Raden Ayu Amara Dewi Legini.


Sedang Alby? Hanya orang biasa yang beruntung memegang tahta HS grup.


"Mau mampir A?",tanya Amara saat mereka sudah sampai di loby apartemen. Alby tersenyum dan menggeleng pelan.


"Sudah malam, istirahat gih. Kasian Nabil juga udah kecapean tuh!",tolak Alby secara halus. Keduanya tersenyum melihat Nabil yang sudah tertidur pulas di bangku penumpang.


Amara pun mengangguk pelan.


"Oke hati-hati ya A. Kabarin kalo udah sampai rumah."


"Iya!", sahut Alby. Amara mengulurkan tangannya pada Alby. Alby pun melakukan apa yang Mara minta. Mara bersalaman dan mengecup punggung tangan kanannya.


"Aku masuk ya A, assalamualaikum!",pamitnya.


"Walaikumsalam!", kata Alby. Amara pun melambaikan tangannya saat mobil Alby menjauh.


Sesekali Alby menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi Nabil yang masih terlelap. Sekitar pukul setengah sebelas, kedua laki-laki tampan beda usia itu sudah sampai di rumah. Tak lupa Alby mengabari kekasihnya.


Alby masih melihat Mak Titin yang sedang menonton televisi. Tanpa menyapa Mak nya, Alby meletakkan Nabil lebih dulu ke kamar. Setelah itu, Alby menghampiri Mak Titin.


"Ning acan sare Mak teh?", sapa Alby duduk di sofa yang berhadapan dengan Mak.


"Belum ngantuk Jang!",jawab Mak. Tapi terlihat jelas jika Mak nya sedang memikirkan sesuatu.


"Gimana pertemuan dengan orang tua Amara, lancar?", tanya Mak.


"Alhamdulillah, Mak."


"Alhamdulillah, syukurlah Jang. Mak ikut senang."


Tapi ucapan senang Mak tak sesuai dengan raut wajah Mak yang nampak sendu.


"Apa yang Mak pikirkan?",tanya Alby.


"Kapan kalian akan menikah?"


"Belum tahu Mak, kan tadi mau beres ketemu aja. Belum ada pembicaraan serius kapan hari H nya."


"Setelah kalian menikah nanti, kalian akan tinggal di mana?"


Kenapa pertanyaan Mak sama kaya papi?


"Eum...?"


"Mak yakin, Amara pasti tidak akan mau tinggal di sini. Kamu juga kan? Kalo bukan terpaksa karena Nabil, mana mungkin kamu teh mau di sini sama Mak. Di rumah mantan mertua kamu."


Alby memijat pelipisnya. Apakah hati seorang wanita atau orang tua sesensitif ini?


"Mak, buat Alby Mak teh tetep Mak Alby. Yang udah rawat Alby dari kecil. Bukan semata-mata karena Mak ibu dari almarhum istri Alby. Ngga Mak, Mak tetep Mak Alby. Jadi jangan pernah Mak memikirkan hal yang sama sekali ngga terpikirkan sama Alby."


"Jadi, rencana kamu mau di mana?"


"Insyaallah Mak. Alby sudah beli rumah. Memang ngga sebagus rumah papa ini. Tapi insyaallah itu milik Alby sendiri."

__ADS_1


"Jadi, kamu bakal bawa Nabil juga?",tanya Mak dengan mata berkaca-kaca.


"Astaghfirullah, Mak. Kenapa Mak mikirnya teh sejauh itu? Kami saja belum memikirkan kapan hari itu tiba mak. Tapi kenapa Mak sudah sedih begitu?"


"Mak bukan ngga senang kamu punya pasangan baru Jang. Mak cuma sedih, kalo harus pisah sama Nabil, sama kamu!", kata Mak lirih.


"Mak, Alby juga ngga ke mana-mana. Masih di daerah sini juga kok. Ngga ada yang mau pisah sama Mak juga. Jadi, Alby mohon. Mak jangan berpikir kalo kami bakal ninggalin Mak dan Nabil."


Mak Titin berusaha tersenyum.


"Semoga setelah ini, kehidupan mu akan selalu bahagia ya Jang. Maafkan Mak, semua yang harus kamu lalui karena Mak. Hiks ...hiks...hiks..."


"Ssst ... Mak! Tolong jangan bahas itu lagi. Yang sudah berlalu anggap saja pelajaran hidup Mak. Alby ngga akan pernah nyalahin Mak."


"Tapi karena Mak, kamu harus berpisah sama Bia!", lanjut Mak dengan sendu.


"Mak, Alby memang sedih berpisah sama Bia. Tapi... sekarang Bia jauh lebih bahagia, setelah sama Febri Mak. Bukan sama Alby!"


Alby mencoba mengalihkan pandangan nya ke sisi lain. Tak sanggup menatap Mak yang seperti itu.


"Tapi kamu benar-benar sudah membuka hati kamu buat Amara bukan? Mak ngga mau kalau Amara hanya mendapatkan setengah hati kamu. Kasian Jang!", kata Mak lirih.


"Insyaallah Mak. Walaupun kalo boleh jujur, Alby belum sepenuhnya melupakan masa lalu alby. Tapi insyaallah, Amara gadis yang akan mendampingi Alby."


"Dia mau kan menerima kehadiran Nabil di antara kalian?"


Alby mengangguk.


"Mata terlihat sayang sama Nabil, begitu juga dengan Nabil yang sepertinya menerima Amara. Cuma....!"


"Cuma apa Jang?"


"Heum, iya. Coba nanti Mak kasih pengertian sama Nabil. Nabil terlalu dewasa untuk anak seusia. Insyaallah dia akan paham jika di beritahu."


"Ya udah Mak, udah malam banget. Mak istirahat gih!"


"Iya. Ya udah maneh juga. Mak ke kamar ya!"


"Ya Mak!",sahut Alby. Mak Titin pun meninggalkan ruangan itu begitu pula dengan Alby yang langsung masuk ke kamarnya dan membersihkan diri lebih dulu sebelum ke pembaringan.


Ada rasa lega dalam hatinya saat orang tua Amara menyambut baik niatnya. Tapi apa yang papi dan Mak nya tanyakan tadi sudah cukup menyita pikirannya.


Rumah ini, bukan rumahnya. Tidak pantas bukan mengajak istri baru tinggal di rumah mantan mertua. Dan sepertinya tidak etis juga jika dia menumpang di apartemen Amara. Terlebih, Nabil juga sepertinya kurang cocok jika harus tinggal di apartemen.


Kepala Alby sedikit nyeri. Dia tak pernah memikirkan hal ini. Yang dia tahu, dia mengambil KPR. Jika sewaktu-waktu menikah lagi, jadi sudah punya hunian. Tapi belum juga menikah, dia sudah lebih dulu di todong dengan pertanyaan calon mertua dan Mak nya dengan pertanyaan senada.


Memikirkannya sudah membuat Alby pusing, padahal tadi dia yang minta agar Mak tak terlalu memikirkannya. Mungkin hal ini akan di obrolan dengan Amara besok.


.


.


Azmi menuruni mobilnya bersamaan dengan Nur yang melintas disampingnya. Dua pasang mata itu saling lirik sekilas. Tapi Azmi cepat-cepat menundukkan pandangannya. Tak ingin menatap lama-lama perempuan yang bukan mahram.


"Nur!", panggil seseorang. Nur pun menoleh.


"Teteh, kok di sini?",tanya Nur pada seseorang.


Azmi yang tadinya tak mau ambil pusing justru ikut menoleh.


''Lho, pak Azmi?",sapa perempuan yang di panggil teteh oleh Nur tadi.

__ADS_1


"Ustadzah Salsabila?",sapa Azmi.


Ustadzah Salsa di dampingi oleh suaminya, yang sama-sama mendidik di pondok pesantren di mana putrinya menjadi santri mereka.


"Ustad Hanafi!", Azmi menyalami Ustadz Hanafi.


"Ari si Aa sama teteh, kenal sama Aa Azmi?",tanya Nur.


"Iya atuh, Pak Azmi ini wali santri teteh",jawab Salsa.


"Hah? Siapanya? Adiknya?",tanya Nur kepo.


"Bukan, tapi anak saya!", jawab Azmi.


Nur cukup terkejut mendapati kenyataan jika si jutek ini ternyata sudah punya anak. Kecewa? Nggak lah. Ya kali??? Kenapa harus kecewa sih? Memangnya mereka punya hubungan selain tetangga kamar di kost yang sama?


"Oh, kalian saling kenal rupanya?", tanya Hanafi. Azmi tersenyum ramah.


'Ciih...sok ramah, biasa ge jutek pisan!', batin Nur.


"Heum, gitu. Nur ini, adik saya pak Azmi. Maaf ya kalo dia ini suka ceplas-ceplos anaknya",kata Salsa.


Kok bisa sih, tetehnya lembut dan ustazah lagi. Nah, Nur? Pakai jilbab sih, tapi bar-bar! Batin Azmi.


"Teteh mah?!"


"Nur Laila Khairunnisa, ingat kamu sudah bukan ABG lagi!", Salsa memperingatkan Nur. Nur memanyunkan bibirnya.


"Kalau begitu, saya permisi ustadz Hanafi, ustadzah Salsa!",pamit Azmi. Salsa dan Hanafi hanya mengangguk sambil mempersilahkan Azmi meninggalkan mereka.


"Kunaon teteh sama Aa kadieu?",tanya Nur.


"Hayok atuh ke kamar maneh Nur masa ngobrol di sini. Teteh sama Aa mau balik langsung nanti jam sepuluh."


"Emang dari mana sih?"


"Belanja ke kota. Ambil seragam santri baru. Jadi sekalian teteh kesini." Nur pun mengangguk.


"Pak Azmi ganteng ya Nur!", kata Hanafi. Nur memicingkan matanya ke arah kakak iparnya itu setelah mereka berada di kamar Nur.


''Kenapa Aa nanya kek gitu?"


"Aa ngga nanya kok, cuma mengatakan yang sebenarnya!",jawab Hanafi.


"Ishhh...!", sahut Nur.


"Dia duda di tinggal meninggal istrinya, makanya anaknya baru delapan tahun udah mondok di pondok pesantren Aa."


"Terus, masalah nya apa? Kalo dia duda, emang apa urusannya sama Nur?"


"Ya kali, kalian nanti ada hubungan apa gitu?", ledek kakak iparnya yang memang sudah lama Nur kenal jadi wajar jika akrab.


"Dih, aya-aya wae. Tahu ah! Udah bahas yang lain saja!", pinta Nur. Lalu mereka bertiga pun mengobrol banyak hal.


Berbeda dengan Nur dan kedua kakak nya yang mengobrol, Azmi langsung membersihkan diri lalu mendirikan kewajibannya sebelum benar-benar mengistirahatkan tubuhnya.


'Jadi, Nur adiknya ustadzah Salsabila??? Kenapa bisa mereka sangat jauh berbeda? Dan kenapa kebetulan sekali?


Aku sempat tertarik dengan ustadzah Salsabila, tapi ternyata dia sudah berjodoh dengan ustadz Hanafi. Beruntung rasa itu hanya sebatas kagum karena ustadzah Salsa menyayangi Putri. Tapi, mungkin dia emang sayang pada santriwatinya', gumam Azmi dalam hatinya. Lalu ia mengambil pigura foto di mana ada gambar foto dirinya dan juga anak istrinya yang tampak sangat bahagia.


"Umi, Abi kangen sama umi!", Azmi memeluk pigura foto keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2