Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek

Pesona Duda Ganteng Tapi Jutek
Bab 139


__ADS_3

Pagi hari, Alby bersiap untuk sholat subuh. Nabil sendiri baru kembali tidur setelah semalam dia bangun karena menyadari papanya tidak berada di sampingnya.


"Nabil sama nenek ya pa. Papa mau mandi terus ke kantor kan?",tanya Nabil.


"Iya sayang. Nabil mau mandi juga sekalian?",tanya Alby.


"Ngga ah pa. Nanti aja sama amih Ani!",ujarnya lalu beranjak ke luar kamar. Tapi belum lama kemudian, Nabil sudah kembali.


"Kenapa nak?",tanya Alby yang masih duduk di sajadah nya.


"Kayanya leher papa di gigit serangga pa. Tapi serangga apa ya? Ngga merah sih pa!",kata Nabil dengan lugunya sambil mengoles minyak telon ke leher alby.


Alby meneguk salivanya kasar.


"Papa abis pergi ke mana sih pa? Banyak serangga ya pa?",tanya Nabil lagi tapi dia masih mengoleskan tiap bekas gigitan 'serangga' yang ada di leher papanya. Tidak banyak, tapi ada beberapa. Jika Nabil bisa saja melihatnya, apalagi orang lain??


"Hah? Se...Se... serangga apa ya? Ngga tahu Bil. Mungkin tadi handuk papa ada semut nya. Jadi... mungkin di gigit semut",ujar Alby beralasan. Beres solat, tapi kok bohong? 🤭


"Mungkin! Tapi kenapa ngga merah ya?",tanya Nabil lagi. Alby menggeleng pelan. Anaknya memang berbeda!


"Ya udah, papa mau siap-siap dulu ya! Nabil sama nenek dulu. Papa mau berangkat agak pagi soalnya."


"Iya pa!",kata Nabil berdiri.


"Oh iya Bil, em...jangan bilang nenek atau amih. Kalo papa gatel-gatel di obatin Nabil."


"Emang kenapa pa? Kan Nabil pinter, ngobatin papa?"


"Heuh? Eum...jangan pokoknya Bil. Nanti mereka khawatir sama papa. Jangan bilang ya sayang! Oke?"


Nabil mengangguk pelan."Iya pa!", setelah itu dia pun keluar dari kamarnya.


Alby bercermin sebelum mengambil pakaian kerjanya. Ia menghela nafas panjang melihat dirinya yang ada di cermin itu.


Pantas saja Nabil mengatakan digigit serangga, tidak banyak memang tapi juga tidak hanya satu bekas gigitan 'serangga' itu.


Bagi kaum hawa mungkin mudah menutupinya, pakai foundation. Lha, dia mah laki-laki ,mana punya? Pakai plester pun nanti di sangka kenapa-kenapa.


Alby pun tidak mau serta merta menyalahkan Amara. Toh, dia pun pernah melakukan hal yang sama pada Amara.


Lelaki tampan itu pun bingung untuk menutupi bekas gigitan 'serangga' itu. Pakai kemeja seperti biasanya juga masih bisa terlihat jelas.


Alby sudah membayangkan seperti apa reaksi Azmi nanti. Mendadak Alby ada ide. Dia meraih kaos rajut dengan turtle neck. Bukankah biasa ya pakai seperti itu di lapisi jas? Banyak bukan artis Korea pakai seperti itu? Jangan kan artis Korea, orang di sini saja biasa memakainya.


Alby mencoba memakainya lalu bercermin. Dia menghela nafas sesaat. Dia pasti akan menghadapi banyak pertanyaan dari orang di sekitarnya.


Setelah di rasa rapi, Alby pun keluar kamar untuk sarapan. Seperti biasa, sudah ada Mak yang berada di sana.


Mak Titin melihat ke arah Alby sekilas. Lalu ia pun menengok ke arah jendela. Ia menautkan kedua alisnya.


"Jang?"


''Naon Mak?"


Aku yakin Mak akan bertanya begini begitu. Batin Alby.

__ADS_1


"Teu hujan mereunan. Maneh teh tiis? Atau keur gering?"


(Ngga hujan kok. Kamu dingin? Apa lagi sakit?)


Tebakan Alby tepat sasaran. Mak lah yang pertama kali bertanya dengan penampilannya yang sedikit berbeda.


"Heuh? Teu Mak. Emang kenapa?"


"Oh, kirain mah sakit. Habis pakai baju kaya begitu. Ngga seperti biasa pake kemeja."


"Lagi pengen aja sih Mak!",kata Alby lalu ia pun makan sarapannya.


.


.


Alby menjadi pusat perhatian saat ia memasuki gedung kantor nya. Apa dia begitu berbeda dari biasanya hingga ia menjadi pusat perhatian lebih???


Tatapan memuja kaum hawa semakin terlihat saat Alby mengelap keringatnya sendiri. Salah siapa cuaca cerah begini, dia memakai bahan tebal begitu. Belum dilapisi jas!


Mungkin di ruangan nya cukup dingin karena AC nya menyala, tapi jika di luar???


Alby mengabaikan tatapan mereka yang seolah ingin tetap melihat dirinya di sana. Lelaki itu langsung menuju ke ruangannya.


Azmi sedang menyiapkan berkas-berkas yang akan dikerjakan oleh bosnya. Mata Azmi menatap heran pada bosnya yang baru datang karena berpakaian lain dari biasanya.


"Assalamualaikum",sapa Alby.


"waalaikumsalam. Sakit bos?", tanya Azmi.


"Insyaf bos, ya Allah. Gera atuh di nikahin."


Azmi pun kembali ke tempat duduknya lagi.


"Ya emang. Tapi ngga hari ini juga kali Mi!", sahut Alby.


"Ngga hari ini apanya? Nikah nya? Tapi investasi nya udah kan? Astaghfirullah, beneran nanam saham bos?", tanya Azmi menggeleng lemah.


"Investasi? Nanam saham apa sih Mi?",tanya Alby bingung.


"Eta di hulu? Moal ketutup sadayana. Urang ge ningali mereun!",sahut Azmi.


(Itu di leher. Ngga ketutup semua. Aku juga liat kali)


"Astaghfirullah Mi. Ngga segitu nya kali mi. Ya Allah, gua ngga sampe begituan sumpah deh!",Alby mengangkat dua jarinya.


Azmi membukakan pintu untuk bosnya masuk.


"Ya...ya...lagian kan buka urusan ku juga ya bos!"


"Lo mah, ga gitu lah maksud gue!", Alby paham jika sahabat plus asistennya itu ingin dirinya jauh lebih baik. Tapi apa daya, tipu muslihat setan dan othor yang berkolaborasi membuat dia seperti ini sekarang.


"Heum, syukurlah kalo emang belum ngapa-ngapain mah!"


"Ngga lah Mi. Astaghfirullah!"

__ADS_1


"Yang banyak istighfar nya bos!", sindir Azmi.


"Iya iya, ih ini bapak satu bawel pisah eung!"


Azmi meletakkan berkasnya di meja Alby. Setelah itu ia menyebutkan kegiatan nya hari ini.


"Gue udah ketemu Nathan, Mi! Dia ngga seseram yang Lo bilang!",kata Alby.


"Oh ya? Alhamdulillah atuh kalo dia baik mah. Terus, di restuin gitu?"


Alby mengangguk cepat.


"Oh, pantas aja! Udah dapat restu jadi berani kaya begitu!", sindir Azmi lagi.


''Please deh Mi. Ga di sindir aja gue kesindir kok."


"Hehehe ya, maaf! Tapi bukannya sekarang jadwal sidang perdana kasus Frans ya?"


"Iya, nanti jam satu. Gue mau hadir. Lo gantiin gue kan?"


"Heum, seperti biasa!"


.


.


Amara di jemput oleh Nathan dan Daniel. Tak lupa para bodyguardnya juga. Amara sendiri sudah menyiapkan beberapa hal saat nanti ia di tanya oleh hakim.


Pengacara keluarga mereka sudah lebih dulu berada di sana. Om Hotma, pengacara yang menangani kasus Frans. Hotma juga menjadi pengacara keluarga Hartama.


"Kamu sudah siap Ra?",tanya Nathan yang duduk di samping Daniel yang mengemudikan mobilnya.


"Insya Allah siap kak!",jawab Amara. Tapi kedua kakak nya tahu jika wajah Amara tak bisa menyimpan kecemasan. Semua bisa berubah, semua kemungkinan itu pasti ada.


"Bismillah, semoga di lancarkan. Tapi papi ngga dapat undangan kan buat di jadikan saksi juga?",tanya Daniel.


"Alhamdulillah ngga kak."


Kedua kakaknya pun mengangguk. Tak lama kemudian, mereka bertiga sampai di gedung pengadilan negeri.


Bodyguard yang mengawal mereka pun sudah siap untuk melindungi atasan mereka.


Sidang masih di mulai satu jam lagi. Tapi mereka sudah siap berada di sana. Pengacara keluarga mereka pun sudah tiba. Dunia militer tak bisa di samakan dengan dunia hukum, Amara benar-benar buta soal hukum seperti ini. Padahal dirinya dulu pernah berniat untuk sekolah di jurusan itu. Sayang nya, papa melarangnya dan meminta untuk ke jurusan bisnis.


Panggilan untuk sidang pun di mulai. Semua hadirin berdiri saat hakim memasuki ruang sidang.


Susunan acara pun di bacakan, hingga akhirnya si tersangka yang tak lain Frans muncul di dampingi oleh petugas.


Hati Amara berdenyut melihat sosok yang pernah berarti dalam hidupnya berada di kondisi seperti sekarang.


Frans begitu lusuh, penampilannya yang biasa rapi kini terlihat berantakan. Ada beberapa luka di kepalanya. Bahkan pergelangan tangannya di perban.


Apa napi lain melakukan hal buruk padanya? Batin Amara. Tapi, dia kan belum dapat vonis apa pun, emang di masukkan ke dalam sel yang sama dengan napi lain.


Mara menatap miris pada lelaki bule yang tampan itu karena di mata Mara, tatapan Frans kosong. Apa yang terjadi dengan nya selama di sini sebelum sidang....???

__ADS_1


__ADS_2