STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 111


__ADS_3

.


#SKIP KUOH


.


Nampak hari sudah semakin siang, itu terbukti dengan posisi matahari yang hampir lurus di atas langit yang cerah tak berawan tersebut.


Hiraukan matahari dan langitnya. Dapat dilihat di jalanan kota Kuoh yang luas dan ramai orang.


Dan disitu terdapat sosok dua wanita yang memiliki warna surai rambut yang sama yaitu kuning.


Tapi jika orang-orang yang melihatnya mungkin akan mengira mereka adalah kakak beradik. Tapi nyatanya mereka adalah ibu dan anak yaitu Arturia dan Lucy.


Sesuai janji yang diucapkan oleh Arturia pas malam, bahwa hari ini mereka akan mampir ke kedai ramen yang terdapat di kota Kuoh. Apapun demi putrinya senang, pikir Arturia.


Sambil terus melangkah ke tempat yang dituju, Arturia tak henti-hentinya untuk tersenyum saat melihat tingkah semangat Lucy yang tak sabar ingin cepat ke tempat tujuannya.


Karena tingkah semangat putrinya adalah suatu kebahagiaan tersendiri bagi Arturia sebenarnya.


Hingga tak lama kemudian langkah mereka sampai pada tempat tujuannya, dan entah kenapa Lucy langsung memasang wajah kecewa saat itu pula.


"Yah ma, tutup," kecewa Lucy saat kedai tujuannya ternyata tak di buka.


"Mungkin pemilik kedainya sedang ada acara," ucap Arturia mencoba menebak lalu menoleh kearah Lucy.


"Bagaimana kalau membeli ramen cup saja, sebagai gantinya nanti Lucy boleh membeli sebanyak-banyaknya," sambungnya mencoba menghibur Lucy.


Dan itu berhasil. Kini Lucy langsung semangat lagi.


"Ayo ma! Kita beli!" ucapnya.


"Um," angguk Arturia lalu mereka berdua berbalik arah menuju Supermart yang tadi sempat dilewati oleh mereka berdua.


Hingga tak berselang lama mereka berdua sampai di supermart yang dituju dan langsung memasukinya bersamaan dengan keluarnya remaja berambut coklat jabrik dan gadis remaja berambut hitam panjang yang saling bergandengan tangan keluar dari supermart.


Entah kenapa Arturia langsung terhenti pas setelah memasuki supermart dan langsung menoleh ke belakang seperti mencari sesuatu, tapi apa yang di cari sudah tak terlihat lagi.


.


"Aneh, perasaan tadi aku melihat anaknya," batin Arturia.


.


Sedangkan disisi lain yang tak jauh dari supermart nampak sosok remaja berambut coklat jabrik dan gadis remaja berambut hitam panjang sedang melangkah menjauh dari supermart tersebut yang ternyata adalah Menma dan Raynare.


" Perasaan tadi aku melihat tuan putri Arturia. Ah Cuma perasaanku saja kali ya? Tuan putri Arturia kan berada di Britania, jadi tidak mungkin ada di kota ini." Batin Menma.


"Kamu kenapa Menma-kun? dari tadi diam saja," ucap Raynare yang melihat Menma sedang memegang dagunya seperti orang sedang berpikir.


"Tidak apa-apa, Cuma kepikiran sesuatu, tapi tak terlalu penting si," balas Menma dan Raynare hanya ber-O-ria saja sambil terus bergandengan tangan.


.


#Rumah Naruto

__ADS_1


.


Jika Naruto dan Freya punya acara sendiri di Asgard, maka orang-orang yang berada di rumah Naruto juga memiliki acara mereka masing-masing. Entah itu lagi duduk santai atau lagi tidur itu sudah termasuk acara.


Yap! Yang sedang duduk-duduk santai di ruang keluarga adalah Yasaka, Katerea, Hancock, Asuna dan Kalawarner yang sedang mengobrol khas ibu-ibu, kalau untuk Serafall dan Grayfia mereka ada acara di Underword.


Sedangkan yang doyan tidur adalah Minato, dan untuk anak-anak Naruto yang lainnya berada di halaman depan rumah kecuali Menma dan Raynare yang sekarang sedang kencan mingguannya.


"Ne ne bisa aku tanya sesuatu kepada kalian?" tiba-tiba Asuna bertanya disela-sela mengobrolnya.


Sontak para wanita yang ada disitu pun menoleh kearahnya.


"Apa?" ucap Yasaka mewakili yang lainnya.


Asuna memejamkan matanya sebentar lalu kembali terbuka.


"Walaupun aku baru menjadi bagian keluarga ini belum lama, entah kenapa aku merasakan kalau bukan aku, Hancock-san dan Freya-san saja yang pernah melakukan tindakkan nekat terhadap Naru-kun. Apa kalian merasakannya juga?" ucapnya diakhiri dengan pertanyaan.


Semuanya terdiam tak ada yang berucap sama sekali. Tiba-tiba Katerea menghela nafas.


"Jika itu terjadi, maka tinggal tergantung keputusan Yasaka-san kan? Yang lain mah ngikut saja," ucap Katerea membuat wanita yang lainnya menoleh kearah Yasaka.


"Sebenarnya keputusan seperti ini bukan hanya diriku saja yang harus memutuskannya, melainkan kita semua yang memutuskannya." Ucap Yasaka.


"Tapi kan Naru-kun sudah melimpahkan itu semua kepadamu, ya jadi kita ngikut saja lah," kali ini Hancock yang bersuara.


"Huh," helaan nafas pun keluar dari mulut Yasaka.


"Jika pun memberikan keputusan yang tak sependapat dengan Naru-kun pun itu percuma. Apalagi seperti kalian bertiga yang secara tiba-tiba datang dan sudah memiliki keturunan darinya. Maka Naru-kun akan membujukku dengan alasan bertanggung jawab dan pastinya menyangkut anak kalian. Dan aku pasti akan terlena oleh bujukannya itu, pasti itu," ucap Yasaka menjelaskan panjang lebar.


Bukan ucapan tentang alasan keputusannya tadi, melainkan ucapan terakhir Yasaka yang membuat mereka bingung.


"Terlena oleh bujukannya. Memangnya seperti apa dia membujuknya?" tanya Katerea yang penasaran ditambah anggukkan yang lainnya.


"Gehe." tiba-tiba Yasaka tersentak karena terkejut dan langsung merona karena teringat apa yang di katakan tadi.


Dan lagi-lagi reaksi Yasaka membuat yang lainnya tambah bingung dan penasaran.


"Ayolah Yasaka-san, seperti apa bujukannya?" ucap Katerea bertanya lagi.


"Y-ya kalian pasti tau apa yang selalu diinginkan wanita kan," gagap Yasaka yang sudah memalingkan wajahnya ke arah lain agar wajah meronanya tak terlihat oleh siapa pun.


Semuanya langsung melebarkan mata karena terkejut dan nampaknya para wanita tau maksud dari ucapan Yasaka.


"Be-berarti kau me-melakukan i-itu dengannya?" kejut Katerea mewakili semua wanita yang ada di ruangan tersebut.


Yasaka hanya mengangguk pelan. "hehe 2 hari 2 malam," cengengesan Yasaka.


"2 hari 2 malam katamu, lalu jika ada orang yang mengetahuinya, gimana itu?" kali ini Hancock yang bertanya.


Tiba-tiba Yasaka kembali menoleh kerah depan dengan perasaan sudah tenang, tapi wajahnya yang merona belum hilang sepenuhnya.


"Ehem, aku dan Naru-kun memiliki pulau pribadi yang jauh dan tersembunyi. Jadi mau melakukan apapun tak perlu takut ada orang yang melihatnya," ucap Yasaka memberitau.


"Wah Yasaka-san, kapan-kapan ajak kita kesana ya? Kelihatannya seru," kali ini Asuna yang berucap dengan maksud tertentu, itu terlihat dari senyum serigainya.

__ADS_1


"Kau ingin menyiksa Naru-kun ya jika kita semua kesana?" balas Yasaka yang sepertinya tau maksud dari serigai Asuna.


"Kan bisa bergantian Yasaka-san, hehe," balas Asuna diakhiri dengan cengengesannya dan entah kenapa para wanita yang lainnya malah mengangguk dengan seburat merah tipis terlihat jelas di wajah mereka.


"Sudah-sudah, kita ganti topik lainnya saja. Pembicaraan ini terlalu bahaya jika ada anak-anak mendengarkannya," ucap Yasaka mencoba mengalihkan topik pembicaraannya.


Pembicaraan mereka pun berganti topik. Karena memang benar jika nanti ada anak-anak yang mendengarkan obrolan vulgar mereka akan bahaya, jadi mereka semua menyetujui untuk berganti topik pembicaraan lain.


.


#Halaman depan


.


Jika di ruang tamu diisi para wanita dewasa, maka di halaman depan ada duplikat mereka tapi versi remajanya. Yap, mereka semua anak-anaknya.


Sama seperti ibu-ibu mereka, anak-anaknya juga sedang mengibrol, tapi obrolanya ala remaja pastinya.


Dan entah kesambet apa Gray dengan senang hati mau menemani Kunou keluar rumah barusan yang pastinya ada Kuroka yang memang dikhususkan untuk selalu menemani Kunou atas dasar perintah Yasaka.


Dan kini di halaman depan hanya tersisa Olive, Naruko, Vivi, Mirajane, Rin dan Liya saja. Sedangkan Menma dan Raynare sedang kencan, Minato masih sayang dengan bantal gulingnya, Gray keluar menemani Kunou serta Kuroka, sedangkan Sting, Luna dan Mitlet sedang bermain game virtual di lantai 2.


"Enak ya, jika memiliki kekasih seperti Menma-nii. Jika bosan seperti ini tinggal jalan-jalan keluar," Ucap Liya tiba-tiba, sontak saudari-saudarinya menoleh kearahnya.


"Masih kecil jangan memikirkan hal itu Liya, aku saja belum memikirkan hal-hal seperti itu," ucap Olive dan entah kenapa Naruko dan Vivi mengangguk menyetujui ucapan Olive.


"Yah Nee-san, aku hanya penasaran bagaimana memiliki kekasih. Itu saja si sebenarnya," jawab santai Liya.


"Huh," Olive menghela nafas.


"Lebih baik jangan dulu daripada nanti terjerumus ke hal-hal yang tak diinginkan," ucapnya.


Sedangkan Liya hanya memiringkan kepala.


"Maksud Nee-san?" bingung Liya.


Olive menarik nafas pelan lalu dikeluarkan kembali.


"Begini, kita sebagai perempuan itu memiliki resiko yang besar. Seumpama kita terjerumus ke hal-hal tak diinginkan sebelum menikah akan lebih buruk jadinya. Kita para perempuan yang mengandung anak kan? Itu masih mending jika cowoknya mau bertanggung jawab, la kalau tidak? Mau bagaimana coba? Ya kalau cowoknya seperti Tou-san yang memiliki jiwa bertanggung jawab dan menerima sang anak. Coba kalau cowoknya tak memiliki jiwa seperti Tou-san? Kalian pasti tau lah apa yang akan terjadi," ucap Olive memberitau panjang lebar tapi Mirajane, Rin dan Liya malah bingung.


"Dengan kata lain, apa kalian mau memiliki anak tanpa adanya ayah yang mengakuinya?" tiba-tiba Naruko berucap menjawab rasa bingung Mirajane, Rin dan Liya.


Dan itu berhasil membuat Mirajane, Rin, dan Liya mengerti maksudnya. Itu terbukti dengan gelengan cepat kepala mereka bertiga.


"Tidak. Tidak. Tidak. Aku tak ingin itu terjadi. Aku saja yang melihat Kaa-sanku merawatku dari kecil tanpa adanya Tou-san membuatku sedih dan sakit hati melihatnya. Untung saja Tou-san mau menerimaku dan Kaa-san itu sudah membuatku senang. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika tadinya Tou-san tak mengakuinya. Hii aku tak ingin membayangkannya lagi," ucap Liya merinding ngeri.


"Nah itu tau, mending sekarang jangan membahas soal kekasih. Cukup Menma saja yang memiliki sekarang ini, dia kan laki-laki. Jadi kalau terjadi hal-hal tak diinginkan kan tinggal tanggung jawab saja seperti Tou-san. Lagian Menma aku jamin tak akan berani melakukannya, kalau sampai ketahuan Tou-san bakal habis dia," ucap Olive dan dijawab anggukkan kepala oleh adik-adiknya.


Dan selanjutnya tak ada lagi yang membicarakan soal kekasih, melainkan sudah diganti dengan topik lain seputar kehidupan mereka saja yang perbincangkan.


.


.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2