
.
#Skip Britania
.
Di sebuah bangunan besar nan mewah, taman besar nan asri didepan bangunan tersebut memanjakan mata manusia yang ada,
yap itu adalah Istana besar kerajaan Britania, tempat tinggal raja Pendragon dan keluarganya.
Dapat dilihat disisi ruangan atau lebih tepatnya dikaridor besar terdapat seseorang bernama Azazel sedang melangkah ke ruangan sang Raja diikuti 2 remaja tanggung dibelakangnya, yaitu Arthur dan Le Fay.
Dan tak berselang lama langkah mereka sudah sampai didepan ruangan sang Raja dengan 2 penjaga didepan pintu.
Karana Azazel bisa dibilang kenal dengan Raja Pendragon, maka dengan mudah dirinya bisa masuk ruangan sang raja.
.
KRIIIIEEEET!
.
Pintu besar untuk ruangan sang Raja pun terbuka, Sontak membuat orang-orang di dalam ruangan tersebut menoleh kearah pintu yang terbuka.
Dengan pria paling dewasa yaitu sang Raja Pendragon itu sendiri dan langsung tersenyum senang setelah tau siapa yang datang ke ruangannya.
Serta 2 wanita berbeda usia tapi memiliki surai rambut yang sama yaitu kuning, sedang bercengkerama langsung menoleh kearah pintu yang terbuka dan langsung tersenyum aneh dengan arah pandangannya kearah Arthur dan Le Fay.
Sontak Arthur dan Le Fay yang dipandang seperti itu merinding ngeri.
"Sudah 15 tahun ya, Azazel," kata Raja Pendragon memulai bersuara.
"Kau benar sekali, Will," sahut Azazel sambil melangkah mendekati Raja Pendragon yang dipanggil Will (Cuma panggilan) oleh Azazel.
"Ngomong-ngomong ada kepentingan apa datang kemari? Serta kenapa kedua anakku bisa bersamamu?" tanya Will to the point.
"Kau itu ya, langsung intinya saja seperti teman kuning kampretku, Naruto," kata Azazel menghela nafas.
Dan entah kenapa wanita dewasa yang ada di dalam ruangan melebarkan mata terkejut setelah mendengar nama Naruto, dengan cepat langsung berdiri.
"Bi-bisa kau beritahu di mana orang yang tadi kau sebutkan? Gubernur DaTanshi," kata wanita itu sedikit gagap membuat yang lainya bingung dengan tingkahnya, kecuali Raja Pendragon.
Sontak semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung menoleh kearah sumber suara dan entah kenapa sang Raja Pendragon malah tersenyum tipis tapi tak diketahui oleh siapa pun.
"Memang ada apa dengan orang yang kusebutkan tadi? Arturia-san," tanya Azazel yang tak tau apa-apa.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan, apa orang yang kau sebutkan tadi memiliki rambut kuning jabrik dan mata biru laut serta tanda kumis kucing di setiap pipinya?" balas Arturia langsung bertanya kepada Azazel.
"Aku melihatnya Nee-sama!" bukan Azazel melainkan Arthur yang menjawab dan didukung anggukan Le Fay.
Sontak Arturia langsung menoleh kearah adik-adiknya.
"Sungguh! Di mana?" kata Arturia tak sabar ingin mendengar jawaban dari adiknya yang terbukti dengan wajah senang sumringahnya yang begitu antusias tercetak jelas di wajah cantiknya.
"Di jepang, di Kota Kuoh, Nee-sama," balas Arthur memberitau,
sontak wajah senang Arturia tambah terlihat jelas langsung memeluk erat gadis remaja di sebelahnya yang sama-sama berambut kuning.
"Ma-Mama, sesak," ucap gadis tersebut merasa pelukan Arturia sangat erat karena saking senangnya.
Sontak Arturia langsung melepaskan pelukannya.
"Up! maaf sayang," ucap Arturia setelah melepaskan pelukannya kepada gadis tersebut.
"Kau sebenarnya kenapa si Nak? Tidak seperti biasanya," kata Raja Pendragon ketika melihat tingkah Arturia yang senang kelewat batas tidak seperti hari-hari biasanya.
"Tidak apa-apa, Otou-sama hehe," balas Arturia diakhiri cengengesan senang.
"Huh, kau itu," kata Raja Pendragon menghela nafas lalu menoleh kearah Azazel.
"Jadi, apa kepentinganmu kesini Azazel?" sambung Raja Pendragon kepada Azazel yang sedang bingung dengan situasi di ruangan tersebut.
Sontak Azazel langsung menyerahkan map kuning kepada Raja Pendragon.
"Semuanya tertulis disitu," balas Azazel menyerahkan map kuningnya dan langsung diterima oleh sang Raja kemudian dibuka dan dibaca.
Tak berselang lama Raja Pendragon membaca tiba-tiba matanya terbuka lebar tak percaya dengan apa yang dibaca langsung menatap tajam Arthur dan Le Fay di belakang Azazel.
"Arthur! Le Fay! Kemari kau!" panggil Raja Pendragon kepada Arthur dan Le Fay dengan tampang datar.
Sontak orang yang dipanggil merinding takut, dengan langkah pelang mendekati sang pemanggil sambil menunduk.
__ADS_1
.
BRAK!
.
"APA MAKSUDNYA INI! KALIAN INGIN MEMBUAT KERAJAAN INI BANYAK MUSUH APA!" bentak Raja Pendragon menggebrak meja pas di map yang telah dibaca tadi.
"Maaf Tou-sama, kami tidak bermaksud seperti itu," balas Arthur lirih sambil menunduk diikuti Le Fay yang juga menunduk.
"Tou-san tidak suka dengan cara kalian! CONTOHLAH LUCY! DIA PENURUT TIDAK SEPERTI KALIAN!" kata Raja Pendragon diakhiri bentakan dan entah kenapa Arthur dan Le Fay mengeratkan gigi-giginya.
"Lucy terus! Lucy terus! Lucy terus!" ucap Le Fay datar sambil menunduk.
Dan tiba-tiba langsung menegakkan kepalanya.
"AKU INI ANAK TOU-SAN! SEHARUSNYA TOU-SAN LEBIH PEDULI TERHADAP KAMI! BUKAN KEPADA LUCY ANAK NEE-SAN YANG TAK JELAS SIAPA AYAHNYA!" bentak Le Fay sangat emosi dan seketika Arturia langsung berada didepan Le Fay.
.
PLAK!
.
"JAGA UCAPANMU LE FAY!" bentak Arturia marah langsung menampar wajah Le Fay dengan keras hingga terlihat jelas bekas tamparan Arturia di pipi Le Fay.
.
"Will, sepertinya aku pulang saja, semua ada dalam map itu, kau bisa langsung ke kantorku jika sudah mendapatkan keputusan yang tepat bagimu," ucap Azazel merasa tak enak ikut dalam masalah keluarga Pendragon dan dijawab anggukan sang Raja.
Seketika Azazel langsung menciptakan sihir teleportnya dan menghilang menuju kantornya di Grigori.
.
"Hiks, benar kan Nee-san? Nee-san memiliki anak tanpa suami hiks, IYA KAN!" ucap Le Fay tak terima dengan tamparan Arturia langsung menatap sengit Arturia sambil mengusap pipinya yang ditampar dengan sedikit linangan air mata yang keluar dari matanya.
.
SRING!
.
"DASAR ADIK SIALAN!" bentak Arturia tiba-tiba tercipta pedang berwarna emas ditangannya dan dilancarkan kepada Le Fay yang tenang tak merasa takut dengan ancaman Arturia.
.
GREP!
.
"HIKS! SUDAH CUKUP MAMA HIKS! LUCY TAK APA JIKA DIANGGAP ANAK TAK JELAS DI KELUARGA INI HIKS! HIKS! LUCY AKAN PERGI BILA KEHADIRAN LUCY HANYA MENJADI BUMERANG KELUARGA INI HIKS!" tangis gadis bernama Lucy menghentikan tindakan Arturia dengan cara memeluk dari belakang tubuh Arturia.
Sontak Arturia langsung menghilangkan pedangnya dan langsung memeluk balik Lucy.
"Tidak sayang! Hiks, jangan mengucapkan kata seperti itu lagi, Mama sangat senang Lucy menjadi anak Mama," kata Arturia menenangkan tangis Lucy yang di pelukannya sambil mengelus rambut Lucy.
Dan tak berselang Lama Arturia langsung keluar dari ruangan tersebut dengan Lucy yang masih menangis di pelukannya.
"PERGI KEKAMAR KALIAN CEPAT! DAN JANGAN COBA-COBA UNTUK KABUR DARI ISTANA INI!" bentak Raja Pendragon kepada 2 anaknya yang masih tersisa disitu.
Sontak dengan cepat Le fay langsung berlari ke kamarnya dengan sedikit linangan air mata,
sedangkan Arthur hanya melangkah biasa dengan wajah datarnya yang tercetak jelas di wajahnya.
Setelah Raja Pendragon merasa di dalam ruangan sendirian, tiba-tiba saja dia membuka laci di mejanya dan mengambil sebuah foto yang terlihat jelas gambar dirinya waktu berusia 35 tahunan, yang waktu Arturia baru berumur 17 tahun serta Arthur baru 10 tahun sedangkan Le Fay baru berumur 5 tahun.
Digambar tersebut dirinya berfoto di samping pria yang terlihat 20 tahunan berambut kuning jabrik dengan kumis kucing di setiap pipinya sedang tersenyum bangga serta di belakangnya terdapat pasukan Meliodas yang ikut berfoto disitu.
"Sudah belasan tahun ya, hmm dan aku tau, lucy memang anakmu Son, aku hanya pura-pura tak tau didepan Arturia, karena semuanya sudah diberitahu oleh pasukanmu," gumam Raja Pendragon tersenyum.
.
" Kuharap kau mau mengakui Lucy adalah anakmu Son," batin Raja Pendragon berharap sambil menerawang jauh entah ke mana.
.
.
#SKIP NEGERI ALFTEIM
.
__ADS_1
# 1 jam kemudian
.
SREK!
.
Tiba-tiba Naruto berdiri dari duduknya setelah 1 jam diberi penjelasan tentang kutukan yang tertanam ditubuh Liya dan siapa saja yang bisa menggunakan kutukan tersebut dijelaskan dengan rinci oleh Asuna.
"Asuna! Berikan aku peta Negeri ini!" kata Naruto datar kepada Asuna.
"Untuk apa Naruto-kun, kamu tak akan berbuat aneh-aneh kan?" tanya Asuna tak mengerti dengan maksud Naruto meminta peta Negeri ini.
"Cepat berikan saja!" bentak Naruto, sontak Asuna langsung mengangguk tak ingin bertanya lagi karena takut dibentak oleh Naruto, Seketika Asuna langsung menoleh kearah Sieun.
"Sieun! Cepat kau ambilkan peta yang ada di ruanganku!" perintah Asuna dan langsung dibalas anggukan Sieun.
Lalu Sieun tanpa berkata apa pun langsung melangkah keluar ruangan menuju ruangan yang dimaksud Asuna.
Tanpa ada yang bersuara di ruangan tersebut, Semuanya bingung dengan reaksi Naruto yang tiba-tiba dingin setelah diberi penjelasan oleh Asuna.
hingga 10 menit akhirnya Sieun kembali dengan gulungan kertas yang kemungkinan adalah peta langsung diserahkan kepada Naruto.
Dengan cepat Naruto langsung menyambar gulungan tersebut dan membukanya.
Tak lama dirinya membuka dan melihat isi gulungannya kemudian langsung di gulung lagi dan diserahkan kepada Asuna yang di sampingnya dan kemudian melangkah kearah jendela besar yang menghadap luar Istana.
"Naruto-kun! Kamu mau ke mana?" tanya Asuna bingung dengan tindakan Naruto yang terbilang sangat aneh setelah diberi penjelasan olehnya.
"Kau bilang kematian si penanam kutukan adalah jalan pintasnya, iya kan?" kata Naruto yang berdiri di jendela besar menghadap luar tanpa menoleh ke belakang ke arah Asuna.
"Iya! Memang aku mengucapkan hal itu, tapi apa yang akan kau lalukan Naruto-kun?" tanya Asuna yang tambah bingung dengan maksud Naruto.
"Aku pikir kau tau, Asuna! Sudah jelas aku akan meratakan kerajaan Spriggan dan Dark Elf agar Liya bisa terbebas dari kutukannya," kata Naruto datar menekankan kata meratakan.
Sontak semua orang yang mendengar ucapan Naruto langsung melebarkan mata terkejut dan tak percaya.
"Jangan terlalu percaya diri brengsek! Kau tak akan mampu meratakan 2 kerajaan sekaligus," balas Lord Undine yang terkejut dengan keyakinan Naruto saat mengucapkan rencana tindakannya.
"Kau pikir aku takut dengan mereka! Jangankan mereka, Dewa sekalipun akan kubinasakan jika berani menyakiti keturunanku!" kata Naruto sangat dingin penuh keyakinan dan kemantapan, menekankan kata kubinasakan.
.
KRAK!
.
WUSH!
.
Dengan sekejap Naruto langsung melompat sangat jauh hingga luar kerajaan, meninggalkan semua orang yang terkejut di dalam ruangan.
" De-Dewa katanya! Seberapa kuat orang itu?" kejut para prajurit yang ada di ruangan tersebut.
" Sial! Aku saja menantang Naga penunggu hutan terlarang saja belum mampu, tapi dia sudah berani menantang Dewa! Seberapa kuat dia itu!" kejut Lord Undine dengan kemantapan Naruto tadi.
" KEREEEEEEEEEEENN! AYAHNYA LIYA-SAMA SUNGGUH JANTAN! Uhhhhh rasanya ingin sekali diriku merasakan tubuh kekarnya itu!" beda dari para pria,
Sieun malah terkagum-kagum dengan keberanian Naruto yang menurutnya pria jantan yang pernah ditemuinya seumur hidup.
" Hiks, terima kasih Naruto-kun, terima kasih," batin Asuna terharu langsung membungkuk mengusap lembut wajah Liya yang terbaring lemas diranjangnya.
"Tunggulah sebentar lagi sayang, kita akan hidup bahagia setelah ini," ucap lirih Asuna sambil terus mengelus wajah Liya penuh perasaan kasih sayang.
.
"THINKER! CEPAT KUMPULKAN SEMUA PRAJURIT! KITA AKAN MENYUSUL PRIA ITU!" Perintah Lord Undine kepada pemimpin prajurit tersebut.
Sontak pemimpin prajurit yang bernama Thinker langsung hormat.
"Hai! Yang Mulia!" ucap Thinker lalu keluar ruangan tersebut melaksanakan perintah Lord Undine.
.
" Jika benar apa yang akan dilakukan pria itu, maka Negeri ini akan damai tanpa 2 kerajaan pengacau," batin Lord Undine langsung keluar ruangan entah ke mana.
.
.
__ADS_1
T.B C