
.
#Skip Pagi Hari
.
Mata berkedut, sedikit gerakan terlihat. Naruto membuka matanya dengan perlahan, terbangun dari mimpinya untuk memulai awal hari barunya.
Naruto sedikit heran, saat ini ia kesusahan bergerak, badannya terasa amat-amat berat dirasa.
Berkali-kali Naruto menyipitkan matanya, ia menatap curiga selimut yang menyelimutinya, karena apa, selimut yang menyelimutinya itu terlihat mengembang, padahal kalau dipikir-pikir Naruto itu tidaklah gemuk, jadi sangat tidak masuk akal.
Srek! Srek!
Naruto tambah menyipitkan matanya saat tiba-tiba gundukan selimut itu tiba-tiba ada gerakkan.
Pikirannya menebak, kalau bukan salah satu wanitanya, pasti anak-anaknya, pikir Naruto saat itu.
Kesal, kekesalan Naruto muncul, ia menggeratkan gigi-giginya serta otot-otot di lehernya tiba-tiba terlihat, seperti seseorang yang sedang mengangkat beban berat.
"HYAAAAAAAH! BANGUN KALIAN!"
WUSH!
DUBRAK! DUBRAK! DUBRAK!
Naruto langsung berdiri di atas tempat tidurnya, ia hanya memakai celana hitam pendek selutut dan kaos putih polos, seketika langsung menatap 3 wanita, Great Red, Kholkikos dan Tiamat yang terjungkal di lantai kamarnya itu.
"Au. Au. Au. Sakit..." rintih kesakitan ketiga wanita itu.
"Siapa yang menyuruh kalian tidur di sini, Ha!"
Ketiga wanita itu diam mematung, dengan gerakan robot, mereka menoleh secara perlahan ke arah Naruto.
"Na-Naru," gagap Great Red, ia kemudian memainkan jarinya.
"Ka-kau kan telah me-memaafkan kami, ja-jadi kita bisa ti-tidur be-bersama lagi kan?"
"Siapa yang bilang seperti itu?"
"Ti-tidak ada,"
Tiba-tiba Naruto tersenyum, senyum serigai yang ditampilkan olehnya. Tapi senyumannya tak diketahui oleh ketiga wanita di hadapannya, karena mereka sedang menunduk.
"Karena kalian tidur di sini tanpa seizinku. Kalian harus dihukum."
Ketiga wanita itu melebarkan mata, mereka sedikit gimana gitu, saat tiba-tiba Naruto turun dari tempat tidurnya dengan senyum menawannya, sehingga mereka membayangkan adegan ranjang yang akan terjadi.
Padahal itu senyum serigai yang amat-amat menakutkan, huh... Memang Naga polos sekali.
Sring!
Set! Set! Set!
"""Kyaaaaaa! Naru. Jangan diikat!"""
"Bodo amat!"
__ADS_1
Set! Set! Set!
"Huh..."
Hancur sudah khayalan mereka bertiga, bukan adegan yang sesuai dengan difikiran mereka, melainkan kejadian amat sulit dibayangkan.
Dapat dilihat kondisi ketiga wanita itu saat ini, mereka seperti daging gulung saja. Mereka digulung dengan selimut lalu diikat menjadi satu.
"Hehe... Hukuman utama kalian akan dimulai," ucap Naruto mendekati, ketiga wanita itu terdiam, menatap curiga Naruto.
"Kelemahan Naga adalah berenang kan?"
"Na-Naru, jangan bi..."
Plak!
"Mandilah sambil berenang,"
Sring!
Seketika ketiga wanita itu hilang dalam sekejap dan hanya menyisakan Naruto saja di kamar itu.
Sring!
Tak jauh ketiga wanita muncul, masih di sekitar rumahnya Naruto, tepatnya berada di halaman belakan, 2 meter di atas kolam renang.
Byuuuuuur!
"NARUUUUU! TOLONG AKU! AKU TAK BISA BERENANG!"
Orang-orang di dalam rumah langsung Sweatdrop, mereka tak percaya dengan apa yang didengarnya sekarang.
Bayangkan, sosok Naga yang Eksistensinya sangat besar dan kuat sekarang sedang berteriak memilukan, meminta pertolongan hanya gara-gara tak bisa berenang.
"What! Kuat-kuat kok ngak bisa berenang?"
.
#Skip Time
.
2 jam berlalu, 120 menit itu telah banyak dilakukan oleh keluarga ini. Mereka telah selesai sarapan bersama di rumah itu.
Anak-anak Naruto yang dewasa telah keluar rumah. Pergi ke Kedai dan ada yang pergi entah ke mana, seperti Menma dan Raynare. Mentang-mentang mendapat kebebasan selama 1 minggu, mereka gunakan untuk terus berkencan setiap hari.
Dan lagi, anggota keluarga itu telah bertambah lagi. 3 wanita Naga dan Saraph penting Surga. Great Red, Kholkikos, Tiamat dan Gabriel adalah anggota keluarga baru yang dimaksud itu.
Untuk Gabriel itu sudah jelas, dia tadi malam telah pergi ke Kyoto untuk menemui Yasaka, hanya sekedar meminta ijin darinya. Dan akhirnya dia langsung tinggal di rumah Naruto karena telah mendapatkan ijin dari Yasaka pastinya.
Kalau untuk ketiga wanita Naga, itu akan menjadi urusan Naruto nantinya, entah bagaimana caranya ia memberi alasan kepada Yasaka nantinya.
"Freya-san belum pulang ya?"
Gumam Hancock memulai bersuara, dari sekian banyaknya wanita dewasa di ruang keluarga itu.
Sontak semua wanita. Great Red, Kholkikos, Katerea, Serafall, Grayfia, Arturia, Asuna, Mereoleona, Shirahoshi, Remia, Robin, Kalawarner, Izanami, Gabriel dan Tiamat.
__ADS_1
Serta satu-satunya pria di ruang itu, sang kepala keluarga, Naruto yang sedang menggendong Luffy. Semuanya menoleh ke arah Hancock.
"Siapa si, Freya itu? Apa wanitamu juga, Naru?" tanya Kholkikos penasaran, menatap Naruto.
"Jika iya. Kenapa? Kau tak terima?"
"Bukan begitu, mau bagaimana pun aku tetap wanita pertamamu bersama Red-Chan. Entah kau memiliki ratusan pun, aku tetap yang pertama, hahaha..."
Krik! Krik! Krik! Krik!
Semua terdiam, hanya suara jangkrik yang menjawab ucapan Kholkikos yang kelewat PeDe itu.
Dan anehnya, Kholkikos masih saja tertawa bangga walau tak ada yang ikut tertawa maupun memujinya.
"Huh..." Naruto menghela nafas.
"Jangan berpikiran seperti itu Kholki. Semuanya aku anggap sama, tak ada yang ke sekian-sekian."
"Tapi aku yang pertama, Naru. Seharusnya semuanya menghormatiku kan?"
Wajah Naruto datar, menatap Kholkikos. "Jangan keras kepala, Kholki!" bentak pelan Naruto.
"Tapi..."
"Rumah ini ada pintunya, kau bisa keluar lewat sana jika sifatmu masih keras seperti itu." Ucap tegas Naruto sambil menunjuk arah luar rumah dengan tangan kirinya.
Kholkikos terdiam, bahkan semuanya ikut terdiam. Mereka tau, ucapan sang kepala keluarga memang tak main-main. Sekali salah, maka habislah riwayatnya.
Kholkikos menunduk.
"Maaf, aku tak akan mengulanginya lagi."
"Bagus. Aku pegang omonganmu."
Naruto membenarkan posisi duduk Luffy di pangkuannya. Ia menghela nafas lalu melihat sekeliling kepada para wanitanya itu.
"Semua yang ada di rumah ini adalah keluarga. Tak ada istilah orang lain di keluarga ini. Semuanya sama, yang beda hanya anak-anak kita dan kita sebagai orang tua..." Semua wanitanya Naruto terdiam, mereka terus mendengarkan kata-kata pemimpin keluarga dengan seksama.
"Dan kewajiban kita sebagai orang tua adalah memberikan contoh terbaik untuk anak-anak kita. Hidup rukun, saling membantu, kerja sama, saling menasehati jika ada yang salah. Itulah dasar penting keluarga yang benar. Dan aku sebagai pemimpin keluarga ini akan selalu melindungi kalian dari bahaya apapun dengan segenap jiwa dan ragaku ini sebagai taruhannya. Aku tidak peduli itu, asal keluarga ini bisa hidup tenteram dan harmonis, itu sudah membuatku senang menjalani kehidupanku. Jadi, apabila ada yang keras kepala di sini, maka maaf saja. Aku yang akan mengusirnya langsung dari rumah ini." Ucap tegas Naruto.
Semua masih terdiam, tak ada yang mau menjawab.
Bagi mereka, kata-kata sang pemimpin keluarga adalah dasar panutan mereka. Dan mereka yakin, ucapan Naruto memang untuk kebaikan mereka seterusnya.
Bahkan Tiamat dan Gabriel yang nyatanya masih terbilang belum terlalu mengenal Naruto, bisa dibuat takjub dengan kata-kata bijaksananya.
Dan kata-kata itulah yang dapat membuat semua wanita di situ tak ingin hidup jauh dari Naruto.
Bukan karena ucapannya tadi, melainkan keyakinan dan kemantapannya saat mengucapkannya.
Membuat mereka Yakin, bahwa pria yang mereka miliki adalah pilihan terbaik yang tak ada gantinya.
.
.
T.B.C
__ADS_1