
.
Kini Naruto berada di depan Mansion bersama Lady Phoenix memandang kepergian Menma yang diajak Serafall keperpustakaan Sitri yang katanya perpustakaan terbesar di Underword.
Dan Naruto sempat heran tadi, bagaimana bujukan-bujukan yang dilancarkan oleh Serafall bisa membuat Menma antusias ingin ikut Serafall,
sedangkan dari tadi Lady Phoenix terus cekikikan karena bujukan Serafall sangat absurd menurut Lady Phoenix.
"Oh ya Okaa-san. Otou-san dan Ruval dimana? Dari tadi aku tidak melihatnya," tanya Naruto kepada Lady Phoenix yang disebelahnya.
"Hmm, tapi pagi katanya mereka ada rapat penting apalah itu Okaa-san lupa," balas Lady Phoenix sambil mengingat rapat apa yang tadi pagi suaminya bilang.
Dan Naruto hanya ber-O-ria saja.
"Sepertinya aku juga ijin keluar Okaa-san," kata Naruto membuat Lady Phoenix menoleh kearahnya.
"Ke mana?" tanya Lady Phoenix.
"Ada sesuatu yang ketinggalan ditempat latihan minggu lalu saat sparing dengan Ruval," jelas Naruto memberi alasan sambil tersenyum meyakinkan.
"Oh yasudah," kata Lady Phoenix membuat Naruto mengangguk senang.
.
SRING!
.
Lain perkataan lain tujuan, itu yang digambarkan oleh Naruto saat ini.
Bukan muncul di tempat latihan melainkan di hutan yang saat jauh tapi masih di Underword dan lokasinya dekat sebuah tebing tinggi seperti gunung.
Kini langkah Naruto menuju suatu tempat yang tidah jauh dari dirinya muncul tadi.
Langkahnya memang tenang tapi tidak dengan perasaan waspadanya disekelilingnya apa bila ada musuh terutama iblis lama yang sudah menjadi musuh dalam daftarnya.
"Ne Kurama, apa tidak ada rumus Hiraishin yang berbeda lagi?" tanya Naruto kepada patner di dalam tubuhnya.
"Entahlah Gaki, mungkin ada Cuma kita saja yang belum mengetahuinya," balas Kurama.
"Huh, ternyata susah juga ya, buat rumus pindah Dimensi. Gara-gara si Obito kampret aku jadi terlempar kedunia ini," kata Naruto kesal.
"Tapi ada untungnya juga kan Gaki, kau terlempar ke Dimensi ini, kau jadi memiliki keturunan. Yah walaupun 2 istri Nagamu dan istri iblismu membuatmu kecewa si," balas Kurama membuat Naruto memasang wajah datar.
"Jangan ingatkan lagi kurama, aku tidak ingin mendengar nama orang yang tidak menghargai kerja keras suaminya," kata Naruto cuek.
"Yah setidaknya anakmu dari wanita iblis tidak seperti anak dari 2 wanita Naga dan sebentar lagi kau akan mendapatkan penggantinya," balas Kurama membuat alis Naruto terangkat.
__ADS_1
"Apa maksudmu kurama?" bingung Naruto.
"Kau tidak menyadarinya ya Gaki, wanita iblis tadi yang membawa anakmu itu memiliki perasaan terhadapmu," jelas kurama membuat Naruto melebarkan matanya.
"Ha! Itu tidak mungkin Kurama, dan aku tidak ada niatan untuk cari pengganti lagi," sangkal Naruto menolak kenyataan.
"Liat saja nanti Gaki, kau juga pernah mengatakan seperti itu sebelum menjadi suami wanita iblis itu," kata Kurama tenang.
"Ya itung-itung untuk membangkitkan Clanmu apabila memang tidak ada jalan untuk kembali ke dunia asal kita," sambung Kurama membuat Naruto berfikir.
"Benar juga ya, ah kupikirkan nanti saja," kata Naruto membuat kurama menyerigai aneh.
"Berterima kasihlah padaku Gaki, berkat diriku kau bisa hidup abadi," kata Kurama membanggakan diri.
"Kau salah Kurama, Cuma hampir dan belum abadi. Aku masih bisa mati jika ada yang bisa membunuhku," kata Naruto membuat kurama mendesis.
"Cih! Sama saja Gaki," desis kurama.
Tiba-tiba langkah Naruto terhenti tepat di depan sebuah batu yang cukup besar di bawah tebing. Seketika Naruto melihat sekeliling, mengecek apabila ada hal yang mencurigakan.
Setelah merasa aman Naruto menempelkan telapak tangan kanannya ke batu tersebut.
.
[FUINJUTSU : KAI!]
.
Dan kemudian Naruto melangkah menuruni tangga tersebut dan seketika batu tersebut kembali menutupi lubang tangga di bawahnya setelah Naruto memasukinya.
.
DUK! DUK! DUK! DUK!
.
Suara langkah Naruto menuruni tangga tersebut, lama kelamaan langkahnya sampai di sebuah ruangan di dasar dan seketika ruangan tersebut langsung terang benderang.
Dapat dilihat di ruangan tersebut banyak sekali rak-rak buku berderetan serta banyaknya buku mengisi rak tersebut.
Buku tersebut sudah dikategorikan banyak walau hanya setengah dari perpustakaan milik Pillar Sitri tapi takkan habis bila dibaca seharian.
Lalu langkah Naruto menuju ujung ruangan yang terdapat sebuah meja dan banyak tumpukan gulungan yang menempel di tembok dan di atas mejanya banyak sekali kertas hasil corat-coret sebuah rumus segel yang dibuat oleh Naruto.
"Sudah berapa tahun ya? Aku memenuhi ruangan ini dengan kertas coretan rumus gagal," desah Naruto setelah duduk dari kursinya.
"300 tahun lebih mungkin," balas Kurama dalam tubuh Naruto.
__ADS_1
"Huh, jika umurku sudah setua itu mungkin anakku yang di sana sudah punya cucu ya," kata Naruto menghela nafas.
"Maksutmu anak dari wanita Yuhi itu? bukan lagi punya cucu tapi sudah punya cicit malahan," timpal Kurama membuat Naruto memasang wajah datar.
"Jangan ingatkan aku dengan wanita ****** itu kurama. Yang kupikirkan hanya anakku bukan dia, Aku malah berharap dia dan si brengsek Sarutobi itu disiksa di dalam neraka," ucap Naruto dingin menekankan kata dia dan si brengsek Sarutobi.
"Malahan sebelum masuk neraka, mereka sudah dibantai dan disiksa oleh keluargamu, terutama adikmu dan wanita Kenjutsu serta si Janda Uchiha yang paling over terhadapmu," tambah Kurama membuat Naruto sedih karena teringat dengan keluarganya terutama adiknya.
Tiba-tiba ada seseorang yang muncul di ruangan tersebut langsung membungkuk hormat di hadapan Naruto.
Sontak Naruto kembali tenang langsung menatap orang tersebut yang perawakanya seperti anak kecil dengan rambut kuning serta Zirah besi menutupi semua tubuhnya kecuali kepalanya tapi umurnya bisa membuat orang-orang yang mendengarnya tidak percaya karena melebihi umur Naruto sendiri.
"Aduh Meliodas, jangan membungkuk seperti itu, aku merasa tidak enak karena kau jauh lebih tua dariku," kata Naruto risih dengan tingkah orang yang bernama Meliodas tersebut.
Sontak Meliodas menegakkan tubuhnya.
"Tidak Naruto-san! Walaupun kau jauh lebih muda dariku, tapi kau orang yang paling kuhormati karena berkat dirimu istriku bisa terbebas dari segel kutukannya," sangkal Meliodas memberikan alasannya membuat Naruto kikuk.
"Hehe kau berlebihan Meliodas," balas Naruto cengengesan.
"Ano Naruto-san, ada laporan penting," ucap Meliodas membuat Naruto langsung terhenti dari cengengesanya dan langsung menatap serius Meliodas.
"Apa?" serius Naruto.
"Pasukan Old Satans sudah mulai bergerak, mereka sudah menginvasi Underword bagian selatan paling ujung," jelas Meliodas memberitau membuat Naruto menghela nafas.
"Huh, terus awasi Meliodas, suruh pasukanmu jangan bergerak dulu sebelum kuperintahkan," perintah Naruto dan langsung dijawab anggukan Meliodas,
lalu Meliodas mundur satu langkah dan menghilang entah ke mana.
"Huh! Pantas saja Otou-san dan Ruval mendapat rapat dadakan, ternyata sebentar lagi perang ya," gumam Naruto menerawang langit-langit ruangan.
"Apa kau juga akan bertindak Gaki," kata Kurama.
"Mungkin, dan aku akan pastikan Ambisi si kakek Ubanan Sialan itu hancur tak tersisa," kata Naruto menekankan kata si Kakek Ubanan Sialan.
"Huh, dendam ya," kata Kurama.
"Sangat! Karena dirinya membuat keluargaku hancur seperti ini," balas Naruto dingin.
"Aku selalu mendukungmu Gaki, apapun tindakanmu itu," kata kurama menyetujui membuat Naruto mengangguk.
Lalu Naruto memulai kegiatannya yaitu membuat sebuah rumus segel Hiraishin entah apa itu dan selalu gagal-gagal tidak sesuai dengan keinginannya hingga lupa sudah banyak sekali kertas hasil coretannya yang menumpuk di ruangan tersebut.
.
T.B.C
__ADS_1