
"Tou- san tak melarangmu untuk memiliki kekasih lebih dari satu kok, Menma," ucap Naruto.
Brusssss!
Blusssss!
Air minum yang baru masuk ke mulut Menma langsung disemburkan kembali, begitu juga dengan Raynare yang sama-sama seperti Menma.
Sedangkan Akeno sudah bersemu merah atas ucapan ayahnya Menma.
Menma mengusap bibirnya. "Tou- san ngomong apa si?" tanya Menma yang sempat terkejut.
"Huh," Naruto menghela nafas.
"Asal kau tau Menma, Tou- san dan Tou-sannya Akeno- Chan sudah merencanakan ini. Bahwa kau akan kami jodohkan, itu si kalau kalian sama-sama menyukai. Kalau tidak ya tidak apa-apa, Tou- san tak memaksa, itu urusan kalian," jelas Naruto memberitau.
Menma dan Raynare membulatkan matanya lebar-lebar karena terkejut, sedangkan Akeno sudah bersemu merah tambah malu atas ucapan Naruto.
"Ehem," Menma berdehem setelah beberapa menit kembali sadar dari terkejutnya.
"Tapi Tou- san, aku kan sudah memiliki kekasih yaitu Raynare- Chan. Mana mungkin kan?" tanya Menma mencoba menolak.
Naruto tersenyum
"Seharusnya kau tak bertanya pendapat kepadaku Menma, tanyalah pendapat seperti ini dengan kekasihmu itu," ucap Naruto.
Sontak Menma langsung menoleh ke arah Raynare yang berada di sampingnya.
"Bagaimana pendapatmu, Ray- Chan?" tanya Menma.
"Huh," Raynare menghela nafas tenang.
"Sebenarnya aku sudah bosan terus-terusan saling bermusuhan dengan Akeno- san. Mungkin tak masalah bagiku bila Akeno- san juga menjadi kekasihmu, yang terpenting aku tetap kekasih utamamu," balas Raynare berpendapat.
"Ssssssst!" Naruto geleng-geleng kepala, sontak ketiga remaja di hadapannya menoleh ke arahnya.
"Kau tidak boleh seperti itu Raynare- Chan. Seharusnya kau mengatakan kepada Menma untuk berlaku adil kepada kalian. dan untuk dirimu Menma, kau harus bersikap adil membagi perasaanmu, tidak ada namanya kekasih utama atau yang lainnya. Semuanya harus kau anggap sama," ucap Naruto berpendapat.
Menma dan Akeno mengangguk mengerti sedangkan Raynare entah mengapa menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku atas sifat egoisku, Otou- sama," ucap Raynare.
"Tak apa untuk kali ini," ucap Naruto tenang. "Kalian ini akan semakin dewasa seiring berjalannya waktu. Jadi, gunakanlah otak kalian untuk berpikir dengan kepala dingin, jangan gunakan ego untuk berpikir lagi," ucap Naruto menasehati dan dijawab anggukan kepala oleh ketiga remaja di hadapannya.
Naruto tersenyum lalu menoleh ke arah Leo di sampingnya.
"Ayo ke dalam, Leo." Ajak Naruto dan Leo pun mengangguk.
__ADS_1
Lalu Naruto beranjak dari duduknya dan melangkah ke dalam di mana para wanita sedang mengobrol diikuti Leo di belakangnya dan Luffy masih berada di gendongannya.
Hingga tak lama kemudian Naruto sampai ke dalam dan para wanitanya masih berada di ruangan tersebut, kemudian Naruto langsung mendekati para wanitanya, lebih tepatnya ke arah Robin.
"Hehe, Robin. Bisa kau gendong ini, aku akan segera pergi sekarang," kata Naruto sambil memperlihatkan Luffy di gendongannya.
Robin tersenyum lalu kedua tangannya terangkat untuk menerima Luffy yang akan berpindah gendongan kepadanya.
Naruto melihat sekeliling ruangan ke arah para wanita-wanitanya.
"Jaga rumah sebentar oke," ucap Naruto dan dijawab anggukan kepala oleh mereka semua. Lalu Naruto berbalik dan menoleh ke lantai 2.
"GRAY!"
Teriak Naruto memanggil anaknya yang berada di lantai 2.
Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!
Tak berselang lama panggilan Naruto yang keras, tiba-tiba dari lantai 2 terdengar langkah kaki yang begitu cepat.
Dan akhirnya muncul sosok Gray dengan baju putih polos serta celana jeans hitam panjang yang sedang menuruni tangga.
"Ada apa Tou- san memanggilku?" Tanya Gray setelah berada di hadapan Ayahnya.
Naruto menoleh ke samping dan memegang pundak Leo yang berada di sampingnya, kemudian kembali menoleh ke arah Gray.
Gray mengangguk lalu menoleh ke arah Leo.
"Ayo. Kau bisa ikut denganku," ajak Gray kepada Leo.
Leo menoleh ke arah Naruto. Seakan sudah tau tatapan yang ditunjukkan oleh Leo, tiba-tiba Naruto tersenyum dan mengangguk.
"Ikutlah, dia saudaramu," kata Naruto menyuruh.
Leo mengangguk lalu menoleh ke arah Gray dan kembali mengangguk.
Kemudian Gray berbalik badan dan kembali melangkah ke lantai 2 diikuti Leo di belakangnya.
Tiba-tiba Naruto melangkah ke arah kamarnya setelah Gray dan Leo berada di lantai 2. Dan para wanitanya kembali ke acara mengobrolnya setelah Naruto memasuki kamarnya.
Hingga tak berselang lama Naruto keluar kamar dengan kaos putih gambar tengkorak yang dibalut jaket berhoodie yang resletingnya di biarkan terbuka, serta celana jeans warna hitam panjang dan sepatu hitam model hip-hop.
Naruto menoleh ke arah para wanitanya.
"Aku pergi sekarang," ucapnya.
Semua wanitanya mengangguk.
__ADS_1
"Hati-hati di jalan," ucap mereka serempak bebarengan, dan Naruto hanya tersenyum mendengarnya lalu bersiap-siap berteleport.
.
SRING!
.
Naruto langsung menghilang dan muncul di tengah-tengah hutan Aokigahara, lebih tepatnya di depan sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu. Kemudian Naruto melangkah santai menuju rumah tersebut.
.
#Skip Kamar Olive
.
Jika di lantai 1 terdapat banyak wanita-wanita dewasa sedang mengobrol, beda dengan di kamar Olive sekarang.
Kini nampak Olive yang masih di balut handuk sedang duduk berhadapan dengan Naruko dan Vivi yang masih memakai pakaian renang model bikininya sedang menatap Olive penuh curiga.
"Katakan pada kami, Olive- nee. Apakah kau memiliki perasaan terhadap Tou- san?" tanya Naruko serius.
"Kalian ngomong apa si? Wajar bukan jika seorang anak menyanyangi Tou-sannya sendiri?" balas Olive mencoba menyangkal pertanyaan Naruko.
"Kami sudah tau," tiba-tiba Vivi bersuara.
"Apa maksudmu?" bingung Olive.
"Dari cara memeluk Tou- san tadi, Olive- nee tidak sekedar menyayangi Tou- san sebagai anak kan? Melainkan perasaan yang lebih dari itu," ucap Vivi menebak.
Entah kenapa Olive terdiam.
"Sudah kuduga, jika Olive- nee bukan sekedar menyayangi Tou- san. Melainkan mencintai Tou- san kan?" timpal Naruko menduga.
"Huh," Olive menghela nafas lalu menatap Naruko dan Vivi di hadapannya.
"Dan bukan Cuma aku saja kan yang memiliki perasaan terhadap Tou- san? Melainkan kalian juga sama sepertiku, iya kan?" tanya Olive menebak juga.
.
.
""Ya.""
.
T.B.C
__ADS_1