
.
"Jika pun ada Dewa-Dewi yang tak terkena kutukan setelah bersumpah, mungkin mereka bersumpah tak di hadapan sungai suci Styx." Sambungnya.
Entah kenapa Naruto mengangguk seperti memahami maksud dari perkataan Hestia.
"Dengan kata lain kau akan terus mengalami kematian dan kehidupan, dan itu berulang-ulang tanpa henti," kata Naruto menyinpulkan.
"Itu masih mending jika kematian menghampiri, semua keinginan di dunia telah tercapai, seperti kebahagiaan dan lain sebagainya. Sumpah ini bisa merengut kematian di saat yang bersumpah sedang dalam bahagia, dan ingatan kehidupan akan hilang setelah kelahiran kembali. Kau pasti bisa membayangkan bagaimana rasanya kan?" timpal Hestia di akhiri dengan pertanyaan.
"Ya, aku mengerti. Sangat sulit dibanyangkan jika itu terjadi kepadaku. Pasti nasibku tak bisa melihat pertumbuhan anak-anakku dan kebahagiaan anak-anakku jika sumpah itu terjadi kepada diriku," balas Naruto menyimpulkan lagi.
"Ya begitulah. Walaupun aku seorang Dewi yang memiliki hidup hampir abadi, tak dipungkiri bahwa aku juga memiliki perasaan seperti mahkluk lainnya. Mahkluk yang ingin memiliki kehidupan bahagia di seputar kehidupannya, walau hanya sebentar saja tak masalah bagiku," ucap Hestia.
"Aku tau, mungkin ini sangat lancang bagiku yang tiba-tiba akan hadir dalam kehidupan bahagiamu bersama istri-istrimu. Mungkin jika kehadiranku nanti mengganggumu, aku akan membantah sumpahku saja tak masalah, berharap setelah kematian dan kelahiran kembali akan melupakan semuanya nanti."
" Dan aku akan mengalami itu lagi setelahnya bila sedikit mendapat kebahagian, karena sumpah yang di bantah juga merengut kebahagian bagi yang bersumpah," sambung Hestia menunduk pasrah.
"Huh," Naruto mengakhiri acara menopang dagunya dan kembali tenang.
"Kau tau. Bukan aku menolak atau apa, tapi ada satu hal yang harus kau tau, aku memiliki istri. Dengan kata lain keputusan seperti ini juga perlu dukungan dari istri-istriku juga. Kau pasti paham apa maksudku," ucap Naruto memberitau alasannya.
Tiba-tiba Hestia menegakkan kepalanya dan menatap Naruto.
"Jadi, aku harus meminta ijin dengan istri-istrimu, gitu?" tanya Hestia sepertinya memahami ucapan Naruto.
"Kurang lebih seperti itu," singkat Naruto sedangkan Hestia hanya mengangguk mengerti.
Selanjutnya tak ada yang bersuara, keheningan menyelimuti mereka berdua karena tak ada bahasan obrolan mereka punya.
"Ano..."
Tiba-tiba Hestia memulai bersuara kembali membuat Naruto menoleh ke arahnya.
"Apa?" bingung Naruto.
"Apakah salah satu istrimu telah memberitahumu tentang pengundanganmu di acara Freta of Demigods 2 minggu mendatang di Camp Half-Blood, dan pastinya kau menjadi tamu undangan penting nantinya," ucap Hestia memberitau.
"Istriku tak ada yang memberitauku tentang itu, memangnya itu acara apa?" tanya Naruto.
"Itu adalah acara tradisi untuk Demi-God menunjukkan kemampuannya, ya bisa di bilang seperti Rating Game bangsa Iblis," jelas Hestia memberitau.
"Hmmm," Naruto sedang berpikir sesuatu.
"Baiklah aku akan datang ke acara itu. Mungkin aku akan menunjukkan sesuatu hal penting kepada 2 Dewa-Dewi Olynpians di acara itu nanti," ucap Naruto.
__ADS_1
Hestia memiringkan kepalanya.
"Suatu hal penting? untuk siapa?" tanya Hestia penasaran.
"Ada lah, kau dan semua Dewa-Dewi akan tau nanti," balas Naruto simpel dan Hestia hanya mengangguk saja tak ingin menanyakan lagi, toh nantinya juga akan tau, pikir Hestia.
Tiba-tiba Naruto mengambil minumanya di gelas dan langsung menenggaknya sekali tenggak tanpa sisa.
Tap!
Srek!
Naruto langsung berdiri dari duduknya setelah menaruh gelas kosong di atas meja.
"Mungkin aku akan pergi sekarang, ada sesuatu hal yang harus kulakukan sekarang," pamit Naruto.
"Um." Hestia mengangguk.
"Jika ada waktu luang, aku akan datang ke rumahmu untuk meminta persetujuan dengan istri-istrimu," ucap Hestia.
"Terserah kau saja, semua keputusanku tergantung pada istri-istriku," balas Naruto dan Hestia hanya mengangguk saja.
Naruto mengangguk sebagai balasan anggukan Hestia, lalu melangkah ke Counter depan Kedai.
"Hep!" panggil Naruto setelah sampai di Counter Kedai.
Dan Hephaestus yang dipanggil pun muncul dari ruangan lain Kedai yang bersebelahan dengan dapur Kedai.
"Sudah mau pergi kah?" tebak Hephaestus.
"Ya, sekedar ingin mengunjungi temanku di danau White Rock," ucap Naruto memberitau.
"Oooooo," dan Hephaestus hanya ber-O-ria saja karena sudah tau apa yang di maksud oleh Naruto.
Pada dasarnya dulu Naruto juga bercerita kepada Hephaestus bahwa penghuni danau White Rock adalah seoeang manusia ikan air tawar yang berteman baik dengan Naruto.
"Aku pergi sekarang Hep," pamit Naruto dan dijawab anggukan kepala oleh Hephaestus.
.
SRING!
.
Naruto langsung menghilang dalam sekejap mata menuju tujuan yang memang ingin di tuju malam ini juga.
__ADS_1
.
#Danau White Rock (Amerika)
.
Naruto muncul di dalam hutan tak jauh dari Danau yang memang tujuannya sekarang.
Selanjutnya Naruto melangkah keluar dari hutan tersebut menuju pinggiran Danau yang penah ia kunjungi waktu dulu.
Langkah Naruto terhenti dan langsung tersenyum tepat di samping pohon besar tak jauh dari pinggiran Danau.
Dan apa yang membuat Naruto tersenyum dan menghentikan langkahnya adalah sosok wanita yang memiliki rambut biru muda dan memakai gaun putih selutut, dengan ciri khas telinganya berbentuk seperti sirip ikan.
Wanita tersebut sedang duduk di atas batang kayu roboh di pinggiran Danau tak jauh di hadapannya, dan pastinya wanita tersebut memunggungi Naruto sehingga tak mengentahui kehadiran Naruto tak jauh di belakangnya.
"Mama, apakah nanti saat aku dewasa akan bertemu ayah?"
Naruto yang hendak melangkah menghampiri wanita tersebut langsung terhenti kembali saat mendengar suara anak kecil dari arah sang wanita yang kemungkinan suara itu memang dari anak kecil yang sedang di pangku oleh wanita tersebut sehingga membuat Naruto tak tau wujud dari pemilik suara tersebut.
"Entahlah sayang, Mama tidak tau."
Ucap Wanita tersebut membalas suara anak kecil tersebut. Dan entah kenapa pikiran Naruto bertanya-tanya setelah mendengar suara anak kecil tersebut.
"Apakah ayahku orang baik, Ma?"
Wanita yang di panggil Mama menundukkan kepalanya, sepertinya sedang menatap anak kecil yang berada di pangkuannya.
"Ayahmu adalah orang baik, dia satu-satunya orang yang mau berteman dengan Mama waktu itu," tiba-tiba wanita tersebut mendongkrakkan kepalanya menatap langit malam.
"Ya, sampai waktu itu, disaat perasaan Mama tumbuh kepadanya. Bahkan sampai sekarang Mama masih menyimpan perasaan ini walau tak tau kapan akan terbalaskan oleh orang yang Mama sukai," gumam wanita tersebut.
"Maksud Mama?" bingung anak kecil di pangkuan wanita tersebut karena tak paham dengan gumaman wanita tersebut.
Wanita itu langsung menundukkan kepalanya lagi menatap anak kecil di pangkuannya.
"Bukan apa-apa, tak usah di pikirkan ucapan Mama tadi, oke," ucapnya.
Naruto terdiam mematung, karena Naruto tau siapa yang di maksud oleh wanita tersebut ialah dirinya sendiri. Entah perasaan senang atau sedih yang harus di ungkapkan oleh Naruto sendiri.
Senang karena dicintai oleh wanita tersebut, sedih karena berani menjamin bahwa suara anak kecil tersebut adalah anak kandungnya sendiri, tapi yang bikin sedih bukan itu.
Melainkan sedih karena membanyangkan bagaimana perjuangan wanita itu membesarkan anak kecil tersebut, di tambah bahwa anak itu lagi-lagi keturunan dari Naruto sendiri. Jadi sedihnya tambah dobel-dobel berkali-kali lipat menghantam perasaan batinnya.
.
__ADS_1
.
T.B.C