
.
Ting!
Suara penanda jika pintu kedai terbuka dan yang memasuki adalah sosok Azazel dengan tampang bosan hidup langsung melangkah ke tempat duduk pelanggan paling depan.
"Mau mengutang ramen lagi ya, Paman?" dan ternyata di hadapan Azazel ada Menma yang baru keluar dari dapur kedai sambil cengengesan saat melihat Azazel.
"Huh," Azazel menghela nafas.
"Tolong jangan seperti ayahmu, Menma. Bercandamu ngak lucu," ucap Azazel.
"Hehe, kan aku anaknya," cengengesan Menma.
"Seperti biasa kan, Paman?" tanyanya dan dijawab anggukkan kepala Azazel, lalu Menma melangkah lagi ke dapur Kedai.
"Tumben sekali kau datang kemari, Azazel-san," tiba-tiba Freya menyapa Azazel setelah keluar dari dapur kedai.
Azazel menghela nafas.
"Kau tau sendiri lah, pekerjaanku banyak yang menumpuk. Jadi tidak sempat untuk sering-sering datang kemari," ucapnya mengeluh.
"Makanya cepat nikahi si Hel, biar dia bisa membantu pekerjaanmu," ucap Freya sambil mengambil gelas yang berada di lemari kaca kecil yang menempel di tembok.
"Ini juga lagi kuusahakan mencari waktu senggang," balas Azazel.
"Hehe, berjuanglah Azazel-san, semoga bisa cepat nikah," ucap Freya menyemangati sambil melangkah ke dapur lagi.
"Huh," dan Azazel hanya menghela nafas saja sebagai jawaban dari ucapan Freya.
Ting!
Lagi-lagi pintu kedai terbuka dan kini menampakkan sosok Baraqiel dan diikuti Akeno di belakangnya.
"Tak kusangka kau kesini juga, Azazel," ucap Baraqiel menghampiri Azazel dan terus diikuti Akeno yang berjalan sambil menunduk.
"Memangnya Cuma dirimu yang bisa santai-santai kesana-kemari? Diriku juga mau kali," ucap Azazel tanpa menoleh. Kemudian Baraqiel duduk di sebelah Azazel dan Akeno juga duduk di sebelah Baraqiel.
Tiba-tiba Azazel menoleh ke arah Baraqiel.
"Sepertinya kau sudah baikkan dengan anakmu?" ucapnya.
"Ya seperti itulah, berkat seseorang," balas singkat Baraqiel, dan Azazel malah bingung atas jawaban Baraqiel.
"Seseorang?" bingung Azazel.
"Haha, nanti kau juga tau," balas Baraqiel.
Azazel kembali menoleh ke depan.
"Huh, kau itu," ucap Azazel menghela nafas.
Tap! Tap! Tap!
Menma keluar dari dapur kedai dengan semangkuk ramen di tangan kanannya.
"Wah, Paman Baraqiel. Tumben datang kesini," ucapnya.
Baraqiel menoleh ke arah Menma. "Sesekali lah, Menma," balasnya dan Menma hanya ber-O-ria saja.
__ADS_1
"Wah, Akeno-chan," suara Vivi yang baru keluar dari dapur Kedai langsung menyapa Akeno yang duduk di sebelah Baraqiel sambil menunduk entah karena apa.
Akeno menegakkan kepalanya.
"Ah Vivi-chan," balas Akeno menyapa juga.
Vivi pun mendekat dan duduk berhadapan dengan Akeno kemudian saling mengobrol.
Sedangkan di sebelahnya nampak Azazel sedang fokus menyantap makanannya, kalau untuk Baraqiel sedang mengobrol dengan Menma.
"Kau harus bertanggung jawab atas kejadian kemarin, Menma," ucap tiba-tiba Baraqiel.
Menma memegang dagunya.
"Memangnya aku berbuat apa kemarin?" bingung Menma.
"Jangan pasang wajah bingung seperti ayahmu itu, aku tau apa yang terjadi di Kuil atas bukit kemarin," ucap Baraqiel memberitau.
Sontak Akeno langsung menunduk kembali serta wajah yang bersemu karena mendengar obrolan Menma dan Baraqiel.
Sedangkan Vivi jadi bingung atas reaksi Akeno sekarang, Jadi Vivi memutuskan untuk diam sambil menguping pembicaraan Baraqiel dan Menma.
Tanda centang muncul di atas kepala Menma dan kemudian Menma menoleh ke arah Baraqiel.
"Kemarin kan aku Cuma mengantarkan Akeno sa-tunggu!" tiba-tiba Menma melebarkan mata seperti telah mengingat sesuatu.
Sontak membuat orang-orang yang ada di dekatnya menoleh ke arahnya dan ingin mendengar kelanjutannya, bahkan Baraqiel sudah tersenyum menyerigai.
Tiba-tiba Menma menunjuk wajah Baraqiel.
"Paman seorang Stalker!" ucapnya dengan nada aneh.
Dubrak!
Dan yang paling parah adalah Baraqiel yang terjungkal ke belakang sampai membentur lantai karena terkejut.
"Jadi kau kemarin telat datang ke kedai karena mengantar wanita, Meeeeeeenmaaaaaaaa-kuuuuuuuuun,"
Tiba-tiba tubuh Menma merinding, lalu menoleh ke belakang dengan perlahan dan menghiraukan orang-orang yang terjungkal karena terkejut.
Di belakang Menma kini nampak Raynare dengan mata yang sudah menyala merah serta aura dingin menyelimutinya.
"Hiiiiiiiiiiiiii! Sereeeem!"
Jerit Menma dan langsung diseret paksa oleh Raynare ke dalam ruangan yang biasa digunakan untuk istirahat.
Sedangkan yang lainnya yang melihat itu tak lagi terjungkal maupun terkejut, melainkan sekarang malah Sweatdrop masal.
" Ayah dan anak sama saja, sama-sama bodoh," batin Azazel dan Baraqiel yang Sweatdrop.
.
.
#SKIP UNDERWATER KINGDOM
.
# 2 Jam Kemudian
__ADS_1
.
"Emmmmnhhhh!"
Shirahoshi menggeliat setelah 2 jam dirinya pingsan karena Syok atas kejadian yang tadi di alaminya atas hilangnya Shuna.
"Kau sudah sadar," Shirahoshi langsung menoleh ke arah samping ranjangnya yang ternyata ada Naruto yang duduk di sampingnya.
"Shuna mana?" tanya Shirahoshi dan dijawab arah telunjuk Naruto yang mengarah ke samping kiri dirinya berbaring.
Shirahoshi langsung menoleh ke samping kirinya.
"Huh, syukurlah," ucapnya bernafas lega lalu kembali menoleh ke arah Naruto sambil mencoba duduk di atas ranjangnya lalu menatap Naruto seperti meminta penjelasan.
"Huh," Seakan sudah tau tatapan mata Shirahoshi yang sepertinya meminta penjelasan, Naruto hanya menghela nafas saja.
"Seperti biasa Vander Decken IX selalu membuat ulah karena masih mengejar dirimu. Dia menculik Shuna untuk memaksa dirimu agar mau bersamanya," ucap Naruto menjelaskan.
Sontak Shirahoshi mengangguk mengerti.
"Bahkan selama kau tak ada disini. Dia sering mengirim bunga dan surat lamaran kepadaku. Dia mamang gila, sudah tau kalau aku ini sudah menikah dan punya anak, masih saja melakukan tindakan gilanya," kesal Shirahoshi.
"Mungkin dia tidak terima jika kau menjadi miliku, Mungkin," ucap santai Naruto.
"Dia bukan typeku. Karena typeku hannyalah dirimu," balas Shirahoshi santai juga dan Naruto hanya tersenyum saja mendengar jawaban dari Shirahoshi.
"Emmmmmmhhhh!"
Nampaknya Shuna juga akan tersadar dari pingsannya.
Sontak Naruto dan Shirahosi langsung menoleh ke arah Shuna yang sedang menggeliat akan bangun.
"Ayah, Ayah,"
Shuna langsung tolah-toleh seperti mencari sesuatu, seketika Shuna langsung tersenyum senang setelah matanya menangkap sosok Naruto yang duduk di sebelah ibunya sambil tersenyum yang di arahkan kepadanya.
Seketika Shuna langsung bangun dari berbaringnya dan merangkak mendekati Naruto dengan cepat.
Grep!
"Hiks, Shuna kangen sama ayah," ucapnya sambil memeluk sosok yang di panggil ayah, yaitu Naruto.
Naruto mengelus kepala Shuna.
"Sekarang ayah ada disini, jangan bersedih lagi ya," ucap lembut Naruto penuh kasih sayang dan perlindungan untuk Shuna,
dan Shuna malah semakin mempererat pelukannya.
Naruto langsung menoleh ke arah Shirahoshi.
"Lebih baik kita keluar, Ayahmu sepertinya ada keperluan denganku," ajak Naruto dan dijawab anggukkan kepala Shirahoshi.
Kemudian Naruto berdiri dari duduknya dengan Shuna yang berada di gendongannya, dan Shirahoshi pun beranjak dari tempat tidurnya kemudian berdiri di samping Naruto.
Lalu mereka berdua melangkah keluar kamar dengan Shuna yang terus di gendongan Naruto serta Shirahoshi yang berjalan di samping kanan Naruto.
.
.
__ADS_1
.
T.B.C