
.
"Lain kali kalau bermain itu hati-hati, Menma," ucap Naruto sambil menyendekan punggungnya pada senderan sofa setelah menghela nafas.
"Um," Menma mengangguk cepat.
Tiba-tiba datang seorang Maid dengan secangkir minuman.
"Ini Naruto-sama, minumannya," ucap Maid tersebut sambil menaruh secangkir kopi hangat di hadapan Naruto.
"Ah terima kasih," balas Naruto.
"Oh ya bibi, Katerea-Chan ada di rumah tidak?" Naruto bertanya kepada maid tersebut yang hendak melangkah ke belakang.
Seketika langkah Maid tersebut terhenti.
"Nyonya tadi keluar bersama Olive-sama," kata Maid tersebut.
"Kemana?" Naruto kembali bertanya.
"Saya kurang tau Naruto-sama," balas Maid tersebut.
"Huh..." Naruto menghela nafas.
"Baiklah, kau boleh pergi sekarang,"
Maid itu pun mengangguk, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan yang Naruto dan Menma tempati sekarang. Dan kini hanya Naruto dan Menma di ruangan itu yang pada akhirnya obrolan canda ria antara anak dan ayah menghiasi ruangan tersebut.
#Skip Time
Waktu sudah menunjukan waktu petang, entah kenapa sekarang Naruto sedang bersedekap dada di depan pintu masuk Mansion. Hal itu membuat pelayan penjaga pintu merasa gerogi saat di dampingi oleh Naruto.
Ternyata Naruto kini sedang memasang wajah kesal karena Katerea dan Olive belum pulang, ia sedang menunggu kepulangan mereka.
Dengan jari yang selalu digerakkan seakan sedang menghitung entah apa, yang pasti itu untuk menghilangkan kebosanan dirinya yang kesal menunggu istri dan anaknya.
"Na Naruto-sama, bi-biarkan saya yang menjaga pintunya," ujar penjaga itu dengan grogi mulai bersuara karena merasakan suasana yang kurang enak di sekitarnya.
"Sudahlah paman, aku ingin disini sebentar lagi," balas Naruto, dan penjaga itu sekarang memilih diam saja.
*Sring!*
Tiba-tiba dari depan Naruto berdiri muncul sebuah lingkaran sihir teleport, dan Naruto tau siapa pemilik lingkaran sihir teleport tersebut, siapa lagi kalau bukan orang yang sekarang sedang ditunggu oleh Naruto.
Hingga lingkaran sihir teleport itu menghilang menampakkan Katerea dan Olive, nampak jelas sekarang, Katerea melebarkan mata ketika melihat Naruto yang bersedekap dada menatap tajam dirinya.
"Na-Naru," gagap Katerea, ia sedikit merasa merinding ketika ditatap oleh Naruto seperti itu.
Tatapan Naruto sekarang bukan seperti tatapan yang lalu saat dirinya pernah pulang telat, saat ini tatapan Naruto jauh menusuk menurut Katerea.
__ADS_1
"Dari mana saja kalian?" nada dingin nan datar akhirnya keluar dari mulut Naruto membuat Katerea gelagapan.
"A-aku, a-aku..."
"Kau tau ini jam berapa?" Naruto menyela ucapan Katerea yang terbata-bata, membuat Katerea semakin gelagapan.
"Huh..." Naruto menghela nafas sambil memijit kepalanya yang tak pusing karena Katerea tak menjawab pertanyaannya, kemudian Naruto menatap Olive di samping Katerea.
"Olive, kau masuk sekarang,"
"Ha-haik," Olive menjawab takut-takut, sungguh bagi Olive baru pertama kali melihat ayahnya menatap tajam seperti itu, maka Olive lebih memilih mematuhi perintah ayahnya dan masuk ke rumah sambil menunduk karena takut dengan wajah ayahnya sekarang.
Lalu Naruto kembali menatap Katerea.
"Mau sampai kapan kau berdiri disitu?" ucap Naruto, tapi malah membuat Katerea terdiam.
"CEPAT MASUK!" dan akhirnya dengan emosi Naruto membentak Katerea.
"Ha-haik," Katerea pun masuk dengan kepala menunduk, lalu disusul Naruto di belakangnya.
Sedangkan penjaga pintu yang tadi disitu, dia merinding sangat ngeri melihat tuannya membentak nyonyanya. Sungguh, bagi penjaga itu juga baru pertama kali melihat tuannya sangat marah.
Singkat waktu, sekarang Naruto sedang duduk di ruang tengah sambil menatap tajam Katerea yang duduk menunduk di hadapannya.
"Kau dari mana saja?" Naruto bertanya, sedangkan Katerea malah terdiam, ia tak sanggup untuk menatap Naruto.
"Lebih baik kau katakan dengan jujur, kau habis dari mana?" sekali lagi Naruto bertanya.
*Brak!*
Meja digebrak dengan keras oleh Naruto, membuat Katerea kaget setengah mati.
"Kau lebih memilih menghadiri undangan itu dari pada mengurusi anakmu sendiri! Lihat Menma sekarang, dia terluka dan kau kemana saja ha!" amarah Naruto akhirnya keluar, ia sangat marah terhadap Katerea yang lebih mementingkan acaranya kentimbang kondisi anaknya sendiri, Naruto benar-benar marah karena hal itu.
"Na-Naru, a-aku bisa jelaskan," ucap Katerea takut-takut.
"Jelaskan apa?!"
"Me-Menma itu se-sekarang sedang dilatih kekuatan oleh Lucifer-sama. Bukannya itu bagus, jarang-jarang Lucifer-sama mau melatih kekuatan kepada Iblis muda. Dan anak kita beruntung karena Lucifer-sama mau melatih langsung anak kita," Jelas Katerea menjelaskan dengan takut-takut menatap Naruto.
Raut wajah Naruto kini berubah menjadi datar dan sangat marah setelah mendengar penjelasan Katerea.
Naruto sangat tak suka, karena nyatanya dari awal Naruto memang sudah bermusuhan dengan Rizevim.
Apalagi saat Naruto telah mengetahui fakta bahwa nama Menma telah disebutkan oleh Rizevin untuk dijadikan kelinci percobaannya, dan mulai saat itu juga kebencian Naruto terhadap Rizevim semakin bertambah.
*Plak!*
Tamparan keras mendarat tepat di pipi Katerea, dan pelakunya adalah Naruto yang kini menatap tajam Katerea.
__ADS_1
"Siapa yang menyuruhmu membiarkan Menma dilatih oleh Rizevim?" dengan nada dingin dan datar Naruto bertanya.
Katerea malah terdiam, ia sangat terkejut dan tak menyangka jika suaminya berani menamparnya, itu baru pertama kali dialami oleh Katerea.
Sedangkan para pelayan, Maid dan Sayaka sendiri yang melihat Naruto memarahi Katerea dari kejauhan juga terdiam, mereka tak menyangka bahwa sosok Naruto yang biasa ramah dan sayang keluarga, sekarang dengan entengnya mengangkat tangannya dan menampar istrinya.
Bagi Sayaka, ia cukup kasihan terhadap kakaknya yang sekarang diperlakukan oleh Naruto, tapi apa boleh buat, itu bukan urusannya.
Sayaka telah sadar, mungkin bukam Cuma Sayaka yang sadar, melainkan teman-temannya seperti Arizona dan Nevada juga telah sadar bahwa sifat egois sangat merugikan diri sendiri.
Sebab, beberapa tahun yang lalu Sayaka, Arizona, Nevada serta beberapa iblis-iblis perempuan seumuran Sayaka pernah dengan cerobohnya mengklaim bahwa mereka kuat dari segalanya dan mengambil misi berbahaya dari Rizevim untuk menginvansi wilayah yang dikuasai oleh DaiTanshin di Underword, yang pada akhirnya mereka kalah dan hampir dijadikan budak *** oleh pasukan yang mereka lawan.
Untung saja Naruto datang tepat waktu dan Naruto telah berteman dengan Azazel, sehingga Sayaka dan teman-temannya dibebaskan, setelah itu Naruto menceramahi mereka semua dengan Ceramah no Jutsu tentang baiknya berdamai dan ruginya sifat egois.
Dan mereka semua memahaminya, walau nyatanya Bagi Naruto sendiri waktu itu hanya menghargai kalau Sayaka adalah adik iparnya.
Dan Sayaka sekarang lebih memilih diam, ia berdiri di balik pintu ruangan sebelah tempat Naruto memarahi Katerea. Sayaka yakin, bahwa Naruto memarahi kakaknya pasti ada kebaikannya juga.
Kembali ke ruangan dimana Naruto memarahi Katerea. Tiba-tiba Katerea menatap Naruto tak percaya sambil memegangi pipinya bekas tamparan Naruto.
"Kau menamparku Naru?"
"Ya, aku menamparmu," Naruto menunjuk Katerea.
"Itu kewajibanku untuk bertindak keras apabila istrinya sering berbuat salah. Dan kau sering berbuat salah dan selalu bertindak tanpa seizinku," ucap Naruto memberitau dengan nada datar dan dingin karena Naruto sangat marah terhadap istrinya itu.
"Aku juga seorang perempuan Naru, aku juga ingin bertindak sesukaku tanpa seizinmu, apa itu salah?!" kata Katerea, kini nada yang diucapkannya sedikit keras karena tak mau kalah dengan pendapat suaminya.
"Tetap salah! Kau seorang istri dan wajib hukummu untuk meminta izin segala tindakanmu kepadaku!" bentak Naruto, selarang emosinya sudah berada di ujung tanduk karena sekarang istrinya mulai berani menentangnya.
*Srek!*
Tiba-tiba Katerea berdiri dari duduknya.
"Kau jahat Naru." Ucapnya sambil berlari ke kamar dan ditemani dengan sedikit linangan air mata yang keluar dari mata Katerea.
*Brak!*
Dan Katerea langsung membanting pintu kamarnya, dan kini di ruangan itu hanya Naruto saja yang terus memasang wajah datar karena emosinya belum mereda.
Bahkan Maid yang ingin mengantarkan minuman kopi untuk tuannya itu tak berani untuk melangkah lebih jauh dari pintu dapur, pasalnya Maid itu merinding ngeri melihat wajah marah tuannya saat ini.
"Huh..." tiba-tiba Naruto menghela nafas, kemudian memijit pelipisnya karena merasa pusing. Setelah itu pandangan Naruto menerawang langit ruangan sambil berpikir entah apa.
.
"Menma harus dalam pengawasan mulai sekarang, lebih baik aku perintahkan Merlin untuk mengawasi Menma agar apabila nanti Rizevim sialan mendekati Menma, aku bisa tau,"
.
__ADS_1
.
T.B.C