STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 124


__ADS_3

.


[KAGE BUNSHIN NO JUTSU!]


Aura hitam yang menyelimuti Naruto mulai memudar dan memperlihatkan 2 sosok Naruto serta Shuna yang sudah terlelap di gendongan salah satu Naruto.


"Bawa ke istana," perintah Naruto yang menggendong Shuna yang ternyata Naruto asli kepada Bunshinya.


Dengan cepat Bunshin Naruto langsung menggendong Shuna.


"Baik bos,"


Wush!


Bunshin Naruto langsung melompat sangat cepat menuju istana dengan Shuna di gendongannya.


Dan kini di tempat itu hanya ada Naruto asli yang berada di atap rumah warga serta Decken yang jauh di bawah.


Wush!


Tap!


Naruto mendarat tepat 10 meter di hadapan Decken yang sedang memegang dadanya karena menahan rasa sakit tusukan tadi.


"Dulu aku bisa memaafkanmu yang pernah menculik Shirahoshi, tapi sekarang sudah tak bisa. Kau harus diberi pelajaran atas perbuatanmu itu," ucap Naruto dingin sambil menatap Decken.


"Menculik katamu? JANGAN BERCANDA! Aku yang dulu berjuang mati-matian hanya demi mendapatkan cintanya Shirahoshi, tapi kau seenaknya mengambil apa yang aku inginkan, Sialan kau!" sengit Decken lalu mengambil kapak miliknya yang berada di hadapannya.


Sedangkan Naruto yang mendengar pengakuan Decken sudah mengepalkan tangannya sangat erat sambil terus menatap tajam Decken.


Tiba-tiba Decken mengangkat kapaknya.


"Dengan kematianmu maka Shirahoshi akan menjadi mil—"


"Banyak omong kau!"


BUGH!


Dalam sekejap mata Naruto sudah berada di hadapan Decken dan langsung memukul wajah Decken dengan tangan dipenuhi aliran Chakra.


BOOOOOOMMM!


Decken langsung terpental sangat jauh sampai keluar kawasan rumah warga dan seketika terjadi ledakkan sangat besar setelah Decken membentur sebuah batu besar.


Dan untungnya orang-orang yang menyaksikan pertikaian Naruto dan Decken sudah berhamburan menjauh dari tadi karena panik, jadi dampak ledakkan tak mengenai orang lain.


Wush!


Tap!


Naruto langsung melompat sangat jauh dan mendarat tepat di hadapan Decken yang sudah tergeletak mengenaskan, alias pingsan.


Kemudian Naruto mengangkat Decken dengan mudah.

__ADS_1


"Seharusnya kau ngaca dulu, kau saja di anggap orang gila oleh Shirahoshi. Cih! Keturunan Vander terakhir memang gila," desis kesal Naruto.


SRING!


Dan Naruto menghilang sambil menenteng Decken yang pingsan langsung muncul di depan pintu Istana sehingga membuat 2 prajurit penjaga pintu Istana terkejut atas kemunculan Naruto yang tak terduga.


Bruk!


Tanpa berperasaan, Naruto langsung melempar Decken di depan Prajurit tadi yang terkejut.


"Bawa dia ke unit Eksekusi," ucap Naruto memerintah.


Sontak 2 prajurit penjaga tersebut melebarkan mata terkejut, karena unit Eksekusi adalah tempat hukuman mati untuk para penjahat di kerajaan tersebut.


"Huh," Naruto menghela nafas saat melihat 2 prajurit tersebut yang terkejut.


"Aku yang akan mengeksekusinya," ucapnya.


Dan langsung dijawab anggukkan oleh 2 prajurit penjaga tersebut setelah tersadar dari terkejutnya.


"Hai! Naruto-sama," hormat 2 prajurit tersebut yang nampaknya memang tau siapa sosok Naruto.


Naruto mengangguk dan langsung melangkah masuk Istana, sedangkan 2 prajurit penjaga tadi langsung membawa Decken ke ruang tahanan bawah tanah kerajaan.


Tap! Tap! Tap! Tap! Tap!


Sambil terus melangkah, Naruto tak henti-hentinya untuk bertegur sapa dengan para pelayan kerajaan.


Berbagai ruangan Naruto lewati dan tujuannya hanya satu, yaitu kamar milik Shuna yang tadi Naruto keluar dari jendelanya Yang berada di lantai atas istana.


Hingga tak berselang lama langkah Naruto sudah sampai di lantai atas Istana dan sudah dekat dengan kamar milik Shuna yang ternyata pintunya terbuka.


"Apa kondisinya baik-baik saja?" dan Naruto langsung bertanya setelah memasuki kamar Shuna.


Sontak semua orang yang ada di kamar tersebut langsung menoleh ke arah pintu.


"Shirahoshi dan Shuna hanya Syok saja atas kejadian tadi, tidak terlalu dipikirkan kalau kondisi tubuh, melainkan mentalnya yang kemungkinan akan terpengaruh pada mereka." Balas Fukaboshi.


"Huh," Naruto hanya menghela nafas sambil berjalan mendekati tempat tidur yang berisi 2 wanita berbeda usia yang masih pingsan.


"Biar semuanya aku urus," ucap Naruto yang sudah duduk di samping tempat tidur dan pandangannya tertuju pada 2 wanita yang terbaring tersebut.


Fukaboshi, Ryuboshi, Mamboshi dan sang Raja, atau Raja Neptune mengangguk lalu beranjak keluar dengan Raja Neptune paling belakang melangkahnya.


Tiba-tiba Raja Neptune terhenti langkahnya pas di bibir pintu dan menoleh ke arah Naruto.


"Nanti temui aku, ada masalah penting yang harus kau tau, Naruto," ucapnya.


"Baiklah, nanti aku akan menemuimu setelah kondisi Shirahoshi dan Shuna sudah baik-baik saja," balas Naruto tanpa menoleh ke arah Raja Neptune.


Dan Raja Neptune mengangguk lalu menoleh ke depan dan melangkah meninggalkan kamar milik Shuna setelah pintunya ditutup.


"Tugasku sudah selesai bos, aku pamit dulu," ucap Bunshin Naruto yang dari tadi duduk di jendela yang terbuka.

__ADS_1


Sontak Naruto asli langsung meliriknya kemudian mengangguk.


Pofh!


Seketika Bunshin Naruto berubah menjadi kepulan debu dan menghilang tertiup oleh angin yang masuk dari jendela.


Naruto kembali menoleh ke arah Shirahoshi dan Shuna.


" Shirahoshi dan Shuna benar-benar harus kubawa ke daratan. Disini banyak orang-orang gila seperti Decken yang dapat membahayakan mereka," batin Naruto sambil terus memandang 2 wanita beda usia yang terbaring pingsan di atas tempat tidur tersebut.


.


Sedangkan disisi lain kini nampak anak-anak Naruto sedang berkeliling berbagai tempat di kerajaan tersebut dengan rasa kagum yang terus mereka tunjukkan saat itu.


"Benar-benar beda dengan daratan, semua bangunan disini pun bentuknya seperti terumbu karang," kagum Liya dan Lucy yang tak henti-hentinya tolah-toleh di setiap langkahnya.


Tiba-tiba Gray berjalan mendekati Jinbe.


"Paman, dimana duyung-duyungnya? Aku pengen liat," bisik Gray pelang agar tak terdengar oleh saudara-saudaranya.


"Kebetulan sekali, di dekat sini ada danau, mungkin disana ada ras duyung yang sedang berenang," balas Jinbe.


Sontak mata Gray langsung bercahaya.


"Tunjukkan jalannya paman!" ucap Gray tak sabar.


"Hmm," Jinbe memegang dagunya.


"Kau tinggal lurus lalu belok ka-"


"Terima kasih paman!"


Ucapan Jinbe terhenti saat Gray dengan cepat sudah berlari terlebih dahulu sebelum ucapan Jinbe selesai.


"—nan, tapi sebelum mentok ujung belok kiri," ucap Jinbe meneruskan kalimatnya yang tadi setelah Gray sudah tak terlihat.


Sedangkan saudara-saudara Gray hanya bingung saja saat melihat tingkah semangat Gray yang berlari begitu cepat tadi.


" Ah, biarkan saja. Nanti juga tau kalau di ujung jalan itu Kafe MM, kalau otaknya benar pasti tau kalau itu Kafe isinya wanita-wanita penghibur dan otomatis dia akan kembali lagi," batin Jinbe tenang.


Sedangkan Gray yang berlari sudah sampai di ujung jalan yang ditunjuk Jinbe tapi mentok pas di depan sebuah bangunan sederhana yang sedikit minim cahaya.


Gray sedang memegang dagunya.


"Hmm, tadi paman Jinbe bilang katanya tinggal lurus lalu belok kanan? Ah pasti dibalik pintu bangunan ini adalah danau para Duyung hehe," ucap Gray berpendapat sendiri. Lalu Gray mulai melangkah menuju bangunan tersebut.


"Para Duyung, aku datang, uhu, uhu, uhu," semangat Gray langsung memasuki pintu tersebut tanpa tau di atas pintu terdapat tulisan kecil KMM. (kafe merah muda).


.


.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2