
.
"Mesum!"
Entah kenapa Mavis langsung menampar pipi Naruto dan meneriakinya.
"Hey! Apa-apaan kau. Aku ini mau membantumu ya," ucap Naruto sambil mengelus pipinya yang memerah.
Mavis menunjuk wajah Naruto.
"Mesum! Pasti kau tau di mana letak segel Kutukannya ya?"
"Hey! Mana aku tau. Aku merasakan seseorang memiliki kutukan itu dari auranya ya," sangkal Naruto.
"Jangan bohong!"
"Ya sudah kalau tak mau di tolong, toh aku tak rugi sama sekali," ucap Naruto mencoba acuh.
Mavis terdiam, ia berpikir sejenak untuk mengambil keputusannya yang akan diambilnya. Setelah merasa yakin, tiba-tiba Mavis membuka bajunya dengan perlahan.
Sontak Naruto langsung melebarkan mata.
"Hey! Apa-apaan kau? Kenapa kau membuka bajumu?" kejut Naruto.
"Jangan macam-macam denganku, aku ingin menunjukkan segel kutukannya," ucap Mavis menatap tajam Naruto.
Naruto memalingkan wajahnya.
"Siapa juga yang mau dengan wanita berdada rata, lebih memuaskan milik Sera dan Grayfia serta mantan-mantan istriku ketimbang dirinya," gumam Naruto sambil memanyunkan bibirnya.
"Apa kau bilang ha!"
Bentak Mavis, ia sedikit mendengar gumaman Naruto yang terasa menyakitkan baginya.
"Tidak apa-apa,"
Sangkal Naruto, sambil terus menatap tajam Naruto, Mavis kembali membuka bajunya.
Hingga tak berselang lama bajunya terlepas dan kini dadanya hanya tertutup oleh BH berwarna kuning.
"Sudah, ini tanda kutukannya," ucap Mavis menunjukkan tanda tengkorak hitam di antara buah dada kecilnya.
"Huh," Naruto menghela nafas, tangannya mulai terangkat dan mengarah pada tanda kutukan di dada Mavis.
Plak!
Tiba-tiba Mavis menepis tangan Naruto.
"Singkirkan tangan mesummu itu! Menjijikan!" bentaknya.
"Hey! Siapa yang mau menggerepe dada ratamu ha! Aku itu mau menyegel tanda kutukanmu itu," sangkal Naruto.
"Awas kau, kalau kau macam-macam. Kau harus bertanggung jawab pokoknya,"
"Iya-iya, Loli cerewet,"
Sebenarnya Mavis telah dibuat kesal berkali-kali oleh Naruto. tapi ia tahan, yang terpenting dalam pikirannya ialah kutukan pada tubuhnya menghilang, walau sedikit tak mempercayai Naruto yang menyatakan bisa menghilangkan kutukan, tapi coba dulu tak masalah bukan, siapa tau berhasil, pikir Mavis.
Kini tangan Naruto terangkat kembali, mengarah ke tanda kutukan di dada Mavis. Tak ada pandangan nafsu yang di tunjukkan oleh Naruto sejauh Mavis perhatikan saat ini.
Tiba-tiba aura biru keluar dari telapak tangan Naruto yang menyentuh tanda kutukan, seketika pula sebuah kanji rumit muncul di permukaan tanah dan berporos pada telapak tangan Naruto.
Mavis terus terdiam, ia terus memperhatikan apa yang dilakukan Naruto padanya, walaupun dalam hatinya ingin bertanya, tapi ia tahan sebelum apa yang dilakukan Naruto kepadanya selesai.
__ADS_1
.
[SORA O FUIN SURU!]
.
Kanji rumit di permukaan tanah bergerak menuju telapak tangan Naruto, hingga tak berselang lama semua kanji berkumpul pada porosnya di telapak tangan Naruto.
Naruto menyudahi acara menyentuh dadanya Mavis, kini nampak kutukan Mavis di hiasi dengan kanji rumit ciptaan Naruto yang melingkari tanda kutukan Mavis tanpa putus.
"Itu segel pengacau fungsi kutukan, dengan kata lain kutukanmu tak berfungsi sama sekali, tapi tetap masih ada. Dan segel buatanku akan menghilang jika aku yang menghendakinya, atau paling tidak jika ada yang bisa membunuhku, alias aku mati," kata Naruto menjelaskan tentang segel miliknya.
Mavis memakai kembali bajunya.
"Jika ada yang membunuhmu? Memangnya kau itu abadi sepertiku ya?" tebak Mavis.
"Cuma hampir, aku masih bisa mati jika ada yang bisa membunuhku," balas Naruto.
Mavis mengangguk mengerti.
"Ngomong-ngomong bagaimana cara membuktikan segel buatanmu berfungsi padaku? Di hutan ini tak ada seorang pun ya," tanya Mavis.
"Hmmm..." Naruto memegang dagunya berpikir.
"Berapa lama fungsi kutukanmu bereaksi?" tanyanya.
"Satu minggu, kutukanku akan bereaksi 1 minggu jika ada seseorang yang berada di dekatku,"
Naruto mengangguk mengerti. Srek! Tiba-tiba Naruto beranjak dari duduknya dan membersihkan debu yang menempel di celana bagian area pantatnya dengan cara diusap.
"Kebetulan sekali, aku masih ada waktu 10 hari di hutan ini untuk menunggu kemunculan bulan purnama," ucap Naruto.
Mavis memiringkan kepalanya.
"Menunggu bulan purnama? Untuk apa?"
"Istriku sedang hamil, dia memintaku untuk mencarikan tanduk Unicorn. dan aku tak bisa pulang sebelum mendapatkan tanduk itu." Ucap Naruto.
"Pfffft!" Mavis ingin ketawa, ia tahu bahwa kalimat yang diucapkan Naruto terselip nada ketakutan yang amat besar.
"Sepertinya kau takut dengan istrimu ya?" ejek Mavis.
Naruto menatap tajam Mavis.
"Hey! Lebih baik melawan bangsa Naga ya, dari pada menghadapi wanita hamil yang moodnya kurang baik,"
"APA! NAGA KATAMU!?"
Naruto mengangguk, dan Mavis kembali tenang.
"Jadi begitu, kau juga mengetahui tentang mahkluk supranatural di dunia ini ya?"
"Ya seperti itu lah," singkat Naruto.
Srek!
Tiba-tiba Mavis berdiri dari duduknya.
"Aku ingin bertanya banyak hal tentang mahkluk supranatural kepadamu, mungkin kau bisa tinggal di rumahku yang tak jauh dari sini," ajak Mavis.
"Boleh juga, sekalian untuk membuktikan segel buatanku berfungsi padamu atau tidak," balas Naruto menyetujui.
Mavis mengangguk, kemudian mereka berdua melangkah ke dalam hutan, dengan Naruto yang mengikuti Mavis dari belakangnya.
__ADS_1
Saat perjalanan menuju rumah Mavis, mereka saling berkenalan, sehingga mereka saling tau nama mereka masing-masing, karena tadi tak sempat saling berkenalan.
Hingga tak lama kemudian langkah mereka sampai di rumah kecil sederhana di tengah hutan, dengan pagar-pagar yang terbuat dari kayu serta atap dari dedaunan jerami saja.
Rumah yang terbilang luar biasa untuk ukuran buatan tangan Mavis, yang nyatanya seorang perempuan.
.
10 Hari kemudian
.
Hari berganti, tak terasa sudah 10 hari berlalu Naruto dan Mavis tinggal bersama di dalam hutan itu.
Banyak hal terjadi menurut Mavis, segel buatan Naruto berfungsi nyata. Itu terbukti telah 1 minggu lebih tak ada kematian di dekat Mavis, dan orang yang di maksud adalah Naruto yang masih hidup sampai sekarang.
Bahkan Mavis yang awalnya selalu cuek terhadap Naruto pun berubah belakangan ini, ia terlihat lebih ceria ketimbang hari-hari sebelumnya semenjak kehadiran Naruto.
Mavis juga sempat diajari cara memasak yang benar oleh Naruto, dan sebagai gantinya ia juga membantu Naruto menangkap kuda Unicord kemarin di dekat danau yang terletak di tengah hutan tersebut.
Sungguh hari-hari yang menyenangkan bagi Mavis selama masa hidupnya saat bersama Naruto. Itu yang di rasa Mavis semenjak ada Naruto, atau lebih tepatnya 7 hari yang lalu saat Mavis mengagetkan Naruto yang sedang memancing di tepian danau, dan alhasil Naruto tercebur ke danau.
Sungguh itu hal paling menyenangkan bagi Mavis di saat ada orang yang bisa di ajak bercanda bersamanya.
Tapi Mavis tak bisa berharap lebih kepada Naruto, ia tahu, bahwa Naruto sudah beristri dan kembali ke orang yang di cintainya.
Walau perasaannya tak ingin di tinggal oleh Naruto, tapi mau bagaimana lagi, saat berpisah, maka berpisahlah, dan Mavis tak bisa mencegahnya.
Tapi Mavis bersyukur, karena Naruto berjanji akan mengantarkannya ke tempatnya dulu Mavis berada sebelum mereka akan berpisah, yaitu Markas Organisasi Fairy Tail di Italia.
Seperti saat ini, kini Naruto dan Mavis telah berada di luar hutan, atau lebih tepatnya pinggiran kota Roma, Italia.
Mereka terus melangkah, menyusuri gang-gang setiap sudut kota hanya demi sebuah tempat yang mereka tuju, dengan Mavis yang berada di depan dan Naruto mengikutinya di belakang.
"Apa tempatnya masih jauh, Mavis?"
"Tidak kok, sebentar lagi juga sampai,"
"Huh," Naruto menghela nafas, sebenarnya itu pertanyaan yang ke-10. Ia mengeluh, karena dari tadi berjalan menyusuri kota terasa tak sampai-sampai di tempat tujuannya.
Bruk!
Naruto menabrak Mavis yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Kalau mau berhenti, bilang dong," kesal Naruto.
"Sebegitukah kesalmu terhadapku, Naru? Sampai-sampai aku di depanmu tak terlihat di matamu," tiba-tiba Mavis menunduk.
"Aku tau aku seperti anak kecil. Dadaku juga tak besar. Tapi jika kau memandangku seperti itu, bagiku itu sangat menyakitkan asal kau tau Naru, hiks, hiks," ucap Mavis pura-pura sedih.
Naruto Sweatdrop.
"Ini bocah pintar juga ya sandiwaranya," Batinnya.
.
"Lihat itu, pria itu membuat anak kecil itu menangis,"
"Dasar pedofil menjijikan,"
"Jauhkan anak-anak kita dari pria itu,"
.
__ADS_1
.
T.B.C