
.
"Hey Nak, selama ini kamu tinggal di mana?" tangan kanan Naruto memegang pundak kiri Ingvild.
"A-aku tinggal sendirian di pinggiran hutan timur," balas Ingvild.
Sungguh, Naruto terharu mendengarnya. Seorang anak perempuan dan masih berumur 10 tahun tinggal sendirian, Naruto tak bisa membayangkan bagaimana perjuangan anak ini bertahan hidup, apalagi yang Naruto tau, bahwa di hutan-hutan Underword itu banyak monster-monster yang kapan saja bisa membahayakan siapa pun, sangat ironi sekali.
"Huh..." helaan nafas pun tercipta dari mulut Naruto, ia kembali berdiri.
"Ada apa tadi, Naru?" tiba-tiba dari belakang nampak Katerea menghampiri keberadaan Naruto dengan menggendong Olive.
Naruto menoleh sebentar.
"Lihatlah kelakuan Tou-sanmu, Katerea." Naruto menunjukkan kertas yang tadi ia baca.
Katerea menerimanya, kemudian membacanya. Hingga tak lama kemudian mata Katerea melebar terkejut setelah membaca isi kertas tersebut.
"Ja-jadi..."
"Yap, kau benar," Naruto menunjuk Ingvild.
,"Dia saudaramu dan Sayaka," sambungnya.
"Ya ampun, aku tak menyangka jika Tou-san seperti itu," Katerea terharu menatap Ingvild.
"Jadi," Naruto menoleh ke arah Katerea.
"Bagaimana menurutmu, apakah kau bersedia jika dia tinggal di sini?"
"Hmm... Jika aku si tidak keberatan, Naru. Itung-itung dia bisa menjadi teman bermain Olive jika aku sedang kerepotan. Cuma masalahnya, Tou-san itu loh,"
"Terus bagaimana?"
Bohlam lampu menyala terang di atas kepala Katerea, sepertinya ia menemukan sebuah pendapat dan seketika langsung menoleh ke arah Naruto.
"Bagaimana jika dia tinggal bersama bawahanmu itu, Naru. Bagaimana?"
"Hmm..." Naruto memegang dagunya.
"Baiklah," lalu mengangguk setuju.
Dan kemudian Naruto membungkuk, telapak tangannya memegang kedua bahu Ingvild.
"Ingvild-Chan, maukah kamu tinggal bersama teman Nii-san?"
"Ta-tapi—" ucapan Ingvild langsung di sela oleh Naruto.
"Nii-san takut jika nanti kau akan dimarahi terus sama Tou-sanmu jika kamu tinggal di sini,"
Ingvild terdiam, ia sedikit memikirkan perkataan Naruto. Memang kalau Ingvild pikir, perkataan Naruto ada benarnya menurutnya setelah tadi ia membuktikan diri jika orang yang dinyatakan sebagai ayahnya nampak tak mengakuinya, bahkan terlihat membencinya.
Kemudian Ingvild mengangguk pelan, tanda ia menyetujui ucapan Naruto setelah beberapa saat ia menimbang-nimbang. Bagi Ingvild yang terpenting adalah tempat di mana dia bisa menjalani hidup semestinya.
Dan juga, nampaknya orang yang dinyatakan kakak iparnya dan kakaknya itu sepertinya mengakui keberadaannya setelah Ingvild amati tatapannya. Jadi Ingvild merasa tak masalah menyetujui pendapat kakak iparnya itu.
Anggukan Ingvild membuat Naruto senang, ia kembali menegakkan badannya dan menoleh ke arah Katerea.
"Aku berangkat sekarang," setelah ucapan pamitnya itu, Naruto mencium singkat kening Katerea. Perlakuan singkat yang kadang kala membuat Katerea senang bukan kepalang.
"Hwauwauwaa..."
Naruto tersenyum mendengar celotehan Olive sambil mengera-gerakan tangannya seperti ingin ikut bersama ayahnya. Tapi Naruto malah mencubit pelan hidung mungil Olive.
"Kamu di rumah saja, nanti Tou-san minta bibi Merlin untuk membuatkan kue manis untukmu,"
Dan nampaknya Olive kecil mengerti maksud ucapan Naruto. Si Olive kecil terlihat senang dan langsung memeluk leher Katerea.
Setelah itu, Naruto menoleh ke arah Ingvild, mengulurkan tangannya.
"Ayo," ajaknya. Dan Ingvild menerima uluran tangannya.
__ADS_1
"Jangan pulang terlalu malam ya Naru," kata Katerea dan dijawab anggukan kepala oleh Naruto.
.
*Sring!*
.
Dalam sekejap mata Naruto dan Ingvild menghilang. Setelah itu Katerea melangkah masuk ke dalam dengan mengendong Olive kecil menuju ruangan tertentu di dalam Mansion.
.
# Hutan berkabut
.
*Sring!*
.
Naruto dan Ingvild muncul di depan gua, tempat di mana teman-temannya berada sekaligus markas mereka yang banyak iblis Old Satan anggap bawahan Naruto.
Naruto hendak melangkah masuk, tapi ia terpaksa harus berhenti dan menoleh ke arah Ingvild. Naruto merasakan bahwa Ingvild begitu takut untuk ikut masuk, akan tetapi Naruto menggenggam tangan Ingvild sehingga Ingvild menoleh kepadanya dan Naruto tersenyum, senyuman yang mengisyaratkan bahwa Jangan takut, ada Nii-san di sampingmu.
Dan Akhirnya Ingvild pun mengangguk mengerti, kemudian mereka melangkah memasuki gua.
Sesampai di dalam gua, yang Ingvild lihat adalah banyaknya lorong-lorong gua. walau bingung, ia tetap memilih mengikuti ke mana Naruto membawanya.
Dan tujuan Naruto sampai, ternyata yang Naruto tuju adalah ruangan khusus tempat Merlin meneliti.
"Ah Shisho-kun, tumben datang," Merlin yang sedang meneliti sesuatu menyadari kehadiran Naruto, dan mata Merlin melirik ke arah Ingvild.
"Kau membawa siapa, Shisho-kun?"
*Bruk!*
Naruto duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu, Ingvild juga duduk di samping Naruto.
"Saudara?" bingung Merlin.
"Setauku Cuma Sayaka," ucapnya, dan Merlin seketika menghentikan kegiatan menelitinya dan lebih memilih berbalik badan menghadap Naruto sambil duduk bersender di tepian meja.
"Ya begitulah," Naruto memberikan sebuah kode tertentu dengan lambaian kedua jarinya, dan Merlin tau maksudnya itu sehingga ia hanya ber-O-ria saja.
"Jadi, Shisho-kun ada keperluan apa kesini? Tumben-tumbenan."
"Aku ingin menitipkan Ingvild di sini, dan juga tolong latih Ingvild mengontrol sihir."
Merlin mengangguk mengerti, ia kemudian beralih menoleh ke arah Ingvild.
"Kamu tenang saja, Ingvild-chan. Kamu akan aman di sini," ucap Merlin sambil tersenyum.
"Um." Ingvild pun mengangguk.
Tiba-tiba Naruto melihat Growther yang sedang membaca buku melintas di depan pintu ruangan Merlin yang kebetulan tidak sempat Naruto tutup kembali tadi.
"Growther! Kesini!" Naruto memanggil.
Seketika Growther menghentikan langkahnya, ia langsung menoleh ke dalam ruangan.
"Shisho?" kejut Growther yang berdiri sebentar di ambang pintu, lalu masuk ke dalam.
"Ada apa Shisho?"
"Tolong ajak Ingvild-chan untuk mengenal yang lainnya," kata Naruto sambil memegang bahu kanan Ingvild.
Growther pun menoleh ke arah Ingvild.
"Siapa?" sedikit bingung Growther rasa saat melihat Ingvild yang begitu asing di matanya.
"Nanti Merlin akan memberitau, intinya dia akan tinggal di sini,"
__ADS_1
"Oooo... Anggota baru kah," Growther sedikit paham sehingga ia hanya menganggukkan kepalanya.
Lalu Naruto menoleh ke arah Ingvild.
"Ingvild-chan, ikutlah bersama paman Growther, nanti dia akan mengajakmu berkeliling agar Ingvild-chan bisa kenal dengan teman-teman Nii-san," ucapnya.
Akan tetapi Ingvild malah terdiam, dan Naruto tau itu, Ingvild hanya merasa takut bila di ajak orang asing baginya. Sehingga Naruto kembali berkata.
"Ingvild-chan tenang saja, teman-teman Nii-san itu baik-baik semua, tidak ada yang jahat." Ucap Naruto sekedar untuk meyakinkan Ingvild.
Dan akhirnya Naruto senang ketika melihat respon anggukan pelan Ingvild yang kemudian Ingvild beranjak dari duduknya. Lalu Ingvild melangkah mengikuti Growther yang keluar ruangan.
Kini hening setelah beberapa saat Growther dan Ingvild keluar ruangan, kini hanya Naruto dan Merlin yang terlihat di ruangan tersebut.
"Merlin,"
Suara Naruto memecahkan keheningan itu, dan Merlin hanya berdehem saja.
"Bisa kuminta kau buatkan sesuatu untukku,"
Seketika Merlin menoleh ke arah Naruto dengan menaikkan sebelah alisnya tanda sebuah pertanyaan
'Apa?'
"Buatkan aku ramuan kimia Medroxyprogesterone acetate, Cyproterone acetate dan LHRH agonist,"
Merlin heran mendengarnya, Merlin tau ramuan kimia yang Naruto minta adalah ramuan kimia yang dapat menghilangkan fungsi Testis dan Libido pria.
Tapi untuk apa Naruto memintanya? Merlin cukup dibuat penasaran, dan Merlin cukup tau, Naruto pasti merencanakan sesuatu yang aneh.
"Kau ingin merencanakan apa, Shisho-kun? Ingin mengebiri diri sendiri kah karena Katerea tak kuat menahan pompaanmu, fu~fu~fu~" ucap Merlin dengan senyuman menggodanya yang menurut Naruto itu adalah senyuman yang paling menjengkelkan baginya.
Itu sudah menjadi kebiasaan Merlin yang suka menggodanya, dan ucapannya itu blak-blakan jika menyangkut keintiman menurut Naruto.
Tapi sekarang bukan saatnya Naruto untuk jengkel atas godaannya Merlin, karena itu sudah menjadi kebiasaannya.
"Huh..." Naruto menghela nafas, ia lalu menatap langit-langit ruangan. Dan Merlin masih dengan cekikikan menggodanya.
"Aku akan memberi pelajaran terhadap mertuaku,"
Seketika Merlin langsung terdiam, matanya membola seakan tak percaya mendengar kata yang terlontar dari mulut Naruto.
"Serius? Kau ingin membuat itunya Lord Leviathan tak tegang lagi... Wah kau parah Shisho-kun,"
"Bodo amat, dia pria brengsek memang pantas diberi pelajaran,"
"Baik-baiklah, akan kubuatkan," Merlin paham maksud kata Pria Brengsek yang Naruto ucapkan, nyatanya ia juga membencinya.
Naruto menyudahi acara memandang langit ruangan, dan menghela nafas sebentar.
"Kira-kira bisa secepatnya kau buatkan."
"Beri waktu aku satu minggu,"
*Srek!*
Naruto beranjak dari duduknya.
"Baiklah, aku tunggu," ucapnya sambil melangkah keluar ruangan.
Sedangkan Merlin hanya geleng-geleng kepala melihat Naruto yang seperti itu, kemudian Merlin kembali berkutat dengan penelitiannya.
.
"Huh... Ada-ada saja Shisho-kun itu,"
.
.
T.B.C
__ADS_1