
.
#Skip malam
.
Makan malam bersama ala Uzumaki Family sudah, begitu juga Yasaka telah kembali ke Kyoto barusan, tapi Yasaka tak bersama Kunou dan Kuroka, melainkan hanya pergi sendiri untuk mengurusi hal-hal penting menurut Yasaka.
Krieeeeeet!
Naruto keluar dari kamarnya, dirinya telah memakai jaket hitam berhoodie serta celana jeans hitam panjang, ditambah sepatu model Hip-Hop melekat di kakinya.
Kini Naruto berdiri di ambang pintu ruang keluarga yang terdapat para wanita dewasa berada. Sedangkan anak-anaknya sudah berada di kamar mereka masing-masing di lantai 2.
"Mau pergi lagi , Naru?"
Tanya Serafall yang mengetahui ada Naruto di ambang pintu, sontak semua wanita yang berada di ruangan tersebut menoleh ke arah pintu.
Naruto mengangguk pelan.
"Kemungkinan akan pulang besok," ucapnya.
"Ingat Naru. Besok siang kau menghadiri acara Rating Game, antara tim Rias melawan tim Diodora." Timpal Serafall.
"Ya, ya. Kupastikan besok pagi sudah ada di rumah," balas Naruto.
"Tolong jaga rumah malam ini ya?" sambungnya.
Semua wanita di ruangan itu mengangguk, setelah itu Naruto membenarkan sedikit jaketnya, tiba-tiba.
.
SRING!
.
Naruto menghilang entah ke mana tujuannya, dan para wanita di ruangan tersebut kembali mengobrol santai ala mereka.
"Ternyata Naru-kun di daratan banyak kesibukan ya?" gumam Shirahoshi setelah hilangnya Naruto.
"Nanti kau juga akan terbiasa, Shirahoshi-san," ucap Serafall, sedangkan Shirahoshi hanya mendengus pasrah.
"Memangnya Naru-kun seperti itu ya?" tanya Robin yang posisinya sedang menggendong Luffy.
"Um." Serafall mengangguk.
"Dia memang sering seperti itu," balas Serafall.
"Apa tak masalah jika Naru-kun seperti itu? Dia sering keluar ke sana ke mari, sedangkan kita harus berdiam diri di rumah," tanya Arturia.
Sontak semua wanita di situ terdiam, langsung memasang telinga lebar-lebar untuk mendengar jawaban dari mulut Serafall.
Karena entah kenapa, Katerea, Serafall dan Grayfia malah tersenyum setelah mendapat pertanyaan dari Arturia.
"Kalian tak perlu cemas akan tindakkan Naru-kun yang di ambilnya, semua tindakkan Naru-kun juga demi kita semua, untuk melindungi keluarga ini seutuhnya. Yang perlu kita pikirkan itu diri kita sendiri, apa tindakkan kita atas perjuangan Naru-kun selama ini? Kalau diriku pribadi, aku sudah menyerahkan sisa hidupku untuk mengabdi kepada Naru-kun, layaknya istri yang bisa di banggakan oleh suaminya. Jadi segala perintah Naru-kun akan kulaksanakan sebagai pengabdianku yang termasuk istrinya,"
Jelas Serafall panjang lebar memberitau pendapatnya.
Semua wanita mengangguk mengerti, bahkan Remia yang nyatanya anggota keluarga sejak tadi siang juga memahami maksud ucapan Serafall.
"Aku juga seperti Sera- Chan,"
"Aku Juga,"
Timpal Grayfia dan Katerea mengangguk yakin.
"Untung aku sudah menjadi istrinya," ucap Shirahoshi senang.
.
"Senangnya bisa mengenal kepribadian Naru-kun lebih jauh,"
.
__ADS_1
Batin Arturia, Asuna, Mereoleona, Freya, Hancock, Remia, Robin, Kalawarner dan Izanami bersamaan, membayangkan suatu hal indah bersama Naruto.
.
#Skip Paris (Sore menjelang malam)
.
Kini Naruto berada di Paris, kota yang pernah ia kunjungi bersama anak-anaknya saat berlibur dulu.
Ia terus melangkah, menyusuri lorong-lorong gang di sudut kota tersebut. Hingga tak berselang lama dirinya telah keluar dari gang-gang yang dilewatinya.
Terus melangkah, menerobos banyaknya kerumunan orang-orang yang berlalu-lalang waktu sore menjelang malam di kota tersebut.
Hingga tak berselang lama langkahnya terhenti tepat di depan rumah 2 lantai dengan cat warna putih yang mendominasi seluruh warna rumah tersebut.
Dengan perlahan Naruto melangkah mendekati pintu rumah tersebut dan berhenti tepat di depan pintu tersebut.
Tok! Tok! Tok!
Tak ada jawaban dari dalam rumah setelah beberapa menit Naruto mengetuk pintu tersebut.
Tok! Tok! Tok!
Naruto kembali mengetuk pintu tersebut, lagi-lagi tak ada jawaban dari dalam rumah tersebut.
Naruto memegang dagunya.
"Apakah Chisato sudah pindah ya?" batinya berpikir
"Anoo,"
Naruto tersentak, ia menoleh ke belakang, menoleh ke arah pemilik sumber suara wanita di belakangnya.
"Apakah kau mencari Chisato-san? Ah maaf aku tetangga Chisato,"
Naruto mengangguk.
"Kira-kira Chisato-san di mana ya? Soalnya dari tadi aku ketuk pintunya tak ada jawaban dari dalam rumah."
Tanda tanya muncul di atas kepala Naruto, pikirannya berputar-putar karena ucapan wanita tersebut terasa janggal baginya.
"Kusarankan, lebih baik jangan dekati Chitaso-san,"
"Memangnya kenapa ya?"
"Dia itu wanita tidak benar, dia memiliki anak tanpa suami,"
"Kira-kira anaknya berapa tahun ya?" tanya Naruto penasaran.
"Anaknya perempuan, kira-kira berumur 5 tahunan,"
Naruto terdiam, akhirnya kejanggalan ucapan wanita di hadapannya di temukan, yaitu kata 'anak' yang sudah berumur 5 tahun, itu persis kasusnya dirinya saat tak sadar memperkosa Chisato 6 tahun yang lalu.
"Terima kasih."
Naruto langsung melangkah cepat meninggalkan wanita tersebut yang terheran-heran.
"Aneh?" bingung wanita tersebut saat melihat reaksi Naruto setelah ucapan terakhirnya.
Kini Naruto melangkah cepat seperti sedang terburu-buru, ia berbelok ke gang sepi dari keramaian orang-orang.
.
SRING!
.
Naruto langsung menghilang dalam sekejap mata tanpa di ketahui oleh siapa-pun di situ.
.
#Skip Roma (Italia)
__ADS_1
.
Naruto langsung berada di gang sempit di sudut kota Roma. Dengan cepat ia keluar dari gang tersebut menuju arah selatan.
"Kuharap si kakek tua dan Mavis mengetahui orang yang kucari di sini,"
Batinnya, hingga tak berselang lama langkah Naruto sampai di sebuah Kedai yang bertulisan Fairy Tail di atas pintu masuknya.
Kriing!
Naruto langsung masuk ke Kedai tersebut.
"Wow, Ada apa ya? Seorang Uzumaki Naruto berada di Roma?" tanya Makarov saat melihat Naruto menghampirinya.
"Aku sedang mencari seseorang di daerah sini, apa kau mengetahuinya kek?" ucap Naruto balik bertanya setelah dekat dengan Makarov.
"Apa ada petunjuknya?"
"Seorang wanita, pekerjaannya guru, rambutnya hitam panjang dan selalu memakai kacamata, serta seorang anak perempuan kira-kira berusia 5 tahunan," jelas Naruto memberitau ciri-ciri orang yang di carinya.
Makarov memegang dagunya. "Hmm, sepertinya tadi siang ada pelanggan yang sama persis dengan ciri-ciri yang kau sebutkan tadi," ucap Makarov sambil mengingat-ingat.
"Cepat katakan! Ke mana perginya kek!"
"Sabar dulu, tadi orang itu juga sempat mengobrol dengan Mavis. Kau bisa tanya langsung dengannya."
"Huh..." Naruto menghela nafas pelan.
"Mavis sekarang di mana?" tanyanya.
"Dia ada di belakang, sebentar lagi ju-"
"Na-Naruto."
Naruto dan Makarov langsung menoleh ke sumber suara yang memotong ucapan Makarov.
q"Tu kan, kubilang juga apa,"
Ucap Makarov saat melihat di bibir pintu dapur kedai ada sosok Mavis sedang melebarkan mata terkejut sambil menutup mulutnya, nampaknya Mavis seperti tak percaya dengan apa yang di lihatnya sekarang.
"Ah Mavis. aku ingin bertanya sesuatu kepadamu,"
Mavis tersentak, ucapan Naruto membuatnya tersadar dari terkejutnya. Dengan perlahan Mavis melangkah mendekati Naruto.
Mavis memperhatikan setiap inci wajah Naruto. "Ini benar kamu kan, Naruto?" tanyanya masih belum percaya dengan apa yang di lihatnya.
Ctak!
"Auu..."
Naruto menyentil dahi Mavis.
"Ini aku lah,"
"Hehehe, ternyata benar-benar dirimu," ucap Mavis sudah percaya sambil mengelus dahinya yang dijitak oleh Naruto.
"Kalian mengobrol di sana saja," ucap Makarov sambil menunjuk tempat kosong untuk pelanggan di pojokkan.
Naruto dan Mavis mengangguk, mereka berdua lalu melangkah ke tempat yang di tunjuk oleh Makarov. Setelah sampai mereka langsung duduk dan posisinya berhadapan.
Entak kenapa Makarov tersenyum, lalu berbalik badan.
.
"The Pacifier is Fragile."
.
Gumam Makarov sambil melangkah menuju dapur Kedai.
.
.
__ADS_1
T.B.C