
.
Sayup-sayup di pagi hari, mata Kurenai berdenyut dan mulai membuka matanya. Walaupun terasa susah karena kondisi perutnya, Kurenai mulai terbangun dari tidurnya dan duduk.
Disaat tangannya menopang di samping tidurnya, Kurenai merasakan sesuatu yang berbeda, seketika dia langsung menoleh ke samping tidurnya.
Kurenai cukup terkejut karena tak disangka bahwa yang dia sentuh itu adalah suaminya yang masih tertidur. Tangannya perlahan bergerak menyentuh bekas luka di dahi suaminya.
"Ya ampun, pasti misinya sangat berbahaya," gumam Kurenai.
Cukup lama Kurenai mengusap bekas luka di dahi Naruto, dia tiba-tiba tersadar.
"Ah aku harus membuat sarapan untuknya, Naru-kun pasti kelelahan," gumamnya lalu beranjak dari ranjangnya dan keluar kamar menuju dapur dengan susah payah dan hati-hati, kondisi perutnya membuatnya harus serba hati-hati ketika mau melakukan apa pun.
.
.
#Skip Rumah Mikoto, Siang
#Ruang Tamu
.
Siang ini setelah Naruto menjelaskan hasil misi kepada istrinya dan meminta izinnya tadi pagi, kini Naruto sedang duduk Seiza di ruang tamu dan berhadapan dengan Mikoto. Sedangkan Mikoto dari tadi dibuat bingung atas reaksi Naruto yang diam menunduk sejak 10 menit yang lalu.
"Ehem," Mikoto berdehem, membuyarkan lamunan Naruto.
"Jadi Naru-kun, kau datang kesini ingin menyampaikan apa?" tanya Mikoto.
*Deg!*
Naruto tersentak, dia kemudian menggigit bibir bawahnya karena apa yang ingin Naruto ucapkan itu sangat berat dirasa. Walau begitu, Naruto sudah tak bisa lagi mundur dan mengurungkan niatnya, dia mencoba untuk kuat mentalnya.
"Maaf bibi," ucap Naruto lirih.
"Maaf? Untuk apa Naru-kun?" bingung Mikoto.
Naruto semakin kuat menggigit bibir bawahnya, kotak kecil yang berada di pangkuannya dia genggam sangat erat.
Kotak kecil itu memang kecil hanya 6cm persegi, tapi tangan Naruto bergetar saat mengangkat kotak itu, seperti mengangkat bebang berpuluh-puluh Ton rasanya.
Hingga beberapa saat kemudian akhirnya kotak itu bisa terangkat dan ditaruh di atas meja, kemudian Naruto mendorong kotak tersebut ke hadapan Mikoto.
"Maaf bibi, hanya ini yang bisa kusampaikan," ucapnya tanpa menoleh ke arah Mikoto karena dirinya masih menunduk.
Bingung memang apa maksud dari Naruto, tapi Mikoto cukup penasaran dengan kotak tersebut sehingga Mikoto meraih kotak pemberian dari Naruto.
Dia buka perlahan kotak tersebut dan seketika itu pula raut wajah Mikoto berubah, matanya melebar dan mulutnya dibekap dengan tangan kananya.
Mikoto sangat terkejut saat melihat isi kotak tersebut yang ternyata berisi tabung kecil yang dipenuhi cairan hijau muda.
Tapi bukan itu yang membuat Mikoto memasang wajah terkejut, melainkan apa yang ada di dalam tabung tersebut yang ternyata ada sepasang mata Sharingan.
"A-apa maksudnya ini, Naru-kun?" Mikoto tak ingin berburuk sangka atas apa yang dilihatnya, akan tetapi perasaannya mengatakan bahwa mata itu berkaitan dengan suaminya.
"Semua ada di dalam mata itu," ucap Naruto dan tetap stay menundukkan kepalanya karena dia takut melihat ekspresi orang di hadapannya.
Mikoto hanya bisa diam, dia merubah menjadi mata Sharingan dengan tiga tomoe, kemudian menatap sepasang bola mata yang berada di tabung tersebut. Dia ingin memastikan dan berharap bahwa apa yang dia pikirkan itu salah.
.
"Hiks... hiks... hiks..."
Seperkian detik tiba-tiba suara isak tangis Mikoto terdengar di telinga Naruto sehingga membuat Naruto semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Mata Sharingan tiga tomoe telah berubah menjadi Mangekyo Sharingan bermotif bunga mawar yang terus mengalirkan air mata dengan deras tanpa hambatan melintasi pipi putihnya dan jatuh ke lantai.
Apa yang dilihat oleh Mikoto tadi adalah pesan terakhir suaminya yang mengatakan
__ADS_1
'Aku tak bisa menemanimu lebih lama, tolong lindungi dan sayangi anak-anak kita,' ucapan yang sangat jelas terdengar tadi di telinga Mikoto, dan sekarang bagi Mikoto sudah tak bisa menyangkal prasangka buruknya, semua telah terjadi dan dia tidak bisa merubahnya.
"Maaf bibi, semua karena aku," Naruto kembali berucap lirih dan masih menundukkan kepalanya.
*Srek!*
Mikoto tiba-tiba beranjak dari duduknya dan melangkah pergi ke kamarnya sambil terisak tanpa menjawab ucapan Naruto.
Sedangkan Naruto sendiri mengeratkan genggaman tangannya, dia berpikir bahwa Mikoto membencinya dan Naruto hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri dalam batinya atas insiden kematian suami Mikoto.
"Aaaaaarghh!"
Lamunan Naruto pun buyar ketika mendengar teriakan Mikoto dari dalam kamarnya, seketika Naruto langsung beranjak dari duduknya dan melangkah dengan cepat ke kamar Mikoto.
Naruto hanya bisa melebarkan mata terkejut setelah sampai di kamar Mikoto, disitu Naruto melihat Mikoto tersimpuh dan merintih kesakitan sambil memegangi perutnya, serta bercak darah yang mengalir di kaki Mikoto membuat Naruto bertindak cepat dan menggendongnya.
"Apa yang terjadi Okaa-san?" kejut Itachi di ambang pintu saat melihat ibunya digendong oleh Naruto.
Naruto langsung menoleh ke arah Itachi.
"Itachi! Kau bereskan rumah, Nii-san akan membawa Kaa-sanmu ke rumah sakit, nanti kau menyusul," ucapnya.
"Hai, Naruto Nii-san," angguk cepat Itachi dan kemudian bergegas pergi.
*Sring!*
Dan Naruto langsung menghilang bersama Mikoto di gendongannya menuju rumah sakit Konoho.
.
.
#Skip Rumah Sakit Konoha
#Ruang Persalinan
.
*Krieeeeet!*
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka memperlihatkan seorang dokter perempuan, seketika itu pula Naruto langsung berdiri dan menghadap sang dokter.
"Bagaimana dok? Apa bibi baik-baik saja?" cemas Naruto.
"Huh..." sang dokter menghela nafas, dia cukup tau siapa orang yang berada di hadapannya, siapa lagi kalah bukan Namikaze Naruto putra tertua Yondaime, semua orang pasti sudah tau.
"Mereka semua baik-baik saja Naruto-sama," ucap sang dokter.
"Huh... syukurlah," nafas lega pun akhirnya keluar dari mulut Naruto.
"Boleh aku masuk dok?"
"Boleh," angguk sang dokter.
"Terima kasih," ucap Naruto kemudian membuka pintu ruangan dan sang dokter melangkah ke ruangannya.
"Oh ya dok," panggil Naruto tepat di ambang pintu.
Sang dokter menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Naruto.
"Ada apa Naruto-sama?" tanyanya.
"Untuk semua biaya administrasi bibi Mikoto semuanya aku yang tanggung," kata Naruto.
"Um," angguk sang dokter.
Setelah itu Naruto kembali ke niat awalnya untuk masuk ke ruangan dan sang dokter kembali melangkah menuju ruangannya.
Di dalam ruangan Naruto tak bisa melangkah lebih dekat lagi ke arah ranjang Mikoto yang terbaring bersama sosok bayi di sampingnya, kakinya terlalu berat untuk melangkah.
__ADS_1
"Maafkan aku bibi, semua salahku. Seandainya aku lebih kuat, paman Fugaku pasti ti-"
"Sudahlah Naru-kun, semua sudah menjadi takdirnya dari Kami-sama, kita tak bisa mencegahnya," ucap Mikoto memotong ucapan Naruto dan tanpa menoleh ke arah Naruto karena dia sedang mengusap lembut pipi bayi yang tertidur di sampingnya.
"Bibi tak menyalahkanmu," sambungnya.
Naruto hanya bisa terdiam mendengar ucapan Mikoto. Walau Mikoto mengatakan tak menyalahkannya, itu tak membuat Naruto merasa lega, karena Naruto masih menyalahkan dirinya sendiri.
"Okaa-san!" tiba-tiba Itachi berteriak di pintu membuat Naruto dan Mikoto menoleh ke arahnya.
Itachi langsung menghampiri ibunya dengan cepat.
"Apa Okaa-san baik-baik saja?" tanyanya begitu cemas terhadap ibunya.
Sedangkan Mikoto yang melihat kecemasan anaknya kepadanya hanya bisa tersenyum.
"Okaa-san baik-baik saja," ucapnya menenangkan Itachi.
"Oh ya Itachi, apa kau tak mau menyapa Otoutomu?" sambungnya.
Itachi pun langsung menoleh ke arah bayi di samping ibunya.
"Wah... siapa namanya, Okaa-san?" tanya Itachi tersenyum senang mengabaikan bahwa tadi dia begitu cemas terhadap ibunya.
"Namanya Sasuke," kata Mikoto memberitau.
"Hello Sasuke, ini Aniki," senang Itachi menyapa adiknya dan mendapatkan sebuah respon gerakan menggeliat dari bayi yang bernama Sasuke, sontak hal itu membuat Mikoto dan Itachi senang melihatnya.
Menghiraukan sebuah kebahagiaan seseorang, disisi lain Naruto hanya bisa berdiri diam memandang mereka dan sesekali tersenyum tipis melihatnya.
Tapi yang pasti, pikiran Naruto entah kemana perginya, dia sedang memikirkan bagaimana caranya untuk melindungi Mikoto dan anak-anaknya sesuai Amanat dari mendiang Fugaku terhadapnya tanpa harus melalaikan keluarganya sendiri. Naruto akan memikirkannya setelah ini.
.
.
Dan setelah itu Naruto memutuskan untuk berhenti dari kesatuan Anbu dan memilih menjadi guru pembimbing. Menjadi guru pembimbing yang beranggota Itachi, Shishui dan Erza.
Dan pastinya setelah meminta usulan kepada ayahnya dan persetujuan istrinya, akhirnya Naruto bisa menjadi guru pembimbing untuk Itachi.
Hal itu beralasan bagi Naruto untuk memperdekat jarak pengawasan keluarga Mikoto. Dan untuk mata Fugaku, Uchiha Mikoto menyerahkannya kepada Naruto, karena dia percaya bahwa Naruto mampu untuk menjaga mata itu.
Tapi dibalik perhatian Naruto kepada keluarga orang lain, itu adalah awal yang akan berakhir kehancuran keluarga sendiri. ada seseorang yang mengawasinya, yaitu Asuma Sarutobi. Dia menyerigai jahat tindakan Naruto tanpa diketahui oleh siapapun.
.
#Flashback Off
.
.
"Seperti itulah ceritanya," ucap Naruto setelah 30 menit menceritakan masa lalunya tentang Mata Sharingan yang berada di tabung kecil yang ia genggam.
Sedangkan Merlin nampaknya paham dengan cerita dari Naruto, dia menganggukkan kepalanya mengerti dan kemudian beranjak dari duduknya.
"Nampaknya mata itu sangat penting bagi Shisho-kun? Jadi aku akan meneliti yang lainnya saja," ucapnya pasrah.
"Ya, ini sangat penting bagiku," balas Naruto tanpa menoleh ke arah Merlin.
Kemudian Merlin melangkah ke sisi lain, memilih gulungan-gulungan yang lain untuk diteliti olehnya.
Sedangkan Naruto kini malah menerawang mata Sharingan di tabung tersebut dengan pemikiran yang jauh melintasi antar Dimensi.
"Semoga mereka baik-baik saja," batinnya kepada seseorang di Dimensi Elemental Nation.
.
.
__ADS_1
T.B.C