
.
Keesokan harinya
.
"Tou-san! Tou-san!"
.
Teriak Mirajane dan Rin panik dipagi hari memanggil ayahnya setelah bangun dari tidurnya dan merasa ayahnya sudah tidak ada lagi di pelukannya.
Hingga akhirnya mereka beranjak dari tempat tidurnya mencari keberadaan ayahnya ke segala penjuru ruangan, dan ternyata ayahnya berada di dapur sedang memasak ditemani Kalawarner yang sudah bangun lebih pagi.
.
"Hiks, Tou-san hiks,"
.
Isak Mirajane dan Rin langsung memeluk Naruto dari belakang sehingga Naruto kesusahan saat memasak.
"Aduh Mira-chan, Rin-chan. Tou-san jadi kesusahan ni," kata Naruto susah bergerak.
"Kalian tunggulah di sana, nanti Tou-san ke sana." Sambung Naruto menunjuk ruang tamu tapi dijawab gelengan Mirajane dan Rin bersamaan.
"Tidak! Nanti Tou-san pergi lagi." Ucap Mirajane dan diikuti anggukan Rin membuat Naruto pasrah lalu menoleh ke arah Kalawarner.
"Kalawarner-san. Tolong terusin ini ya, aku mau ke sana." Kata Naruto meminta bantuan Kalawarner untuk meneruskan masakan Naruto yang baru setengah matang.
"Hai Naruto-kun." Jawab singkat Kalawarner sambil menganggukkan kepalanya.
Lalu Naruto keruang tamu bersama Mirajane dan Rin yang terus menempel seolah-olah tidak ingin kehilangan lagi sosok ayahnya yang selama ini mereka cari.
"Ne kapan kalian akan melepas pelukannya? Kalian sudah besar lo, tidak malu dilihat orang?" tanya Naruto lembut.
"Tidak mau! Kami tidak mau kehilangan Tou-san lagi." Jawab Mirajane menggelengkan kepala.
"Tenang saja, Tou-san tidak akan pergi lagi kok," kata Naruto meyakinkan membuat Mirajane dan Rin tenang dan lama-kelamaan melepas pelukannya.
"Maaf Tou-san." Ucap tiba-tiba Mirajane dan Rin bersamaan sambil menunduk.
"Tou-san boleh menghukum kami atau menyiksa kami asalkan Tou-san mau memaafkan kami." Kata Rin yang dari tadi diam memberanikan diri berbicara kepada Naruto sambil menunduk sedih meremas lutut sangat erat diikuti Mirajane yang juga melakukan hal sama.
"Tou-san tidak berpikiran seperti itu," balas Naruto tersenyum tulus sambil mengelus kepala Mirajane dan Rin.
__ADS_1
Sontak perlakuan Naruto membuat Mirajane dan Rin melebarkan mata terkejut.
Mereka sudah menyiapkan mental sejak lama apabila ayahnya membencinya, tapi apa yang mereka dapat sekarang.
Ayahnya tidak melakukan apa-apa, tidak seperti mereka bayangkan selama ini, malah sebaliknya.
Ayahnya secara terbuka menerima kehadirannya tanpa ada rasa benci dan marah mereka rasakan, melainkan perasaan hangat yang selama ini mereka cari dari sosok ayah.
"Tou-san tidak marah?" tanya Rin takut-takut.
"Tidak. Malah Tou-san sangat sayang sama kalian," balas Naruto.
"Tolong maafkan Kaa-san kami ya Tou-san," Kata Mirajane takut menyinggung perasaan ayahnya.
"Em, Tou-san sudah memaafkan kalian kok. Tou-san tau dulu kalian lagi khilaf saja," balas Naruto tersenyum tulus membuat Mirajane dan Rin senang.
"Lebih baik kalian mandi, nanti sarapan bersama." Sambung Naruto menyuruh lalu Mirajane dan Rin beranjak dari duduknya dan langsung pergi ke kamar yang tadi malam mereka tiduri langsung menuju kamar mandi yang memang disediakan di setiap kamar.
"Mungkin pakaian Naruko dan Vivi muat untuk mereka," gumam Naruto sambil melangkah ke kamar Naruko dan Vivi yang memang satu kamar untuk meminta baju mereka yang akan digunakan Mirajane dan Rin ganti pakaian nanti.
.
.
#Skip Saat Makan
.
Tapi kali ini sedikit berbeda, dikarenakan bertambahnya 2 anggota keluarga baru sehingga membuat ruangan makan terasa sempit karena banyaknya anggota keluarga.
"Oh ya Tou-san, hari ini kedai tidak buka?" tanya Menma disela-sela makanya.
"Em, setiap minggu kedai libur." Balas Naruto dan dijawab anggukan Menma mengerti.
"Oh ya Naruko, Vivi. Nanti kalian temani Mira dan Rin belanja pakaian ya?" kata Naruto kepada Naruko dan Vivi yang belum selesai makan.
"Kenapa harus aku sih Tou-san, mereka kan bisa sendiri." Balas Naruko malas dan langsung mendapat tatapan tajam Naruto.
"Jangan seperti itu Naruko! Walaupun bagaimana Mira dan Rin tetap adikmu!" bentak Naruto membuat Naruko terdiam langsung menunduk.
"Hai Tou-san, maafkan aku," ucap lirih Naruko karena takut tidak ingin dibentak lagi.
Sedangkan Mirajane dan Rin juga menunduk, mereka masih gugup untuk berbicara dengan kakak-kakaknya terutama Naruko dan Vivi yang terlihat masih membencinya.
"Akrablah dengan adik-adikmu Naruko! Vivi! Kalian sudah dewasa, Tou-san tidak suka melihat permusuhan antar saudara di keluarga ini." Nasehat Naruto kepada Naruko dan Vivi, dan dijawab anggukan Naruko dan Vivi mengerti membuat Naruto tenang.
__ADS_1
"Kalian juga boleh ikut, sekalian bersenang-senanglah di hari libur kalian," kata Naruto kepada trio DaTanshi dan dijawab anggukan antusias Raynare dan Mitlet sedangkan Kalawarner hanya tersenyum mengiyakan.
Bagi Kalawarner, ini adalah kesempatannya untuk mendekatkan dirinya kepada anak-anak Naruto supaya bisa mendapatkan hati ayahnya.
"Kau juga mau ikut Menma?" tanya Naruto kepada Menma.
"Tidak Tou-san, aku ingin tidur seharian di rumah," balas Menma santai.
"Huh, kau itu sama seperti Minato ya," kata Naruto menghela nafas.
"Cuma hampir Tou-san, tidak sama persis," balas Menma santai lagi.
"Terserah kaulah Menma." balas Naruto.
"Oh ya Mira, Rin. Nanti kalian ikut dengan kakak-kakak kalian ya, jangan lupa beli baju ganti kalian secukupnya," sambung Naruto kepada Mirajane dan Rin, Dan dijawab anggukan Mirajane dan Rin.
Lalu mereka semua penghuni rumah melanjutkan makannya tanpa ada yang bersuara sampai habis tak tersisa semua makanan di atas meja.
.
.
#Skip Time
.
2 Jam Kemudian Di Toko Pakaian
.
Kini semua perempuan yang berada di rumah Naruto sedang tidak ada di rumah, mereka sedang menemani Mirajane dan Rin selaku keluarga baru dirumah Naruto di toko pakaian khusus wanita yang memang untuk membeli baju Mirajane dan Rin.
Untuk Mirajane dan Rin mereka masih saja gugup untuk berbicara kepada keluarga baru mereka terutama kakak-kakaknya walau sudah mendapat maaf dari mereka.
"Maaf Onee-sama," kata Mirajane di hadapan Vivi selaku kakak yang menemani.
Sedangkan Rin ditemani oleh Naruko di bagian dalam toko yang berbeda. Sedangkan untuk trio DaTanshi mereka menunggu diluar toko.
"Sudah kukatakan jangan mengatakan itu lagi, aku sudah bosan mendengarnya." Jawab Vivi menghela nafas.
"Tap-"
"kau tidak ingat tadi yang kukatakan, turuti saja atau aku dan Naruko tak akan memaafkan kalian." Potong Vivi membuat Mirajane mengingat apa yang dikatakan kakaknya tadi saat di perjalanan.
T.B.C
__ADS_1
Yo semua author balik lagi nih maaf untuk beberapa hari kemaren author lagi ada perjalanan keluar kota..