STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 119


__ADS_3

.


"Huh," helaan nafas keluar dari mulut Menma.


"Aku kan koki, kenapa aku harus repot-repot mengantarkan pesanan tadi ya?" gumamnya. Nampaknya Menma habis mengantarkan pesanan pelanggan.


Itu karena tadi di Kedai tak ada laki-laki selain dirinya, jadi dengan terpaksa yang harus mengantarkan pesanan dan urusan dirinya diserahkan kepada Naruko dan Vivi.


Sambil terus melangkah untuk kembali ke kedai, tiba-tiba langkahnya terhenti dan matanya mengarah ke depan.


Tak jauh dari penglihatannya, Menma melihat seseorang atau lebih tepatnya teman sekolah Naruko dan Vivi yaitu Akeno yang sedang berjalan menyeberangi jalan raya untuk pulang mungkin, pikir Menma.


Tiba-tiba Menma berlari sangat cepat ke arah Akeno saat melihat truk yang melaju sangat cepat di jalan raya dan menyadarinya Akeno menyadarinya itu.


Terlalu!


Bagus!


Wush!


akeno langsung terkejut saat ada tangan seseorang yang menariknya dengan paksa dan diikuti laju truk yang sangat cepat.


Dengan perlahan Akeno membuka matanya dan ingin melihat siapa yang melakukan penarikan paksa terhadapnya.


Betapa terkejutnya Akeno saat tau siapa yang tadi menariknya dan seketika pula Akeno langsung merona karena sekarang dia dipelukan seseorang, yaitu Menma.


"Melamun sambil berjalan itu tidak bagus, tadi itu berbahaya," ucap Menma sambil melepas pelukannya.


Akeno langsung menunduk terlepas dari pelukan Menma.


"Terima kasih," ucap pelannya.


"Ngomong-ngomong kau akan kemana? Oh ya kemarin saat bertemu kita bertemu ya, Namaku Menma Uzumaki dan kau pasti tahu kalau aku sudah tahu ini kakaknya Naruko dan Vivi," ucap Menma memperkenalkan diri sambil memperkenalkan diri.


Dengan perlahan tangan Akeno terangkat dan disambut tangan Menma.


"Akeno Himejima dan ya aku sudah tau kalau kau kakaknya Naruko dan Vivi," balas Akeno memperkenalkan diri dan menunduk.


Menma pun mengangguk dan memainkan jabatan itu.


"Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku tadi," ucapnya.


"Aku habis dari Klub di sekolahan dan sekarang mau pulang," balas Akeno memberitau.


"Huh," Menma menghela nafas.


"Karena kau adalah teman adik-adikku. Ayo kuantarkan kau pulang," ucapnya.


Akeno mendongkrakkan kepalanya.


"Tidak apa, aku bisa pulang sendiri," tolaknya.


Jangan seperti itu, aku tahu sesuatu kan? Dan kau juga boleh menceritakan apa masalahmu jika kau mau. Mungkin aku bisa membantunya kalau bisa," ucap Menma dan mengapa Akeno melebarkan mata terkejut tapi tak lama dan langsung melihat ke wajah.


"Masalahku rumit, kau tak mungkin bisa membantunya," ucap Akeno yang sangat tersentuh.

__ADS_1


Cukup lama tak ada jawaban dari Menma, tiba-tiba Akeno melebarkan mata terkejut saat merasakan elusan lembut di kepalanya.


Dengan gerakan perlahan Akeno menoleh ke arah Menma.


"Belum tentu kan kalau belum dicoba," ucap Menma sambil tersenyum hangat kepada Akeno.


Akeno terdiam, entah mengapa sangat senang mendengar ucapan Menma yang begitu tulus diucapkannya, apalagi elusan tangan Menma begitu nyaman dirasakan dan perasaan baru pertama kali dirasakan oleh Akeno.


"Jadi, Bagaimana? Mau ku antar atau tidak?" ucap Menma dan seketika Akeno tersentak karena lamunannya buyar oleh suara Menma.


Akeno langsung kembali menunduk karena pipinya merona.


"Um," dia mengucapkan terima kasih.


Dan akhirnya acara Menma untuk kembali ke kedai di undurkan karena sekarang akan mengantarkan Akeno pulang terlebih dahulu.


.


#Lewati Kedai


.


Beda dengan Menma yang sekarang sedang mengantarkan Akeno pulang. Disisi lain yang tak jauh dari Kedai nampak Sting, Luna dan Kunou serta Gray yang masih mengikuti Kuroka lumayan jauh di belakang sedang melangkah menuju kedai.


Untuk Sting, Luna dan Kunou, mereka terlihat sangat sekarang sehingga sudah memasuki toko terlebih dahulu meninggalkan Gray dan Kuroka di belakang.


Sedangkan Gray dan Kuroka mereka berjalan santai dengan suasana hening pada mereka berdua serta wajah merona mereka berdua yang terlihat begitu jelas saat itu.


"Ma-maaf, gara-gara diriku kau jadi hasilku seperti ini,"


"Tak apa, aku tak peduli kok,"


"Tidak, aku tak merasa merasa sama sekali,"


Dan terjadi keheningan kembali setelah ucapan terakhir Gray dan langkahnya telah sampai di kedai dan wajah mereka sudah terlihat merona lagi. Dengan perlahan Grey membuka pintu Kedai tersebut.


"Wow Nii-san, ehem-ehem," suara Mirajane dan Rin saat setelah Gray dan Kuroka memasuki kedainya dan lagi-lagi Gray dan Kuroka merona kembali.


"Sudahlah Mira, Rin jangan menggodanya," suara Vivi yang nampak baru keluar dari arah dapur Kedai.


"Kuroka-san kenapa, Gray?" sambungnya bertanya.


"Kakinya terkilir tadi di jalan, jadi aku bawanya," balas Gray dan Vivi hanya ber-O-ria saja.


"Bawalah ke ruangan dalam, kompres kaki dengan es biar hilang sakitnya," kata Vivi menyuruh.


"Hai Nee-sama," dan dibalas anggukkan Gray kemudian langsung melangkah ke ruangan dalam yang biasa digunakan untuk beristirahat.


Tiba-tiba Mirajane dan Rin saling mendekat dan berbisik sesuatu.


"Ne ne Rin-chan, aku yakin Kuroka-san pasti menyukai Gray-nii," bisik Mirajane.


"Um! Tadi sangat terlihat jelas di wajah, dan juga menyukai Kuroka-san," timpal Rin juga berbisik.


"Jangan membicarakan orang lain, lebih baik antarkan ini ke meja nomor 4," suara Naruko sambil nampan berisi 2 mangkuk Ramen di hadapan Mirajane dan Rin.

__ADS_1


 Sontak Mirajane dan Rin terkejut atas suara kakaknya, dengan cepat Mirajane langsung mengambil nampan tersebut dan menjatuhkannya ke pelanggan di meja 4.


Naruko menoleh ke arah Rin. 


"Kenapa kau masih disini? Liat tu ada pelanggan yang baru masuk," ucapnya.


Rin tersentak. 


"Ah Nee-sama, aku tadi tak melihatnya hehe," cengengesan Rin lalu menghampiri pelanggan tersebut untuk menanyakan apa pesanannya.


.


Sedangkan di sisi lain kota nampak Menma masih dalam perjalanan untuk mengantar Akeno pulang. 


Tak ada yang bersuara setelah 10 menit mereka berjalan, mereka terdiam. Dengan Akeno yang dari tadi menunduk seperti melamunkan sesuatu sedangkan Menma selalu santai dimana-mana.


"Huh," Menma menghela nafas. 


"Sudah kukatakan tadi, jika kau ingin menceritakan masalahmu, kau bisa ceritakan padaku. Mungkin aku bisa membantunya," ucap Menma disela-sela langkahnya.


Akeno menggigit bibir bawahnya. 


"Ini masalah keluargaku, kau tak mungkin bisa membantunya," ucap Akeno yang masih menunduk.


"Sebenarnya kau hanya belum siap dengan kehadiran Tou-sanmu bukan? yang tiba-tiba perhatianmu," ucap Menma dan entah mengapa Akeno langsung melebarkan mata terkejut. 


seketika Akeno langsung mengarahkan kepalanya dan menoleh ke arah Menma.


"Apa maksudmu?" kejut Akeno yang seketika itu langsung terhenti.


Langkah Menma pun terhenti tepat 2 meter di depan Akeno.


 "Sebenarnya aku sudah tau, paman Baraqiel dan Tou-sanku sudah berteman dari dulu. Tousanmu sering curhat kepada Tou-sanku dan tak sengaja aku waktu itu," ucap Menma tanpa menoleh.


Akeno terdiam, dia menggigit bibir bawahnya karena tak bisa berucap apa-apa mulutnya terkunci untuk mengeluarkan suara.


"Jangan egois seperti itu, Tou-sanmu jauh lebih tersiksa jika kau terus menghindarinya." Sambung Menma yang belum menoleh ke belakang.


Tiba-tiba wajah Akeno berubah menjadi datar.


 "Aku yang egois? Terus dimana di saat kaa-sanku mati! AKU ATAU DIA YANG EGOIS SEBENARNYA!" ucap Akeno di akhiri dengan bentakkan. 


Untung saja jalanan sepi, jadi tak ada yang mendengar bentakkan Akeno.


Menma membalik badan. 


"Kau tau, setiap orang tua pasti memiliki alasan sendiri demi keluarganya. Begitu juga Tou-sanmu, dia tak ada saat Kaa-sanmu meninggal karena pekerjaan. Dan hasil kerjanya untuk siapa? Untuk keluarga bukan?" kata Menma.


Tiba-tiba Akeno menunduk.


 "Seharusnya dia tak mementingkan pekerjaan dulu jika akan terjadi pada Kaa-sanku yang meninggal oleh orang yang tak dikenal. Setidaknya dia bisa melindungi kami," ucapnya.


"Takdir," singkat Menma dan Akeno memastikan kepala mengungkapkan Menma dengan bingung.


.

__ADS_1


..


T.B.C


__ADS_2