
.
Lebih baik mati dari pada menjadi tawanan musuh, rela mati mengorbankan diri demi keberhasilan misi.
Semboyan Shinobi yang telah di ajarkan dari Akademi ninja membuat Naruto harus menguatkan mental sekuat baja.
Tangan Naruto mulai bergerak, terangkat dengan penuh getaran ragu yang luar biasa. Hingga akhirnya tangan Naruto pun mencapai tangan Fugaku, dan seketika Fugaku tersenyum.
"Tolong lindungi mereka untukku,"
Seketika detak jantung Naruto berdetak sangat cepat. Detak jantung ini bukan detak jantung seseorang yang sedang semangat dan menghasilkan rasa senang, tapi ini detak jantung yang paling tidak diinginkan manusia yang memiliki jantung, sebuah detak jantung karena sebuah rasa kesedihan.
Itu sangat tidak enak, rasanya bagaikan terkena runtuhan bulan dari langit.
Air mata terus mengalir dari mata Naruto, ia masih berat untuk menegakkan tubuhnya, ia masih tak tega harus meninggalkan Fugaku sendirian di situ.
"Itu di sana!"
Tapi suara teriakan seseorang membuat Naruto menoleh dengan cepat ke belakang. Jauh di sana, Naruto memfokuskan penglihatannya setelah tadi diusap air matanya dengan baju lengannya, di sana Naruto melihat tiga Shinobi Amegakure sedang melompat menuju ke arahnya yang diperkirakan dua menit lagi mereka sampai di tempat Naruto dan Fugaku.
"Maafkan aku paman," ucap Naruto sambil berdiri.
"Pergilah, biar orang-orang yang berteriak tadi paman yang tangani," ucap Fugaku sambil tersenyum.
Tak ada balasan dari Naruto, ia hanya diam, tapi jika dilihat dari dekat lagi, bekas air mata di pipinya tadi kini kembali mengalir air dari mata.
*Wush! Tap! Wush! Tap! Wush!*
Naruto langsung melompat ke atas pohon, dan langsung melompat dari batang pohon satu ke yang lainnya menuju arah luar hutan sambil terisak.
*Duarrrrrrrrr!"
Genap sejauh 120 meter Naruto menjauh, suara ledakan pun terdengar. Naruto tau itu ledakan apa, itu adalah suara ledakan dari puluhan kertas peledak yang tersimpan di balik baju Fugaku sesuai rencana yang apabila para ninja Amegakure mendekat, maka dalam seketika Fugaku akan mengaktifkan kertas peledaknya agar ninja Amegakure ikut mati bersamanya, dan Naruto bisa selamat sampai Konoha tanpa hambatan lagi.
Naruto tak berani menoleh ke belakang, Naruto tak kuat melihatnya. Orang yang selama ini Naruto anggap paman telah mengorbankan dirinya demi dirinya selamat dari misi.
Hal itu mampu membuat Naruto tak bisa untuk berpikir dan terbayang akan ke depannya, ia hanya fokus untuk terus melesat menuju desa Konoha.
#Skip Time
Setelah menempuh perjalanan panjang selama 3 jam tanpa istirahat, akhirnya Naruto sampai di desa Konoha.
Sambil terus menahan sesuatu yang Naruto tahan sejak tadi, kini ia sedang melompat dari atap rumah warga ke rumah warga lainnya, tujuannya hanya satu, yaitu gedung yang paling besar di bawah tebing yang dihiasi patung wajah Hokage.
Sedangkan di dalam bangunan yang Naruto tuju, atau lebih tepatnya di ruangan khusus Hokage, di situ terdapat 4 orang memenuhi ruangan tersebut.
Dengan Minato selaku Yondaime yang duduk menghadap banyak dokumen-dokumen di mejanya, Irene sedang mengandung 6 bulan sedang asik bercengkerama ria dengan Kurenai yang kondisi perutnya sedang membuncit, dan satu lagi sosok anak kecil 8 tahunan yaitu Erza yang ikut-ikutan bercengkerama ria dengan Irene selaku ibunya dan Kurenai.
"Nee-san, apa aku boleh menyentuh perutmu?" kata Erza kepada Kurenai
Kurenai hanya tersenyum mendengar ucapan Erza, ia tau bahwa Erza pasti sangat penasaran dengan kondisi perutnya saat ini, sehingga Kurenai mengangguk menyetujui.
"Boleh kok, Erza-Chan," ucap Kurenai.
Erza tersenyum lebar, ia mulai mendekatkan tangannya ke perut Kurenai.
__ADS_1
"Hati-hati sayang, di dalam perut itu ada keponakanmu lo," Irene sedikit memperingati.
"Um," dan Erza pun mengangguk, kemudian kembali mendekatkan tangannya ke perut Kurenai dengan hati-hati lalu mengusap pelan perut Kurenai.
"Wah... apakah keponakanku sudah bangun di dalam sini?"
"Hihihi... sebentar lagi juga bangun Erza-chan, tinggal menunggu beberapa bulan lagi," kata Kurenai.
"Wah... aku jadi tidak sabar menunggunya,"
Sedangkan disisi lain, Minato hanya tersenyum senang melihat canda ria istrinya dan menantunya, dan pemandangan itu mampu membuat rasa lelah dan pusing dirinya sebagai Hokage hilang seketika saat melihat mereka.
*PYARRRRRRRRR!*
*Brugh!*
Semua yang ada di dalam ruangan Hokage terkejut saat tiba-tiba kaca ruangan itu pecah dibentur sesuatu, tapi bukan itu yang mereka kejutkan, melainkan apa yang menyebabkan kaca itu pecah.
"Naruto!/Sochi!/Naru-kun!/Nii-chan!"
Kejut mereka semua dengan mata yang terbuka lebar karena tau siapa sosok yang sekarang tergeletak tak berdaya di lantai setelah membentur kaca. Yaitu Naruto yang langsung pingsan setelah menabrak kaca tadi.
Minato langsung bergegas mendekati Naruto, begitu juga yang lainnya. Mengecek kondisi putranya, dan setelah selesai Minato kemudian menghela nafas.
"Apa yang terjadi dengan Naru-kun? Apa dia baik-baik saja Tou-san?" tanya Kurenai cemas.
Minato kemudian menoleh ke arah yang lainnya.
"Naruto hanya kelelahan, aku akan membawanya ke rumah sakit sekarang," balas Minato berbohong, karena sebenarnya dia cukup tau kondisi putranya sekarang karena dia yang mengeceknya.
Kemudian Minato memapah Naruto.
*Sring!*
Seketika Minato langsung menghilang dengan jurus teleportnya membawa Naruto, dan seketika Irene, Kurenai dan Erza bergegas keluar dari ruangan Hokage.
.
#Skip Tengah Malam
.
"Emmmmhhh..."
Naruto mengerang, dia mencoba membuka matanya. Dan setelah matanya benar-benar terbuka, dia langsung menyadari jika ruangan yang dia tempati adalah di salah satu kamar rumah sakit karena bau-bau obat tercium jelas di hidungnya.
"Kau sudah bangun, Nak." ucap Minato tepat berdiri di samping kanan ranjang Naruto berbaring.
Seketika Naruto langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Apakah aku sudah lama tertidurnya, Tou-san?" tanyanya memastikan.
"Hanya 8 jam," singkat Minato, dan entah kenapa Naruto melebarkan mata terkejut.
"Huh..." seakan sudah tau keterkejutan putranya, Minato menghela nafas.
__ADS_1
"Kau jangan cemas, aku memberitau Kaa-sanmu dan Istrimu jika kau hanya kelelahan dan mereka sudah kusuruh pulang," ucap Minato menjawab keterkejutan putranya.
"Huh... syukurlah mereka tak mengkhawatirkanku," ucap lega Naruto.
Tiba-tiba Minato menatap serius Naruto.
"Jadi, bisa kau jelaskan dengan jelas tentang misinya? Dan kenapa Fugaku tak kembali ke Konoha?" tanya Minato serius.
Seketika Naruto menunduk, pertanyaan dari ayahnya memang berat untuk dijawab, tapi Naruto harus menjawabnya sekarang.
"Paman tewas," ucap Naruto lirih, dan itu sukses membuat Minato terdiam melebarkan mata karena terkejut.
"Ada enam shinobi yang memiliki mata Rinnegan, kami didesak dan paman Fugaku mengorbankan dirinya demi keberhasilan misi," lanjutnya masih dengan nada lirih.
*Bruk!*
Minato langsung duduk, kemudian memijit kepalanya pusing.
"Akatsuki benar-benar organisasi berbahaya," ucap Minato sambil menunduk.
"Ya..." singkat Naruto, kemudian juga memegang kepalanya frustasi seperti ayahnya.
"Se-setelah ini, a-apa yang harus kukatakan tentang paman Fugaku kepada bibi Mikoto, bibi pasti kecewa dan membenci keluarga kita," ucapnya frustasi.
*Puk!*
Tiba-tiba Naruto merasakan ada yang menepuk pundaknya, dan Naruto langsung mendongkrakkan kepalanya menatap ayahnya yang menepuk pundaknya.
"Kau hanya perlu mengatakan dengan jujur, percayalah bahwa setiap perkataan jujur bisa menghilangkan rasa takut pada diri kita," ucap Minato menasihati putranya.
Kegelisahan Naruto sedikit hilang atas nasehat ayahnya, dia mengangguk paham atas ucapan ayahnya.
"Terima kasih Tou-san," ucap Naruto.
Minato kemudian menegakkan tubuhnya.
"Kalau begitu, Tou-san mau pulang. Mengabari Kaa-sanmu dan Istrimu bahwa kau telah siuman, mereka pasti senang," ucapnya.
Naruto tiba-tiba langsung duduk.
"Aku juga mau pulang, aku sangat anti bau-bau obat disini," ucap Naruto mencoba turun dari ranjangnya.
"Huh..." Minato menghela nafas, dia hanya pasrah atas keras kepala putranya yang tak memikirkan kondisi tubuhnya yang belum pulih sepenuhnya.
"baiklah, kau tunggu di depan, Tou-san akan mengurus administrasinya," ucapnya sambil melangkah keluar ruangan dan Naruto hanya mengangguk saja.
Setelah itu, Naruto pulang dengan Hiraishin ayahnya setelah mengurus administrasi rumah sakit. Rumah Naruto dan rumah orang tuanya memang berpisah, tapi tak berjauhan sehingga Minato lebih memilih berjalan kaki untuk pulang setelah mengantar putranya.
Naruto tersenyum saat memasuki kamarnya, melihat Kurenai yang tertidur pulas agak serong, dan perut buncit Kurenai membuat rasa lelah Naruto hilang seketika.
Naruto melangkah menuju ranjangnya, membenarkan posisi tidur Kurenai, kemudian Naruto mengusap perut Kurenai dan mencium singkat perutnya itu.
"Otou-san pulang," ucapnya kepada perut buncit Kurenai, dan pastinya dengan nada pelan agar Kurenai tak bangun dari tidurnya. Setelah itu Naruto berbaring di samping Kurenai dan langsung tertidur.
.
__ADS_1
.
T.B.C