
.
Berantakan, itu yang bisa dijelaskan dengan situasi ini di ruangan tempat Naruto dan Merlin berada. Dengan tumpukan gulungan yang memenuhi meja serta ada yang berserakan di lantai.
Bahkan Naruto yang duduk di hadapan meja saja sampai tak terlihat orangnya karena saking tingginya tumpukan-tumpukan gulungan hasil uji coba rumus perpindahan dimensi yang baru-baru ini Naruto teliti bersama Merlin.
Sedangkan Merlin berada di meja satunya tepat di depan meja yang Naruto tempati, ia juga sedang memilih sebuah gulungan milik Naruto yang ingin ia teliti, Sebab Merlin sangat tertarik dengan kanji-kanji segel ciptaan Naruto, sehingga ia dengan antusias menelitinya sekaligus belajar agar bisa.
Disaat Merlin memilih-milih gulungan, ada satu gulungan kecil berwarna merah yang belum pernah ia lihat, sehingga membuat Merlin tertarik melihatnya.
Merlin mengambil gulungan itu, lalu menoleh ke arah Naruto.
"Shisho-kun, ini gulungan apa?" tanyanya sambil menunjukkan gulungan yang ia ambil.
"Mana?" Naruto mendongkrakkan kepalanya untuk melihat apa yang ditunjukkan oleh Merlin.
Tapi sayang, gulungan-gulungan di hadapannya yang menggunung membuat Naruto tak dapat melihatnya.
Merlin yang mengetahui pandangan Naruto terhalang oleh tumpukkan gulungan berinisiatif untuk melangkah ke arah Naruto, dan berdiri di samping Naruto sampil menunjukkan gulungan yang ingin ia perlihatkan kepada Naruto.
"Ini, Shisho-kun,"
"Ooo ini," kata Naruto setelah tau apa yang ingin diperlihatkan oleh Merlin.
"Coba kulihat," sambungnya meminta gulungan yang berada di tangan Merlin, dan Merlin langsung menyerahkannya.
"Kau tau Merlin, gulungan ini berisi suatu kenangan masa laluku yang masih kusimpan sampai saat ini," ucap Naruto sambil membuka gulungan kecil tersebut, dan di dalam gulungan tersebut terdapat sebuah tulisan kanji rumit yang kecil dan membentuk sebuah lingkaran dan bintang di tengahnya.
Merlin memiringkan kepalanya tak mengerti.
"Masa lalu Shisho-kun? Memang apa isinya Shisho-kun,?" ucapnya penasaran.
"Sepasang mata,"
*Pofh!*
Tiba-tiba tercipta kepulan asap pada tanda kanji setelah Naruto usap. Merlin terus memperhatikan asap itu, hingga tak berselang lama asap pun menghilang, kini di atas tanda kanji itu memperlihatkan sebuah tabung kecil transparan yang di dalamnya terdapat cairan hijau dan sepasang bola mata dengan pupil merah dan pola tiga tomoe mengelilingi pupil tersebut.
Rasa penasaran Merlin kembali memuncak, pasalnya dirinya belum pernah melihat mata seperti itu, Merlin pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Itu mata apa Shisho-kun?"
"Ini adalah mata Sharingan," kata Naruto sambil mengangkat perlahan tabung tersebut.
"Di dimensiku, mata ini memiliki kekuatan yang sangat besar, dan hanya para Uchiha yang memilikinya," sambungnya dengan sedikit memberitau kehebatan mata yang ada di hadapannya kepada Merlin.
Sontak hal itu malah membuat Merlin tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang mata itu, Merlin kembali bertanya.
"Jika hanya para Uchiha, kenapa Shisho-kun memilikinya?"
__ADS_1
Tiba-tiba Naruto mendongkrakkan kepalanya, menerawang jauh menembus langit-langit ruangan. Naruto sedikit teringat seorang pria paruh baya berwarga Uchiha yang selalu Naruto sebut paman.
Uchiha Fugaku, ayah dari Uchiha Itachi dan Uchiha Sasuke yang sekarang ini terlintas di kepala Naruto.
"Huh..."
Merlin memiringkan kepalanya kembali saat melihat Naruto tiba-tiba menghela nafas.
"Panjang ceritanya Merlin," ucap Naruto setelah sesaat terasa berat dalam perasaannya, dan sudah sedikit mulai tanang sekarang.
Tapi Merlin belum puas mendapat jawaban seperti itu dari Naruto, ia ingin jauh lebih tau tentang mata itu, sehingga Merlin kembali bertanya.
"Tolong ceritakan kisahnya Shisho-kun, Plieeeeeeesse..."
Seketika Naruto langsung Sweatdrop melihat puppy eyes Merlin yang menurut Naruto itu terlalu aneh dilihat. Tapi Naruto sedikit menghela nafas karena Merlin terus memasang wajah memohon seperti itu, Naruto cukup tau kalau Merlin itu penasaran dan ingin tau segalanya.
"Hah... baiklah-baiklah, akan kuceritakan," pasrah Naruto.
Seketika Merlin langsung tersenyum semringah karena senang, ia langsung memposisikan duduk di pinggiran meja dengan kaki disilangkan tepat di hadapan Naruto.
Sedangkan Naruto sendiri harus dengan kuat mentalnya sebagai pria normal saat melihat paha halus Melin di hadapannya tepat. Naruto sedikit memalingkan wajahnya, Naruto sangat yakin jika Merlin sangat niat menunjukkan pahanya di hadapannya, karena itu sudah jadi kebiasaan Merlin akhir-akhir ini terhadapnya.
.
#Flashback On
.
#6 tahun sebelum berpindah dimensi
.
*Srek... Srek... Srek...*
Langkah demi langkah Naruto tapaki, ia panik dan rasanya ingin berlari dan melompat secepat mungkin untuk keluar dari hutan yang dekat dengan desa Amegakure.
Tapi hal itu tidak bisa Naruto lakukan, selain karena kehabisan Chakra karena tak mendapat bantuan Chakra dari Kurama yang sedang hibernasi 2 tahun, ia juga membawa beban yang tak mungkin harus ditinggalkan. Karena Naruto sedang memapah Fugaku yang terluka parah.
Misi yang Naruto jalani bersama Fugaku untuk menyelidiki gerak-gerik mencurigakan organisasi Akatsuki tidak berjalan dengan lancar tadi. Mereka ketahuan, dan akhirnya pertempuran pun tak bisa dihindari.
Walau nyatanya, Naruto dan Fugaku sanggup untuk melawan ninja Amegakure. Akan tetapi semua berubah setelah munculnya sosok ninja dengan mata Rinnegan.
Mata Sharingan Fugaku tak berefek pada sosok itu. Terlebih lagi, sosok ninja itu bisa menyerap Chakra pada Naruto dan Fugaku, sehingga membuat Naruto dan Fugaku terluka parah, tapi yang paling parah adalah Fugaku karena terus mengaktifkan mata Sharingannya dan selalu berusaha untuk melindungi Naruto.
Terus mencari peluang sekecil mungkin dalam pertempuran dengan ninja tersebut. Akhirnya Naruto dan Fugaku bisa melarikan diri dikala ada kesempatan.
Walau sebenarnya Naruto bisa saja untuk berteleport langsung ke desa Konoha, tapi Chakra yang ia miliki tak mencukupi dan akhirnya mereka lebih memilih lari dan kabur sejauh mungkin mencari keselamatan.
Dan sekarang lah Naruto, terus memapah Fugaku yang terluka parah untuk bisa keluar dari hutan tersebut, ekspresinya panik, tak ada ketenangan sama sekali.
__ADS_1
"Naruto," Fugaku berucap lirih.
"Bertahanlah paman, sebentar lagi kita bisa keluar dari sini," Naruto tak menoleh, pandangannya terus lurus ke depan, ia sudah menghiraukan segalanya, pikirannya hanya terus memikirkan bagaimana carannya ia dan Fugaku bisa keluar dengan selamat dari hutan itu.
"Naruto,"
Fugaku kembali berucap lirih, dan itu sukses membuat Naruto menghentikan langkahnya. Dan kemudian Naruto mendekati sebuah pohon besar dan merebahkan Fugaku di sana.
Tapi saat tiba-tiba Naruto hendak mengambil sebuah obat luka di kantong tas kecilnya, tangannya dihentikan oleh Fugaku, dan Naruto seketika menoleh ke arah Fugaku dengan penuh tanda tanya tak mengerti maksud pencegahan dari Fugaku yang disertai dengan gelengan kepala pelan.
"kau pergilah dahulu, paman akan mencegahnya," ucap pelan Fugaku.
"Ta-tapi paman, kau sedang terluka. Mana mungkin aku meninggalkanmu," bingung Naruto, ia cukup tak mengerti maksud perkataan Fugaku kepadanya.
Dan Naruto semakin tambah bingung ketika Fugaku tersenyum tipis dan mengambil sebuah gulungan kecil dari balik bajunya.
"Jika salah satu dari kita tak selamat, maka misi ini gagal. Kau masih muda dan masih memiliki kehidupan yang lebih panjang lagi," ucap Fugaku dengan senyuman.
Seketika Naruto melebarkan mata terkejut. Naruto adalah seorang Anbu, jadi istilah sekecil pun ia harus paham dan mengerti.
Dan, Naruto cukup tau jika Fugaku hendak ingin mengorbankan dirinya agar Naruto bisa selamat dan melaporkan misinya.
"Hiks.." air mata tak sanggup Naruto bendung lagi.
"Tidak paman, kau juga harus selamat. Bibi sedang mengandung, dia pasti menanti kepulanganmu," tolak Naruto sambil terisak.
Naruto sempat terbayang. Jika hanya Naruto saja yang selamat dari misi ini, apa reaksi yang akan ditampilkan oleh Mikoto Uchiha selaku orang yang Naruto panggil bibi sekaligus istri Fugaku? Pasti itu sebuah pukulan berat bagi Mikoto, apalagi saat ini kandungan Mikoto sudah 9 bulan, lebih tua kandungan Mikoto ketimbang Kurenai selaku istrinya yang umur kandungannya baru 8 bulan.
Dan jika itu terjadi, pasti Mikoto akan mengalami Shok berat. Sungguh Naruto tak kuat membayangkan.
Tapi, isakan penolakan Naruto tadi malah dibalas senyuman oleh Fugaku.
"Aku percaya padamu, kau pasti akan melindungi bibimu, Itachi dan adiknya Itachi nanti. Jadi ambillah." ucap Fugaku sambil menyodorkan gulungan di tangannya.
Tak ada respon dari Naruto yang malah menunduk sedih, tangan Fugaku berinisiatif meraih tangan Naruto dan menyerahkan gulungan tersebut. Dan Naruto hanya bisa menggenggamnya dengan lemas seakan tak berdaya untuk menerima gulungan itu
Lagi-lagi Naruto harus melebarkan mata terkejut saat tiba-tiba Fugaku mencongkel matanya sendiri.
"Mataku ini akan sangat berbahaya jika jatuh di tangan musuh. Maka akan lebih aman jika kau bawa ini juga dan serahkan kepada bibimu agar dia bisa melihat dan mendengar ucapan terakhirku saat dia menatap mata ini," kata Fugaku sambil menyodorkan matanya kepada Naruto.
Berat tangannya mengangkat, bagaikan mengangkat beban berton-tonan sekarang Naruto rasakan.
Tapi apa boleh buat, ini sudah menjadi resiko bagi Shinobi yang menjalankan tugasnya.
Lebih baik mati dari pada menjadi tawanan musuh, rela mati mengorbankan diri demi keberhasilan misi.
Semboyan Shinobi yang telah di ajarkan dari Akademi ninja membuat Naruto harus menguatkan mental sekuat baja.
.
__ADS_1
.
T.B.C