
.
Sudah puas mengajak jalan-jalan anaknya di luar Mansion, Naruto memutuskan untuk pulang, dan kini telah berada di depan Mansion Leviathan.
"Aku pulang!"
"Whauwhauwa..."
Si Olive kecil terlihat tak mau kalah dengan ayahnya, ia bersuara. Dengan celotehan tak jelasnya itu terkadang membuat maid di Mansion Leviatan gemas terhadap Olive. Dan Naruto cukup senang mendengarnya.
Bersamaan dengan teriakan Naruto dan celotehan Olive tadi, Naruto membuka pintu besar Mansion dan kemudian menoleh ke arah Maid setelah melewati pintunya.
"Katerea-chan di mana, bibi?"
Maid itu membungkuk sebentar.
"Katerea-sama ada di dapur, Naruto-sama."
"Dapur?" bingung Naruto, dan dijawab anggukan pelan oleh maid tersebut.
Naruto sedikit heran mendengarnya. Pasalnya, yang Naruto tau jika Katerea itu tak bisa memasak dan anti dapur, tapi kini Naruto mendengar bahwa Katerea ada di dapur, sungguh aneh.
Tak mau ambil pusing dengan pemikirannya itu, Naruto lebih memilih langsung melangkah ke dapur untuk melihat kegiatan Katerea sebenarnya.
Hingga tak lama kemudian Naruto sampai di ambang pintu dapur, di situ Naruto melihat Katerea sedang membuat sebuah adonan tertentu dengan seriusnya, dan di samping Katerea berdiri koki dapur yang nampaknya sedang membaca sebuah buku resep makanan.
"Astaga,"
Naruto geleng-geleng kepala pelan melihatnya. Ia kemudian melangkah mendekati Katerea, dan nampaknya koki tersebut melihat kehadiran Naruto, tapi Naruto langsung memberi kode agar koki tersebut untuk diam jangan memberitau Katerea jika dirinya ada di situ.
"Hey sayang, sedang apa?"
Katerea langsung tersentak, adonan yang sedang ia buat menjadi tak berbentuk rupanya karena saking terkejutnya mendengar suara Naruto tepat di belakangnya.
Dengan perlahan Katerea menoleh ke belakang.
"Naruuuu, kau mengagetkanku," Katerea sedikit kesal.
"Hehe... Maaf, maaf." cengengesan Naruto.
"Kamu sedang buat apa?" tanya Naruto setelah melirik adonan yang tadi dibuat Katerea.
"Itu... Itu..."
Naruto memiringkan kepalanya melihat reaksi gagap Katerea.
"Katerea-sama sedang membuat ramen, Naruto-sama,"
Seketika Katerea langsung menatap tajam koki tersebut.
"Jangan diberitau, sialan." Desis Katerea untuk koki tersebut.
"Astaga," Naruto menghela nafas.
__ADS_1
"ini, kau gendong Olive, biar aku yang melanjutkannya,"
"Tapi Naru, aku juga ingin bisa memasak,"
Naruto langsung menyentuh ujung hidung Katerea dengan jari telunjuknya.
"Kau tau, aku tak peduli kau bisa masak atau tidak. Yang penting kau turuti apa perintahku, oke," ucapnya dengan senyuman.
"Ba-baiklah," Katerea tersipu, perlakuan romantis Naruto ini tak dapat Katerea bantah lagi, ia hanya mampu menurut saja ucapan Naruto. Dan kemudian Katerea menerima Olive ke gendongannya.
Sedangkan si Koki sudah beranjak dari ruangan dapur tanpa diperintah oleh Katerea dan Naruto, pasalnya si Koki tak ingin mengganggu kegiatan tuan mereka, dan ia yakin bahwa tuannya itu tak akan marah terhadapnya.
"Mamamama..."
"Ouh... Anak Mama yang pintar," Katerea sungguh senang mendengar celotehan Olive yang hampir sempurna itu. Kemudian ia melirik ke arah Naruto yang sedang memulai membuat bahan ramen.
"Sayang, bantu Tou-sanmu yuk,"
"Mamamampapapapa," dengan riang Olive menjawab dengan celotehannya, hal itu membuat Naruto dan Katerea tersenyum senang mendengarnya.
Sungguh kebahagiaan, para Maid dan Pelayan Leviathan yang melihat kegiatan Naruto dan Katerea itu hanya bisa tersenyum dari ambang pintu dapur.
Pancaran kebahagiaan jelas terlihat ketika kegiatan membuat ramen itu diselingi dengan canda tawa, kadang pula Naruto menjahili Katerea dengan mencolekkan adonan ke hidung Katerea.
Tak mau kalah, Katerea juga membalas dengan mencolekkan adonan ke pipi Naruto, dan hal itu membuat si Olive kecil juga terlihat ingin ikut-ikutan seperti kedua orang tuanya. Tapi walau begitu, tak ada rasa kesal Naruto dan Katerea, melainkan rasa senang yang dirasa oleh mereka.
Dan akhirnya, acara membuat ramen pun tak terasa sudah jadi. Menghiraukan bahwa di wajah Naruto dan Katerea penuh dengan bercak adonan, bahkan ada cap adonan berbentuk telapak tangan kecil yang diasumsikan itu adalah cap tangan Olive di wajah Naruto dan Katerea, sedangkan Olive hanya di telapak tangannya yang penuh dengan adonan tadi.
Tapi mereka senang, kegiatan seperti itu mampu menghiraukan betapa kotornya wajah mereka.
"Ramen spesial buatanku telah jadi," Naruto langsung menawarkan kepada Katerea yang stay menggendong Olive.
"Mau mencobanya, Sayang?"
Katerea hanya mengangguk pelan, ia kemudian mengambil sendok di dekatnya untuk mencoba masakan Naruto.
"Emm... Ini enak,"
"Suami siapa dulu yang memasaknya,"
"Ah kamu ini,"
"Hehehe..."
.
.
"JANGAN BERCANDA BOCAH!"
.
Teriakan Lord Leviathan yang cukup keras dari halaman depan Mansion, membuat Naruto dan Katerea menolehkan kepalanya ke arah luar.
__ADS_1
"Sepertinya ada sesuatu masalah di depan," Naruto bergumam.
"Sepertinya begitu," timpal Katerea.
Lalu Naruto meletakkan mangkuk ramennya di atas meja.
"Aku ingin melihatnya,"
"Tunggu Naru," Katerea mencegah, membuat gerakan satu langkah Naruto terhenti. Kemudian Katerea mengambil tisu di dekatnya.
"Bersihkan dulu wajahmu," ucap Katerea sambil menyerahkan tisu tersebut.
"Terima kasih,"
Naruto menerima tisu tersebut, kemudian Naruto melangkah ke luar dapur sambil membersihkan wajahnya yang penuh adonan menempel.
Hingga langkah Naruto telah sampai di ruang utama, dan wajah Naruto telah bersih dari adonan.
Disana, di pintu masuk Mansion, Naruto melihat Lord Leviathan sedang memarahi seorang anak kecil berumur 10 tahun yang berjenis kelamin perempuan. Anak tersebut menunduk sedih saat di marahi oleh Lord Leviathan.
"AKU TAK SUDI!"
"Hey, hey, hey, ada apa ini?"
Lord Leviathan langsung menoleh ke arah Naruto yang sedang menghampirinya.
"Cih," dan langsung mendesis, kemudian Lord Leviathan menoleh ke arah Penjaga yang selalu berdiri di ambang pintu utama tersebut.
"Bawa anak ini pergi dari hadapanku," ucapnya sambil menunjuk anak kecil di hadapannya, dan kemudian Lord leviathan melangkah pergi setelah tau Naruto menghampirinya.
Memang tidak di pungkiri, Naruto dan Lord Leviathan sejak awal memang saling bermusuhan. Bahkan, walau hidup seMansion pun jarang ada percakapan antara Naruto dan Lord Leviathan, sungguh aneh.
Setelah kepergian Lord Leviathan, Naruto menatap penjaga pintu tersebut.
"Ada apa tadi?"
"Ini Naruto-sama," kata penjaga pintu tersebut sambil menyerahkan secarik kertas kepada Naruto.
Naruto menerimanya, kemudian ia buka kertas tersebut. Dan ternyata di dalam kertas tersebut ada sebuah tulisan tangan, kemudian Naruto membacanya.
Hal yang sangat mengejutkan bagi Naruto setelah ia membaca tulisan tersebut. Tulisan itu menyatakan sebuah ungkapan seseorang untuk Lord Leviathan, sebuah pengakuan dari seseorang yang sudah tiada yang menyatakan bahwa anak yang berada di hadapan Naruto adalah anak dari Lord Leviathan yang bertulis nama Ingvild.
Tapi ketika melihat reaksi Lord Leviathan tadi, Naruto berasumsi bahwa Lord Leviathan tidak mengakuinya. Sungguh, Naruto sangat benci terhadap pria brengsek seperti mertuanya itu, sangat tidak mencerminkan lelaki sejati yang bertanggung jawab.
Setelat puas dan tau isi dari kertas tersebut, kini Naruto berjongkok, menyamakan tingginya dengan anak di hadapannya yang bernama Ingvild itu yang selalu menundukkan kepalanya dari tadi.
"Hey Nak, selama ini kamu tinggal di mana?" tangan kanan Naruto memegang pundak kiri Ingvild.
"A-aku tinggal sendirian di pinggiran hutan timur," balas Ingvild.
.
.
__ADS_1
T.B.C