STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 183


__ADS_3

.


#Skip Sore


.


Ruangan sederhana, hanya luas 6x6 meter persegi. Di situ ada Azazel yang dari tadi menggerutu sebal entah karena apa, dan Sirzech yang duduk santai tanpa terganggu suasana.


"Di mana orang yang menyuruh kita ke sini, Sir? Aku bisa mati kebosanan jika menunggu dia terus di sini," kesal Azazel.


"Aku tidak tau, jangan tan..."


.


SRING!


.


"Yo! Sudah menunggu lama?"


Ucap Naruto yang baru muncul langsung menyapa. Dengan tampang tanpa dosanya, ia melambaikan sedikit tangan kirinya, karena tangan kanannya putus.


"Cih! Cepat katakan Sialam! Kau menyuruh kami berkumpul di sini karena apa?" ucap Azazel, ia terlihat seperti orang yang tak sabaran dan terburu-buru saat ini.


Naruto tersenyum, kemudian duduk di kursi yang sudah di sediakan.


"Sabar Azazel, malam pertamamu itu besok. Jangan terburu-buru." Ucapnya sedikit mengejek.


"Cih!" dan Azazel lebih memilih memalingkan wajahnya dari pada menanggapi ejekan Naruto.


"Jadi, apa yang ingin kau bahas, Naruto?" tanya Sirzech.


"Huh..." Naruto menghela nafas.


"Begini, bisa kalian buatkan surat undangan untuk Aliansi kembali. 20 surat undangan,"


Azazel dan Sirzech menaikkan sebelah alisnya.


""20?"" ucap mereka bersamaan.


"Yap. 3 di antaranya untuk kalian dan Michael. Sisanya biar aku yang urus."


"Kau ingin mengundang siapa, Kampret! 20 itu banyak, bahkan Mitologi berbagai dunia saja tak sebanyak itu." Heran Azazel.


"Ada lah. Bukan berbagai Mitologi, melainkan Organisasi yang menyangkut kalian para mahkluk supranatural." Balas Naruto memberitau.


Kini Azazel dan Sirzech melebarkan mata terkejut.


"Serius?" kejut Sirzech. Dan hanya di balas anggukan oleh Naruto.


"Maka dari itu, sebelum terjadi dampak buruknya nanti, aku akan menjadi penengah. Agar tak terjadi kesalahpahaman nanti ke depannya."


Sirzech mengangguk.


"Baiklah-baiklah, terserah dirimu sajalah. Apa yang menurutmu benar, maka jalani saja. Aku akan segera mengurus suratnya."


Naruto pun mengangguk. Kemudian terjadi keheningan, hingga tiba-tiba Azazel menghela nafas.


"Jadi, Cuma itu saja kan yang ingin kau sampaikan?" ucap Azazel.


"Ya." Singkat Naruto.


Srek!


Azazel berdiri dari duduknya.


"Aku pamit sekarang."


"Ya." Singkat Naruto, sedangkan Sirzech hanya mengangguk saja.


Azazel menyiapkan sihir teleportnya. Tiba-tiba di bawah kaki Azazel muncul lingkaran sihir. Kemudian naik secara perlahan, menghilangkan Azazel dari ruangan tersebut.


Srek!

__ADS_1


Tiba-tiba Sirzech berdiri. "Sepertinya aku pamit juga,"


"Tunggu Sirzech."


Sirzech yang hendak menyiapkan sihir telepornya terhenti, ia menoleh ke arah Naruto.


"Minggu depan kan waktu sekolah sudah di mulai lagi. Tolong daftarkan sekolah untuk anak-anakku Gray, Mirajane, Rin, Lucy, dan Liya. Serta Robin jadikan guru sejarah." Minta Naruto.


"Huh..." Azazel menghela nafas.


"Nanti akan kuusahakan. Aku juga mengurus murid baru selain anak-anakmu, asal kau tau ya,"


"Siapa?"


"Perwakilan dari Fraksi Malaikat, Irina Shido dan Shirou Emiya, mereka menjadi murid. Perwakilan Malaikat Jatuh, Azazel sendiri dan Vali, menjadi guru dan murid. Perwakilan Mitologi Shinto, Amaterasu dan Tsukoyomi sebagai guru. Perwakilan Mitologi Nordik, Rossweisse sebagai guru. Perwakilan Mitologi Olympians, Antena dan Aphrodite sebagai guru juga. Kalau untuk bangsa Yokai sudah jelas ada anakmu, Minato, ditambah dengan adanya Kuroka nantinya," Jelas Sirzech memberitau.


Naruto sedikit menaikkan sebelah alisnya, penjelasan Sirzech sangatlah rinci sehingga membuatnya sedikit berpikir mencari kejanggalannya yang dirasanya.


"Tunggu dulu. Kenapa Mitologi Shinto dan Olympians malah mengajukan Dewi penting Mitologi mereka?" tanya Naruto setelah menemukan kejanggalannya."


"Aku tidak tau. Jangan tanya aku."


"Hah... Bagaimana kau ini Sirzech, hal seperti itu masa tidak tau,"


"kalau aku tau, aku sudah memberitaumu lah."


"Ya, Ya, Ya," ucap santai Naruto.


"Oh ya satu lagi,"


Sirzech yang hendak menyiapkan sihir teleport terhenti lagi, ia menoleh ke arah Naruto kembali.


"Apa lagi?"


"Vali dan Issei mungkin bisa masuk sekolah mulai minggu depan, aku ada urusan penting dengannya,"


"Ya, aku tau itu. Kemarin setelah kekacauan kau sudah bilang padaku. Kau akan mengExtrak Albion dan Draig ke tubuh baru, sekaligus pembuatan tanganmu itu. Iya kan?"


"Kau tenang saja soal itu." Ucap Sirzech.


"Aku pergi sekarang, aku juga ada kepentingan di rumah,"


"Ya,"


Sama seperti Azazel. Sirzech juga menghilang dengan lingkaran sihirnya sendiri. Dan kini di ruangan itu hanya tersisa Naruto saja.


SRING!


Tak perlu bantuan lingkaran sihir, Naruto menghilang dalam sekejap mata, dan entah ke mana tujuannya.


.


#Skip 1 Jam Kemudian (Laboratorium tersembunyi, Underword)


.


Tit! Tit! Tit! Tit! Tit!


Cessssssssssss!


2 tabung besar terbuka. Nampak di ruangan itu ada beberapa tabung terlihat. 2 tabung yang yang terbuka, serta 2 tabung lagi yang berisi Cloningan manusia yang belum berbentuk.


Naruto menoleh ke belakang, ke arah Issei dan Vali.


"Kalian masuklah ke dalam situ, proses pengeXtrakkan membutuhkan 1 minggu lamanya," ucapnya.


Vali mengangguk mengerti, sedangkan Issei memiringkan kepalanya, seperti bingung akan sesuatu. Dan Naruto tau itu, sehingga ia menghela nafas.


"Kalian tak usah cemas. Walau sampai 1 minggu kalian tak makan, kalian tak akan kelaparan. Karena nanti akan disuply nutrisi untuk tubuh kalian selama 1 minggu," ucap Naruto memberitau.


Dan akhirnya Issei pun mengangguk mengerti. Tiba-tiba sayap mekanik muncul di punggung Vali, diikuti munculnya Outlet hijau di tangan kanan Issei.


"Ayah. Boleh kutanya sesuatu?" tanya Draig dari Outlet hijau di tangan Issei yang berkedip.

__ADS_1


"Apa?"


"Apakah nanti bentuk fisik kita seperti dulu atau berubah?"


"Naruto tersenyum.


"Kau tenang saja Draig. Tubuh baru untuk kalian sudah kuatur seperti tubuh dulu kalian. Termasuk jenis kelaminnya juga," balas Naruto memberitau.


"Hmm..."


Naruto menoleh ke arah sayap mekanik di punggung Vali.


"Lalu, apa yang ingin kau tanyakan, Albi?"


"Sama seperti Draig. Tapi sudah di jawab tadi ya sudah, tak ada lagi yang ingin kutanyakan," balas Albion dari sayap mekanik di punggung Vali yang berkedip.


"Baiklah kalau begitu," balas singkat Naruto.


Sayap mekanik di punggung Vali dan Outlet hijau di tangan kanan Issei, semuanya menghilang. Issei dan Vali mengangguk, dengan perlahan mereka memasuki tabung itu dan rebahan, seperti orang tidur pada umumnya.


Tit!


Cesssssssssss!


Naruto menekan tombol hijau di hadapannya. Seketika tabung kaca itu tertutup dengan perlahan.


Tit! Tit! Tit! Tit!


Berbagai tombol ia pencet, seperti memprogram sesuatu. Dan benar, hasil programannya Naruto mendapatkan reaksi. Yaitu selang yang menyalur ke tabung berisi Cloningan Manusia, tiba-tiba ada cairan yang merambat ke situ.


Serta tampilan layar di hadapan Naruto menampilkan gambar jam pasir yang terus berputar dan sebuah angka persen yang masih menunjukkan angka 0.


"Huh..." Naruto menghela nafas. Setelah semuanya beres, ia beranjak dari tempat itu.


Tak jauh dari tempat tadi Naruto, ia pindah dan sekarang sedang menatap sebuah Aquarium sedang yang di dalamnya ada sebuah tangan buatan berwarna putih polos.


Sama seperti tempat tadi, di depan Aquarium juga ada layar dengan gambar yang sama persis seperti tadi, Cuma bedanya pada angkanya saja, yaitu menunjukkan angka 14.


Setelah puas mengamatinya, Naruto beranjak dari tempat itu, langsung menuju tembok ruangan yang ada tombol merahnya.


Tit!


Naruto menekan tombol itu, tiba-tiba tembok ruangan itu bergeser. Seperti sebuah pintu rahasia yang menghubungkan ke ruangan lain di situ. Dan akhirnya Naruto melangkah masuk pintu rahasia itu, dan seketika tembok itu kembali bergeser, menutup secara otomatis.


Dapat dilihat, tempat Naruto berada ternyata ruangan yang penuh buku-buku yang tersusun rapih di rak buku. Serta sebuah meja di pojok ruangan yang penuh kertas coretan-coretan kanji rumit hasil tangan Naruto.


"Huh..." Naruto menghela nafas pasrah.


"Tempat ini tak berubah sama sekali. Penuh rumuh-rumus Hiraishin gagal dan lain sebagainya," gumam Naruto.


"Coba kau ingat, Gaki. Kapan terakhir kau meneliti rumus pindah Dimensi," tiba-tiba Kurama bersuara, dan langsung bertanya.


Naruto memegang dagunya, ia sedang mengingat-ingat.


"Kalau tidak salah, sudah 25 tahun." Ucapnya.


"Dan sepertinya kau lupa akan tujuan awalmu setelah banyak wanita menghampiriku."


"Tidak seperti itu, Kurama. Aku masih memikirkannya kok, cuman belum menemukan jalan keluarnya saja."


"Kau itu selalu menggampangkan sesuatu tindakan,"


"Hehe... Itu sudah menjadi ciri khasku, Kurama."


"Hmm..."


Terjadi keheningan, tak ada yang bersuara. Hanya suara langkah kaki Naruto yang hendak menaiki tangga menuju ke arah atas.


.


.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2