
.
#Dimensi Underword
.
Bukan di dimensi bangsa Naga, melainkan dimensi luar, atau lebih tepatnya daratan Underword. Tanah yang dihuni oleh bangsa Iblis dan sejenisnya.
Jauh sebelah ujung utara Underword. Tempat itu terdapat sebuah gunung yang cukup tinggi dan juga jarang di jamah oleh bangsa iblis.
Gunung itu terdapat sebuah gua. Gua kecil yang mungkin hanya bisa di masuki oleh mahkluk yang seukuran manusia. Akan tetapi, di dalamnya nampak luas dan terdapat sebuah kolam kecil alami di dalamnya.
Dan di situ pula Great Red berada. Ia dengan mode manusianya duduk di tepian kolam. Matanya memandang air yang jernih di kolam tersebut.
'Red-chan, bukan seperti itu.'
Sedikit senyuman tercetak di wajahnya. Bayangan masa lalunya saat dirinya di ajarkan memasak oleh Naruto terbayang sekarang.
Sungguh hal menyenangkan baginya. Ada seseorang yang dengan senang hati membimbingnya, menasehatinya jika salah.
Tiba-tiba wajah Great Red berubah sendu. Bayangannya terbayang waktu kejadian terakhir kali dirinya memutuskan untuk pergi dari kehidupan bersama mereka yang disebut Keluarga.
"Apa kau merindukanku, Naru?" gumamnya.
"Maafkan aku. Aku tau waktu itu kau hanya membiarkan, bukan mengusir. Dan aku baru menyadari perkataanmu itu sekarang," ucapnya sedih.
Ia menyalahkan diri sendiri, merutuki kebodohannya yang baru memahami ucapan Naruto dulu.
Tapi dirinya telah mengatakan kepada anak merela bahwa ia di usir olehnya. Sungguh kesalahan fatal dirinya.
Ia sudah bosan hidup dalam Kesendirian. Terus dihantui rasa Penyesalan akhir-akhir ini.
Great Red ingin kembali. Kembali pada Mate-nya, tapi ia takut. Takut apabila Mate-nya sudah tak mau menerimanya.
Sungguh menyedihkan. Sekelas Naga sang mahkluk terluat di dunia kini sedang bersedih. Bersedih karena suatu penyesalan karena baru memahami suatu kata sederhana.
.
.
.
Bukan Cuma Great Red yang bersedih seperti itu, Kholkikos juga. Ia berada di bagian ujung selatan Underword.
Dirinya duduk di atas sebuah batu besar di atas gunung sambil memeluk kedua lututnya. Sedikit bekas air mata tercetak di pipinya, sepertinya ia habis menangis.
.
.
""Naru, apa kau mau menerimaku kembali?""
Batin Great Red dan Kholkikos bersamaan di tempat yang berbeda. Mereka telah bosan hidup dalam Kesepian tanpa warna.
Berharap suatu pemberi warna akan senantiasa mewarnainya kembali.
.
# 63 tahun kemudian
.
*Duaaaar!*
*Boooom!*
__ADS_1
Kehancuran. Di tempat yang gersang di tanah Underword ini menjadi hancur. Ledakan dimana-mana akibat suatu serangan sihir penghancur entah dari bangsa Iblis atau bangsa Malaikat Jatuh.
Inilah peperangan. Perang antara bangsa Iblis yang dipimpin oleh Lucifer dan bangsa Malaikat Jatuh..
Dua kubu itu saling berperang merebutkan suatu kekuasaan. Tak ada yang mau mengalah, semuanya mempertahankan apa yang menjadi hak kekuasaan mereka.
Akibat itu, membuat sang kami di Surga harus bertindak menghentikan peperangan Tak Berarti itu.
Sang kami akhirnya mengutus para Malaikat untuk menghentikan peperangan mereka.
Akan tetapi, setiba para Malaikat di medang peperangan itu, bukan malah menyelesaikan permasalahan peperangan.
Melainkan bangsa Malaikat terseret dalam perang itu. Dan terjadilah peperangan 3 kubu antar bangsa yang berbeda-beda.
"GOARRRRRRRR!"
Perang itu terhenti.
Mereka yang berperang terkejut saat tiba-tiba datang bangsa lain. Yaitu bangsa Naga yang meramaikan peperangan itu.
Di sebelah barat, nampak Great Red dengan Draig. Dari timur, nampak Kholkikos dengan Albion. Dari utara, nampak Trihexa666. Dari selatan, nampak Ophis. Mereka semua dalam mode Naga mereka, kecuali Ophis yang hanya diam acuh saja.
*Wush! Wush! Wush! Wush!*
Dari barat dan timur. Great Red, Kholkikos, Draig dan Albion melesat ke pertengahan medan perang.
*DUARRRRRRRRR!*
Benturan keras antar kepala Great Red dan Kholkikos. Begitu juga Draig dengan Albion.
Great Red menatap sengit Kholkikos.
"Semua karenamu ." Ucap Grat Red dengan nada bencinya.
Bukan takut. Kholkikos balik menatap sengit Great Red.
*Wush! Wush!*
Great Red dan Kholkikos saling mundur. Mereka terus saling tatap sengit dan saling Menyalahkan akan hal sesuatu.
Bahkan mereka berdua tak menyadari, jika ada beberapa korban yang mati akibat tertimpa tubuh besar Naganya. Karena Emosi, mereka menghiraukan semua yang ada di sekitarnya.
Berbeda dengan Draig dan Albion. Mereka malah nampak seperti bersenang senang, Pertarungannya seperti biasanya saat berlatih bersama.
Terus bertarung, tak memperdulikan bahwa telah bayak yang menjadi korban atas tak sengajanya terkena serangan Draig dan Albion yang dilancarkan untuk menyerang.
Dan pada akhirnya peperangan antar 3 kubu itu terhenti. Mereka semua sepakat melakukan genjatan senjata, menyudahi perangnya.
Dan kini perangnya adalah melawan bangsa Naga itu yang seenak jidatnya meramaikan perang.
Apalagi sekarang nampak Trihexa666 mulai bergerak. Ikut bertarung melawan Great Red dan Kholkilos.
Sedangkan Ophis, ia lebih memilih memperhatikan saja. Tak ada niatan dirinya untuk ikut melakukan tindakan bodoh. Ia sadar, bertarung tanpa sebab itu hannyalah kegiatan yang sia-sia.
Dibalik itu semua. Sang kami masih tetap tak ada gerakan sama sekali. Ia melayang, tersenyum ramah atas kehadiran bangsa Naga tersebut.
Karena sang kami maha tau, hanya 1 orang yang mampu menghentikan bangsa Naga dengan kebijakannya.
Sang kami memudar menjadi serpihan cahaya, dan menghilang. Bukan Kabur yang kami lakukan, melainkan menjemput sang Takdir akan semua penyelesaian atas kerusuhan bangsa Naga yang dilakukan saat ini.
.
.
.
__ADS_1
#Skip Dimensi Naga
.
*Clup!*
Kail pancingan jatuh di atas permukaan air. Kini Naruto sedang memancing di sebuah rawa yang tak jauh dari rumahnya.
Sekedar menghilangkan Kejenuhan adalah hal terbaik yaitu memancing. Bersabar, menunggu kail yang dilempar akan disambar oleh ikan.
Akan tetapi ketenangan Naruto sedikit terganggu atas munculnya serpihan cahaya yang melayang di hadapannya.
Sontak Naruto menjadi waspada, melupakan kail pancingannya. Ia kini fokus memperhatikan serpihan cahaya tersebut yang kini sedang membentuk suatu rupa.
"Tenanglah wahai manusia yang penuh kebijakan."
Sedikit menaikkan alisnya bingung saat tiba-tiba cahaya terang di hadapannya bersuara.
"Jangan bingung, aku adalah Kami-sama,"
"Kami-Sama?"
Bingung Naruto memiringkan kepalanya. Batinnya bertanya-tanya.
'' Apa aku mimpi?''
Karena Tuhan Maha Tau, maka ia juga tau apa yang dibingungkan oleh Naruto. Tuhan pun berkata.
"Kau tidak bermimpi wahai manusia. Apa yang kau lihat itu benar apa adanya."
Dan akhirnya Naruto percaya bahwa apa yang berada di hadapannya memang sang Tuhan. Karena Aura yang terpancar begitu bersih dan suci tanpa noda, begitu tenang dan hangat yang mampu membawa siapa saja merasa damai akan Auranya. Itu yang dirasa oleh Naruto sejak kemunculan sang Tuhan dari tadi.
Naruto membungkuk, mengakui bahwa derajatnya lebih rendah dari sosok di hadapannya.
"Sungguh suatu kehormatan bagiku yang penuh dosa ini didatangi oleh anda wahai Kami-sama," ucap Naruto merendah diri.
Sang Tuhan tersenyum.
"Suatu takdir. Yang mampu menyelesaikan pertingkaian bangsa Naga hanya dirimu sesuai takdirnya," jelas sang Tuhan memberitau.
Antara percaya dan tidak. Itu suatu pilihan yang sulit, dan Naruto sedang mengalami hal itu.
Tapi nyatanya Naruto harus dibuat percaya atas ucapan sang Tuhan. Karena apa yang diucapkan telah membawa-bawa soal Takdirnya.
"Maksud anda?" tanya Naruto masih membungkuk merendah.
"Kedua istrimu dan kedua anakmu sedang bertingkai di tengah-tengah medang perang antar tiga kubu." Jelas sang Tuhan memberitau.
Seketika Naruto langsung melebarkan mata terkejut atas pemberitahuan langsung dari sang kami kepadanya.
"Dan sesuai takdir tertulis, hanya kau yang mampu melerai pertingkaian bangsa Naga," sambung sang Tuhan.
Seketika Naruto langsung menegakkan badannya.
"Bawa aku kesana, Kami-Sama. Aku tak ingin mendengar banyak korban atas tindakan konyol mereka." Ucap Naruto dengan yakin.
Selain yakin, sebenarnya Naruto juga Merindukan mereka, khususnya untuk kedua anaknya.
Naruto hanya ingin melihat kedua anaknya yang telah tumbuh dewasa tanpa sepengetahuannya cukup lama. Dan berharap bahwa kedua anaknya juga merindukannya.
Dan sang Tuhan tau apa yang dirasa oleh Naruto, sehingga ia tersenyum.
"Pilihan yang bijak wahai manusia yang penuh kebijakan," ucap sang kami.
Tiba-tiba tubuh Naruto memudar menjadi cahaya bersamaan dengan sang kami yang memudar menjadi serpihan cahaya. Dan lama-kelamaan serpihan cahaya itu hilang dalam sekejap mata.
__ADS_1
.
T.B.C