
.
"Na Naruto-kun," gagap Lady Sitri melihat kehadiran Naruto saat ini. Sedangkan Naruto yang melihat reaksi kejut dari Lady Sitri hanya tersenyum membuat Lady Sitri melangkah pelan mendekati Naruto.
"I-ini sungguh kamu Nak?" tanyanya dan dibalas anggukan kepala oleh Naruto.
Grep!
"Hiks, kamu dari mana saja Nak, kami semua mencarimu selama puluhan tahun," ucap penuh kerinduan dari mulut Lady Sitri yang pastinya rasa rindu terhadap sosok yang sudah di anggap anaknya sendiri sejak menikah dengan Serafall.
Sedangkan Serafall hanya memaklumi saja, karena rasa kerinduan ibunya terhadap Naruto itu bagaikan orang tua yang berjumpa anaknya, tak ada rasa lain.
Jadi Serafall tak perlu cemburu atau apa saat melihat suaminya dipeluk ibunya saat ini, pikirnya.
Tiba-tiba Lady Sitri melepaskan pelukannya terhadap Naruto dengan ekspresi senang dan air mata bahagia yang tadi sempat keluar dari matanya telah diusap oleh tangannya.
"Kamu tak pernah berubah ya? Masih seperti dulu penampilannya," ucap Lady Sitri di hadapan Naruto.
"Um, Inilah aku Okaa-san. Masih sama seperti dulu yaitu sebagai ayah dari anak-anaknya Sera dan Grayfia pastinya," angguk Naruto membuat Serafall dan Lady Sitri tersenyum.
"Kamu ya," senyum Lady Sitri.
"Oh ya, Otou-sanmu pasti senang jika kamu ada disini," tiba-tiba Lady Sitri langsung menoleh kearah pelayan yang ada di ruangan itu.
"Tolong panggilkan suamiku untuk datang kemari, bilang ada Naruto-kun disini," sambungnya memerintah pelayan tersebut dan langsung dijawab anggukan oleh pelayan tersebut.
"Hai Nyonya," dan kemudian pelayan tersebut langsung melangkah ke sisi lain Mansion Sitri.
Lalu Lady Sitri menoleh ke arah Naruto lagi.
"Tidak buru-buru kan Naruto-kun?" tanya Lady Sitri setelah pelayan tersebut tak terlihat lagi.
"Tidak kok Okaa-san. Aku juga ingin berbicara dengan Otou-san sebenarnya." Balas Naruto memberi tau membuat Lady Sitri mengangguk mengerti.
Lalu mereka bertiga duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu sambil mengobrol berbagai hal menunggu kedatangan Lord Sitri.
Hingga tak berselang lama obrolan Naruto dengan Lady Sitri terhenti karena munculnya Lord Sitri dari arah belakang mereka serta diikuti oleh pelayan yang tadi diperintah oleh Lady Sitri
"Na-Naruto," gagap Lord Sitri saat itu yang diam mematung tak jauh di belakang Naruto.
Sontak mereka bertiga yang duduk di situ langsung menoleh ke arah Lord Sitri.
"Hmm," hanya dengusan saja sebagai jawaban dari Naruto dan entah kenapa Lady Sitri menundukkan kepalanya sedangkan Lord Sitri tak bisa berucap apa-apa.
Mulutnya seolah-olah terkunci untuk mengucapkan sesuatu kepada Naruto.
__ADS_1
Srek!
Tiba-tiba Naruto beranjak dari duduknya dan langsung berbalik badan dan melangkah menghampiri Lord Sitri.
"Bisa aku bicara sebentar denganmu, Otou-san?" ucap Naruto bertanya dengan nada tenang kepada Lord Sitri.
Dan entah kenapa Lord Sitri tambah terdiam tak bisa berucap apa-apa sehingga hanya anggukan pelan sebagai jawabannya.
"Mungkin sedikit mengobrol di perpustakaan tak masalah. Aku juga ingin meminjam beberapa buku soalnya," sambung Naruto dan dijawab anggukkan kepala lagi oleh Lord Sitri.
Lalu mereka berdua melangkah menuju ke perpustakaan Sitri dengan Naruto melangkah di depan Lord Sitri yang berjarak hanya 1 meter saja.
"Apakah suamimu akan memaafkan Tou-sanmu, Sera?" tanya Lady Sitri setelah Naruto dan suaminya tak ada di ruangan tersebut.
"Entahlah Kaa-sama, semoga Naru-kun bisa memaafkan tindakkan Otou-sama dulu," balas Serafall sedikit tak yakin saat mengucapkannya.
"Semoga saja," singkat Lady Sitri berharap.
Dan selanjutnya mereka berdua melanjutkan lagi obrolannya antara ibu dan anak dengan berbagai macam obrolan mereka bahas.
.
#Dengan Naruto
.
.
Langkah kaki beriringan antara Naruto dan Lord Sitri yang berada di belakangnya. Tak ada suara yang berucap sejak dari tadi awal melangkah menuju ke perpustakaan.
Mereka diam, dengan Naruto yang seolah biasa saja tak ada masalah sedangkan Lord Sitri yang sedang menahan keinginan untuk berucap tapi sangat susah untuk diucapkan.
Hingga langkah mereka sampai di perpustakaan pun tak ada yang berucap.
Sehingga Naruto terus melangkah ke deretan rak-rak buku yang begitu luas pun tak ada keinginan untuk berucap.
"Maaf," dengan sedikit keberanian akhirnya Lord Sitri berucap tapi masih dalam langkah mengikuti Naruto di belakangnya.
"Sudahlah, semua itu sudah menjadi masa lalu. Tak perlu dibahas lagi," kata Naruto yang masih melangkah sambil mencari buku yang diinginkan.
"Tetap saja. Aku butuh maaf darimu, karena semuanya disebabkan olehku."
Set!
Tiba-tiba langkah Naruto terhenti dan sepertinya buku yang dicari pun sudah ketemu lalu mengambilnya.
__ADS_1
"Sejujurnya. Dulu saat aku tau sebab semua permasalahan rumah tanggaku dikarenakan olehmu. Aku sangat marah dan benci terhadapmu," ucap Naruto dan buku yang dicari sudah di genggamannya yang bertulisan
'Taktik dan Strategi' tanpa menoleh ke arah Lord Sitri yang diam menunduk.
"Dan sepertinya kau telah menyesali atas apa yang kau perbuatanmu dulu," kata Naruto sambil membuka buku tersebut.
"Jujur. Kalau kau bukan ayah mertuaku. Mungkin aku tak mau untuk memaafkanmu, karena aku tak tega melihat Sera dan Grayfia yang bersujud di hadapanku atas penyesalannya." Sambungnya sambil membuka halaman per halaman bukunya.
Dan Lord Sitri masih tetap dalam mode diam menunduknya.
"Rumah tanggaku dan rumah tanggamu itu berbeda. Walaupun aku sudah menjadi bagian keluargamu, tapi cara berumah tanggaku itu berbeda dengan dirimu yang selalu memprioritaskan kekuatan dan kecerdasan. Di rumah tanggaku tak ada prinsip seperti itu, semuanya sama. Mau lemah atau kuatnya itu sama saja bagiku. "
" Dan aku punya caraku sendiri dalam mengajari keluargaku yang benar, entah itu cara lembut atau kasar pun itu urusanku dan orang lain tak perlu ikut campur. Karena bagiku, kerukunan dan keharmonisan keluarga adalah prinsip utamaku," ucapan panjang lebar Naruto sambil membaca isi buku di tangannya tanpa berpindah pandangan dari bukunya.
"Kau memang benar, apa yang aku lakukan memang salah dan aku telah mendapat ganjarannya atas apa yang ku perbuat terhadap rumah tanggamu. Dan sekarang aku sudah tak memperdulikan lagi soal kehormatan yang kubangga-banggakan lagi. Semuanya sudah mulai kuperbaiki, hanya tinggal ucapan maafmu untuk diriku yang memang salah," ucapan Lord Sitri penuh penyesalan dan berharap akan kata maaf dari Naruto.
Buk!
Sepertinya Naruto telah melihat semua isi buku per halamannya sehingga ia menutup bukunya yang setebal 2 cm.
Lalu berbalik badan dan menghadap Lord Sitri yang sedang menunduk.
Puk!
Lord Sitri langsung menegakkan kepalanya setelah merasakan sensasi sentuhan tangan yang menyentuh bahunya yang ternyata tangan milik Naruto.
"Sudah kukatakan, aku sudah melupakan itu semua. Biarkan masa lalu menjadi kenangan yang terurai dan menghilang oleh waktu. Toh semuanya sudah kembali normal. Dengan kata lain aku telah memaafkanmu, Otou-san," ucapan tulus dari Naruto sambil tersenyum meyakinkan membuat Lord Sitri terharu karena senang atas ucapan maaf dari Naruto.
"Terima kasih," ucap senang Lord Sitri.
"Ya," singkat Naruto sebagai jawaban. Lalu mengakhiri acara memegang bahu Lord Sitri.
"Oh ya Otou-san, apakah ada buku yang sama seperti ini, soalnya aku membutuhkan 2 buku seperti ini." Sambungnya sambil menunjukkan buku di tangannya.
"Bukannya itu buku strategi perang? untuk apa buku itu?" bukannya menjawab, Lord Sitri malah bertanya.
"Sona dan Rias memintaku untuk melatih mereka. Karena mereka adalah King dalam Evil Piece maka akan kuberikan pelajaran seperti ini," kata Naruto membalas pertanyaan Lord Sitri.
"Baiklah aku mengerti, dengan kata lain kau ingin mengajarkan mereka strategi perang sungguhan. Dan pengaplikasiannya perang yang dimaksud itu adalah acara Rating Game untuk mereka nantinya?" kata Lord Sitri yang tau maksud dari ucapannya Naruto.
Dan langsung dijawab anggukan oleh Naruto.
"Mungkin ada disisi lain," sambung Lord Sitri lalu melangkah kesisi lain rak buku dan pastinya diikuti oleh Naruto sambil mengobrol biasa yang sepertinya Lord Sitri sudah mulai tak kaku lagi untuk berbicara dengan Naruto semenjak mendapatkan maaf dari Naruto tadi.
.
__ADS_1
.
T.B.C