STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 197 Arc Skip Time 4 : Salah mengurai kata


__ADS_3

.


# 10 tahun kemudian


.


Waktu berlalu, tak terasa sudah 10 tahun lamanya semenjak latih tanding Draig dan Albion.


Nampak banyak perubahan. Draig terlihat lebih giat berlatih mengontrol Senjutsu, karena dirinya iri melihat Albion bisa mode Senjutsu. Walau begitu, mereka tak saling bermusuhan, malah sebaliknya.


Albion dengan senang hati membantu pelatihan Draig. Karena bagaimana pun Albion juga perlu penyempurnaannya. Jadi berlatih mengontrol bersama adalah pilihan tepat, pikir Albion.


Lain anak, lain ibunya. Jika Draig dan Albion nampak akur-akur saja, tapi ibu mereka nampak seperti bermusuhan entah penyebabnya apa. Sehingga membuat Naruto pusing melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil saja.


Bahkan pernah mereka saling bertarung dengan alasan tak jelas. Tak main-main, bahkan pertarungan mereka sangat serius sekali. Sampai-sampai membakar habis setengah hutan yang ditempati Naruto sekarang.


Dan pastinya, jika mereka saling bertarung, pasti membuat Naruto kerepotan melerainya. Dan itu wajib bagi Naruto, karena dirinya adalah pemimpin keluarga.


Jika tidak bisa mengatur para istrinya, maka dia menganggap dirinya sendiri adalah pemimpin keluarga yang paling gagal.


Naruto tau, dirinya memang lemah dalam hal kekuatan maupun fisik. Ibarat semut bagi bangsa Naga ini. Tapi jangan salah, dia tak akan takut kepada siapa pun apabila menyangkut keluarganya.


Naruto akan tegas, tidak peduli jika istrinya itu Naga yang memiliki kekuatan besar. Jika mereka sulit diatur, maka Naruto akan bertindak.


Seperti saat ini. Naruto sedang bersedekap dada, menatap kedua istri Naganya yang duduk Seiza dan saling memalingkan wajahnya.


Mereka berdua habis bertarung sengit yang entah keberapa kalinya. Dan Naruto sedang melerai entah keberapa kalinya.


"Katakan. Apa alasan kalian melakukan pertarungan tadi?" tanya Naruto dengan sedikit membentak.


""Tidak ada.""


Jawab cepat mereka berdua.


"Huh..." Naruto menghela nafas, ia duduk bersila.


"Lihat aku."


Tak ada respon, Great Red dan Kholkikos masih saja memalingkan wajahnya. Kesal, Naruto kesal karena ucapannya di abaikan oleh mereka. Seketika tangan kanan Naruto terangkat.


*BRAK!*


"LIHAT KESINI SEKARANG!"


Bentak keras Naruto. Ia menggebrak meja kecil di hadapannya hingga hancur karena saking kesalnya tadi. Sontak membuat mereka tersentak karena kaget.


Dan akhirnya mereka pun menoleh ke hadapan Naruto. Akan tetapi, arah pupil matanya entah mengarah ke mana, bukan ke arah Naruto.


"Lihat kesini! Tatap aku sekarang!" kata Naruto membentak.


Sedikit dipaksakan, akhirnya mereka mau menatap Naruto.


"Katakan. Apa alasan kalian selalu bertarung seperti tadi?"

__ADS_1


Tak ada balasan, mereka terdiam seperti enggan untuk menjawab.


"Huh..." Naruto menghela nafas, ia memijit pelipisnya yang pusing itu.


"Kalian sudah dewasa. Draig dan Albion saja sudah besar. Tapi tingkah kalian semakin lama semakin kayak anak kecil." Ucap Naruto.


Great Red dan Kholkikos tetap terdiam.


"Apa gunanya si, melakukan tindakan bodoh kalian? Kesenangan kah? Atau kepuasan?" Naruto terdiam sebentar. Dan mereka tetap masih terdiam.


"Kalau iya, bukan seperti itu caranya. Kalian bisa melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat ketimbang perkelahian bodoh kalian." Ucap Naruto menasehati.


"Huh..." tiba-tiba Kholkikos menghela nafas.


"Kau tau Naru. Aku sudah muak." Ucapnya.


"Muak karena apa?"


"Aku muak melihatmu yang selalu lebih memperhatikan anaknya si sialan Red. Kau lebih perhatian terhadapnya ketimbang Albion."


Seketika Great Red menatap sengit Kholkikos.


"Yang benar saja kau sialan! Anakmu jauh lebih diperhatikan ketimbang anakku. Asal kau tau." Ucap sengit Great Red.


Kholkikos balik menatap sengit Great Red.


"Apa kau bilang! Sudah jelas anakmu jauh lebih diperhatikan ketimbang anakku."


"Hey Kholki Sialan. Punya mata dipakai. Kau buta ya, sudah jelas anakmu jauh lebih diperhatikannya."


"Kau!"


Berbagai perdebatan sengit mereka berdua, bahkan sampai melupakan Naruto yang berada di hadapan mereka.


Tangan Naruto mengepal. Ia kesal, ternyata alasan mereka selama ini hannyalah alasan yang terbilang konyol di dengar.


Menyangkut anak, kurang perhatian. Omong kosong, Naruto tak pernah pilih kasih, semuanya dia anggap sama. Yaitu keluarga.


"DIAM!"


Perdebatan Great Red dan Kholkikos pun terhenti karena bentakan keras Naruto. Seketika mereka menoleh ke arah Naruto yang sedang menatap tajam mereka berdua.


"Hanya itu. Hanya itu alasan kalian saling bertarung." Ucap datar Naruto.


"Omong kosong! Kalian menilaiku pilih kasih? Asal kalian tau, aku memiliki caraku sendiri untuk memperhatikan mereka. Tidak seperti kalian yang malah sibuk saling bertarung tak jelas." Sedikit amarah meluap, Naruto dengan entengnya malah memarahi Great Red dan Kholkikos.


*Srek!*


Tiba-tiba Kholkikos berdiri.


"Tau ah. Aku juga bosan diatur-atur olehmu, lebih baik aku pergi dari sini." Ucap datar Kholkikos.


Naruto menatap tajam Kholkikos. Tangannya menunjuk arah luar dan berkata.

__ADS_1


"Silahkan. Kau datang kesini dengan sendirinya, maka kau pergi pun aku tak melarangnya."


Kholkikos terdiam. Ucapan enteng Naruto membuatnya sedikit Sakit. Pasalnya ia tadi berharap akan mendapat ucapan Pencegahan dari Naruto. Tapi nyatanya malah sebaliknya.


Walau berat dirasa. Kholkikos langsung berbalik badan, Tiba-tiba di depan Kholkikos tercipta sebuah portal Dimensi.


Seketika pula Kholkikos langsung memasukinya dan menghilang ditelan portal itu.


Keheningan pun terjadi. Kini di ruangan itu hanya ada Naruto yang sedang mengatur ketenangannya. Dan Great Red yang diam membisu.


"Tega kau, Naru."


Tiba-tiba Great Red berucap, membuat Naruto menoleh kepadanya.


"Tega apanya?"


"Kau tega. Aku dan Kholki memang bermusuhan. Tapi tetap saja, Kholki itu istrimu, sama sepertiku. Bukan seharusnya kau usir dari sini."


Naruto menopang dagunya,


"Lalu, apa kau juga ingin ikut pergi dengannya?"


Seketika Great Red langsung terdiam. Sedikit kata pun tak bisa ia keluarkan. Seolah-olah mulut dan lidah terkunci atas ucapan Naruto yang terbilang enteng tanpa beban sedikit pun.


"Kalau mau pergi, Silahkan. Jadi kau bebas bertarung sepuasnya tanpa kuhentikan." Sambung Naruto.


*Srek!*


Great Red berdiri.


"Baik. Aku akan pergi." Ucap datarnya karena emosinya sambil menciptakan portal dimensi di sampingnya.


"Jangan pernah mencariku." Sambungnya sambil memasuki portal tersebut. Seketika hilang tak menyisakan apa-apa. Hanya Naruto saja yang ada di ruangan itu.


"Huh..." sedikit menghela nafas untuk mengatur ketenangannya.


"Baka," gumamnya, sambil menerawang langit-langit ruangan itu.


Sedikit mengutuk diri sendiri karena terbawa emosi. Tapi tak ada pilihan, jika dirinya tak tegas. Maka harga diri sebagai laki-laki akan diinjak-injak oleh mereka.


Naruto tak mau itu terjadi. Ia tersenyum, seperti menemukan sesuatu yang dapat menghilangkan emosinya.


.


"Setidaknya aku masih memiliki harta paling berharga yang tak ada gantinya. Anak-anakku."


.


.


T.B.C


.

__ADS_1


Yo Minna maafkan author ya yang up nya terlambat karena dari kemaren masih di perjalanan keluar kota.


Sekali lagi gomenasai...


__ADS_2