STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 169


__ADS_3

.


"Wah Kawai..."


"Selamat Yuri, kau telah menjadi seorang ayah sekarang,"


Ucap Mavis serta yang lainnya. Dan Yuri hanya cengengesan saja mendengarnya.


Istrinya Yuri menoleh ke arah Mavis.


"Master, apakah kau mau memberikan nama untuk anakku?" ucapnya.


Sontak Mavis langsung menoleh ke arah Istrinya Yuri, dan yang lainnya langsung menoleh ke arah Mavis.


"Kok aku, bukannya yang berhak memberi nama itu kalian berdua?"


"Tidak apa-apa Master, aku juga setuju dengan Istriku. Kira-kira Master punya nama yang bagus ngak?" timpal Yuri menambahkan.


Mavis mengangguk mengerti.


"Hmm..." dan ia memegang dagunya sambil berpikir.


Tiba-tiba muncul lampu bercahaya di atas kepala Mavis.


"Aha. Bagaimana kalau Makarov, bagaimana?"


"Nama yang bagus, iyakan sayang," ucap Yuri lalu meminta pendapat istrinya, dan di balas anggukan lemah olehnya.


"Baiklah, selamat datang Makarov Dreyar. Suatu saat kau akan menjadi penyihir hebat di Fairy Tail." ucap senang Yuri.


Mavis dan anggota lainnya nampaknya ikut bahagia melihat pancaran rasa kebahagiaan yang di rasa oleh Yuri dan istrinya saat ini.


Itu terlihat jelas di senyuman Mavis dan yang lainnya seperti terseret untuk ikut merasakan kebahagiaan yang di rasa oleh Yuri dan istrinya.


Tanpa disadari, gambar kutukan pada dada Mavis bercahaya, tapi tak di sadari oleh Mavis yang sekarang sedang merasa bahagia dan senang, sehingga melupakan kutukan yang tertanam pada dirinya.


.


1 Minggu kemudian


.


Duka dan kesedihan, itu yang di rasa oleh seluruh anggota Fairy Tail, terutama Yuri Dreyar atas kematian Istrinya yang secara mendadak tanpa sebab.


Begitu juga Mavis, ia dihantui oleh rasa bersalah yang sangat besar atas kematian istrinya Yuri. Ia sadar, kematian istrinya Yuri disebabkan oleh kutukan pada dirinya selama ini.


Mavis memutuskan, ia pergi menjauh dari orang-orang dan menyerahkan kepemimpinan Organisasi Fairy Tail kepada Perecht.


ia yakin, dengan keputusannya itu tak ada lagi kematian orang-orang di dekatnya mulai saat itu.


Mavis pergi menjauh, ia tak ingin melihat kematian orang-orang yang mati di dekatnya lagi. Jauh dari orang-orang, itu yang dipikirkan Mavis saat itu.


.


44 Tahun kemudian


.


Terus menyendiri, tak terasa sudah 44 tahun Mavis terus menghindar dari kerumunan orang-orang dengan cara bertahan hidup di dalam hutan.

__ADS_1


Walau terasa kesepian, Mavis terus menjalani kehidupannya dengan sabar tanpa mengeluh sedikit pun.


Memang harus diakui, Mavis telah mencoba berbagai cara untuk mengakhiri hidupnya, akan tetapi ia tak berhasil sama sekali, itu karena kutukan yang tertanam bukan hanya kutukan Kematian untuk orang-orang di sekitarnya, tetapi masih ada kutukan lainnya yaitu kutukan keabadian.


Kini Mavis sedang berjalan ke dalam hutan. semenjak ia tinggal sendiri di dalam hutan, ia mengandalkan bahan makanan yang tumbuh di dalam hutan, apapun yang penting bisa untuk di makan, pikir Mavis.


Tiba-tiba Mavis terhenti langkahnya, ia menoleh ke samping kanan lalu mengendus. Nampaknya ia mencium aroma sesuatu.


Karena penasaran, Mavis melangkah, mencari sumber aroma yang ia cium sekarang ini. Sambil terus menerobos semak-semak tinggi, Mavis terus melangkah terus dengan hati-hati.


Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya Mavis telah dekat dengan sumber aroma yang di tangkap hidungnya, ia terhenti lalu mencoba membuka semak-semak di depannya dengan perlahan.


Dan ternyata yang dilihat oleh Mavis adalah punggung pria dewasa berambut kuning jabrik yang sedang duduk di batang kayu besar, yaitu Naruto yang sedang mengangkat ikan yang di bakar di hadapannya.


Srek!


Ikan bakar yang mau masuk ke mulut Naruto terhenti, kemudian Naruto menoleh ke belakang dengan cepat.


Sedangkan Mavis langsung menutup semaknya dan berjongkok untuk bersembunyi saat tau Naruto menoleh ke arahnya, berharap agar tak di ketahui oleh Naruto.


Tapi nyatanya Naruto malah beranjak dari duduknya melangkah perlahan ke arah Mavis tanpa di ketahui oleh Mavis.


"Anooo, sedang apa kau disini adik kecil?"


Mavis tersentak, ia menoleh ke belakang dengan perlahan.


"Ano... Ano..." gugup Mavis, ia tak tau harus menjawab apa saat situasi seperti itu.


Sedangkan Naruto yang melihat gelagat Mavis dibuat bingung tak mengerti.


Kriuuuuuuuk!


"Huh," Naruto menghela nafas.


"Aku membakar banyak ikan, ikutlah," ajaknya.


Dengan kepala yang masih menunduk, Mavis mengikuti Naruto menuju api unggun yang di buat oleh Naruto.


Dan langsung duduk di samping Naruto.


Naruto mengangkat ikan yang di bakar.


"Hati-hati, masih panas." Ucapnya sambil menyerahkan ikan bakar tersebut.


Mavis menerimanya.


"Terima kasih," ucapnya lirih.


"Hmm,"


Lalu Mavis memakan ikan tersebut dengan lahap, bahkan sampai membuat Naruto tercengang melihatnya.


Pasalnya ikan bakar yang di berikan ke Mavis itu yang paling besar, tapi Naruto memakluminya, mungkin dia sangat lapar, pikir Naruto.


"Uhuk! Uhuk!"


"Ini airnya,"


Mavis tersedak, ia langsung menyambar segelas air yang di berikan Naruto.

__ADS_1


Glek! Glek! Glek! Glek!


"Ahhh..."


Lega Mavis setelah meminum air yang di berikan oleh Naruto.


"Terima kasih atas makanannya," ucapnya.


"Tidak masalah, masih banyak kok," balas Naruto.


"Ngomong-ngomong kau sedang apa di dalam hutan seperti ini adik kec...Au!"


Pertanyaan Naruto tak selesai, ia merintih kesakitan karena lengannya di cubit oleh Mavis.


"Aku bukan anak kecil. Umurku lebih dari 50 tahun asal kau tau."


Naruto menaikkan sebelah alisnya, ia memperhatikan Mavis dari atas kepala sampai kakinya.


"Kau bercanda ya, dilihat dari mana pun kau itu anak ke... Tunggu dulu." Ucapan Naruto terhenti, sepertinya ia menemukan sesuatu pada dalam tubuh Mavis.


Mavis memiringkan kepalanya bingung saat di perhatikan oleh Naruto.


"Ada apa?"


"Apa kau terkena kutukan?"


Mavis terdiam, ia menunduk dan hanya anggukan pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Naruto.


"Sudah kuduga, jadi kutukan apa yang kau miliki?"


"Kutukan yang merengut nyawa seseorang di sekitarku saat aku merasa bahagia dan kutukan Keabadian . "


"Hmm... Malang sekali hidupmu ya, pasti sangat berat ya memiliki 2 kutukan sekaligus. Apa lagi kutukan yang pertama kau sebutkan itu. Aku tak bisa membayangkannya, bagaimana kau bertahan hidup selama ini," ucap Naruto iba.


Mavis memegang erat gelas di genggamannya.


"Mau bagaimana lagi, hanya demi menghentikan ambisi temanku dulu, aku jadi seperti ini," ucap Mavis sendu.


"Jangan bersedih seperti itu, mungkin aku bisa membantumu mengatasi salah satu kutukannya,"


Mavis melebarkan mata, ia langsung menatap Naruto.


"Sungguh?"


Naruto mengangguk.


"Kau berhak bahagia seperti yang lainnya. Coba kau tunjukkan segel Kutukannya,"


Plak!


"Mesum!"


.


.


.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2