
.
"HAHAHAHAHA! Shisho diperk*s*. HAHAHAHA!"
.
.
.
#Skip Keesokan hari
.
.
Hening, tak ada suara yang keluar dari mulut Katerea dan Naruto saat ini. Yap. Saat ini Naruto sedang mengantarkan Katerea keluar hutan.
Dengan Katerea yang mengikuti Naruto dua meter di belakang sambil menunduk.
Bahkan sesekali Katerea bersemu merah. Ingatan tadi pagi saat terbangun dengan posisi masih menindih Naruto membuatnya terus teringat, bahkan sulit untuk dilupakan.
*Bruk...*
Tiba-tiba Naruto berhenti, membuat Katerea menabrak punggung Naruto.
"Aku hanya bisa mengantarkannya sampai sini," kata Naruto tanpa menoleh ke arah Katerea.
"Um." Katerea mengangguk sambil menunduk. Melangkah melewati Naruto dan masih menunduk tanpa pepatah kata pun.
"Hey." Katerea menghentikan langkahnya, menoleh perlahan ke arah suara yang memanggilnya.
"Boleh ku tau namamu?" tanya Naruto.
"Ka-Katerea Leviathan,"
Naruto hanya mengangguk pelan, lalu berbalik badan.
"Jika terjadi sesuatu padamu, kau bisa mencariku disini. Namaku Naruto Namikaze,"
"Um." Angguk Katerea.
Naruto pun melangkah memasuki hutan kembali dan Katerea berbalik badan melangkah keluar hutan. Hingga langkahnya benar-benar sudah di luar hutan, Katerea langsung membuat lingkaran teleport khasnya dan menteleport dirinya pulang ke rumahnya.
.
.
*Sring!*
.
Katerea muncul di ruang tengah rumahnya. Ia menghela nafas pelan lalu melangkah naik ke lantai dua tanpa tolah-toleh lagi.
"Dari mana saja kau, Katerea?"
__ADS_1
Katerea menghentika langkahnya pas di pertengahan tangga, ia menoleh ke bawah ke arah sosok pria berambut coklat acak-acakan. Dia ayahnya, Lord Leviathan.
Membenarkan kacamatanya dan menatap ayahnya sebal.
"Seharusnya Tou-san tau, Tou-san memberikan aku pasukan yang lemah semua," ucapnya bosan.
"Itu karena Nee-san lemah, kalah ya wajar," ejekan seseorang tiba-tiba terdengar yang keluar dari pintu belakang.
Seorang perempuan yang memiliki rambut coklat panjang yang lurus sepinggang, wajahnya terlihat sombong dan bangga atas ucapannya tadi.
Katerea langsung menatap benci perempuan itu.
"Itu bukan urusanmu, Saya!" ucapnya dengan nada tak suka terhadap perempuan itu. (Kirasaka Sayaka : Strike the Blood) saudara Katerea tapi beda ibu.
"Kau contoh Sayaka, Katerea. Dia berhasil merebut perbatasan bagian barat hanya dengan pasukan sedikit," kata Lord Leviathan.
"Cih."
Katerea mendesis kesal. Ini yang paling tidak disuka oleh Katerea. Ayahnya selalu membanggakan sosok Sayaka ketimbang dirinya. Hanya masalah kecerdasan dan keuletan yang menjadi perbedaan Sayaka dan Katerea membuat Lord Leviahan membedakan itu semua.
Dan hal yang paling dibenci Katerea adalah saudaranya selalu mengejeknya jelek, bahkan teman-teman seumurannya juga sering menjelek-jelekan Katerea, Sehingga membuat Katerea enggan untuk keluar rumah jika tak penting sama sekali.
Katerea langsung melangkah memasuki kamarnya tanpa sepatah apapun, dan wajah sombong penuh kemenangan Sayaka tambah jelas karena dirinya senang atas pujian ayahnya tadi.
.
.
.
#Skip 2 Minggu kemudian
.
"A-apa, Ne Nee-san hamil?" kejut Sayaka.
"Ha, Lucu sekali. Mana mungkin ada pria yang mau menghamili Nee-san yang jelek seperti itu? Jikapun pria itu dibayar oleh Nee-san, pria itu pasti akan menolak karena tak selera melihat kejelekan Nee-san," cukup tidak percaya dengan kejadian yang barusan terjadi.
Sayaka pikir kejadian Katerea muntah-muntah tadi pagi hanya sekedar sebuah penyakit ringan. Tapi setelah Lord Leviathan memaksa Katerea mengecek penyakitnya di rumah sakit, Sayaka benar-benar dibuat tak percaya dengan hasilnya.
*BRAK!*
Lord Leviathan menggebrak meja dengan kasar.
"KATAKAN KATEREA! SIAPA YANG TELAH MENGHAMILIMU!" bentakan keras Lord Leviathan.
Katerea hanya menunduk, meremas erat kertas hasil pemeriksaan rumah sakit yang menyatakan dirinya positif hamil dan baru berusia 2 minggu.
Cukup sakit memang ucapan Sayaka membuat Katerea semakin meremas erat kertas di tangannya.
"Tou-san beri waktu hari ini. Jika tak bisa membawa pria yang menghamilimu, maka bersiap untuk dicoret dari daftar keluarga ini. Tou-san tak sudi anak yang memalukan sepertimu."
*Srek!*
Katerea langsung berdiri tegak, ia menatap tajam ayahnya.
__ADS_1
"Akan kubuktikan siapa yang lebih memalukan di keluarga ini. Aku atau Tou-san," ucap sengit Katerea bersamaan dengan terciptanya lingkaran sihir teleport di bawah kaki Katerea.
"Kurang ajar!"
*Sring!*
Belum sempat Lord Leviathan menampar Katerea penuh amarah. Katerea telah menghilang terlebih dahulu.
"Dasar anak kurang ajar!" teriak kesal Lord Katerea langsung melangkah keluar ruangan tengah.
Bahkan wajah emosinya membut para pelayan dan Maid ketakutan melihatnya.
Begitu juga Sayaka, ia melangkah keluar Mansionnya dengan sebuah senyuman. Sebuah senyuman serigai yang tercetak jelas di wajah Sayaka.
"Arizona harus tau, agar aku bisa Mempermalukan Nee-san dan merebut posisi pewaris, Fufufu..."
.
.
.
Sedangkan di dalam hutan tempat Katerea berada sekarang. Nampak Naruto duduk bersila membawa kertas yang tadi dibawa oleh Katerea. Dan Katerea duduk menunduk di hadapan Naruto.
"Huh..." Naruto menghela nafas, meletakan kertas yang dibaca di samping duduknya dan menatap Katerea untuk memastikan sesuatu sebelum ia benar-benar percaya dengan tulisan di kertas yang tadi ia baca.
"Jadi, kata dokter sudah berapa lama usia kandunganmu?"
"Du-dua minggu," ucap Lirih Katerea membuat Naruto mengangguk mengerti.
*Srek..*
Naruto beranjak dari duduknya dan melangkah pelan mendekati Katerea. Sedangkan Katerea semakin menunduk melihat Naruto mendekatinya.
Tapi tiba-tiba Katerea melebarkan mata ketika dirinya merasakan sebuah usapan di atas kepalanya.
Katerea mendongakan kepalanya dengan perlahan dan tambah melebarkan mata terkejut ketika melihat Naruro tersenyum kepadanya.
"Ini juga salahku. Jika saja aku tak menaruh sake di sampingku dulu, mungkin kau tak akan meminumnya dan kejadian malam itu tak akan terjadi."
"Ta-tapi..."
Naruto jongkok, menyamakan tingginya dengan Katerea yang duduk. Menempelkan dahinya ke dahi Katerea.
"jangan khawatir. Aku bersedia bertanggung jawab," kata Naruto meyakinkan.
*Grep!*
Katerea langsung memeluk Naruto. Air mata senang yang tak dapat dibendung akhirnya tumpah. Rasa senangnya akan sebuah pengakuan tulus seseorang untuk dirinya. Hanya untuk dirinya, walau melalui Katalis takdir yang memalukan menurutnya.
Ketampanan adalah sebagai tambahan, sejatinya Katerea tersentuh akan ketulusan Naruto tadi saat mengucapaknnya.
Naruto hanya tersenyum, mengusap punggung Katerea. Dia hanya berpikir bahwa janin yang dikandung Katerea adalah anaknya. Maka ia akan bertanggung jawab untuk menjadi seorang ayah untuk janin tersebut.
.
__ADS_1
.
T.B.C