STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 198


__ADS_3

Waktu berlalu, tak terasa sudah waktu sore terasa. Kini nampak di depan rumah sederhana Naruto ada Draig dan Albion.


Mereka baru pulang dari latihannya bersama-sama. Jika dilihat dari obrolan senang mereka, maka sudah pasti latihan mereka cukup menyenangkan tadi.


Obrolan santai mereka pun terhenti. Draig memegang ganggang pintunya.


*Krieeeeeeet!*


""Tadaima!""


Ucap mereka berdua, bersamaan dengan pintu yang terbuka.


Hening, tak ada jawaban dari dalam. Hanya hembusan angin yang keluar masuk rumah itu. Sedikit bingung dan heran, karena baru kali ini mereka mengucapkan salam tapi tak ada jawaban. Tanpa harus ambil pusing, mereka akhirnya masuk begitu saja, berharap di dalam ada orang tua mereka.


*Tap! Tap! Tap!*


Langkah kaki mereka akhirnya membawanya ke ruang tengah, tapi tetap saja di situ sepi, tak ada seorang pun. Akan tetapi mereka bingung. Bingung akan banyak sajian makanan di atas meja yang tertata rapi. Tapi mereka tau siapa yang membuat itu semua, siapa lagi kalau bukan ayah mereka. Karena sang ayahlah yang bisa memasak di keluarga ini.


Bersyukurlah karena memiliki ayah yang hebat. Ayah mereka bahkan pandai bercocok tanam, sehingga bahan masakan tak akan bingung mencarinya.


"Ah Draig, Albion. Baru pulang?"


Dari arah dapur Naruto berucap sambil membawa 1 gelas minuman untuk dirinya. Sontak membuat Draig dan Albion menoleh ke arahnya.


"Otou-san, ini ada apa?" tanya Draig sambil menunjuk sajian makanan di atas meja, dan didukung anggukan Albion.


"Untuk kalian." Balas Naruto sambil duduk menghadap sajian makanan di atas meja. "Kalian pasti lapar kan? Sehabis berlatih." Sambungnya.


""Um.""


Angguk kompak Draig dan Albion. Seketika mereka langsung duduk di tempat duduk mereka masing-masing.


""Itadakimasu""


Dengan lahap, Draig dan Albion langsung menyambar makan di atas meja itu.


Bukan hal aneh bagi Naruto melihat cara makan kedua anaknya yang terbilang Rakus dan Mengerikan. Malah Naruto senang, ia menopang dagunya, tersenyum melihat itu semua.


Sungguh kebahagiaan yang tak ada gantinya bagi Naruto. Melihat anak sendiri, darah dagingnya sendiri. Begitu antusias melakukan apa yang mereka mau. Seperti sekarang ini, walau cara makan mereka aneh, tapi Naruto tak melarangnya. Cukup melihat anaknya puas dan senang, itu sudah cukup bagi Naruto sekarang dan seterusnya.


Bagi Naruto. Mantan istri mungkin ada, tapi mantan anak tak akan pernah ada. Maka dari itu ia lebih senang bisa bersama anak-anaknya. Rasa cinta dan kasih sayangnya akan ia tuangkan kepada anak-anaknya sekarang.


Dan Naruto tak pusing memikirkan jawaban jika mereka menanyakan ibu mereka untuk Sekarang ini. Karena sejak 5 tahun ini ibu mereka nyatanya jarang sekali pulang. Jadi mereka akan berpikir bahwa ibu mereka tak pulang lagi. Tapi nyatanya, ibu mereka sudah tak akan pulang lagi tanpa mereka tau.


Biarkan itu mengalir terbawa waktu. Cukup pikirkan apa yang seharusnya dipikirkan. Yang paling penting bagi Naruto adalah kedua anaknya. Soal urusan ibu mereka, biar nanti saja.


Naruto mendongkrakkan kepalanya, menatap langit-langit ruangan tersebut.


.


"Kupikirkan nanti saja, jika mereka menanyakannya."


.


# 2 Tahun kemudian


.


2 tahun pun berlalu. Hal yang belum Naruto pikirkan akhirnya harus membuatnya berpikir secara cepat dan harus benar-benar matang.


Kini, di ruang utama rumah sederhananya. Naruto sedang ditatap oleh kedua putrinya. Yaitu Draig dan Albion yang menatapnya penuh kepastian. Seperti seseorang yang sedang menginterogasi penjahat yang ke tangkap basah.

__ADS_1


Berusaha untuk tetap tenang adalah pilihan tepat. Sebisa mungkin Naruto harus berusaha tetap tenang walau tak tau harus berbuat apa setelah ini.


"Katakan Otou-san. Apa iya, Otou-san mengusir Okaa-san dari sini?" Tanya Draig.


Naruto terdiam. Alasan yang belum sempat terpikirkan sekarang telah dipertanyakan.


"Huh..." helaan nafas tercipta dari mulut Naruto. Ia menatap atap dan mencoba untuk tenang, walau nyatanya ia bingung harus mengatakan apa.


"Kalian sudah dewasa, kalian pasti tau akan suatu kebenarannya." Ucapnya yang keluar dari mulutnya. Naruto tau, seandainya ia mengatakan 'Otou-san tak penar mengusirnya. Otou-san hanya membiarkan saja. Itu hak Okaa-san kalian,' itu percuma. Pasti mereka telah dihasut ibu mereka di dimensi luar.


Walau nyatanya Naruto memang tak pernah mengusir ibu mereka, melainkan membiarkannya dan mempersilahkan. Itu Hak mereka, Naruto tak pernah melarangnya.


Ia hanya memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah yang mengayomi keluarganya. Akan tetapi ibu mereka yang seakan tak tau dan mengerti caranya Naruto membimbing keluarganya.


""Jadi begitu ya..."" Gumam Draig dan Albion bersamaan.


Tiba-tiba wajah mereka berubah datar. Wajah benci mereka tampikan, hanya kepada sosok ayah mereka.


Mereka berbalik badan.


""Aku benci Otou-san!"" ucap keras mereka, bersamaan dengan mereka yang melangkah cepat keluar dari rumah sederhana itu.


Hal yang tak diinginkan Naruto, terjadi juga. Batin Naruto sangat-sangatlah Sakit. Lebih sakit dari pada ditusuk pedang pas di jantung atau dikhianati istri.


Ini jauh lebih sakit. Sakit karena dibenci oleh anak sendiri adalah suatu pengalaman yang paling pahit seumur hidupnya. Bahkan jika seluruh dunia membenci dirinya, itu tidak apa-apanya ketimbang dibenci anak sendiri.


Naruto menunduk, sedikit mengusap air mata yang tak mampu ditampung oleh matanya. Ia merasa gagal. Gagal sebagai seorang ayah yang seharusnya dibanggakan oleh anaknya.


Mulai sekarang ia akan kembali. Kembali ke awal dirinya terdampar di dimensi sekarang tempati. Yaitu kesunyian dan kehampaan.


Tak ada lagi tawa mereka, tak ada lagi wajah senang mereka yang menghiasi hari-harinya, Semuanya telah sirna mulai saat ini dan seterusnya.


.


"Hiks... Pemimpin keluarga apanya? Hiks... bahkan aku sekarang dibenci oleh anakku sendiri. Hiks..."


Gumamnya Terus merutuki, menyalahkan diri sendiri karena merasa telah gagal menjadi seorang pemimpin keluarga.


.


.


.


Dibalik Naruto yang bersedih. Di balik pagar rumahnya, tepat di bawah jendela yang mengarah ke ruang utama. Sehingga Naruto yang bersedih pun terlihat.


Di situ ada Ophis, ia menyenderkan punggungnya di pagar rumah tersebut. Dan pastinya tak diketahui oleh orang yang di dalam rumah.


Tangannya mengepal tepat di depan dadanya. Sedikit sendu, seperti merasakan apa yang dirasa oleh Naruto sekarang. Karena bagaimanapun ia tau, sejak tadi ia tau dari Draig dan Albion ada sampai dengan lantang mereka mengatakan benci kepada ayah mereka. Penyebab kesedihan Naruto.


.


"Sebegitu besarnya kah, kau menyayangi keluargamu, Naru,"


.


# 3 tahun kemudian


.


Hidup dalam kesepian sudah dirasa oleh Naruto selama 3 tahun. Sungguh berat, kehilangan sosok keluarga yang ke-2 kalinya bagi dirinya.

__ADS_1


Tapi ia tegar, itu semua adalah ujian takdir dirinya. Suatu saat akan mendapat kebahagiaannya sendiri walau takdir memberikan jalan yang berliku-liku, tapi tak apalah.


Tapi dibilang kesepian rasanya tak cocok untuk Naruto. Nyatanya ia sering dikunjungi oleh Ophis. Yah walau alasan Ophis berkunjung dengan alasan yang tak jelas pastinya.


Bahkan Naruto sendiri menyebut Ophis dengan sebutan Naga Loli. Dan sebutan itulah yang membuat Ophis sering marah-marah tak jelas kepadanya.


*Krieeeeeeet!*


Pintu rumah sederhananya terbuka. Nampak Naruto yang keluar dari rumah itu. Tampak tenang dirinya, ia menutup kembali pintu rumah tersebut.


Melangkah ke suatu tempat, kakinya membawanya ke halaman belakang yang dulu dijadikan tempat berlatih kekuatan oleh anak-anaknya. Ia terdiam, pandangannya lurus ke depan.


'Albi! Kau curang!'


'Salah sendiri karena tak bisa. Week!'


Naruto tersenyum. Terlintas bayangan Draig dan Albion yang begitu semangat berlatih kekuatan di hadapannya. Sungguh kenangan yang indah.


Cukup lama Naruto terdiam di situ hingga puas. Kemudian ia melangkah kembali ke suatu tempat lagi.


Langkahnya membawanya ke tempat dimana Great Red dan Kholkikos bertelur dan menetaskan Draig dan Albion, yaitu di dalam gua yang lumayan jauh dari rumahnya.


Naruto berdiri di ambang mulut gua, melihat ke dalam gua yang begitu luas, dan masih ada tumpukan jeraminya.


'Naru. Kau menginginkan anak kita laki-laki atau perempuan?'


'Uh... Rasanya tak sabar ingin melihat anakku."


Lagi-lagi Naruto tersenyum. Melihat sepintas bayangan Graat Red dan Kholkikos yang begitu antusias dan tak henti-hentinya untuk terus memeluk telur mereka.


Tiba-tiba wajah Naruto berubah sendu. Bayangan Itu semua adalah masa lalu, kini sudah tak bisa lagi mewujudkannya.


"Ya ampun..."


Gumamnya. Ia menghela nafas, sedikit melirik ke belakang.


"Keluarlah, Naga Loli. Aku tau kau mengikutiku sejak aku keluar dari rumah," ucap Naruto yang entah kepada siapa di belakangnya.


*Srek! Srek!*


Semak di belakang Naruto bergerak, Dan Naruto tau siapa yang berada di balik semak itu. Siapa lagi kalau bukan Ophis si Naga Loli yang sudah diketahui mengikuti Naruto sejak keluar rumah tadi.


Ophis pun terlihat, wajahnya menoleh ke samping. Wajahnya sedikit bersemu.


"Bisa tidak, Baka. Jangan memanggilku Naga Loli lagi," ucap Ophis.


Sedikit senyum tercetak di wajah Naruto. Senyuman orang yang sedang menjahili.


"Tapi kau tak keberatan kan, ku panggil seperti itu," ejek Naruto.


"Baka,"


Desis Ophis tak bisa mengelak. Walau nyatanya dirinya memang tak keberatan dipanggil seperti itu oleh Naruto.


 "Setidaknya hanya untuk dirimu," batin Ophis.


.


.


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2