
#12:47
.
"Huh!" helaan nafas yang keluar dari mulut Naruto saat ini yang bosan memandang 2 wanita dewasa yang saling tatap dengan aura permusuhan yang sangat pekat sangat terlihat jelas.
Yaitu Yasaka dan Izanami yang saling tatap di hadapan Naruto saat ini.
"Bisa kali-"
"DIAM!"
Bahkan Naruto yang ingin angkat suara pun langsung terpotong oleh bentakkan mereka berdua.
Sehingga membuat urat-urat di atas kepala Naruto mulai banyak bermunculan karena sedang menahan kesal yang meluap-luap pada dirinya.
Ctak! Ctak!
Dan akhirnya 2 jitakkan tangan mendarat di kepala mereka berdua dengan sang pelaku adalah Naruto sendiri yang sedang memasang wajah kesal kepada mereka berdua.
Sedangkan Yasaka dan Izanami langsung memegang kepalanya yang sedikit benjol oleh jitakkan Naruto.
"Sayang. Kenapa aku juga kena?" rintih kesakitan Yasaka.
"Lihatlah!" kata Naruto sambil menunjuk arah belakang Yasaka dan Izanami yang terdapat anak-anak Naruto sedang melihat ke arah mereka bertiga.
"Tidak sepantasnya hal seperti ini di tunjukkan kepada anak-anak. Kalian sudah dewasa, mengertilah." Sambung Naruto menasehati.
"Maaf," ucapan singkat Yasaka dan Izanami sambil menunduk setelah menoleh ke belakang mereka.
"Lalu, kau kesini ada acara apa, Izanami?" tanya Naruto yang sedikit heran dengan penampilan Izanami yang terbilang berbeda.
Tidak seperti ibu-ibu pada umumnya, melainkan seperti gadis remaja dalam masa puber saja.
"Kangen denganmu, Naru-kun," bukan jawaban yang didapat.
Melainkan sebuah ucapan menggoda dari Izanami sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Naruto tapi tak terpengaruh oleh Naruto yang dari tadi terus memasang wajah bosan.
Tapi tidak dengan Yasaka yang sudah keluar urat-urat kekesalan di kepalanya setelah melihat godaan Izanami yang di tunjukkan kepada suaminya.
"WOY! JANGAN MENGGODA SUAMIKU!"
Kesal Yasaka yang tak tahan jika Naruto terus di goda oleh Izanami.
Sedangkan Izanami terus menghiraukan ocehan Yasaka dan terus mencoba menggoda Naruto berharap akan dapat respon dari Naruto tapi Naruto sepertinya tak terpengaruh oleh godaannya.
Bukannya menyerah. Izanami malah semakin gencar menggoda Naruto yang sekarang dirinya pindah duduk di samping Naruto dan pastinya langsung disingkirkan oleh Yasaka yang dari tadi kesal melihat tingkah Izanami.
"Ayolah Yasaka, berbagilah dikit-dikit suamimu denganku," kata Izanami yang dari tadi berusaha mendekati Naruto tapi dihalangi oleh Yasaka di depannya.
"Jangan ngimpi, Izanami! Suamiku bukan barang yang seenaknya dipinjam oleh siapa pun!" balas sengit Yasaka tak mau kalah dengan Izanami.
Dan akhirnya Yasaka dan Izanami saling tatap-menatap dengan aura permusuhan yang sangat pekat menyelimuti mereka berdua dan kembali menghiraukan adanya Naruto di situ.
SREK!
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Naruto langsung beranjak dari duduknya dan melangkah keluar rumah menghiraukan percekcokan antar wanita yang menurut Naruto tak penting sama sekali.
Dan anehnya Yasaka dan Izanami tak menyadari kepergian Naruto karena masih tetap dalam mode tatap-menatapnya saat itu juga.
.
" Tunggulah sebentar lagi, kau pasti tidak akan bisa menolakku menjadi bagian keluarga ini, Yasaka," batin Izanami disela-sela tatap-menatapnya dengan Yasaka.
.
#Dengan Naruto
.
Terus berjalan tanpa henti dan entah berapa rumah warga telah Naruto lewati. Bosan, itu yang dirasa oleh Naruto saat ini.
Bosan karena tak memiliki acara apa pun, jika membukai kedai pun sudah kesiangan dan itu tidak bagus. Pikir Naruto.
" Mungkin Azazel ada di tempat biasanya,"
Batinya seketika menemukan hal menarik yang bisa menghilangkan rasa bosannya saat ini.
Tanpa pikir panjang Naruto langsung berbelok ke gang sempit nan sepi orang berlalu-lalang.
.
SRING!
.
Naruto langsung menghilang dalam sekejap dan muncul di pinggiran danau.
Yaitu si Azazel yang sedang memancing dengan tampang bosan hidup terus menunggu akan pancingannya disambar ikan. Dan hasilnya masih tetap sama dari dulu, tak pernah dapat ikan sama sekali.
"Nunggu ****** ***** lagi,"
Sapa Naruto santai sambil melangkah mendekati Azazel.
Dan Azazel tak melirik sama sekali karena sudah tau siapa pemilik suara tersebut. Hingga akhirnya Naruto duduk di sampingnya pun Azazel tak meliriknya sama sekali.
"Huh, kau ke mana saja selama seminggu ini?"
Tanya Azazel tanpa menoleh ke arah Naruto karena masih fokus dengan pancingannya.
"Huh!" hanya helaan nafas saja yang keluar dari mulut Naruto sambil mendongkrakkan kepalanya ke atas untuk melihat langit yang begitu cerah saat ini.
"Seharusnya kau tau, demi anakku. Apa pun akan kulakukan,"
Balas santai Naruto yang masih betah dengan acara memandang langitnya membuat Azazel menghela nafas tenang.
"Ten Commandments. Selain pasukkan iblis sebelum era Lucifer dan Khaos Brigade yang dipimpin Ouroboros Dragon. Organisasi apa lagi yang kau ketahui selain itu,"
Tanya Azazel membuat Naruto tak lagi memandang langit.
Dan kini Naruto memandang ke depan ke arah danau dengan kaki kanan diluruskan dan kaki kiri ditekuk sehingga menjadi tompangan tangan kirinya.
__ADS_1
"Hero Faction yang diisi oleh manusia-manusia pemegang Sacred Gear. Mungkin ketiga organisasi itu yang bisa membahayakan perdamaian. Tapi yang harus di waspadai adalah Ten Commandments, ya walaupun sekarang belum tau kapan akan terlepas dari segelnya. Tapi aku yakin, mereka akan bangkit karena si Fraudurin telah menampakkan diri, yang pastinya dia akan mengumpulkan pecahan-pecahan segelnya. Dan yang terakhir adalah darah dari malaikat wanita pertama yang diciptakan oleh tuhan yaitu Elizabeth. Kunci segel kebangkitan mereka." Jelas Naruto memberitau membuat Azazel memijat dahinya sendiri.
"Kau memang tau segalanya ya. Bahkan aku sendiri tak tau jika malaikat pertama ciptaan ayah adalah orang yang kau sebutkan tadi," kata Azazel menghela nafas tenang.
"Itulah gunanya pengetahuan. Akan berguna setiap saat,"
"Pantas saja kau disebut Ayah Dunia setelah Tuhan."
"Aku tak menyangkal itu,"
"Tanpa kau menyangkal pun, kau sudah di juluki Ayah oleh anak-anakmu yang berlusin-lusin. Bahkan pemegang Boosted Gear yang bercita-cita ingin menjadi harem king saja tak akan mampu mengalahkan jumlah harem-mu itu. "
" Dan kau telah merasakannya semua sedangkan pemegang Boosted Gear hanya fantasi liarnya saja tapi belum terwujud sama sekali." Kata Azazel sedikit rasa iri saat mengucapkannya.
"Jangan samakan aku dengan remaja puber sepertinya. Aku tak ada niatan mempunyai harem atau apapun itu. Tapi jalan takdir berkehendak lain ya mau bagaimana lagi." Balas Naruto santai.
"Cih! Belum lagi si Gabriel, Dewi perawan dari Olympians, Dewi yang berstatus Janda dari Shinto dan masih banyak lagi deretan calon harem-mu," kata Azazel kesal tanpa sadar menyebutkan banyak nama wanita sehingga Naruto langsung menoleh ke arahnya karena kesal.
"Woy! Woy! Jangan asal ngomong Azazel! Para wanita di rumahku saja sudah membuatku pusing. Jangan asal menambahkan kau!" kesal Naruto dengan ucapan Azazel yang terlalu lancar menyebutkan berbagai jenis wanita.
"Yang penting aku tak berminat dengan wanita yang kau sebutkan tadi." Sambungnya kembali menatap ke arah danau.
"Lihat saja nantinya," singkat Azazel.
Kemudian pancingan yang dari tadi di tangan Azazel di letakkan di tanah pas di sampingnya lalu menoleh ke arah Naruto.
"Ngomong-ngomong. Boleh kuminta pertolonganmu?" sambungnya bertanya.
"Bisa saja, asal jangan berkaitan dengan bawahanmu,"
"Bukan itu,"
"Terus apa?"
"Kau kan pernah menikah, otomatis kau pernah melamar wanita. Jadi, bagaimana cara melamar wanita yang simpel menurutmu?" jelas Azazel memberitau keinginannya.
"Pffffffft!" suara menahan tawa dari Naruto sebagai jawabannya. Sontak membuat Azazel menatap serius Naruto.
"Huh!" helaan nafas pun tercipta setelah ditatap serius oleh Azazel.
"Tak perlu hal mewah atau semacamnya, cukup niat keseriusanmu kau sampaikan pada keluarga si wanita." Kata Naruto tenang dan Azazel hanya mengangguk-angguk saja.
"Tenang saja, aku yakin Hel akan langsung menerimamu. Karena kau dan dia ya sebelas dua belas lah, sama-sama memiliki tampang bosan hidup, hehehe," sambungnya di akhiri dengan tawa dibuat-buat.
Dan Azazel hanya menghela nafas pasrah, sudah jadi kebiasaan Naruto yang memiliki mulut yang suka menghina tapi Azazel tak mempermasalahkannya karena itu hanya leluconnya Naruto saja.
"Kau harus menemaniku untuk acara itu," kata Azazel yang sudah kembali menoleh ke arah depan.
"Hai hai, dan rencananya kapan?" tanya Naruto santai dan juga kembali menoleh ke arah depan.
"Minggu depan setelah menghadiri undangan Sirzech," balas Azazel tanpa menoleh dan Naruto hanya mengangguk saja tak ingin tau apa maksud undangan Sirzech kepada Azazel.
Dan pada akhirnya Naruto dan Azazel melanjutkan lagi obrolannya sesama pria seperti hari-hari biasa saat mereka bersama.
Dengan Azazel yang selalu mengeluh tentang bawahannya sedangkan Naruto yang selalu memberi motivasi untuk Azazel.
__ADS_1
.
T.B.C