STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 171


__ADS_3

.


"WOY! SIALAN! AKU BUKAN PEDOFIL! AKU PRIA NORMAL ASAL KALIAN TAU! AKU INI PECINTA MILF NOMOR SATU YA!" bentak Naruto sangat keras,


tak menyadari bahwa ucapannya membuat pandangan aneh orang-orang yang mendengarnya.


Orang-orang yang mendengarnya langsung menutup dadanya, terutama yang memiliki dada besar dan langsung lari menjauh.


"MENJAUH DARI PRIA BRENGSEK SEMUANYA! NANTI DADANYA DIREMAS OLEHNYA!" teriak para wanita yang berlari.


Naruto terdiam.


"Sial! Apa yang telah kuucapkan tadi?" dan sepertinya menyadari teriakannya tadi yang membuat para wanita di situ lari menjauh.


"Pffffffffh! Hahahahaha!"


Naruto kembali kesal, ia menatap tajam Mavis yang sedang tertawa terbahak-bahak.


Set!


Grep!


Karena malu plus kesal, Naruto langsung menyeret Mavis pergi menjauh sangat cepat dari tempat itu.


Sangat jauh Naruto menyeret Mavis.


"Tunggu Naru, berhenti di sini." tiba-tiba Mavis minta berhenti.


"Apa lagi ha! Kau ingin membuatku malu di sini apa?" kesal Naruto.


"Bukan itu. Tapi itu," balas Mavis sambil menunjuk Kedai di seberang jalan yang bertulis Fairy Tail di plang pintunya.


"Itu tempat yang kucari,"


Dengan cepat Naruto langsung menyeret Mavis menyeberang jalan, ia bertindak seperti itu karena sudah kesal dan ingin cepat-cepat menjauh dari Mavis, sekaligus menuntaskan janjinya kepada Mavis.


Kring!


Mereka berdua langsung masuk kedai tersebut, langsung menuju counter kedai yang paling depan.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" ucap pria paruh baya, bertag name Macao Conbolt di baju pelayan pas di dada kirinya.


"Pemilik Kedainya ada?" tanya Naruto.


"Ada Tuan,"


"Tolong panggilkan dia, aku ingin berbicara penting dengannya,"


"Baik Tuan,"


Macao langsung pergi, ia melangkan menuju ruangan khusus di Kedai tersebut. Hingga tak berselang lama Macao keluar bersama dengan seseorang pria tua berumur 45 tahunan.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan? Aku pemilik Kedai ini," tanya pria tua itu.


Naruto menarik Mavis, menyejajarkan dengannya.


"Apa kau kenal dengan orang ini?"


Pria itu menoleh ke arah Mavis, memperhatikan Mavis dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tiba-tiba pria tua itu melebarkan mata, di kepalanya terbesit gambar foto yang menggantung di ruangannya.


"Ma-Master pertama." Kejutnya.


Mavis mengangguk.


"Kita bicarakan di dalam ruanganku," ajak pria tua itu.


Mavis dan Naruto mengangguk, kemudian mereka melangkah mengikuti pria tua itu ke dalam ruangannya.


Kini mereka berada di dalam ruangan sedang, dengan Naruto yang duduk bersebelahan dengan Mavis, serta pria tua itu di hadapan mereka berdua yang hanya di halangi meja kecil saja.


Mavis melirik foto yang berderet di dinding.


"Hee... Jadi Perecht benar-benar menjadi Master ke-2 Organisasi ini ya?" gumam Mavis, lalu menoleh ke arah pria tua di hadapannya.


"Dan kau adalah Master ke-3 Organisasi buatanku ya?"


Pria tua itu mengangguk.


"Benar, aku Makarov Dreyar. Pengganti Master ke-2 sejak 10 tahun yang lalu atas kematian Master ke-2," Ucap pria itu memperkenalkan diri.


Entah kenapa Mavis tersenyum.


"Jadi kau anaknya Yuri ya, tak kusangka sudah sebesar ini," ucap Mavis, dan Makarov hanya mengangguk sebagai jawabannya.


.


#Skip Time


.


30 menit berlalu, mereka bertiga saling mengobrol. Terutama Mavis yang menjelaskan bahwa kematian ibunya adalah sebab kutukan yang dimilikinya.

__ADS_1


Harus di akui, Makarov memasang wajah datar seperti enggan memaafkan Mavis saat tadi Mavis meminta maaf, tapi akhirnya Makarov mau memaafkannya. Itu karena kata-kata Naruto.


Naruto menjelaskan, bahwa setiap kematian setiap mahkluk hidup adalah takdir ya berjalan, tidak ada yang bisa melawan takdir.


Kata-kata biasa menuruti Naruto, tapi di anggap sebuah kata-kata penuh makna bagi yang mendengarnya.


Srek!


Naruto berdiri.


"Janjiku sudah kutepati Mavis, jadi aku akan pergi sekarang." Kemudian Naruto menoleh ke arah Makarov.


"Aku titip dia padamu," ucap Naruto kepada Makarov, dan dijawab anggukan kepala oleh Makarov.


"Naru. Apa kita akan bertemu lagi?" tanya Mavis dengan tatapan berharap.


"Ogah! Aku tak mau lagi bertemu denganmu." Ucap Naruto pura-pura acuh, sontak Mavis langsung menunduk sedih.


"Huh," Naruto menghela nafas.


"Aku bercanda Mavis, suatu saat kita akan bertemu lagi,"


Mavis menegakkan kepalanya.


"Sungguh?" ucapnya memastikan, dan sedikit senyum senang tercetak jelas di wajahnya.


Dan Naruto hanya mengangguk mengiyakan, dan senyuman Mavis semakin lebar.


"Jadi aku pergi sekarang ya," pamit Naruto.


"Um!" angguk Mavis.


Naruto berdiri tegak, ia membenarkan jaketnya kemudian menoleh ke arah Makarov, dan mereka berdua saling mengangguk.


.


SRING!


.


Naruto langsung menghilang dalam sekejap mata, sontak hal itu membuat Makarov terkejut, pasalnya ia baru pertama kali melihat langsung sihir teleport super instan.


Sedangkan Mavis tak terkejut sama sekali, itu karena dia sering melihat Naruto melakukan seperti itu saat berada di hutan ketika berburu.


Kini Mavis memandang tempat Naruto menghilang, ia tersenyum.


.


"Suatu saat kita bertemu kembali, aku akan mengungkapkan perasaanku terhadapmu, Naru."


.


.


Gildarts dan Cana mengangguk mengerti setelah di ceritakan sebuah cerita masa lalu Mavis.


"Jadi seperti itu, pria itu yang telah menghapus kutukan pada Mavis -Sama," ucap Cana.


"Tak heran si, jika Mavis bisa seakrab dengan pria itu. Ternyata pria itu berperan penting di kehidupan Mavis ya," timpal Gildarts.


Makarov mengangguk, menyetujui ucapan Gildarts dan Cana barusan.


.


#Dengan Naruto dan Mavis


.


"Hmm... Jadi begitu. Orang yang sedang kucari ternyata tadi sore ke sini?"


Tanya Naruto, ia sedang mengobrol dengan Mavis, menanyakan sosok Chisato yang sedang ia cari.


"Um. Dan tebakanmu benar, dia tadi bersama anak kecil berumur 5 tahunan bernama Kuroe. Dan rencananya dia akan pindah mengajar di Jepang, itu si yang aku ketahui saat mengobrol dengannya tadi," balas Mavis menambahkan.


"Huh," Naruto menghela nafas, ia terdiam sejenak.


 "Jadi anakku bernama Kuroe ya, ah kutunggu saja di Jepang saja kalau begitu," batinnya,


ia yakin bahwa anak yang bersama Chisato yang tadi di ceritakan oleh Mavis benar-benar anaknya.


Mavis memiringkan kepalanya, ia heran dengan Naruto yang tiba-tiba terdiam.


"Memangnya apa hubunganmu dengan orang tadi, Naru?"


Naruto tersentak.


"Ah, bukan apa-apa Mavis. Hanya teman lamaku, dan aku ada perlu dengannya," ucap Naruto beralasan, dan Mavis hanya ber-O-ria saja, tanpa mengetahui maksud sebenarnya Naruto.


Srek!


Naruto berdiri.

__ADS_1


"Cuma itu saja yang ingin kutanyakan Mavis, terima kasih infonya,"


"Ya, sama-sama,"


Srek!


Mavis juga berdiri dari duduknya.


"Aku akan mengantarkanmu sampai depan," ucapnya.


Naruto mengangguk, kemudian mereka berdua melangkah keluar kedai tersebut, dan pastinya setelah Naruto membayar apa yang dia makan saat mengobrol dengan Mavis tadi.


Dan ternyata eh ternyata, makanan yang di makan oleh Naruto dinyatakan gratis, dan Makarov sendiri yang mengatakannya.


Kini mereka berdua telah di luar Kedai, Mavis berdiri di depan pintu Kedai, memperhatikan Naruto yang sedang melangkah menyeberangi jalan raya.


"NARU!"


Teriak Mavis, sontak Naruto yang telah sampai di seberang jalan terhenti langkahnya, langsung menoleh ke arah Mavis.


"APA!?" sahut Naruto berteriak juga.


"MUNGKIN INI TAK SEHARUSNYA KUKATAKAN! TAPI AKU INGIN MENGATAKAN INI SEJAK DULU!"


"KATAKAN SAJA!"


Tiba-tiba Mavis menarik nafas, ia mengatur nafasnya. Ia mengumpulkan mental keberaniannya untuk mengatakan sesuatu selanjutnya.


"AKU MENCINTAIMU!"


Wussssss!


Naruto terdiam. Ia masih mendengar teriakan Mavis saat bersamaan sebuah truk melintas di hadapannya.


Hingga seperkian detik akhirnya truk yang melintas tak menghalangi pandangan mereka berdua.


"KAU BERCANDA YA MAVIS!?"


Teriak Naruto, ia ingin memastikan lagi teriakan Mavis. Entah kenapa Mavis di seberang jalan menggelengkan kepala, Mavis tersenyum.


"TIDAK NARU! AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU SEJAK 25 TAHUN YANG LALU! WALAUPUN HANYA 10 HARI KITA BERSAMA DULU! TAPI AKU BENAR-BENAR BAHAGIA WAKTU ITU!"


"TAPI MAV...!"


"KAU TAK PERLU MENJAWABNYA SEKARANG! AKU HANYA INGIN MENGATAKAN ITU SAJA! PERASAAN YANG KUSIMPAN SEJAK 25 TAHUN! DAN AKU SUDAH LEGA MENGATAKANNYA!"


Mavis langsung masuk ke dalam Kedai setelah mengatakan itu, mengabaikan Naruto yang masih terdiam membisu di seberang jalan.


"Huh," Naruto menghela nafas. Ia berbalik badan, lalu melangkah ke arah utara. 


"Apa-apaan si Mavis? Padahal dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri," batinya, kemudian Naruto berbelok ke gang sepi.


.


SRING!


.


Dan langsung menghilang tanpa diketahui oleh siapa pun di situ.


Sedangkan Mavis kini sedang berada di balik pintu kedai, menyenderkan punggungnya di pintu sambil memegang dadanya, nafasnya tak beratur. Tapi senyum senang tercetak jelas di wajah Mavis.


"Akhirnya aku bisa mengatakannya,"


.


.


#Skip Rumah Naruto


.


Kini Naruto berada di rumahnya, ia muncul di ruang keluarga dan langsung melirik jam dinding yang menempel di tembok ruangan tersebut.


Dan ternyata jam telah menunjukkan tengah malam, itu terbukti dengan keadaan rumahnya yang terlihat sepi. 


"Mungkin semuanya sudah tertidur," batinnya, kemudian ia melangkah ke kamarnya.


Naruto Sweatdrop, ia tercengang setelah memasuki kamarnya. 


"Astaga, tidurnya Mereoleona sungguh mengerikan," batinnya saat melihat posisi tidur Mereoleona yang terbilang aneh,


dengan kaki kananya menumpang di atas tubuh Remia, guling bantalnya sudah berserakan di lantai.


Naruto geleng-geleng kepala, ia memungut bantal guling yang berserakan, kemudian membenarkan posisi tidur Mereoleona dan Remia, lalu menyelimuti mereka berdua.


Kemudian Naruto mengambil bantal yang tersisa, dan kembali keluar dari kamar tersebut. Ia kembali ke ruang keluarga, menjatuhkan bantalnya di sofa empuknya.


Lalu Naruto berbaring, memposisikan tidurnya yang nyaman di sofa tersebut, kemudian matanya dipejamkan, hingga tak berselang lama Naruto benar-benar tertidur di sofa tersebut, karena kamarnya sekarang ditiduri oleh Mereoleona dan Remia.


.

__ADS_1


.


T.B.C


__ADS_2