
#New York (Pagi)
.
Cuit! Cuit! Cuit! Cuit! Cuit!
.
Suara burung berkicauan sebagai tanda awal bangkitnya matahari yang sedang mengintip malu-malu dari ufuk timur dan mulailah awal baru kehidupan bagi setiap mahkluk hidup di dunia.
Begitu juga dengan seseorang yang berada di salah satu rumah sederhana di New York yang nampaknya masih terlelap.
Di kamar tersebut nampak Naruto tidur bersama Remia, mereka berdua tertidur sambil memeluk sosok yang berada di antara mereka, yaitu Myu, anak mereka berdua.
Kenapa mereka berada di New York, atau lebih tepatnya di rumah Hephaestus saat ini? Itu karena semalam Naruto memutuskan akan menginap di rumah Hephaestus karena sudah mengantuk dan ingin cepat tidur.
Jadi saat itu pula memutuskan untuk menginap di rumah Hephaestus dan akan kembali ke Jepang siang hari ini.
Dan sepertinya Naruto terbangun terlebih dahulu dari mereka berdua yang tidur bersamanya. Naruto langsung bangkit dan duduk dengan kaki yang masih di luruskan di atas ranjang.
Seketika langsung membentangkan kedua tangannya sangat lebar untuk merilekkan otot-otot tubuhnya di setiap paginya.
Naruto menoleh ke arah sampingnya dan langsung tersenyum senang saat melihat wajah tidur damai Remia dan Myu.
Naruto menyudahi acara memandang mereka kemudian langsung beranjak dari ranjang tempat tidurnya dan melangkah keluar kamar tersebut, meninggalkan mereka berdua yang masih terlelap dan belum jelas kapan terbangunnya.
Setelah keluar kamar, Naruto langsung menuju kamar mandi yang terletak di samping dapur rumah tersebut.
"Sudah bangun, Kak?"
Dan ternyata Reiya sudah terbangun sedang memasak sesuatu entah apa di dapur, yang jelas kalau dari aromanya sudah jelas makanan yang dibuat jelas enak.
Naruto mengangguk.
"Suamimu sudah bangun, Reiya?" Tanya Naruto saat akan membuka pintu kamar mandinya.
"Sudah, dia sedang di ruang tamu," balas Reiya tanpa menoleh ke arah Naruto.
Sedangkan Naruto hanya ber-O-ria saja lalu memasuki kamar mandi hanya sekedar mencuci muka saja.
Hingga tak berselang lama Naruto keluar kamar mandi dengan wajah masih terlihat basah.
"Ini kak, kopinya," kata Reiya sambil menyerahkan segelas kopi kepada Naruto yang hendak keluar dari dapur.
Naruto menerimanya.
"Terima kasih," dan dibalas anggukan kepala oleh Reiya.
Kemudian Naruto kembali melangkah dan tujuannya adalah ruang tamu untuk bersantai di pagi hari bersama Hephaestus.
Tap!
Srek!
Naruto langsung meletakkan gelas minumannya di atas meja dan duduk di sofa tepat hadapan Hephaestus yang sedang membaca koran paginya.
__ADS_1
Naruto langsung meraih rokok dan korek api yang berada di atas meja dan mengambil sebatang rokok dari dalam bungkusnya, lalu di letakan di mulutnya.
Crek!
Naruto menyalakan korek apinya, dan sumbu apinya di arahkan ke ujung batang rokoknya.
"Seeeeeep!...Wusssssssh!"
Asap rokok pun keluar dari mulut Naruto setelah ujung rokoknya benar-benar telah menyala, sambil meletakkan korek apinya di samping bungkus rokok tadi di atas meja.
"Sejak kapan kau punya kebiasaan seperti itu, Naruto?" tanya Hephaestus.
Naruto membuang puntung rokoknya di asbak di atas meja.
"Akhir-akhir ini," balas singkat Naruto.
"Hmmm tak biasanya kau seperti itu, apa ada hal yang mengganjal pikiranmu?" tebak Hephaestus.
"Kau selalu tau ya,"
"Kau itu sudah aku anggap saudaraku sendiri, jadi aku tau segala tentangmu,"
Naruto menghela nafas.
"Ya, akhir-akhir ini aku merasa pusing dan stres, mungkin banyak yang kupikirkan." Kata Naruto memberitau.
"Stresmu karena ulahmu sendiri lah,"
"Apa maksudmu?"
Hephaestus mengangkat kedua bahunya.
"Masalahku itu rumit, Hep."
"Yah, itu si Cuma pendapatku. Bahkan jika kau meminta bantuanku, maka aku akan senang hati untuk membantumu,"
Naruto menatap serius Hephaestus.
"Masalahku ini menyangkut seluruh kehidupan dunia ini,"
Hephaestus menaikkan sebelah alisnya.
"Maksudmu?" bingung Hephaestus.
" Pandora dan I.S mulai beroperasi lagi."
Sontak Hephaestus langsung melebarkan matanya.
"Serius?" kejut Hephaestus.
"Ya, organisasi anti mahkluk supranatural telah bangkit kembali, dan kebanyakan organisasi tersebut pernah berurusan denganku," Jelas Naruto memberitau.
"Huh," Hephaestus menghela nafas.
"Jadi yang kau bingungkan adalah itu semua. Kau sedang memikirkan bagaimana caranya mendamaikan itu semua?"
__ADS_1
"Ya seperti itu lah, aku benar-benar membenci perseteruan antar mahkluk hidup yang mengakibatkan banyak korban tak bersalah,"
.
"Begini saja, bagaimana jika kau undang semua organisasi anti mahkluk supranatural dalam pertemuan dan kau bisa mengungkapkan pendapatmu tentang perdamaian di pertemuan nanti," pendapat Hephaestus.
Naruto memegang dagunya seperti sedang berpikir.
"Mungkin kau benar juga, Hep." Angguk Naruto.
"Akan kupikirkan ini nanti bersama para aliansi,"
"Baguslah, dan aku akan selalu mendukung rencanamu,"
"Terima kasih, Hep."
Naruto kembali menghisap rokoknya dan asapnya dikeluarkan dengan perlahan. Bahkan sesekali Naruto membuat bentuk lingkaran dari asap rokok yang tadi dihisapnya.
.
Krieeeeeet!
.
Pintu kamar yang tadi untuk Naruto tidur kini terbuka dan memperlihatkan sosok Remia yang keluar dari kamar tersebut langsung melangkah ke kamar mandi yang berada di sebelah dapur rumah.
"Selamat pagi,"
Reiya langsung menoleh ke arah pintu dapur ke arah Remia yang sedang melangkah mendekatinya.
"Pagi juga," ucapnya sambil tersenyum.
Remia terhenti langkahnya tepat di samping Reiya sambil memainkan jarinya.
"Bo-boleh aku ikut membantumu?"
Reiya mengangguk.
"Boleh," sontak Remia merasa senang mendengarnya.
"Tapi. Sebelum membantuku, cucilah mukamu yang baru tidur itu," perintah Reiya.
Remia mengangguk senang lalu melangkah ke kamar mandi. Hingga tak berselang lama Remia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih basah walau sudah di elap pakai handuk tadi.
"Ma-maaf, apa yang harus kulakukan sekarang, Reiya-san?" bingung Remia.
"Tolong potongkan daun bawangnya," perintah Reiya.
Sontak Remia langsung melaksanakan apa yang diperintah oleh Reiya. Dan bahannya pun sudah tersedia di hadapannya.
Mereka berdua memasak makanan bersama sambil mengobrol santai. Kenapa mereka bisa saling kenal? Itu karena tadi malam sudah dijelaskan oleh Naruto siapa Remia sebenarnya, sehingga Hephaestus dan Reiya tau siapa Remia sebenarnya.
Lagian tak masalah bagi Hephaestus dan Reiya bila Naruto membawa seseorang ke rumahnya, karena mereka Yakin bahwa orang yang di bawa Naruto tak berdampak buruk untuk kehidupannya.
.
__ADS_1
.
T.B.C