STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 74


__ADS_3

.


Kini Naruto dan Asuna sudah berada diruang tengah sejak 1 jam yang lalu.


Mereka sedang membicarakan suatu hal penting entah apa itu dan sepertinya acara mengobrol mereka akan selesai.


Tapi, entah kenapa Asuna malah melebarkan mata terkejut setelah Naruto selesai menceritakan sesuatu pada Asuna.


"Aku sudah memberitahu semua kehidupanku di dunia manusia, entah kau mau menerima atau tidaknya, Liya akan tetap aku bawa dan akan tinggal bersamaku disana," kata Naruto mengakhiri ceritanya.


"Ini juga salahku, karena aku menginginkan keturunan darimu tanpa tau latar belakangmu sebenarnya, tapi kumohon jangan pisahkan aku dengan Liya," kata Asuna menunduk setelah 1 jam saling bercerita dan memberi tau rahasia mereka masing-masing tanpa ada yang ditutupi.


"Pikirkanlah dengan matang-matang keputusan yang akan kau ambil," kata Naruto dan dijawab anggukkan Asuna.


"Selagi kau memikirkan keputusanmu, mungkin aku akan pergi ke Puncak Pohon Kehidupan sekarang," sambung Naruto dan entah kenapa Asuna langsung menegakkan kepala.


"Lebih baik besok saja untuk mengambil Sumber Air Abadi," kata Asuna mencegah,


sontak Naruto langsung menoleh kearah Asuna sambil menatap bingung.


"Maksudmu? Bukannya hari-hari biasa tak apa-apa?" bingung Naruto.


"Tidak si, tapi besok ada festival besar di bawah Pohon Kehidupan dan semua kerajaan-kerajaan akan datang ke festival itu lo," kata Asuna memberitau.


"Lalu apa kaitannya dengan diriku yang akan mengambil Sumber Air Abadi di Puncak Pohon Kehidupan itu?" kata Naruto tambah bingung.


"Soalnya di festival itu juga diadakan acara lomba memanjat Pohon Kehidupan, dan itu legal bila kau bisa mendapatkan Sumber Air Abadi di Puncak Pohon Kehidupan, tapi jika kau mengambilnya sekarang maka itu ilegal dan kau akan diburu seluruh kerajaan di Negeri ini dan dihukum jika ketahuan," kata Asuna memberikan alasannya.


"Tapi jika ketahuan pun aku tak yakin jika seluruh kerajaan ini bisa memburumu," sambung Asuna


setelah teringat pertempuran Naruto 3 hari yang lalu membuat seluruh kerajaan di Negeri Alfteim gempar, sontak ucapan Asuna membuat Naruto berpikir.


" Hmm, sebenarnya cukup mudah untuk mengambil Sumber Air Abadi, tapi jika aturan yang diucapkan Asuna benar, pasti Liya akan dijadikan sandera untuk memburuku, ahh aku tak mau itu terjadi," batin Naruto penuh pertimbangan.


"Baiklah, jika aturannya seperti itu, maka aku akan mengambil Sumber Air Abadi besok saja," kata Naruto setelah tadi berpikir penuh pertimbangan.


"Sungguh!" kata Asuna ingin memastikan lagi ucapan Naruto, dan Naruto hanya mengangguk.


"YEY! Aku sudah menyiapkan kereta kuda untuk kita bertiga, kita akan berangkat nanti siang dan akan sampai sana waktu malam," kata Asuna girang langsung memeluk Naruto sangat erat dan Naruto hanya menghela nafas pasrah saja.


"Emm, apa tak apa jika sampai sana malam?" tanya Naruto sedikit bingung.


"Tenang saja Naruto-kun, aku sudah menyuruh prajurit kerajaan yang sudah datang ke sana untuk mencarikan penginapan buat kita," kata Asuna tersenyum memandang wajah Naruto tapi belum melepaskan rangkulannya.


"Huh, baguslah kalau begitu," balas singkat Naruto.

__ADS_1


Tiba-tiba mata Naruto melirik kearah pintu besar diujung ruangan,


ternyata disana ada Liya sedang mengintip dari balik pintu yang terlihat jelas dipandangan Naruto, sontak Naruto hanya tersenyum melihal hal itu.


"Sepertinya Liya ingin bergabung tu," kata Naruto kepada Asuna sambil menunjuk kearah pintu,


sontak Asuna langsung menoleh kearah pintu dan langsung tersenyum senang.


sedangkan Liya yang ditunjuk dengan cepat bersembunyi dibalik pintu agar tak terlihat oleh orang tuanya.


"Mau menghampirinya?" tanya Asuna membuat Naruto mengangguk,


sontak mereka berdua beranjak dari duduknya dengan Asuna yang sudah melepaskan rangkulannya kini melangkah di samping Naruto yang masih nyeker alias ngak pake alas kaki.


Dengan langkah santai Asuna dan Naruto menuju pintu tempat Liya bersembunyi yang sepertinya Liya tak menyadari jika Naruto dan Asuna melangkah mendekatinya.


"Hey sayang, kamu lagi ngapain disini?" tanya Asuna sambil tersenyum kearah Liya ketika sudah sampai dibibir pintu.


Sontak Liya langsung terkejut dan gelagapan karena tak menyangka acara sembunyinya diketahui oleh ibunya.


"Ti-tidak ngapa-ngapain kok Ma," balas Liya gelagapan sambil menunduk.


"Apa tubuhmu benar-benar sudah sembuh? Liya," tanya Naruto di samping Asuna dan Liya tambah menunduk entah karena apa.


"I-iya, maafkan aku ayah," balas Liya masih nenunduk membuat Naruto memiringkan kepala tanda tak mengerti.


"Mama sudah menceritakan semuanya, ja-jadi maafkan aku yang waktu di hutan menyebut nama ayah dengan kasar," kata Liya memberitahu alasannya,


dan Naruto hanya menghela nafas setelah teringat waktu pertama kali bertemu dengan Liya di hutan yang menyebutnya Ayah brengsek.


"Em! Tak apa-apa kok, ayah mengerti," kata Naruto sambil mengelus surai rambut Liya dengan lembut,


sontak Liya yang diperlakukan seperti itu merasa hatinya hangat, seperti perasaan yang selalu dinanti-nanti sejak lama yaitu kasih sayang seorang ayah,


sedangkan Asuna yang melihat hal tersebut tersenyum sangat bahagia yang sepertinya Liya tak membenci Naruto lagi.


"Ano, boleh aku memanggil ayah dengan sebutan Papa," kata Liya yang sangat nyaman dengan elusan tangan Naruto di kepalanya.


"Em, Liya boleh memanggil ayah apa saja yang penting Liya nyaman," balas Naruto tersenyum hangat,


sontak Liya langsung menegakkan kepala menatap wajah Naruto yang sedang tersenyum padanya dan hati Liya tambah senang dibuatnya.


"Um, Papa," angguk senang Liya.


"Oh ya Naruto-kun, kenapa kau tak memakai sepatu? Padahal sudah aku sediakan di dalam kamar," tanya Asuna setelah melirik kebawah yang ternyata Naruto tak memakai alas kaki apa pun.

__ADS_1


"Ah, sepatu yang di kamar terlalu kebesaran Asuna, aku lebih nyaman pakai sepatu atau sandal yang pas saja," balas Naruto memberi alasan.


"Em baiklah, aku akan memanggil pelayan untuk membelikan sepatu yang nyaman untukmu sekarang," balas Asuna berbalik badan.


GREP!


"Tak usah, aku sudah bawa kok," cegah Naruto dengan memegang tangan Asuna yang hendak masuk ruangan untuk memanggil pelayan.


Sontak ucapan Naruto membuat Asuna dan Liya bingung sambil memiringkan kepala, padahal terlihat jelas bahwa Naruto tak membawa apa-apa apalagi sepatu, pikir Asuna dan Liya.


Tiba-tiba Naruto menyatukan kedua jari tangan kanannya ke pergelangan tangan kiri yang terdapat kanji rumit berbentuk lingkaran.


POFH!


Dan seketika muncul satu pasang sepatu milik Naruto (Sepatu Ninja di Anime Naruto) dengan kepulan asap tipis menyelimuti tempat munculnya sepatu.


"KEREEEN! Papa, apa aku bisa melakukan hal seperti itu?" tanya Liya yang kagum dengan mata berbinar-binar ketika melihat tehnik ayahnya.


"Bisa kok, asal Liya mau belajar dan berlatih," kata Naruto sambil memakai sepatunya.


"Waaah, tolong ajarkan aku ya Pa, kalau aku bisa kan tak perlu repot-repot membawa busur panah yang aku gunakan sebagai senjataku," kata Liya berharap.


"Tenang saja, ayah akan ajarkan sesuai permintaan Liya," kata Naruto menyetujui membuat Liya tambah senang.


"Emm, tadi itu seperti sihir ruang ya, yang bisa menyimpan apa saja di dimensi ciptaan sendiri," gumam Asuna menebak.


"Cuma hampir, bedanya ini hannyalah tehnik perpindahan saja, sebenarnya aku hanya memindahkan barang yang sudah kutandai di tempat lain dan memindahkannya kesini," kata Naruto menjelaskan membuat Asuna mengangguk mengerti.


"Ne Naruto-kun, kita kan masih ada waktu sampai siang, bagaimana kalau kita gunakan waktu luang ini untuk jalan-jalan diluar Istana," ajak Asuna berharap dan Naruto seketika menyentuh dagunya seperti orang sedang berpikir.


"Emmm, kurasa tak apa lah, lagian disini tak ada kesibukan, bagaimana Liya? Apakah Liya mau ikut jalan-jalan diluar Istana?" balas Naruto lalu bertanya kepada Liya.


"Um! Aku tau tempat yang bagus Pa," balas Liya mengangguk cepat.


Dan akhirnya mereka bertiga pun melangkah keluar Istana bersama-sama.


Dengan Asuna yang malah menggaet tangan kanan Naruto sedangkan Liya memegang telapak tangan kiri Naruto.


dengan perasaan bahagia yang terlihat jelas di wajah senangnya Liya, kini Liya terus menyeret Naruto dengan paksa agar cepat sampai di tempat yang dimaksud Liya.


Sedangkan Naruto yang diperlakukan oleh Liya seperti itu hanya tersenyum.


" Mungkin selama ini Liya menginginkan sosok ayah di kehidupannya," batin Naruto tersenyum tulus ketika melihat wajah senang Liya yang antusias menyeret dirinya.


.

__ADS_1


.


T.B C


__ADS_2