STRONGER FATHER

STRONGER FATHER
Chapter 148


__ADS_3

# Taman Hiburan


.


Ramai orang-orang berlalu lalang itu sudah pasti, tempat yang selalu banyak di kunjungi oleh orang-orang setiap hari minggunya, sudah pasti taman hiburan.


Dengan berbagai wahana permainan untuk anak kecil sampai orang dewasa telah tersaji, di tambah stan-stan yang menjual berbagai macam kebutuhan, seperti Aksesoris, pakaian bahkan makanan juga semuanya tersaji.


Dari ramainya taman hiburan tersebut di salah satu sudut tempat itu terdapat sosok wanita berambut hitam panjang sedang duduk santai menikmati ramainya tempat tersebut dengan di gendongannya terdapat anak kecil berusia 8 bulan.


Yap siapa lagi kalau bukan Robin dan anaknya.


Tiba-tiba Robin merogoh kantong celananya dan mengambil sebuah lembaran kertas yang ternyata adalah sebuah lembaran foto berukuran 2R.


Robin menatap gambar dalam foto tersebut.


"Semoga dia mau menganggap Luffy itu anaknya jika suatu saat bertemu," gumam Robin sambil mengingat sesuatu.


.


#Flashbach On


.


""Siapa ayah dari anakmu, Robin-san?/Mereoleona-san?""


Tanya mereka bersamaan dan saling tatap dengan penuh pertanyaan di pikiran mereka masing-masing setelah terbayang sosok yang sangat di kenalinya.


""Kau duluan,""


Dan lagi-lagi mereka berucap bersamaan.


""Huh,""


Mereka berdua saling menghela nafas bersamaan, kemudian menarik nafas pelan dan di keluarkan kembali.


""Uzumaki Naruto""


Sontak kedua wanita tersebut langsung melebarkan mata terkejut dan tak percaya setelah mendengar nama yang sama dari mulut mereka berdua.


Mereoleona menoleh ke arah Leo.


"Leo, bisa kau bawa adik kecil ini ke sana?" perintah Mereoleona yang menunjuk bangku kosong yang berjarak 20 meter dari posisi mereka.


Leo mengangguk.


"Baik, Bu," ucapnya lalu berdiri dari duduknya dengan Luffy yang berada di gendongannya kemudian melangkah menuju tempat yang di tunjuk Mereoleona.


Mereoleona menoleh ke arah Robin setelah Leo menjauh.


"Jadi, bisa kita saling jelaskan bagaimana kita bisa memiliki anak dari nama orang yang sama?" tanya Mereoleona kepada Robin.


"Mungkin Cuma kebetulan namanya sama dan belum tentu orangnya sama bukan?" balas Robin berpendapat.


Mereoleona mengangguk mengerti lalu merogoh kantong celananya dan mengambil sebuah selembar foto.


"Ini adalah ayah dari anakku," kata Mereoleona sambil menunjukkan foto berukuran 2R, yang bergambar jelas sosok pria dewasa berambut kuning jabrik yang sedang terlelap menyenderkan kepalanya di batang pohon.


Robin langsung melebarkan mata.


"I-ini tidak mungkin. Ayah dari anakku juga orangnya sama persis dengan orang di foto ini," kejut Robin sambil menunjuk foto di tangan Mereoleona.


Mereoleona melebarkan mata.


"Serius?" tanya Mereoleona memastikan lagi.


Robin mengangguk.


"Boleh aku lihat fotonya, aku ingin memastikan lagi," minta Robin.


Lalu Mereoleona menyerahkan lembar fotonya kepada Robin. Dan Robin langsung meneliti gambar pada foto tersebut dengan cermat.


"Ini benar-benar ayahnya Luffy, anakku. Tak ada yang berbeda sama sekali, semuanya sama," ucap Robin lalu menoleh ke arah Mereoleona.


"Bisa kita saling menjelaskan, kenapa kita bisa memiliki anak dari orang yang sama," minta Robin.


"Hmm sebelum kujelaskan padamu, aku ingin menanyakan satu hal kepadamu," kata Mereoleona serius.


"Apa?" singkat Robin bertanya.


"Apakah kau percaya dengan mahkluk-mahkluk supranatural?" ucap Mereoleona balik bertanya.


Robin langsung terdiam dan bingung mau menjawab apa yang tepat untuk Mereoleona.


Dan entah kenapa Mereoleona menghela nafas.


"Aku tau kau pasti tau hal-hal berbau supranatural, tak apa aku juga tau tentang itu," kata Mereoleona.


"Huh," Robin bernafas lega.


"Ya, aku tau itu," ucapnya.

__ADS_1


"Dengan begini aku bisa menceritakannya terlebih dahulu," ucap Mereoleona lalu menarik nafas pelan dan di keluarkan kembali.


(Skip penjelasan ngak beda jauh seperti di chapter sebelum nya , Cuma bedanya dari sudut pandang Mereoleona)


"Seperti itulah," ucap Mereoleona mengakhiri ceritanya.


"Hmm, jadi selama ini kau belum menjadi istrinya atau apa, dan petualanganmu itu hanya kedok saja yang sebenarnya untuk mencarinya," ucap Robin yang sepertinya mengerti maksud dari ceritanya dan dijawab anggukan kepala oleh Mereoleona.


"Dan sekarang giliranmu," minta Mereoleona.


"Baiklah," singkat Robin lalu menarik nafas pelan dan di keluarkan kembali.


(Skip penjelasan ngak beda jauh seperti di chapter sebelumnya. Cuma bedanya dari sudut pandang Robin)


"Seperti itulah," ucap Robin mengakhiri ceritanya.


Mereoleona melebarkan mata.


"Astaga, aku tak menyangka jika dia melakukan hal seperti itu kepadamu," kejut Mereoleona.


Robin menoleh ke arah depan.


"Aku tak menyalahkannya kok, aku tau waktu itu dia hanya terpengaruh oleh air magis yang diminumnya," kata Robin dan Mereoleona hanya mengangguk mengerti saja.


Kemudian terjadilah keheningan di antara mereka berdua, tak ada yang ingin mengucapkan kata terlebih dahulu.


Srek!


Tiba-tiba Mereoleona berdiri.


"Kurasa sudah terlalu lama kita disini, aku akan kembali ke penginapanku saja," pamit Mereoleona.


Robin menoleh ke arah Mereoleona.


"Bolehkah foto ini buatku?" minta Robin.


Mereoleona tersenyum.


"Ambillah," ucapnya lalu merogoh kantong celananya dan mengambil kartu kecil berwarna merah.


Lalu menyerahkannya kepada Robin.


"Kau bisa menghubungi diriku jika suatu saat menemukannya, karena kita sama-sama wanita yang membutuhkan pengakuan dan tanggung jawabnya," ucap Mereoleona menyerahkan kartu tersebut.


Sontak Robin langsung mengangguk dan menerima kartu tersebut.


Kemudian Robin membuka tas kecilnya dan mengambil kartu yang sama seperti milik Mereoleona tapi berwarna hijau.


"Kau juga bisa menghubungiku jika kau yang terlebih dahulu menemukannya," ucap Robin sambil menyerahkan kartu tersebut.


"Baiklah, aku pamit sekarang," ucapnya dan di jawab anggukan kepala oleh Robin.


Mereoleona menoleh ke arah Leo yang masih bercanda-ria dengan Luffy.


"Leo! Kesini!" panggilnya.


Sontak Leo langsung menoleh ke arah sumber suara dan langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju si pemanggil.


"Kita pulang ke penginapan sekarang," ucap Mereoleona setelah Leo sampai di hadapannya dengan Luffy yang masih berada di gendongannya.


Leo mengangguk lalu menyerahkan Luffy kepada Robin.


"Terima kasih karena mau menemani Luffy bermain, pemuda-san," senyum Robin sambil menerima Luffy dan langsung menggendongnya.


"Sama-sama tante," singkat Leo lalu berbalik badan berdiri sejajar dengan Mereoleona.


Mereoleona menoleh ke arah Robin.


"Sampai bertemu lagi, Robin-san," ucap Mereoleona dan dibalas anggukan kepala oleh Robin.


Lalu Mereoleona melangkah meninggalkan tempat itu dengan Leo yang mengikutinya di belakang.


Robin masih duduk di atas tikarnya dan Luffy berada di gendongan tangan kanannya.


Tiba-tiba tangan kiri Robin yang memegang sebuah foto pun terangkat dan lagi-lagi Robin memperhatikan gambar yang terdapat pada foto tersebut.


"Aneh sekali, padahal Mereoleona-san bertemu dengannya itu 15 tahun yang lalu dan aku 2 tahun yang lalu, tapi kenapa penampilan 15 tahun yang lalu dengan 2 tahun yang lalu waktu itu masih tetap sama tak ada perubahan sama sekali, hmmm pria yang penuh misteri," batin Robin sambil terus mencermati gambar dalam foto tersebut.


.


#Flashbach Off


.


"Huh," Robin menghela nafas lalu menurunkan lagi foto yang berada di genggamannya ke atas pangkuannya kemudian menatap ke arah depan.


Tiba-tiba Robin kembali mengangkat fotonya dan melihatnya lagi sambil membandingkan gambar dalam foto dengan sosok yang terlihat oleh matanya.


"Sama, Cuma beda warna rambutnya saja,"


gumam Robin saat melihat sosok yang di bandingkan dengan gambar dalam foto yang ternyata ada remaja berambut coklat jabrik yang di dampingi oleh 2 wanita di depanya yang sedang saling tatap permusuhan, yaitu Menma, Raynare dan Akeno yang terlihat jelas di antara banyaknya kerumunan orang-orang di taman hiburan.

__ADS_1


"Palingan rambutnya itu diwarnai," batin Robin yakin.


Srek!


Robin langsung beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati remaja tersebut sambil menggendong Luffy.


Langkah Robin semakin mendekat dan entah kenapa tangan kirinya mengepal seperti seseorang yang sedang marah kepada seseorang.


"Uzumaki-san,"


Sontak Menma, Raynare dan Akeno langsung menoleh ke arah seseorang yang memanggil marganya Menma.


"Ya, ada apa ya, Nona?"


Tanya Menma bingung karena tiba-tiba ada sosok wanita asing yang bisa mengenalinya.


Robin melangkah mendekati Menma, sedangkan Menma malah semakin bingung dengan reaksi wanita di hadapannya yang malah mendekatinya, begitu juga Raynare dan Akeno yang sama-sama bingung juga.


Set!


Robin sudah berdiri di hadapan Menma, dan Menma semakin bingung saat wanita di hadapannya mengangkat tangan kirinya.


.


"DASAR PRIA BRENGSEK!"


.


PLAK!


.


#Hutan Aokigahara


.


Hutan menyeramkan yang terletak di bagian barat laut gunung Fuji.


Hutan yang katanya penuh hal-hal mistis atau pun sebagainya, bahkan hutan yang di gunakan orang-orang entah dari mana untuk mengakhiri kehidupannya sendiri.


Dibalik rumor menyeramkan tersebut, mungkin tak akan disangka oleh kebanyakan orang-orang jika di tengah-tengah hutan tersebut terdapat sebuah rumah sederhana yang terbuat dari kayu-kayu biasa dan benar-benar di huni oleh seseorang.


Krieeeeet!


Pintu rumah tersebut terbuka dan memperlihatkan sosok anak kecil 8 tahunan dengan rambut pendek coklat lurus serta mata cokelat dan memakai hairband yang dihiasi semanggi berdaun empat.


Dan memakai kaos hitam yang dibalut Sweater berkancing dan rok biru muda serta kakinya dibalut dengan Stoking kuning panjang sampai menutupi semua kakinya dari atas sampai bawah dan sepatu model boot berwarna coklat yang melekat di telapak kakinya.


Anak kecil tersebut melangkah memasuki hutan sambil menenteng keranjang kecil yang penuh akan bunga-bunga yang berwarna-warni dan indah.


Hingga tak berselang lama, langkah anak kecil tersebut terhenti tepat di depan sebuah baru yang nampak seperti batu nisan.


"Hello Okaa-san, Hinami berkunjung lagi,"


Ucap anak kecil tersebut entah kepada siapa dan kemudian berjongkok lalu mengambil bunga yang ada di keranjang bawaannya.


"Dan Hinami sudah bawakan bunga untuk Okaa-san juga,"


Ucap anak kecil tersebut sambil meletakan bunga tersebut di atas batu nisan di hadapannya.


Tiba-tiba tangan kanan anak kecil tersebut meraih liontin model buka-tutup berbentuk lingkaran yang menggantung di lehernya dan tiba-tiba liontinnya terbuka dan memperlihatkan isi liontinnya.


Dan isinya ternyata adalah sebuah foto seorang wanita dewasa berambut coklat panjang yang ujungnya bergelombang di sisi kiri dan di sisi kanan terdapat foto pria dewasa berambut kuning jabrik.


Tes! Tes!


Tiba-tiba tetesan air tepat mengenai foto yang bergambar sosok wanita, dan ternyata adalah tetesan air dari mata sang anak kecil tersebut.


"Hiks, Okaa-san, Hinami kesepian tanpa Okaa-san,"


Isak anak kecil tersebut yang tiba-tiba langsung membenamkan liontin tersebut di dadanya seakan barang itu sangat berharga untuknya.


.


Sedangkan di atas pohon tepat di hadapan anak kecil tersebut nampak sosok wanita berambut coklat panjang serta gaun putih yang di pakainya dan wujudnya transparan alias tembus pandang.


Sosok tersebut menatap sendu anak kecil tersebut yang berada di bawahnya itu.


"Maafkan Okaa-san, maafkan Okaa-san yang tak bisa menemanimu lebih lama,"


Batin mahkluk itu menunduk sedih, tiba-tiba kepalanya mendongkrakkan ke arah atas untuk melihat sisi luar hutan dengan perasaan berharap.


.


.


"Kumohon datanglah kemari, Naru-kun,"


.


..

__ADS_1


...


T.B.C


__ADS_2