
Belum hilang keheranan Mami Dina terhadap si Bungsu kesayangannya, kini ia di kejutan lagi oleh kelakuan Jennie dan Reyno yang mencengangkan, mereka berdua sedang menuruni anak tangga. Reyno menggandeng Jennie dengan penuh cinta, lengkap bersama boneka tayo besar yang ia semampaikan di pundaknya. Namun bukan itu garis besar yang membuat Mami Dina menohok, melainkan percakapan mereka yang samar-samar terdengar oleh telinganya.
"Jangan manyun-manyun terus. Nanti aku jadi pengin cium kamu." Mami Dina nyaris pingsan mendengar putranya berkata seperti itu.
"Jangan macam-macam! Tadi kan udah tiga kali." Jennie yang menjawab.
Demi Tuhan, Mami Dina langsung shock mendengar pembicaraan mereka barusan. Darah tingginya mendadak kumat, mungkin sebentar lagi akan mati berdiri.
"Apa-apaan kalian berdua?" Mata itu sudah membelalak seperti akan keluar dari tempatnya. Perhatiannya terfokus pada Jennie yang sedang di gandeng Reyno, dulu-dulu mereka tidak seperti itu. Tapi kenapa sekarang semakin jadi.
"Eh, Mami. Kita mau tidur di pavilliun ya, Mami kok belum tidur?" sapa Reyno dengan wajah sok imutnya.
"Mami ingin bicara dengan kalian berdua," cegat Mami Dina sebelum mereka pergi. Kali ini ia sudah tidak tahan lagi melihat kelakuan anaknya yang tidak mencerminkan anak dengan umur delapan belas tahun.
"Besok saja ya Mam," tolak Reyno cepat.
"Menurutlah, jika kamu masih ingin melihat Mami bernafas besok pagi."
"Ya sudah, tapi kalau mau bicara sama Reyno saja, biarkan Jennie diantar oleh pelayan ke pavilliun terlebih dahulu," kata Reyno yang tidak mau membiarkan istrinya tertekan oleh kelakuan Sang Mami.
"Segitu takutnya istri kamu diapa-apain oleh Mami?" Mendesah kesal setelahnya. "Ya, sudah. Cepat ke ruangan baca Mami!" Nyonya Dina segera pergi meninggalkan mereka ke ruang baca.
Setelah memastikan ada pelayan yang mengantar Jennie ke paviliun, Reyno langsung Menyusul Maminya ke ruang baca. Sepertinya akan ada pembicaraan serius diantara mereka, karena mami Dina terlihat galak dan geram sekali.
"Ada hal yang harus kamu jelasin ke mami, Reyn." Mami Dina langsung menembakkan kata-katanya begitu Reyno duduk. Mereka duduk bersebelahan di sebuah sofa panjang dengan ruangan bercahaya pendar. "Bergaul dengan siapa saja kamu selama ini?"
__ADS_1
Karena Mami Dina yakin, jika hanya dengan Jennie saja tidak mungkin akan separah itu. Pasti ada sesuatu yang terjadi selama anaknya tidak mendapat pengawasan. Satu bulan lebih Reyno hilang dari jangkauannya, seketika berubah urakan begitu.
"Memangnya Reyno kenapa sih, Mam?"
"Mulut kamu sangat kampungan! Sama sekali tidak seperti Reyno yang mami kenal selama ini." Kesal sendiri jadinya.
Ada pepatah mengatakan, anak polos bagaikan kertas putih yang mudah dicoret-coret dengan beragam warna tinta. Begitulah perubahan otak Reyno kurang lebihnya. Hilang semua kepolosan dan ahlak sopan santunnya dalam berbicara.
"Maaf, Mam." Reyno menunduk takut.
"Sudah tahu apa salahnya?" Mami Dina menyipitkan sedikit matanya. Melihat perubahan sikap Reyno yang menjadi patuh kembali di depannya.
"Reyno bandel, kurang ajar, tidak sopan terhadap Mami," tuturnya lirih. Masih dengan kepala yang menunduk penuh penyesalan.
"Maaf Mam, Reyno janji tidak akan kurang ajar lagi sama Mami." Mata itu sudah berbinar dengan cairan di pelupuk matanya yang siap keluar kapan saja.
"Sekarang kasih tahu ke mami, dengan siapa kamu bergaul selain istri?"
"Harus jujur ya, Mam?" tanya Reyno antara takut dan ragu. Bisa pingsan Mami Dina kalau mengetahui ia bekerja sebagai kuli bangunan.
"Tentu saja harus jujur, mami tidak pernah mengajari anak kamu berbohong kan!" Mami Dina bersidekap. Matanya tidak berhenti memperhatikan mimik wajah Reyno yang terus menunduk takut.
"Bergaul dengan teman-teman di tempat kerja Reyno, Mam." Anak itu meremat celana sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kerja?" Sedikit kaget. "Kerja di mana? Apa teman-temanmu satu kasta dengan kita?"
__ADS_1
Sebuah pertanyaan yang membuat Reyno semakin takut untuk menjawab. Keringat mulai meleleh dari pelipisnya.
"Ya kerja, Mam."
"Kerja apa?" Di detik ini Mami Dina mulai curiga, Reyno terlihat takut sekali. Pasti ada sesuatu ia sembunyikan. "Katakan dengan jujur, Reyno kerja apa?" Mengulang pertanyaanya kembali.
"Mami jangan marah ya, sebenarnya Reyno kerja jadi kuli bangunan."
"Apa!" Terjawab semua tanda tanya besar yang ada di kepala Mami Dina selama ini. Mata itu terbelalak sempurna dengan jantung yang bertalu-talu tidak jelas.
Haris! Jangan pulang malam ini jika kau ingin selamat. Mengutuki suaminya sendiri di dalam hati.
"Mam...," rengek Reyno.
Mami Dina masih terdiam. Mendadak darahnya naik-turun. Ada sesuatu di dalam dirinya yang harus ia luapkan sekarang juga.
Kejadian berikutnya tidak bisa di jelaskan menggunakan kata-kata.
***
Lagi ngga nih?
Ada yang kangen gak, sih.
Mana suaranya coba?
__ADS_1