
"Pagi Jennie!" Reyno menyapa sang Istri yang menggeliat di dalam pelukanya. Tidak seperti pagi-pagi sebelumnya, hari ini Reyno tidak menyiapkan sarapan untuk Jennie. Karena ia sendiri juga tidak tahu apakah hari ini masih bisa makan. Yang semalam adalah persediaan terakhir, bahkan satu butir beraspun mereka sudah tidak punya.
"Aku mimpi!" lirih Jennie pelan. Ia menarik selimut sampai batas leher. Dinginnya kota Bandung di pagi hari membuat mereka ingin bermalas-malasan di pembaringan, apa lagi cuaca sedang mendung. Gemali sayup terdengar rintikan air yang sepertinya mulai jatuh ke permukaan bumi.
"Mimpi apa?" Reyno mengecup kening Jennie, rutinias itu sudah menjadi kebiasaanya setiap pagi. Tanpa pernah terlewatkan sama sekali.
"Aku mimpi tentang Farhan." Jennie menatap Reyno penuh binar, menghela nafas panjang dan mulai bercerita. "Aku mimpi berjalan di suatu taman yang indah, aku dan Farhan berjalan sambil bergandengan tangan. Di situ Farhan terlihat sangat menyayangiku." Jennie menangkap raut wajah Reyno yang mendadak berubah masam. Cowok itu segera berbalik badan memunggungi Jennie.
"Kok marah, sih? Aku belum selesai ceritanya. Huuuuh." Jennie membalik paksa tubuh besar Reyno agar menghadapnya kembali. Wajahnya sudah di tekuk seperti tidak peduli lagi dengan cerita istrinya.
"Habis mimpinya nyebelin, kamu suka sama Farhan ya! Masa mimpi romantis begitu sama dia, bukannya sama aku." Mencebik kesal.
"Makanya dengar dulu, aku belum selesai." Jennie menangkap wajah Reyno agar terus mendengarkan ceritanya. "Setelah kita berjalan agak jauh, akhirnya farhan berhenti di ujung pembatas jalan, sedangkan kamu sudah menungguku di seberang jalan dengan wajah cerah bersinar. Aku langsung berlari dan memelukmu, sementara Farhan hanya melambaikan tangan sambil tersenyum. Kemudian kita berdua pergi meninggalkan Farhan di seberang jalan. Kita menuju tempat yang jauh lebih indah dari sebelumnya. Aku bisa melihat kamu sangat bahagia, akupun juga demikian."
Jennie selesai berbicara, sementara Reyno hanya diam membisu. Masih mencerna mimpi aneh Jennie yang barusan di dengarnya. "Kira-kira maksudnya apa ya, Reyn?" Menyerngitkan dahinya, butuh jawaban sekarang juga.
"Mungkin artinya kita akan segera mendapatkan kebahagiaan." Reyno asal bicara. "Ah, sudah lah. Mimipi itu hanyalah bunga tidur." Reyno mencoba mengalihkan pembicaraan tentang arti mimpi tidak jelas itu.
"Tapi kamu ngga suka sama dia kan? Aku jadi curiga. Bisa-bisanya kamu mimpiin Farhan, dia saja tidak peduli dengan kamu. Mungkin tidak pernah memikirkanmu juga." Kesal sendiri jadinya. Reyno menjewer telinga Jennie sampai gadis itu berteriak. Meskipun ada Reyno di sana, tetap saja Reyno tidak suka Farhan ikut masuk ke dalam mimpi. Memangnya siapa dia, beraninya masuk ke dalam mimpi istri Reyno. Tidak tahu diri.
"Sakit!" Membalasnya dengan mencubit. "Tapi pas kita sudah jalan jauh, aku melihat farhan menggendong seorang anak kecil. Siapa ya? Apa itu anak Farhan?"
"Hahahaha..." Reyno tergelak cukup keras. Memenuhi isi ruang kamarnya. "Mana mungkin Farhan punya anak ... Pria seperti Farhan itu hanya mengenal dunia kerja, Life for work. Farhan tidak pernah berkencan dengan wanita. Wanita yang di tolaknya sudah ratusan mungkin. Bagi Farhan wanita adalah mahluk yang merepotkan, bahkan jika ia tidur satu kamar dengan wanita, aku pastikan Farhan tidak akan melakukan apa-apa."
__ADS_1
"Kenapa bisa yakin sekali, apakah dia seorang gay?" Jennie menyerngitkan dahinya.
"Heh, sembarangan kamu. Dia akan mencekikmu jika sampai mendengar ucapan nyeleneh kamu tadi."
"Kan ada kamu, aku punya suami yang akan melindungku."
"Aku saja takut dengan Farhan. Pria itu terkecualikan, aku tidak berani padanya."
"Cih! apa hebatnya Farhan? Sampai banyak orang yang takut kepadanya." Jennie berdecih jijik. Kesal mendengar Reyno tidak berani pada pria jelek itu. "Tapi aku penasaran, kenapa Farhan tidak mau menyentuh wanita. Sedangkan kamu yang cupu begitu saja masih memiliki hasrat mesum," remehnya sambil memutar bola mata.
"Aku mesum! Dari mananya aku mesum." Tidak terima. Sepertinya mau bertengkar lagi. Jangan, ya. Harus terus akur.
"Semalam kamu menciumku!" protes Jennie. Ahh, beraninya aku membahas hal itu. Padahal aku juga menginginkanya. Hihihi ...
"Bagaimana dengan perjanjian non kontak fisik. Itu kamu yang membuatnya loh ..." Akhirnya Jennie mengungkit masalah itu.
"Ingatakanku kurang baik. Anggap saja aku salah bicara." Kembali lagi pada kenyataan bahwa Reyno selalu benar. "Apa kamu lupa kalau aku tidak pernah salah?"
"Ya ... Ya ... Ya ...." Jennie memutar bola matanya kesal. "Suamiku memang lain dari pada yang lain." Menyerah sendiri.
Kembali lagi pada pembahasan tentang Farhan yang sempat tertunda tadi. Pikiran Jennie mulai nyeleneh, ia sangat penasaran pada pria menyebalkan itu.
"Reyn, kira-kira siapa ya, cewe beruntung yang akan mendapatkan hati Farhan?" Menatap Reyno serius.
__ADS_1
"Hahaha ... Siapapun wanitanya, yang jelas ia adalah perempuan paling malang sedunia."
"Ko ?"
"Farhan adalah pria yang tidak memiliki air mata ataupun darah. Dia tidak segan memukul orang jika bersalah."
"Apa dia juga memukul wanita?" penasaran.
"Tidak. Farhan memiliki kaki tangan seorang wanita, dia yang akan menggantikan Farhan memukulnya. Dia juga yang selalu menyingkirkan para penggemar Farhan . Namanya Katy, dia termasuk orang penting dalam perusahaan Papi."
"Apa Farhan sepopuler itu dikalangan para pebisnis? Sehebat apa sih, dia?"
"Sangat hebat! dia pemegang kekuasaan kedua Revikal grup. Farhan juga yang telah membantu William untuk bertahan di dunia bisnis, Papi dan Mami sangat bangga padanya. Perusahaan Papi tidak akan semaju ini tanpa bantuan Farhan, jantung dari Revikal grup. Di mata para waniat, aku dan William bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Farhan. Apa lagi ia memliki paras yang lebih tampan dari pada kami.Sudah cukup bertanya tentang Farhan. Aku muak membahasnya." Reyno ngambek lagi.
"Huuuh. Dasar si tukang cemburu." Jennie melepas pelukanya. "Aku mau mandi dulu." Menurunkan Kaki dan berjalan ke arah pintu.
"Ikut!" Rengek Reyno saat Jennie mulai memutar handle pintu. "Mandi bareng ya?"
"Boleh saja, asal kamu bersedia tidur di luar kamar selama seminggu," ancam Jennie sambil menoleh, maatanya melotot penuh sanksi. Kemudian ia menghilang di balik pintu kamar yang di tutup lagi.
Huhh, dasar pelit. Lagian kan aku sudah pernah melihat semuanya. Cuma ngerasain yang belum pernah... Hehehe.
***
__ADS_1
Ada yang tahu arti mimpi Jennie tidak?