Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Bingung


__ADS_3

"Apa?" Tere menatap William dengan tubuh yang bergetar takut. Tangan dan kakinya terasa lemas untuk berdiri, dengan hati-hati ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa.


Sore ini William datang ke apartemen Tere, membawa kabar buruk yang terdengar mengerikan. Pria itu berkata bahwa kehamilan Tere sudah di ketahui anggota keluarganya yang paling penting. Itu artinya, kesempatan mereka untuk berpisah semakin susah. Hubungan mereka bagaikan pantulan bayangan diri sendiri, sekuat apapun mereka coba berlari, bayangan itu akan terus mengikutinya. Ke ujung dunia sekalipun.


"Aku juga tidak tahu bagaimana rahasia ini bisa terbongkar. Yang jelas kita sudah tidak aman." William duduk di samping Tere. Menyandarkan kepalanya di sandaran sofa sambil sesekali meraup wajahnya dengan kasar.


"Apa kita harus benar-bener menikah?" Tere menunduk pasrah, telapak tangannya saling bertaut. Ada air yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Tidak. Farhan hanya melarang kita membunuh bayi itu, ia tidak akan ikut campur dengan hubungan kita."


"Lalu bagaimana dengan nasibku. Rian janji akan menikahiku tahun depan, kalau ada bayi ini, pasti dia akan pergi meninggalkanku." Sejenak Tere meratapi kebodohannya kala itu. Kelakuan yang tidak masuk akal berujung malapetaka.


Andai ia tidak melakukan hal gila itu, pasti masalahnya tidak akan serumit ini. William pasti lebih pusing dari dirinya, apa lagi ia pihak laki-laki.


"Cobalah kamu bicarakan hal ini baik-baik dengan pacarmu, kamu jelaskan tentang kecelakaan diantara kita. Aku akan merawat bayi itu setelah lahir. Kamu bisa menikah dengan kekasihmu." Hanya itu satu-satunya solusi yang terbaik. Tidak ada hal lain yang bisa di lakukan lagi.


"Kalau dia tidak mau, dan memilih putus bagaimana?"


"Di coba saja dulu. Mau aku temani? Biar aku saja yang menjelaskan pada kekasihmu."


"Tidak usah. Biar aku saja yang melakukannya."


"Baiklah. Semoga berhasil."


"Iya," lirih gadis itu dalam keadaan menunduk.

__ADS_1


William menatap wajah Tere yang sembab karena air mata. Tiba-tiba hatinya mendadak sakit menyaksikan hal itu. Ingin rasanya ia memeluk Tere untuk sekedar menenangkan kesedihanya. Namun ia merasa tidak pantas, karena sumber masalah berasal dari dirinya. Tere tidak akan menangis kalau tidak ada bayi William di dalam perutnya.


***


"Reyn...." Jennie mengalungkan kedua tangannya dari balik punggung Reyno. Cowok itu sedang memasak di dapur. Sesuai janjinya, hari ini ia akan mengerjakan semua tugas rumah, termasuk mencuci baju yang ia tidak pernah lakukan sebelumnya.


"Kamu selalu membangkang perintah suamimu, ya?" Reyno menghentikan kegiatan masaknya sejenak, lalu berballik badan menghadap Jennie. Wajahnya sudah di tekuk masam setengah marah.


"Kenapa loh? Aku kan cuma pengin lihat kamu masak. Bete tau, di kamar sendirian." Jennie memasang tampang sok imut, berharap marah Reyno akan hilang jika melihat tingkahnya yang menggelikan. Abaikan harga dirinya sebagai cewek tomboy, hal itu sudah tidak penting lagi kalau suaminya sudah ngambek dan marah.


"Huuh. Tuhkan, lupa sama kata-kata aku. Hari ini aku gak ngizinin kamu turun dari atas tempat tidur. Kenapa kamu bandel sekali? Nanti kalau luka kamu bertambah parah gimana? Takutnya malah jadi infeksi." Reyno mematikan komporgasnya, lalu menggendong Jennie kembali ke kamar. Ia meletakan tubuh istrinya dengan hati-hati, sudah seperti barang antik yang mudah pecah.


Reyno memang tipe orang yang sangat memperhatikan kesehatan orang-orang terdekatnya, ia tidak mau Jennie sampai kenapa-napa. Apa lagi Reyno memiliki sifat yang sangat introvert dalam hal apapun, terlebih jika sudah menyangkut keselamatan istrinya.


"Aku udah gak sakit kok, Reyn. Kayaknya udah sembuh. Lagian cuma jalan beberapa langkah saja."


"Reyno stop!" Jennie menangkap kepala Reyno. Menjauhkan kepala bulat itu dari tubuhnya.


"Kenapa? Bukannya kamu bilang sudah sembuh, kan?" Reyno pura-pura menyerngitkan dahinya kecewa. Lantas ia membaringkan tubuhnya agak jauh dari jangkauan Jennie. Buru-buru gadis itu mendekati Reyno, merangkulnya dengan gerakan manjalita.


"Jangan sekarang yah, kalau dipakai lagi pasti masih sakit." Jennie menjelaskan apa adanya.


"Terus kenapa kamu bilang sudah sembuh?" Marah. Kali ini Reyno beneran marah, Jennie terlalau menganggap enteng kesehatan tubuhnya. Seperti memiliki sembilan nyawa saja.


Reyno tahu bahwa hymen yang robek tidak akan pulih secepat itu. Butuh waktu beberapa hari untuk membiarkan istrinya beristirahat. Sayangnya banyak sekali laki-laki yang mengabaikan hal seperti ini. Menganggap remeh dan berfikir bahwa kondisi istrinya baik-baik saja. Banyak juga laki-laki yang malah menggempur habis-habisan di malam-malam selanjutnya, mentang- mentang pengantin baru katanya. Padahal itu cara yang salah.

__ADS_1


Untung Reyno telah mempelajari tentang s3xs sebelum ia berhubungan. Jadi ia bisa mengesampingkan hasratnya untuk tidak mendekati Jennie disaat-saat seperti ini.


Hubungan intim adalah hal sangat personal yang harus dijaga setiap orang. Menunggu waktu yang tepat untuk melakukan hubungan seksual pada malam pertama dengan orang yang tepat, tanpa paksaan, dan penuh kesadaran serta tanggung jawab adalah salah satu bentuk penghargaan terbesar terhadap diri sendiri.


"Habisnya kamu lama banget, nyuci baju sepuluh potong saja dua jam, ngapain aja coba di kamar mandi? Aku kan kesel nungguin kamu. Belum waktu kamu buat masak," protes Jennie membela dirinya.


"Tapi bukan berarti harus mengabaikan kesehatan kamu."


"Iya maaf." Jennie menghujani beberapa kecupan di wajah suaminya. Tapi sepertinya tidak mempan, muka Reyno masih terlihat marah bercampur khawatir. Memang sih, Maksud Reyno demi kebaikan Jennie, tapi kalau harus diam di atas kasur itu terlalu berlebihan menurut Jennie. Meskipun di dalam hatinya bersyukur banget karena memiliki suami yang perhatiannya di atas batas wajar laki-laki pada umumnya.


"Masih keluar darah?" tanya Reyno hati-hati. Kalau mengingat kejadian semalam itu sanngat mengerikan. Noda darah di seprai juga cukup banyak. Mungkin kurangnya foreplay atau lubrikasi pada bagian v*gina. Entahlah, Mungkin juga karena ukuran milik Reyno yang di atas rata-rata. Hehe.


"Tadi pagi sih, ada bercak darah sedikit. Tapi habis itu sudah tidak keluar lagi. Ngga seperti kalau lagi haid."


"Aku mau periksa."


"Eh, jangan! Aku malu." Jennie menutupi wajah meronanya dengan kedua tangan.


"Kenapa? Ini demi kebaikan kamu. Sebenarnya kamu mau jadi istri yang nurut sama suami apa engga sih?" Reyno membahas tahtanya sebagai seorang suami. Satu senjata yang selalu ia gunakan setiap kali Jennie membantah keinginannya. 'Istri itu harus nurut sama suami, kalau sampai kamu kenapa-napa, kan aku yang merasa bersalah'. Wejangan seperti itu hampir Jennie dengar setiap harinya.


"Iya ... iya ... Aku nurut." Akhirnya Jennie membiarkan Reyno melakukan apapun semaunya. Dari pada harus pusing menghadapi ambekan manja suaminya. Lebih baik jadi istri penurut. Di sayang suami sekaligus Tuhan.


Kamu juga harus begitu ya, wahai kalian yang sudah menikah.


***

__ADS_1


1000 like, dong. Wkkkwkkwkkw.


__ADS_2