
Sudah setengah jam lebih, bunda masih duduk di samping Farhan tanpa menjelaskan apapun. Gemali sayup terdengar isak tangis bunda yang masih belum berhenti. Pria itu menyipitkan matanya, menatap bunda yang masih menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Cukup Farhan. Jangan dulu merasa iba melihat tangisan bunda. Tunggu bunda menjelaskan perihal kejadian beberapa tahun silam, saat Farhan di buang keji oleh orang tuanya.
"Nyonya Lynda. Apakah anda akan terus menangis begini? Aku sudah tidak sabar mendengar penjelasanmu. Beritahu padaku, mengapa aku di buang saat bayi." Hanya karena statusku adalah anak haram. Imbuh Farhan dalam hati.
"Huuuu ... huu ... huuu." Tangisan bunda semakin kencang. "Tidak bisakah kau baik sedikit pada ibumu Farhan? bunda juga sama sepertimu, kita berdua sama-sama korban dari kekejaman suamiku."
"Maksudnya?" Farhan menoleh heran. Pria itu sedikit menggeser posisi duduknya. Mendekati bunda yang terpojok dipinggiran sofa.
"Hari itu..." Bunda mulai becerita. "Saat bunda masih SMA, bunda sedang bermain ke rumah kekasihku, ayah Jennie. Namun naas, kekasihku Hermawan tidak ada dirumah. Bunda malah bertemu dengan kakak Hermawan, pria yang telah merenggut keperawanan sekaligus menghamili bunda."
Farhan meraih tangan bunda yang begetar. Air mata bunda berjatuhan dengan derasnya. Sedikit demi sedikit duduk perkara yang membingungkan ini mulao terjawab.
"Lalu? Kenapa aku dibuang?"
"Bunda sempat tidak sadar diri saat melahirkanmu, Farhan. Saat bunda sadar, semua orang mendadak berwajah sedih. Lalu Hermawan berkata bahwa bayi kami telah meninggal. Hikss...."
Bunda langsung memeluk Farhan kembali. Tubuhnya bergetar kembali, merasakan sesak di dalam jiwanya.
"Maafkan bunda, Farhan. Maaf karena bunda percaya pada hermawan dan keluarganya. Bunda sama sekali tidak tahu kalau kamu masih hidup dan tumbuh besa seperti ini."
Wanita itu merosotkan tubuhnya ke lantai, bunda langsung bersimpuh dipangkuan Farhan. Merasa tidak becus menjadi seorang ibu.
"Apa yang bunda lakukan?" Farhan menarik tubuh bunda kembali. Pria itu mendekap tubuh bunda dengan erat.
__ADS_1
Hangat sentuhan dan pelukan seorang ibu memang tidak ada duanya. Hati Farhan yang tadinya dipenuhi dendam langsung melunak. Farhan menangis kembali dipelukkan, memeluk bunda semakin erat seakan tak ingin melepaskannya.
"Maafkan bunda ... maaf .. maaf ...." Kata maaf yang keluar dari bibir bunda sudah tidak dapat dibendung lagi.
Bunda terus mengutuki dirnya sendiri, 26 tahun lebih ia menganggap anak kandungnya sudah mati. Bahkan sering mendatangi makam bohong-bohongan yang sudah di rencanakan suaminya.
"Apakah yang membuangku adalah ayah Hermawan?" Cih! rasanya tidak sudi menyebut nama itu. Bisa-bisanya ia menutup rapat-rapat kebohongannya sampai dua puluh enam tahun lebih. "Lalu di mana ayah kandungku?"
"Entah Hermawan atau keluarganya, yang jelas suamiku pasti ikut terlibat atas kebohongan besar ini."
"Lalu, kenapa ayah kandungku tidak menolongku? Kenapa ia malah diam saat aku dibuang?" Farhan merasa masih belum puas dengan jawaban bundanya.
"Farhan," lirih bunda sambil merangkum wajah Farhan. "Ayah kandungmu mengalami kecelakaan, ia meninggal saat usiamu masih tujuh bulan dalam kandungan."
Kenyataan hidup yang harus di terima Farhan semakin berat, baru saja ia merasa bahagia bertemu bundanya, kiri ia harus menerima fakta pedih ayahnya yang sudah meninggal.
"Farhan, jika kamu bersedia. Mau kamu mengizinkan bunda untuk merawatmu, Nak. Walaupun masa kecilmu sudah tidak dapat di ulang, tapi kita bisa memulai kembali Sayang."
Tatapan tulus dari mata bunda yang berbinar membuat hati Farhan semakin melunak. Pria itu menganggul sambil melempar senyum hangatnya pada bunda, senyum yang bahkan jarang sekali ia lakukan.
"Mulai sekarang bunda akan selalu ada untukmu, Nak. Meskipun ini berat untukmu, cobalah untuk membangun keluarga kecil kita kembali."
"Bagaimana dengan suami bunda?"
"Hmmm. Hermawan akan mendapat balasan yang setimpal, bunda akan meninggalkan ayah kejam itu." Sorot mata bunda begitu berapi-api saat mengatakannya. Kata-kata itu terdengar serius dan menuntut.
__ADS_1
"Bunda, tolong rahasiakan hal ini untuk sementara waktu. Bagaimanapun ayah Hermawan adalah orang tua adikku Jennie, Farhan tidak ingin menyakiti hatinya."
Mulia sekali hati anakku ya Tuhan. Gumam bunda di dalam hatinya.
"Apa kamu tidak sakit hati, Nak? Bunda hanya ingin memberi keadilan untukmu, Sayang."
"Bunda, izinkan Farhan mengurus hal ini dengan tangan Farhan. Bunda hanya perlu menyayangi Farhan dan Jennie. Hanya itu, bisa kah bunda melakukannya?"
"Iya, Sayang."
"Satu lagi. Farhan minta maaf atas nama ayah kandung Farhan, masa depan bunda hancur karena kelakuan bejad ayahku." Kemudian Farhan menundukkan kepalanya.
"Ya Tuhan, Farhan. Hatimu benar-benar sebersih wajah tampanmu, Nak. Bunda sudah memaafka ayahmu sejak lama."
"Terima kasih, Bunda." Memeluk erat bundanya kembali. "Apakah bunda bisa mengantarkanku ke makan ayah? Walau tidak pernah tahu wajahnya seperti apa, setidaknya aku masih bisa mengunjungi makamnya."
"Bunda akan mengantarmu, Sayang."
"Bolehkah sekarang?"
"Iya, mari kita mengunjungi makam ayahmu."
Mereka berdua langsung menuju pemakaman tempat ayah Farhan di kuburkan. Letaknya tidak terlalu jauh, hanya 45 menit dari kantor Farhan.
Setelah itu Farhan juga membawa bundanya ke apartemennya, bukan apartemen yang ada Lisanya. Namun apartemen yang menjadi tempat tinggal Farhan selama ini.
__ADS_1
Keduanya ngobrlol ngalor ngidul selama seharian, menceritakan masa kecil Farhan dan bagaimana ia bisa sampai pada titik saat ini. Farhan juga sempat bertanya pada bunda, kenapa bunda bisa tahu kalau Farhan adalah anaknya. Dan bunda menjawab bahwa ia tidak sengaja mendengar percakapannya dengan Jennie tempo lalu.
***