Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Maafkan Bunda


__ADS_3

Kembali lagi pada bumi pertiwi yang belum berpihak pada jiwa Farhan yang setengah mati. Pria itu mencoba biasa kembali, menjadi Farhan yang dulu dingin dan selalu konsisten pada dunia kerja. Walau di dasar hatinya masih berat menerima kenyataan hidupnya. Farhan tidak ingin menjadi Alan, tapi ia senang bisa tahu bahwa ia memiliki keluarga.


Sambil memijit pelipisnya yang terasa ngilu, Farhan mulai menutup dokumen kerja pada layar laptopnya. Beralih pada mainan baru yaitu cctv rumahnya. Sudah lama tidak melihat Spongebob betina yang ada di rumahnya.


"Apa-apaan ini?" Farhan menyerngit kesal. Dia melihat ada barang menjijikan di atas tempat tidurnya. "Rico!" Memanggil asistennya yang sedang mengerjakan laporan keungan di sofa.


Farhan memiliki dua asisten pribadi, Katy dan Rico namanya. Mereka berdua termasuk orang kepecayaan Farhan. Dua manusia hebat dyang selalu mendukung prestasi gemilang Tuannya di balik layar.


"Ada apa Tuan?" Rico memberanikan diri melirih ekspresi wajah Farhan yang terlihat bersemu merah menahan jengah.


(Intro dikit, jengah itu artinya malu di KBBI, bukan heran atau marah.)


"Kau lihat! Benda apa ini?" Farhan sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi. Reflek Rico langsung memperhatikan layar laptop Farhan yang gambarnya sudah diperbesar.


"Sepertinya itu pakaian dalam wanita tuhan."


"Bodoh! Kau kira aku tidak tahu kalau itu pakaian dalam wanita, hah!" Ditendangnya kaki meja yang ada di depan Farhan. Kalimat Rico terdengar seperti sebuah ejekkan di telinga Farhan, pria itu memang tidak sepeka Katy. "Apa kau tidak memberikan peraturan dan larangan pada gadis itu? Mengapa dia bisa seenaknya begitu.


"Maaf Tuan," lirih Rico takut. Ia sedikit menjauhkan posisi berdirinya dari Farhan. Tubuh itu sudah gemetar-gemetar takut melihat ekspresi Tuannya yang setengah murka.


Pertama tidur di kamar Farhan, lalu mandi di kamar mandi pribadi Farhan, sekarang ia menaruh dalaman bekas pakainya di ranjang Farhan. Gadis Spongebob itu benar-benar tidak sayang nyawanya sendiri. Bahkan Rico sampai kebingunan memikirkan hukupan seperti apa untuk kesalahan terberat Lisa.

__ADS_1


"Hanya Maaf?" Farhan menoleh ke belakang, sedikit mendongakkan wajahnya kesal. Di tatapnya air muka ketakutan Rico yang sedang berdiri di belakangnya.


"Saya akan mengganti ranjang anda dengan yang baru. Lalu menyuruh Katy untuk menghukum gadis itu, Tuan." Memberi jawaban yang biasanya Farhan mau. Lantas Rico merasa bangga, akhirnya ada sedikit kepekaan pria itu.


"Tidak perlu, siapkan mobil saja. Aku akan mengunjungi apartemenku.


Apa! Kenapa tidak sesuai dugaanku begini. Rico yang merasa kalah telak langsung berubah malu. Ternyata memang cowok tidak bisa sepeka wanita.


"Permisi Tuan." Katy menyeruak masuk ke dalam ruang kerja Farhan tanpa ketuk pintu dulu. Lantas ia langsung melangkah cepat mendekati meja kerja Farhan, di mana masih ada Rico yang berdiri di belakangnya. Pria itu menepuk jidatnya pelan, sebuag isyarat bahwa suasana hati Tuan Farhan sedang tidak baik.


"Apa!" Nada membentak. Katy sedikit terperanjat, padahal ia tidak tahu apa-apa, tapi ikut kena semprot amarah Farhan yang entah penyebabnya apa. Farhan segera menutup laptopnya, lalu beralih menatap Katy yang tergesa-gesa menghampirinya.


"Di luar ada Nyonya Lynda, memaksa ingin bertemu." Katy menunduk takut. Sementara Farhan mulai menghela berat, belum selesai masalahnya dengan gadis Spongebob itu, kini ada masalah baru datang lagi.


"Nyonya Lynda, putri anda baik-baik saja. Anda bisa mengunjunginya ke rumah utama kami, tidak perlu datang-datang ke kantor." Kata-kata nyonya terdengar menyesakkan dada di telinga Bunda, Farhan memang masih suka canggung memanggilnya bunda. Padahal ia sudah memiliki izin jauh sebelum bunda tahu kalau itu anaknya.


Merasa sudah paham, Rico dan Katy langsung keluar tanpa diperintah. Farhan bangun dari kursi kerjanya, menghampiri bunda yang masih berdiri mematung.


"Farhan...," lirih bunda dengan bibir gemetar. Kristal bening itu mulai mengenang di pelupuk mata bunda.


"Iya." Menjawab tanpa berpikir macam-macam. Diliriknya tas jinjing yang ada di tangan Kiri bunda. Pasti isinya coklat jahe kesukaan Farhan. "Ada yang bisa kubantu?"

__ADS_1


Farhan melontarkan pertanyaan berikutnya, namun bunda masih diam membisu. Detik kemudian ia mulai menyadari sebuah keanehan, sorot mata bunda sedikit berbeda saat memandangnya. Tidak seperti biasanya, Farhan pun langsung mendekat ke arah bunda.


"Apa anda baik-baik saja?


Bibir bunda terlihat gemetar, wajahnya sudah pucat pasi seperti sedang menahan luka yang teramat sakit. Bunda menjatuhkan kotak coklatnya ke lantai. Tanpa mengalihkan pandangan matanya sedikitpun.


"Maafkan Bunda," gemetar-gemetar sedih ia mengatakannya. Wanita itu langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Farhan. "Maafkan Bunda, Alan. Maaf ... maaf ..."


Saat itu bunda merasa ribuan kata maaf tidak ada gunanya sama sekali. Namun ia masih terus mengucapkan kata itu tanpa henti.


Kini berganti tubuh Farhan yang gemetar hebat. Seperti ada sesuatu yang menusuk tajam ulu hatinya. Bahkan ia tak bisa lagi menahan laju air matanya. Pria itu menangis, mencoba mendekap tubuk kecil sang Bunda untuk pertama kalinya.


"Maafkan Bunda, Alan." Wanita itu merangkum wajah anaknya. Rindu sekaligus takjub, masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada.


"Bisakah anda jelaskan duduk perkaranya?" Mencoba dingin kembali


Farhan masih belum bisa memaafkan bundanya sebelum mendengar penjelasan. Bagaimanapun juga status Farhan adalah anak yang terbuang. Pria itu berjalan ke arah sofa setelah mempersilahkan bunda untuk duduk.


Ini semua salahku, aku tidak boleh sakit hati melihat sikap dingin anakku. Dia pasti telah melalui hari-hari yang sulit selama ini. Aku ibu jahat, aku memang pantas mendapatkan sikap dingin dari anakku. Bahkan menjaganya saja tidak mampu.


***

__ADS_1


Kita lagi menuju ending ya, nanti akan ada sekuel keduanya. Pertanyaanku, mau disatuin sama ini, atau mau dibuat novel sendiri?


__ADS_2