
Begitulah otak polos Reyno ketika sudah terkontaminasi para Akang Gendang di tempat kerjaanya. Kelakuan Reyno setiap hari selalu membuat Jennie melongo takjub, hilang semua segala sifat Reyno yang dulu ia kenal, kecuali sifat posesif dan manja yang sudah melekat sejak lahir.
Jiwa raga Farhan bergetar jijik melihat Reyno dan Jennie yang sedang suap-suapan coklat menggunaan mulut. Anak itu ternyata polos-polos keparat juga ya, bodohnya Jennie mau saja diperlakukan seperti itu. Dasar istri takut suami. Farhan yakin, mami Dina akan pingsang kalau melihat kelakuan Reyno yang sekarang. Sudah hilang kepolosan anak yang selalu dijaga dan dilarang ini itu. Beruntung Reyno sudah menikah, bahaya kan kalau belum nikah.
"Tuan Muda, bisakan anda tidak menguji kesabaran saya. Masih ada hal yang saya harus bicarakan dengan istri anda, tolong pengertiannya. Delapan belas tahun bukan umur yang cocok untuk bersikap kekanak-kaakan seprti itu." Farhan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, sesekali ia menghembuskan nafas kasar melihat kelakuan Reyno yang sepertinya sedang menghalangi Farhan untuk bicara. Ia tahu bahwa Reyno masih marah melihat kejadian tadi, makanya Reyno sengaja membuat Jennie sibuk mengurusi kelakuan menjijikannya. Agar Farhan tidak memiliki kesempatan untuk bicara.
"Bicaralah... Aku tidak akan mengganggu kalian berdua."
Bagaimana caranya saya mau bicara, kalau anda terus membuat istri anda hanya terfokus pada anda, Tuan Muda.
"Reyn, kamu ke kamar dulu ya, aku mau bicara dengan kakakku." Jennie memberikan satu kecupan agar Reyno mau mengerti, namun sepertinya pria itu masih ngambek.
"Jennie mau membantah ya, aku masih belum memaafkan kalian berdua. Bagaimanapun aku tidak suka Farhan datang di saat aku tidak ada di rumah."
Justru itu tujuan awalku, menghindari tuan muda bodoh, cacat, gila, sampah, menyebalkan sepertimu Reynold!
"Jangan menyumpahiku di dalam hati, Farhan!" gertak Reyno cepat, cukup hanya dengan melihat gerak tubuh dan mata Farhan, Reyno sudah paham pria itu sedang apa. Reyno kan peka tingkat tinggi
__ADS_1
"Maaf Tuan Muda, saya salah karena telah menyentuh milik anda." Cih! Farhan tahu duduk perkaranya sekarang, Reyno tidak pernah suka miliknya di sentuh orang lain, jangankan istri, barang-barangnya disentuh sedikit saja marah. Tapi masa dia tidak terima istrinya di sentuh oleh kakaknya. Kan lucu.
"Akhirnya kamu tahu dimana letak kesalahanmu, Farhan. Jika kamu memang kakak kandung Jennie, kenapa bicara pada Jennie saja? Harusnya kamu memberitahu ibumu dulu kan?" Reyno menatap Farhan serius. Sementara Jennie masih diam di pangkuan suaminya.
"Benarkah anda mau saya seperti itu? Saya akan melakukannya jika anda yang menyuruh. Tapi jangan salahkan saya jika anda tidak lagi bisa memeluk adikku seperti itu." Reyno dan Jennie terperanjat mendengar ucapan Farhan. Keduanya saling pandang memandang dengan pikiran bingung.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Reyno. "Iya, kenapa bisa begitu? Tunggu dulu, jangan bicara terlalu formal. Panggil saja Reyno dan Jennie. Telingaku sakit mendengarnya, Kak. " Jennie menimpali.
"Karena fakta bahwa aku dibuang saat masih bayi, orangtua angkatku pasti tidak akan memaafkan mereka, karena telah membuang dan menelantarkan anak kandungnya. Bahka aku dinyatakan meninggal. Semua ini masih menjadi misteri, aku butuh bantuan adikku untuk memecahkan khasus ini. Mengapa sampai aku di buang, dan mengapa aku dinyatakan meninggal oleh mereka." Farhan melirik Jennie yang sepertinya masih bingung. Sementara Reyno sudah paham apa yang dimaksud Farhan.
"Memangnya kenapa kalau mereka sampai tahu?" Jennie memasang wajah bingung dan penasaran. Membuat Farhan geram sendiri, ternyata adiknya memang sebodoh itu ya, jauh sekali dengan Farhan yang sudah memiliki otak encer seperti bayi.
"Kamu akan dipisahkan dengan suamimu, Tuan Haris juga akan menghancurkan ayah dan bundamu."
"Benar... Papi pasti akan membenci orangtuamu. Kecuali kalau misteri dibalik kejadian ini terungkap." Reyno memantu Farhan menjelaskan pada istrinya yang bodoh itu.
"Gimana caranya? Bunda dan Ayah saja tidak pernah mau diajak membahas kak Alan." Jennie masih bingung.
__ADS_1
"Bicaralah dari hati ke hati dengan bundamu."
"Baiklah, aku akan berusaha semampuku. Minggu depan kita akan ke Jakarta, jadi bisa sekalian ke tempat Bunda. Itupun kalau tidak ada bodyguar di depan gerbang rumahku." Jennie menatap Farhan sambil meremat jari-jemarinya.
"Tenang saja. Aku akan menjemput kalian, mulai minggu depan hidup kalian akan kembali seperti semula."
"Tidak perlu! Aku dan Jennie sudah cukup bahagia. Biarkan kami tetap begini." Air muka Reyno mendadak berubah murka. "Aku tidak mau kembali lagi ke rumah utama."
Deg. Bibir Farhan mendadak kelu. Benar yang ia duga, Reyno pasti tidak akan mau kembali, ia sudah merasa bahagia hidup seperti ini.
"Tuan Muda, saya tidak akan melarangmu bermain-main. Tapi kamu harus tahu satu hal, yang sedang kalian lakukan adalah ujian yang bersifat sementara. Sepertinya Tuan Muda sudah banyak berubah, saatnya kembali ke dalam posisi semula. Aku juga sudah minta maaf pada kalian, karena hal ini adalah usulan dariku. Aku yang membuat kalian berdua susah seperti ini.
"Tidak kakak ipar, aku dan Jennie sangat bahagia. Justru kita sangat berterima kasih karena idemu itu. Aku jadi lebih dekat dengan Jennie. Dan untuk pulang ke rumah utama, aku belum memikirkannya." Sambil mengecup bibir Jennie. Ceritanya mau pamer pada jomlo yang anti wanita itu.
Ya ... ya... dunia ini milik kalian berdua kok, anggap saja aku sedang ngekos. Farhan.
***
__ADS_1