
'I’m like **. Just like **. Ireon nae mam moreugo neomuhae neomuhae
I’m like **. Just like **
Tell me that you’d be my baby'
Lagu Twice menemani perjalan mereka di dalam mobil. Sepulang menemui Mila, Reyno langsung mengajak Jennie bergegas pergi dari rumah sakit itu. Pria itu sudah malas sekali berada di tempat menyebalkan itu.
"Kalau tahu pengaca papi bisa menyelesaikan semua ini. Aku ngga perlu repot-repot bawa kamu ke rumah sakit," gerutu Reyno yang masih kesal.
Diketahui, ayah Mila langsung tunduk dan nyaris bertekuk lutut begitu mengetahui siapa Reyno sebenarnya. Bahkan, ayah Mila langsung mengatakan ingin mengirim anaknya ke luar negri sebagai hukuman untuk anaknya. Karena telah mengganggu rumah tangga anak dari pejabat penting.
"Ya sudahlah, lagian aku pengin lihat gadis itu. Secantik apa sih? Ternyata biasa aja," ujar Jenni bohong. Padahal di dalam hati ia mengakui bahwa gadis kecil itu cukup imut.
"Iya. Biasa saja, cuma mama Panda seorang yang paling cantik martabak."
"Kok martabak?" Jennie kesa. Protes dengan alis yang menukik tajam.
"Spesial maksudnya, Mama!" goda Reyno iseng. Pria itu tersenyum simpul seraya memfokuskan matanya pada jalanan. Menggosa istrinya yang galak merupakan cara terbaik—agar Reyno cepat lupa dengan kejadian hari ini.
__ADS_1
"Astaga!" pekik Jennie cukup keras. Ia menepuk jidatnya sendiri. Wajahnya berubah pucat seiring dengan kecemasannya terhadap berlian kebanggaannya.
"Ada apa?" tanya Reyno penasaran.
"Aku lupa, Reyn. Tadi nitipin Cilla dan Cello sama guru kelasnya. Ini sudah hampir sore, gak mungkin 'kan Cilla dan Cello masih di sekolahnya?" Jennie yang sudah panik langsung merogoh ponselnya. Hendak menghubungi guru kelas kedua anaknya. Namun, Reyno buru-buru mengambil ponsel miliknya.
"Cilla dan Cello sudah pulang?"
"Hah?" ternganga tidak percaya. Jennie mencoba mencari setitik kebohongan di wajah Reyno. Meskit tidak ketemu. "Kamu jangan ngaco deh, Reyn. Cepat kita putar balik ke sekolah mereka. Barang kali Cilla dan Cello masih di sana." Panik, khawatir, semua bercampur jadi satu.
"Aku sudah minta tolong mami buat jemput mereka. Saat kamu ke rumah sakit, aku langsung telepon mami. Mereka juga bilang mau nginep di sana—karena besok weekend."
"Tenang ya, mereka sudah berada di tempag yang aman, kok." Reyno mengelus lengan Jennie. Ada senyum penuh arti yang tersungging di bibir tipis itu.
Detik kemudian, Jennie dibuat menoleh kaget lantaran mobil terus melaju lurus. Melewati gapura menuju kompleks rumahnya.
"Reyn. Kita kebablasan loh, kamu gak lagi ngelamun kan? Gapura menuju rumah kita sudah kelewatan jauh." Masih dalam keadaan bingung, Jennie menatap Reyno yang sepertinya sengaja tidak ingin pulang ke rumah
"Enggak kok. Aku memang sengaja gak belok." Tuh kan, benar. Tebakkan Jennie tidak salah lagi.
__ADS_1
"Terus kita mau ke mana?" tanya Jennie yang malas basa-basi. Sekaligus penasaran juga.
"Quality time, dong. Ini kan malam minggu, aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat."
Selain ingin menghilangkan bekas masalah tadi, Reyno juga ingin hubungannya dengan istri semakin lebih dekat lagi. Maka dari itu, mencari waktu untuk berduaan sangat perlu—demi tercapainya keharmonisan rumah tangga.
Mobil Reyno berhenti di tempat tujuannya. Detik itu juga, Jennie langsung mendelik dengan sorot mata tajam.
"Hei! Ngapain kita ke tempat ini?"
Reyno tersenyum licik seraya mengedipkan matanya. Lantas berbisik,
"Tempat ini adalah tempat destinasi wisata yang paling indah untuk suami dan istri."
***
Tebak dong, Reyno ngajakkin Jennie ke mana?
wkwkkwkw.
__ADS_1