Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
Ditolak


__ADS_3

Ini sudah satu minggu Reyno bekerja sebagai seorang kuli bangunan. Dia sudah akrab dengan beberapa pekerja lainnya, walau masih bingung dengan bahasa sunda yang ia tidak mengerti sama sekali. Reyno juga sudah mulai menyisikan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Agar tidak telat bayar kontrakan di akhir bulan nanti.


Reyno sedang duduk melamun di dalam warteg. Ia sudah pulang kerja, namun Reyno enggan untuk pulang. Ini adalah pertama kalinya Reyno malas pulang. Ia juga malas bertemu dengan Jennie hari ini. Semua itu gara-gara obrolan yang mereka lakukan tadi pagi.


"Jennie!" Reyno sudah rapih hendak berangkat kerja. Sudah sarapan , dan tentunya sudah mandi.


"Iya, Reyn. Kenapa?" tanya Jennie sambil memainkan ponselnya. Asik chatingan dengan adik kelasnya, Lisa.


"Kamu sudah selesai haid kan, ya?" Reyno sedikit malu saat bertanya, namun ia mecoba untuk memberanikan diri. Demi enoki kecil yang belum mendapatkan jatah mutlaknya.


"Sudah, dong. Sudah selesai dari empat hari yang lalu," jawab Jennie. Masih tidak mau bergeming. Pandangannya masih asik tertuju pada layar ponselnya.Kemudian Reyno menghampiri Jennie yang sedang duduk di pembaringan. Ikut duduk di sampingnya.


"Hmmmm ... nanti malam kamu mau itu ngga?" Sengaja menjeda pembicaraannya agar Jennie berhenti menatap layar ponselnya.


"Itu Apa?" Benarkan! Jennie menoleh.


"Sebenarnya aku pengin minta jatah hubungan suami istri sama kamu." Akhirnya Reyno benar-benar mengatakannya. Jennie sedikit terperanjat saat mendengar hal itu. Gadis itu terdiam dengan ekspresi yang pucat pasi.


Sebenarnya Reyno sudah merangkai banyak sekali kata, dari kode keras, hingga bahasa sinonim yang layak untuk diutarakan. Namun akhirnya Reyno mengucapkan kalimat itu, sebuah kata yang jelas dan mudah dimengerti, apa lagi tidak ada unsur basa-basi di sama sekali.


"Ehmm, Reyn." Jennie terlihat bimbang saat mengatakannya. "Maafin aku, Bukannya aku mau menolak. Tapi keadaan kita sekarang masih seperti ini, aku takut hamil. Aku belum siap melakukan hubungan suami istri. Aku masih takut, Reyn...."


"Kamu ngga mau hamil anak aku?" tanya Reyno sedikit kecewa. Di saat seprti ini, pasti hatinya yang sensitif mengalahkan logika yang ada. Penolakan yang yang Jennie lalukan sukses mengiris bagian inti hati Reyno. Mungkin hanya laki-laki yang tahu seperti apa rasanya.


"Bukan begitu Reyn." Jennie mendekati Reyno, mengelus punggung tangan Reyno yang mengepal kencang. Cowok itu sudah berkaca-kaca, hampir menangis. "Keadaan kita sekarang sedang seperti ini, bukannya aku ngga mau hamil. Tapi aku tidak mau anak kita merasakan susah seperti kita. Kalau kita melakukan hubungan suami istri, pasti ada kemungkinan kita hamil kan," terang Jennie menjelaskan secara hati-hati.


"Iya, aku paham. Kalau begitu aku mau berangkat dulu ya, sudah telat." Reyno segera pergi meninggalkan Jennie. Gadis itu memanggil, namun Reyno tetap pergi meninggalkannya. Sudah jelas pasti Reyno marah.


***


"Tidak pulang?" Pak mandor. Orang yang paling baik sedunia menurut Reyno, datang mengejutkan Reyno saat ia sedang melamun. Lalu duduk di sampingnya sambil. menyomot tahu goreng.

__ADS_1


"Tidak, pak." Reyno masih menyanggu kepalanya di dagu. "Bapak juga tidak pulang, kenapa hayo?" Reyno balas bertanya.


"Saya, mah jomblo di sini, kalau kamu kan ada istri." Pak Farik melirik jam ditangannya sudah pukul tujuh malam.


"Biarkan saja... Saya sedang ingin sendiri."


"Hahaha ... kamu kalau sedang ngambek begitu lucu sekali ya, persis seperti anak saya." Pak Farik jadi kangen pada anaknya yang sedang berada di kampung.


"Kalau begitu anggap saja saya anak bapak." Reyno berkata lagi.


"Baiklah anakku, apa kamu sedang ada masalah dengan istrimu?"


Reyno terperanjat, memutar bola matanya ke arah Pak Farik. "Kok bapak bisa tahu?" sambil menyerngitkan dahinya.


"Tentu saja tahu, kamu terlihat sekali seperti orang yang sedang dalam masalah. Apa lagi wajah ngambek-ngambekmu itu tidak dapat di tutupi." Pak Farik mengambil tempe mendoan di depannya. Tahunya sudah masuk ke dalam perutnya. "Kopi hideung hiji Teh," serunya pada si Teteh penjaga warteg.


"Huuuhh." Reyno meniup udara dengan bibirnya. "Sebenarnya saya sedang kesal pada istri saya, dia tidak mau diajak melakukan hubungan suami istri, Pak." Reyno bercerita dengan wajah polosnya. Pah Farik mencoba menahan tawanya, sementara si Teteh pura-pura tidak mendengar. Malu. Itu pembicaraan lelaki.


"Jadi bagaimana caranya biar di kasih jatah?" tanya Reyno polos. Tidak peduli walaupun itu mandornya, yang penting dapat ilmu dari senior yang sudah menikah lama.


"Selesaikan dulu masalah kalian. Nanti pasti di kasih jatah."


"Masalahnya istri saya tidak mau hamil." Reyno menggeser posisi duduknya menghadap Pak Farik.


"Memang berapa sih, umur istrimu?"


"Tujuh belas tahun, dua bulan lagi ulang tahun yang ke delapan belas." Reyno mendesah lemah. "Saya kan iri sama pekerja lainnya yang suka cerita malam Jum'at itu. Saya juga sudah menikah, tapi tidak tahu seperti apa rasanya bercinta. Hanya mendengar dari orang katanya seperti terbang ke surga," tutur Reyno sambil manyun menatap pak Farik.


"Buahaha. Jadi selama menikah kalian belum pernah begituan? Istrimu masih perawan? Lalu untuk apa kalian menikah? Main gundu di kamar! Buahahah." Pak Farik tergelak, membuat Reyno melengos kesal. Rentetan pertanyaan Pak Farik terdengar seperti ejekan bagi Reyno.


"Huh, Bapak mau memberi solusi atau tidak. Kok malah meledek saya terus," protes Reyno.

__ADS_1


"Kalau masalahnya hanya takut hamil itu gampang. coba pakai alat kontrasepsi atau pil kb penunda hamil. Tahu kan, di pelajaran sekolah pasti ada."


"Pak!" Reyno menepuk bahu Pak Farik keras sekali. Ia bahkan sampai terkejut melihat kegirangan anak itu. "Kok saya tidak pernah kepikiran, ya?" gumam-gumam lirih.


"Hehehe ... Jennie pasti tidak punya alasan untuk menolak kalau saya bawakan alat penunda kehamilan." Masih bergumam sendiri. "Bapak pintar sekali ya, kok saya tidak pernah kepikiran sampai ke situ. Terima kasih ya Pak." Akhirnya Reyno menganyadari bahwa masih ada orang di sampingnya, setelah bicara sendiri dari tadi.


"Ya ...ya ... ya. Pulang sana, jangan lupa beli barangnya di apotik."


"Nanti dong Pak, izin dulu sama Jennie. Kalau saya beli trus dia tidak mau. Mau di pakai sama siapa coba?"


"Kambing betina di lapangan banyak, Reyn." Gantian Pak Farik yang kesal. Repot sekali rasanya anak itu.


"Huuh. Kambing tak seindah tubuh istriku," cibir Reyno.


"Yayaya ... tega sekali kamu Reyn, bapak jomblo nih." Menggerutu kesal.


"Saya mau pulang dulu, Pak. Terima kasih, bapak selalu jadi malaikat penolong saya. Oh ya, nikmati saja masa jomblo bapak, kambing di lapangan kan banyak."


Sialan anak itu. Batin Pak Farik.


"Sampai besok, Pak."


"Tunggu dulu!" Menarik lengan Reyno saat ia hendak beranjak.


"Sebaiknya kamu beli pil kb saja, jangan pakai Ko***m, yang itu tidak enak," bisik Pak Farik di telinga Reyno.


"Siap Bos Malaikat!"


***


500 like baru up lagi.

__ADS_1


__ADS_2