Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami
S2- Bab 27


__ADS_3

Antara sialan dan kesayangan itu beda tipis. Begitulah yang Jennie rasakan saat melihat Reyno membanggakan kebugaran tubuhnya. Yang katanya tidak ada kata lelah dalam bercinta. Sedangkan Jennie, Badannya seperti ayam goreng yang baru saja di geprek. Hancur. Sakit. Menyisahkan lelah yang tidak cukup diistirahatkan dalam waktu sehari.


Mereka berdua sekarang sudah kembali ke rumah. Tepat pukul 8 malam. Untungnya, Cilla dan Cello masih tinggal di rumah neneknya. Jadi Jennie bisa istirahat tanpa ada gangguan.


"Aku yang kerja, aku yang bergerak, tapi kamu yang ngeluh capek. Sebenarnya badan kamu terbuat dari apa? Jelly?" Begitulah ejekkan yang keluar dari mulut Reyno. Lengkap dengan bibir basah yang maju satu centi saat bicara.


Suami Jennie yang satu ini memang sangat licik. Mentang-mentang ia jarang mendapatkan jatah leluasanya karena kehadiran Cilla dan Cello. Jadi ia memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik mungkin. Reyno begitu mengapresiasi dan enggan membuang waktu.


Maklum, Reyno itu kurang belaian kalau di rumah. Semenjak memiliki anak, Jennie terlalu sibuk dan jarang ada waktu. Maka begitu ada kesempatan, Reyno tidak akan menyia-nyiakan hal bagus macam itu.


"Tugas kamu cuma anteng di bawah, harusnya yang berhak ngeluh cape itu aku." Lagi, ejekkan dari mulut sialan berwajah jenaka itu keluar bebas tanpa beban.


"Pijitin yang benar! Jangan kebanyakan ngoceh!" bentak Jennie kesal.


"Iya Sayangku ...." Seulas senyum damai Reyno menghiasi wajah bahagianya. Jangan tanya masih ngambek atau tidak, Reyno sudah lupa kejadian saat di pasar malam itu.


Acungan jempol mendarat di pipi Reyno. "Pinter! Jangan hanya suka menyiksa wanita. Kamu juga harus tanggung jawab atas kejahatan yang kamu lakukan selama sehari semalam."


"Iya ... iya ... bawel," gerutu Reyno. Ia mengencangkan lagi pijatannya pada kaki Jennie. Memberikan sentuhan-sentuhan nyaman pada istrinya yang kelelahan.


"Kamu cerita-cerita, dong. Biar aku gak bete pijitinnya," pinta Reyno manja.


Majalah yang sedang Jennie baca ditutup. Lantas fokus menatap wajah Reyno yang sepertinya mulai bosan. "Mau cerita apa? Dongeng kancil, atau Cinderella?"


"Hiss. Memangnya kau Cilla dan Cellon. Cerita apa aja deh, tentang mantan juga boleh," ujar Reyno yang masih fokus memijat sambil menunduk.


"Mantan? Pacar aku sebelum kamu kan William. Kakak kamu sendiri."


Setelah memutar-mutar bola matanya sendiri, Reyno berkata lagi, "Ya udah cerita. Kakak sudah punya anak istri. gak masalah."


Merasa percaya, Jennie si bodoh mulai bercerita,


"Cerita dari mana ya?" Jennie nampak berfikir keras. Menggali memorinya pada jaman SMA.

__ADS_1


"Cerita pas kalian pertama ketemu sampai jadian," ujar Reyno antusias.


Jennie mengangguk setuju. Meraih buah apel di atas nakas untuk teman bercerita. "Jadi pas kita ketemu gak sengaja gitu, William nyerempet motor aku sampai lecet." Gigitan pertama jatuh pada buah Apel itu. Jennie mengunyahnya dengan gaya slow motion.


"Terus badan kamu ada yang luka?" tanya Reyno khawatir.


"Engga, aku baik-baik aja." Apel di dalam mulut Jennie berhasil ditelan. "Terus William minta nomer aku, untuk bayar ganti rugi kerusakan motor."


"Pasti kalian jadi dekat dan chatingan 'kan?" tebak Reyno dengan nada suara sinis.


"Engga. Di awal pertemuan kami, kakak kamu sangat cuek. Dia hanya membayar biaya tagihan motor aku," jawab Jennie apa adanya.


Reyno semakin penasaran dan ingin tahu. "Kalau kakak cuek, gimana caranya kalian bisa jadian?"


"Aku yang nembak dia duluan."


"Apa?" Wajah Reyno yang semula cuek, berubah menjadi merah padam seperti mendapat hawa panas.


"Eumm. Re ... Reyn, itu kan masa lalu," ujar Jennie sedikit ngeri. Mata Reyno melotot sempurna. Bagaiakan macan kelaparan yang hendak memakan Jennie.


Duh, sepertinya Jennie salah cerita. Walaupun hubungannya dengan William sudah usang dan terbuang, tapi yang sedang mendengarkan ceritanya itu Reyno. Suami dengan kategori posesif tingkat dewa. Ada baiknya Jennie mengarang cerita, atau mencari topik cerita lain selain.


Nasi sudah menjadi bubur, Reyno sudah mendengar dan meminta detail ceritanya lebih lanjut. "Kamu nembakknya gimana?" tanya Reyno dengan nada mengintrogasi maling.


"Lewat chat," jawab Jennie takut-takut.


"Gimana chatnya?"


Mengambil nafas dalam-dalam, Jennie meletakkan sisa apel yang baru setengah di makan di atas nakas.


"Hai cowok! Maukah kamu menjadi pengisi jok motorku yang sedang kosong. Kalau bisa untuk seumur hidup."


Duarrr! Asap semu mengepul di sekeliling tubuh Reyno. Matanya mendadak merah bersamaan dengan emosi yang membungbung tinggi.

__ADS_1


"Aau! Sakit, Sayang." Jennie menjerit takut saat ujung jarinya digigit oleh Reyno.


Gadis itu langsung menghambur ke pelukkan suaminya. Enggan melihat wajah Reyno yang merah padam.


"Bisa-bisanya kamu bersikap semanis itu pada kakak, sedangkan ke suami kamu sendiri selalu jutek," protes Reyno tidak terima. "Bukan manis, tapi ganjen. Mana ada cewe yang masih duduk di bangku SMA menggombal seperti itu.


"Maaf, itukan masa lalu." Jennie membela diri.


"Semoga aku bisa membimbing Cilla agar tidak mengikuti jejak ibunya"


Abaikan kalimat pedas Reyno, toh saat itu Jennie memang sangat agresif. Tidak layak dibilang gadis SMA.


"Maaf." Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Jennie. Apa aku harus nangis-nangis drama biar cepat selesai?


"Aku cemburu," lirih Reyno di akhir kalimat. Jennie dapat merasakan detak jantung pria itu yang berdetak secara ubnormal.


"Maaf, tapi itu sudah lama berlalu. Aku harus gimana."


Merasa iri, Reyno memutuskan untuk menghukum Jennie meskipun kesalahannya dilakukan sebelum mereka saling kenal.


"Aku ngga mau tau, besok, kamu harus nyiapain sesuatu yang manis dan romantis buat aku. Harus lebih manis dari kakak. Titik.


Romantis? Astaga, mana bisa seorang Jennie romantis. Dari pada melakukan hal sesulit itu, lebih baik tenggelamkan saja Jennie ke dasar lautan, biar di makan megalodon sekalian.


Berharap mendapat sedikit keringanan, Jennie protes. "Gimana caranya, Reyn? Kamu kan tahu kalau akau bukan cewek romantis."


"TERSERAH! ITU URUSAN KAMU!"


Reyno mengeluarkan kalimat andalannya. Sebuah kata horor yang membuat jiwa orang yang mendengarnya langsung gemetar.


***


Dah lama gak nyindir kalian ciwi-ciwi. Semoga kalian gak kayak Reyno ya🤣

__ADS_1


__ADS_2