
Kalau di Indonesia Raya Reyno sedang ngambek dan dihukum, beda lagi dengan pria kaku yang ada di Amerika Serikat. Farhan, si bujang lapuk kelahiran kutub utara itu sedang menjalankan perintah sang adik. Yaitu kencan dengan Sasha di sebuah kafe.
Matahari bertengger cantik di atas sana. Membuat bumi New York terasa menghangat. Namun hati Farhan selalu panas. Dipenuhi rasa emosi karena terlalu lama membuang waktu untuk hal yang tidak penting.
Lagi, Farhan mencoba menenangkan hatinya. Demi Jennie si adik kesayang. Ah, padahal mereka jauh, tapi Farhan masih saja terkena dampak dari permasalah rumah tangga adik-adiknya.
"Kakak!" Farhan terperanjat kaget begitu mendengar suara cempreng Sasha. Akhirnya gadis jadi-jadian itu datang juga. Hampir saja Farhan dipenuhi sarang laba-laba karena terlalu lama menunggu.
"Aku kangen banget sama Kakak, sudah bertahun-tahun tidak bertemu kakak semakin tampan saja," adunya sok manjalita.
(ceritanya ngomong inggris ya genggss... )
Mendesah kesal, Farhan mengelap bekas ciuman Sasha di pipinya dengan punggung tangan. Seumur-umur ia baru pertama kali merasakan sensasi dicium anak kura-kura. Sasha wanita pertama yang berani mencium pipi Farhan, kalau laki-lakinya adalah Reyno. Adik manja yang selalu membuat Farhan resah di manapun ia berada.
"Cepat pesan makanan, waktuku tidak banyak." Farhan membentak penuh emosi. Membuat Sasha yang berada di sampingnya mencebik.
"Ish, sabarlah. Kita kan sudah lama tidak bertemu," protes Sasha kesal. Lama atau tidak, Farhan tidak peduli. Bahkan ia tidak ingat ada sanak saudara keluarga Haris yang bernama Sasha
Tanpa basa basi, Sasha mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna perak. Menyodorkan kotak itu ke hadapan Farhan dengan senyum cerah. Bahkan, ia tidak merasa berdosa karena telah membuat seorang Farhan kesal karena menunggunya terlalu lama.
"Apa ini?" tanya Farhan dengan muka datar. Keningnya mengkerut-kerut seperti kulit siput. Lantas menoleh pada Sasha dengan tatapan tidak suka.
"Taraaaaaa....." Sasha berseru seraya membuka kotak beludru itu. Ada dua cincin cantik, di mana yang satu polos dan yang satunya lagi di hiasi berlian berwarna biru muda.
"Aku lama karena membeli cincin ini di Mall." Sasha masih setia tersenyum tanpa dosa. Tidak peduli bahkan tidak mau tahu bahwa Farhan masih menahan marah di dalam hati.
"Jadi, apa pentingnya kau memamerkan cincin itu padaku?"
"Haihsss, Kakak! Tentu saja ini adalah cincin pertunangan kita, aku sudah mengukurnya dengan jari Reyno waktu itu. Pasti pas di Kakak," ujar Sasha.
"Hei! Siapa yang mau bertunangan denganmu?" bentak Farhan mulai geram dengan lelucon bodoh.
"Apa kau mau menolakku lagi?" tanya Sasha kesal. Gadis itu bertepuk tangan dengan senyum sinis kebanggaanya.
"Hebat ... hebat. Kau menolak cintaku lagi di saat umurmu sudah setua ini Kak, apa kau tidak berpikir bahwa semakin hari manusia semakin bertambah tua? Aku sudah besar, sudah siap menikah. Dulu kau pernah menolak cintaku karena masih kecil. Lalu sekarang mau alasan apalagi? Aku juga sudah tahu dari Jennie kalau kamu jomlo."
Farhan memijit pelipisnya yang terasa sakit. Ia hanya menyanggupi pertemuan biasa dengan Sasha. Hanya sekali dan tanpa embel-embel berikutnya.
__ADS_1
"Bagus, kau menolakku lagi!" ucap Sasha dengan hati miris bercampur sensasi sakitnya hati yang diiris-iris belati sampai tipis.
Sasha memasukkan cincin itu kembali ke dalam tasnya. Farhan semakin terlihat tidak nyaman, jika Sasha meneruskan usaha pengejaran cintanya— yang ada Farhan akan semakin kesal dan meninggalkan gadis itu seperti yang sudah-sudah. Pertemuan seperti ini tidak hanya sekali dua kali, Reyno sudah sering menjadi korban hanya karena Sasha ingin bertemu Farhan seperti ini. Dulu saat mereka SMA lebih tepatnya.
Sasha mengambil buku catatannya, lalu menulis sebuah kalimat yang menyakitkan di dalam buku itu.
Penolakkan kakak Farhan yang ke 211 ... Cincin couple yang ke 10, tulisnya dengan rapi.
"Baiklah, ayo kita makan. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun pada Kakak."
"Hmmmm." Farhan hanya berdehem tanpa rasa kasihan. Apalagi cinta.
Saat keduanya tengah asik membolak-balikkan buku menu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh sosok sepasang manusia yang sedang memadu kasih di pojok ruangan.
Lisa? gumam Farhan emosi. Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu. Karena Farhan memang tidak pernah pulang ke apartemennya, sibuk dan selalu tidur di ruang peristirahatannya di kantor.
Tanpa basi-basi, Farhan bangkit dari duduknya, mengabaikan Sasha yang menatapnya dengan keheranan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Farhan emosi. Dalam sekejap ia sudah sampai di meja yang Lisa duduki.
Setelah bersitatap dengan Farhan. Lisa kembali tertunduk takut. "Dia pamanku," jawab Lisa asal-asalan. Lisa malu jika harus mengakui bahwa Farhan adalah bosnya. Apalagi status Lisa yang hanya pembantu beruntung yang mendapatkan fasilitas enak dari Farhan.
Farhan menatap pria itu dengan sorot mata membunuh. Lalu meraih tangan Lisa agak kasar. "Apa kau tidak lihat ada cincin yang melingkar di jari manisnya? Gadis pembohong ini sudah menikah. Pergi dan berhenti menjadi perebut istri orang."
Farhan menarik Lisa secara kasar, lalu pergi membawa gadis itu keluar dari kafe. Telinga Farhan mendadak tuli, ia bahkan tidak peduli melihat Sasha yang berteriak-teriak memanggil namanya.
Bugh! Farhan menghempaskan tubuh Lisa ke dalam mobilnya. Lalu ikut masuk dan menarik kemudi. Brum ... mobilnya melaju cepat agar Sasha tidak dapat mengikutinya.
"Tuan, maafkan saya. Apa Tuan marah karena mengakui anda sebagai paman. Maaf, aku malu jika mengungkapkan jati diriku yang hanya seorang pembantu," ucap Lisa yang tidak peka.
"Maaf Tuan, pacarku adalah anak pengusaha kaya, makannya aku malu, Tuan."
Mendengar itu, Farhan semakin naik pitam. Entah perasaan apa yang sedang hinggap di dadanya. Yang jelas Farhan tidak suka melihat Lisa dekat dengan pria manapun.
"Putuskan pria itu, dan jangan berani lagi berpacaran sebelum kau lulus kuliah!" bentaknya kesal.
"Kenapa Tuan? Aku selalu rajin kuliah, dia juga selalu membantu mengerjakan tugas." Lisa tak mau kalah. Bagaimanapun juga ia masih mencintai kekasihnya.
__ADS_1
"Kau kubawa ke sini karena suatu misi. Yaitu menjadi orang ternama agar kau dapat mengambil kembali hakmu sebagai pewaris tunggal. Apa kau bodoh! Kau harus membalas perlakuan buruk keluargamu, Lisa!"
"Ba ... bagimana kau bisa tahu bahwa keluargaku jahat?" Lisa sudah tidak berani lagi menatap Farhan. Pria itu begitu marah tanpa alasan yang jelas.
Padahal, ia termasuk mahasiswi yang berprestasi di kampusnya. Pacaran tidak akan mengganggu menurut Lisa.
"Menurutmu, apa ada hal yang tidak bisa aku ketahui?"
"Putuskan pacarmu," ketus Farhan.
"Tidak! Aku mencintainya."
"Kalau aku bilang putuskan ya putuskan, apa kau tuli?" Farhan membentak Lisa dengan nada keras. Membuat gadis itu merinding seketika. "Di sini, aku adalah walimu yang sah. Jadi aku berhak memberikan peraturan apapun.
Argghhhh, Lisa menggeram kesal di dalam hati. Pria ini apa tidak memahami bagaimana perasaan anak muda. Kolot sekali pemikirannya.
"Tuan, saya sudah menuruti semua perintah asisten Anda, termasuk peraturan standar nilai yang harus saya dapatkan. Apa semua itu masih belum cukup? Apa saya tidak bisa mendapatkan sedikit kebebasan saya?" Lisa masih terus membantah. Membuat Farhan reflek menghentikkan mobilnya, kesal.
"Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Silahkan berpacaran, aku akan bertepuk tangan saat melihat kau ditinggalkan dalam keadaan hamil," ujar Farhan seraya menyunggingkan bibirnya sinis.
Lisa langsung naik pitam dibuatnya. "Saya bukan wanita seburuk itu. Bahkan, ciuman saja kami tidak pernah."
"Terserah!"
Sial, kenapa Farhan berubah jadi seperti Reyno begini.
"Mulai saat ini aku tidak akan melarangmu. Jika kau ingin pacaran atau semacamnya, ya silahkan." Nada suara Farhan mulai melembut. Membuat Lisa terheran-heran sekaligus merasa bersalah.
"Tuan, apakah Anda kecewa dengan saya?" tanya Lisa yang mulai tidak enak.
Berhasil. Ternyata cara yang Farhan contoh dari seorang Reyno mampu membuat pertahanan Lisa melemah. Namun ia merasa jijik sendiri mengikuti gaya makluk sok lemah seperti Reyno begini.
"Tuan," panggil Lisa sekali lagi.
"Aku tidak peduli," ujar Farhan, Lisa semakin panik dan bingung.
***
__ADS_1